Chapter Twenty Five
Jangan Tambah Beban
POV: Clara
Aku mulai berbohong kepada Devan pada hari Kamis.
Bukan kebohongan besar.
Justru itu masalahnya.
“Kamu sudah makan?”
“Sudah.”
Padahal belum.
“Masih banyak?”
“Nggak.”
Padahal banyak.
“Pulang jam berapa?”
“Normal.”
Padahal aku tahu mungkin jam enam.
Semua bohong kecil.
Semua punya alasan.
Devan sedang lebih sering pulang cepat karena Ibunya lembur dan rumahnya kosong lebih lama dari biasanya. Ayahnya belum kembali. Aku tahu dia tidak bilang kalau merasa kesepian, tapi sekarang aku tahu tandanya.
Dia jadi lebih diam.
Lebih lama menatap layar ponsel.
Lebih sering bilang “nggak apa-apa” dengan nada yang terlalu rata.
Jadi aku memutuskan satu hal.
Aku tidak akan menambah beban.
Keputusan itu terdengar baik.
Bahkan mulia.
Ternyata keputusan baik juga bisa bodoh.
Sore itu Devan datang ke ruang OSIS dengan dua kopi susu.
Satu diletakkan di meja depanku.
“Kamu belum makan.”
Aku mengangkat kepala.
“Sudah.”
Dia menatap bungkus roti yang masih utuh di samping laptop.
Aku melihat roti.
Lalu dia.
“Ini buat nanti.”
“Jam empat.”
“Aku makan siang telat.”
“Jam berapa?”
Aku tersenyum.
“Interogasi?”
Devan diam.
Senyumku bertahan.
Dia mengalihkan pandangan lebih dulu.
“Oke.”
Satu kata.
Aneh.
Biasanya dia akan menekan sedikit lagi.
Aku seharusnya lega.
Aku justru merasa kehilangan sesuatu.
“Van.”
“Hm?”
“Kamu pulang duluan aja nanti.”
“Kenapa?”
“Aku ada rapat tambahan.”
“Berapa lama?”
“Nggak tahu.”
Dia melihat jam.
“Aku bisa nunggu.”
Dadaku langsung menegang.
Aku ingin.
Itu masalahnya.
Aku sangat ingin dia menunggu.
Tapi kemudian aku teringat rumahnya.
Ibunya pulang larut.
Makan malam sendiri.
Ruang tamu sepi.
“Nggak usah,” kataku.
“Aku bisa.”
“Aku tahu.”
Kalimat itu keluar dengan nada terlalu cepat.
Devan melihatku.
Aku tertawa kecil.
“Serius. Pulang aja. Kamu juga butuh istirahat.”
Dia diam beberapa detik.
“Oke.”
Sekali lagi.
Oke.
Aku membenci betapa kecewanya aku mendengar jawaban yang memang kuminta.
Setelah dia pergi, Nadine duduk di depanku.
Suaranya sudah kembali, walau serak.
“Kamu ngusir pacarmu?”
“Nggak.”
“Kelihatannya begitu.”
“Aku cuma suruh pulang.”
“Kenapa?”
“Dia juga lagi banyak pikiran.”
Nadine menatapku lama.
“Terus kamu?”
“Aku apa?”
“Banyak pikiran juga.”
Aku membuka file baru.
“Biasa.”
“Clara.”
“Aku bisa.”
Begitu keluar, aku sadar kalimat itu kembali.
Kalimat yang sama.
Nadine menghela napas.
“Aku nggak bilang kamu nggak bisa.”
Aku berhenti.
Itu kalimat Devan juga.
Dulu.
Aku menutup file.
“Cuma beberapa hari.”
Nadine tidak menjawab.
Aku kembali bekerja.
Jam enam lewat, ruang OSIS kosong.
Aku duduk sendirian.
Ponselku penuh pesan.
Laptopku penuh tab.
Kopi susu dari Devan sudah hangat.
Aku mengambilnya.
Masih enak.
Aku melihat kursi di sebelahku.
Kursi Devan.
Kosong.
Aku sendiri yang menyuruhnya pulang.
Jadi rasa sepi itu tidak masuk akal.
Tetap saja ada.
Aku mengirim pesan.
Sudah sampai rumah?
Balasan datang cepat.
Sudah. Kamu?
Aku mengetik:
Sebentar lagi.
Lalu menghapusnya.
Masih rapat.
Itu juga bohong.
Aku akhirnya menulis:
Masih ada sedikit.
Devan membalas:
Jangan terlalu malam.
Aku menatap layar cukup lama.
Kemudian menulis:
Iya.
Kebohongan kecil lagi.
Aku mulai sadar aku sedang membangun sesuatu dari kebohongan-kebohongan kecil itu.
Jarak.
Dan yang paling bodoh, aku membangunnya supaya Devan tidak terbebani.
- 1 Katanya Aku Kebal
- 2 Reaksi yang Pelit
- 3 Lima Belas Menit
- 4 Indikator Gugup
- 5 Kebetulan yang Konsisten
- 6 Cocok
- 7 Selalu Punya Alasan
- 8 Senyum yang Nggak Perlu
- 9 Kalau Nggak Diganggu
- 10 Aku yang Nyari
- 11 Kalau Begitu, Pacaran
- 12 Hak Istimewa Pacar
- 13 Rahasia yang Buruk
- 14 Kencan yang Katanya Bukan Kencan
- 15 Serangan Balik
- 16 Aku Memang Nunggu
- 17 Kursi Devan
- 18 Semua Orang Tahu
- 19 Terlalu Banyak
- 20 Rumah yang Berisik
- 21 Pegang Tanganku
- 22 Kita Sudah Hafal
- 23 Giliran Aku
- 24 Semua Datang Sekaligus
- 25 Jangan Tambah Beban reading
- 26 Ruang yang Kuberi
- 27 Kalau Kamu Tahu
- 28 Percakapan yang Gagal
- 29 Jangan Menebak Lagi
- 30 Minta Tolong
- 31 Aku yang Mulai
- 32 Tidak Pernah Kebal