Chapter Twenty Four
Semua Datang Sekaligus
POV: Clara
Seminggu sebelum festival, semua masalah memutuskan datang bersamaan.
Vendor panggung meminta perubahan waktu bongkar.
Dua kelas menukar jadwal pertunjukan.
Satu sponsor mengubah desain spanduk.
Bu Ratih meminta revisi laporan.
Bima salah menghitung jumlah meja untuk kedua kalinya.
Dan Nadine kehilangan suara.
“Ini bukan salahmu,” kataku sambil menyerahkan teh hangat.
Nadine menatapku.
Lalu menunjuk tenggorokannya.
“Aku tahu kamu nggak bisa jawab.”
Dia menulis di ponsel.
Justru itu.
Aku membaca.
“Kalau kamu sakit, istirahat.”
Nadine mengetik lagi.
Kamu?
Aku tersenyum.
“Aku sehat.”
Tatapannya datar.
Aku memilih tidak berdebat dengan orang bisu sementara.
Hari itu aku mengambil dua tugas Nadine.
Lalu satu dari Bima karena dia harus ke aula.
Lalu satu lagi dari junior publikasi karena desainnya perlu persetujuan cepat.
Tidak ada yang memaksa.
Semua masuk akal.
Itu membuatnya lebih sulit ditolak.
Jam tiga, Devan datang.
Dia langsung melihat meja.
“Kenapa bertambah?”
“Apa?”
“Map.”
Aku menoleh.
Ada lima.
“Tadi tiga.”
“Kamu menghitung?”
“Iya.”
“Seram.”
Dia tidak tertawa.
“Berapa yang kamu ambil?”
“Sedikit.”
“Angka.”
“Van.”
“Angka.”
Aku menghela napas.
“Empat.”
“Empat tambahan?”
“Kurang lebih.”
Dia menutup mata.
Aku mengangkat tangan.
“Semua perlu.”
“Semua perlu dikerjakan.”
“Nah.”
“Bukan semuanya perlu kamu kerjakan.”
Aku tahu.
Tentu aku tahu.
Masalahnya, mengetahui sesuatu tidak otomatis membuatnya mudah dilakukan.
“Cuma sampai festival,” kataku.
“Masih seminggu.”
“Cepat.”
“Kalau kamu pingsan, festivalnya nggak jadi lebih cepat.”
Aku tertawa.
“Dramatis.”
“Realistis.”
Bima masuk membawa daftar baru.
Aku langsung berdiri.
Devan menatapnya.
Bima berhenti di pintu.
“Apa?”
“Kasih aku.”
Bima berkedip.
“Apa?”
“Daftarnya.”
“Kenapa?”
“Karena kalau kasih Clara, dia bilang bisa.”
Aku menyilangkan tangan.
“Kalian membentuk serikat pekerja?”
“Terpaksa,” kata Bima.
Aku menatap keduanya.
Lalu Nadine mengangkat tangan dari sudut ruangan.
Pengkhianat ketiga.
Aku akhirnya menyerah.
“Oke. Bagi.”
Kami membagi pekerjaan.
Untuk satu jam, sistem itu berjalan.
Aneh sekali bagaimana pekerjaan terasa lebih ringan ketika benar-benar dibagi.
Lalu Bu Ratih datang.
“Clara, boleh minta satu hal?”
Refleksku hampir menjawab.
Devan mengangkat alis.
Aku berhenti.
Bu Ratih melihat kami bergantian.
Aku menarik napas.
“Apa dulu, Bu?”
Kalimat sederhana.
Anehnya terasa seperti prestasi.
Bu Ratih tersenyum.
“Cuma cek rundown final. Kalau kamu penuh, besok juga boleh.”
Aku melihat jadwal.
“Besok, Bu.”
“Tentu.”
Beliau pergi.
Aku menatap Devan.
Dia terlihat terlalu puas.
“Jangan.”
“Aku nggak bilang apa-apa.”
“Mukamu ngomong.”
“Bagus.”
Aku melempar sticky note ke arahnya.
Dia menangkap.
Menyebalkan.
Malam itu aku pulang dengan pekerjaan yang masih banyak.
Tapi tidak sebanyak biasanya.
Aku seharusnya belajar dari sana.
Sayangnya, tekanan tidak selalu datang saat ada orang lain yang bisa melihat.
Kadang ia datang setelah semua orang pulang.
Saat ponsel terus berbunyi.
Saat daftar di kepala tidak berhenti bertambah.
Dan saat pilihan paling mudah tetap sama.
Aku urus.
- 1 Katanya Aku Kebal
- 2 Reaksi yang Pelit
- 3 Lima Belas Menit
- 4 Indikator Gugup
- 5 Kebetulan yang Konsisten
- 6 Cocok
- 7 Selalu Punya Alasan
- 8 Senyum yang Nggak Perlu
- 9 Kalau Nggak Diganggu
- 10 Aku yang Nyari
- 11 Kalau Begitu, Pacaran
- 12 Hak Istimewa Pacar
- 13 Rahasia yang Buruk
- 14 Kencan yang Katanya Bukan Kencan
- 15 Serangan Balik
- 16 Aku Memang Nunggu
- 17 Kursi Devan
- 18 Semua Orang Tahu
- 19 Terlalu Banyak
- 20 Rumah yang Berisik
- 21 Pegang Tanganku
- 22 Kita Sudah Hafal
- 23 Giliran Aku
- 24 Semua Datang Sekaligus reading
- 25 Jangan Tambah Beban
- 26 Ruang yang Kuberi
- 27 Kalau Kamu Tahu
- 28 Percakapan yang Gagal
- 29 Jangan Menebak Lagi
- 30 Minta Tolong
- 31 Aku yang Mulai
- 32 Tidak Pernah Kebal