Chapter Fifteen
Serangan Balik
POV: Devan
Aku belajar sesuatu setelah empat hari pacaran dengan Clara.
Dia jauh lebih berbahaya ketika punya izin.
Sebelum pacaran, setidaknya ada kemungkinan dia berhenti karena merasa terlalu dekat.
Sekarang tidak ada.
Dia bisa menggandeng lenganku di koridor kosong, mengambil minumanku tanpa bertanya, atau menyandarkan kepala ke bahuku sambil membaca pesan OSIS.
Dan setiap kali aku protes, jawabannya sama.
“Hak istimewa pacar.”
Aku mulai membenci frasa itu.
Sedikit.
Hari Senin, Clara duduk di kursi yang sekarang entah bagaimana selalu berada di sebelahku di ruang OSIS.
“Van.”
“Hm?”
“Kamu kangen aku?”
Aku tetap melihat layar.
“Baru ketemu pagi.”
“Itu bukan jawaban.”
“Nggak.”
“Bohong.”
“Kenapa tanya kalau sudah punya jawaban?”
Dia tertawa.
Beberapa menit kemudian dia mengambil kopi susuku dan minum dari sedotan yang sama.
Tanganku berhenti.
Clara melihat.
Senyumnya muncul.
“Kenapa?”
“Nggak.”
“Merah.”
“AC mati.”
“AC nyala.”
“Relatif.”
Dia tertawa lebih keras.
Nadine menatap dari meja seberang.
“Clara.”
“Hm?”
“Kasihan.”
“Dia pacarku.”
“Itu bukan izin penyiksaan.”
Aku mengangguk. “Setuju.”
Clara menatapku seolah dikhianati.
Sore hari kami berjalan ke halte.
Dia masih membahas tuduhan penyiksaan.
“Aku nggak nyiksa.”
“Kamu melakukan eksperimen tanpa persetujuan subjek.”
“Kamu bisa bilang berhenti.”
Aku menatapnya.
Clara berhenti berjalan.
Senyumnya menghilang sedikit.
“Serius. Kalau kamu nggak nyaman, bilang.”
Nada suaranya berubah.
Aku tahu dia benar-benar menanyakan itu.
“Nggak,” kataku.
“Nggak nyaman?”
“Nggak keberatan.”
Clara menatapku beberapa detik.
“Oke.”
Dia tersenyum lagi, lebih kecil.
Kami berjalan.
Aku memikirkan sesuatu.
Mungkin karena selama ini aku terlalu sibuk bertahan, aku tidak pernah benar-benar mencoba menyerang balik.
“Clara.”
“Hm?”
Dia menoleh.
Aku berhenti.
Clara ikut berhenti.
“Apa?”
Aku melihat wajahnya.
Biasanya dia yang mempersempit jarak.
Kali ini aku yang melangkah sedikit lebih dekat.
Tidak banyak.
Cukup untuk membuat matanya berubah.
Menarik.
“Kenapa?” tanyanya lagi.
Aku menarik napas.
Kalau salah, aku bisa pindah sekolah.
“Besok rambutmu diikat lagi.”
Clara berkedip.
“Apa?”
“Yang waktu di gudang.”
Dia diam.
Aku melanjutkan sebelum keberanian habis.
“Aku suka.”
Wajah Clara benar-benar kosong.
Satu detik.
Dua.
Tiga.
Aku mulai memahami kenapa dia menikmati permainan ini.
“Van.”
“Hm?”
“Kamu sengaja?”
“Iya.”
Dia menutup wajah dengan kedua tangan.
Aku tersenyum.
Kemenangan terasa cukup menyenangkan.
“Jangan senyum,” katanya dari balik tangan.
“Kenapa?”
“Aku bisa lihat.”
“Kamu nutup muka.”
“Aku tahu kamu senyum.”
Aku tertawa kecil.
Clara menurunkan tangan. Pipinya merah.
“Kamu jahat.”
“Katanya hak istimewa pacar.”
Dia menatapku.
Aku menunggu pembalasan.
Yang terjadi justru dia tertawa.
“Baik,” katanya. “Perang.”
“Aku nggak bilang perang.”
“Terlambat.”
Bus kami datang.
Clara naik lebih dulu.
Aku mengikutinya.
Di dalam bus, dia duduk di sampingku lalu menyandarkan kepala ke bahuku seperti biasa.
Aku mengira serangan balasannya akan datang.
Tidak.
Beberapa menit kemudian dia berkata pelan, “Besok aku ikat.”
Aku menoleh.
Dia tetap melihat ke depan.
Sekarang telinganya yang merah.
Aku memutuskan tidak menunjuk.
Setidaknya hari ini.
Untuk pertama kalinya sejak mengenal Clara, aku merasa permainan kami benar-benar seimbang.
Itu mungkin kabar buruk.
Aku sangat menikmatinya.
- 1 Katanya Aku Kebal
- 2 Reaksi yang Pelit
- 3 Lima Belas Menit
- 4 Indikator Gugup
- 5 Kebetulan yang Konsisten
- 6 Cocok
- 7 Selalu Punya Alasan
- 8 Senyum yang Nggak Perlu
- 9 Kalau Nggak Diganggu
- 10 Aku yang Nyari
- 11 Kalau Begitu, Pacaran
- 12 Hak Istimewa Pacar
- 13 Rahasia yang Buruk
- 14 Kencan yang Katanya Bukan Kencan
- 15 Serangan Balik reading
- 16 Aku Memang Nunggu
- 17 Kursi Devan
- 18 Semua Orang Tahu
- 19 Terlalu Banyak
- 20 Rumah yang Berisik
- 21 Pegang Tanganku
- 22 Kita Sudah Hafal
- 23 Giliran Aku
- 24 Semua Datang Sekaligus
- 25 Jangan Tambah Beban
- 26 Ruang yang Kuberi
- 27 Kalau Kamu Tahu
- 28 Percakapan yang Gagal
- 29 Jangan Menebak Lagi
- 30 Minta Tolong
- 31 Aku yang Mulai
- 32 Tidak Pernah Kebal