← Ketua OSIS vs Cowok Perpus

Chapter Five

Kebetulan yang Konsisten

POV: Devan

Aku mulai menghindari Clara pada hari Jumat.

Bukan karena takut.

Ini strategi.

Perbedaan antara takut dan strategi adalah strategi terdengar lebih bermartabat.

Aku masuk kelas lewat tangga belakang, makan siang di perpustakaan, dan menolak ajakan Raka ke kantin.

Raka menatap kotak bekalku.

“Lu kabur, ya?”

“Nggak.”

“Clara nyari lu dari tadi.”

Tanganku berhenti membuka botol air.

Raka tersenyum.

“Tuh.”

“Apa?”

“Reaksi.”

“Aku cuma dengar.”

“Telinga lu—”

“Kalau kamu lanjut, aku pindah meja.”

Raka tertawa.

Aku fokus makan.

Lima menit kemudian sebuah kursi ditarik di depanku.

Aku tidak perlu melihat.

Raka langsung berdiri membawa makanannya.

“Gue pindah meja dulu.”

Pengkhianat itu pergi dengan kecepatan mengagumkan.

Aku mengangkat kepala.

Clara duduk di depanku sambil membawa kotak makan dan dua minuman.

“Ketemu.”

“Aku nggak hilang.”

“Dari pagi kamu muter jalur kayak buronan.”

“Kebetulan.”

“Tiga kali?”

“Kebetulan yang konsisten.”

Clara menahan senyum.

Dia meletakkan satu kotak kopi susu di depanku.

“Ini buat kamu.”

Aku melihat kemasan.

“Kenapa?”

“Bayaran.”

“Untuk apa?”

“Kemarin.”

“Kamu sudah kasih roti.”

“Itu bayaran awal. Ini bunga.”

Aku mengambil minuman.

“Sistem keuangan OSIS aneh.”

“Jangan protes. Minum.”

Aku menusukkan sedotan.

Rasa kopi susu.

Tidak terlalu manis.

Aku menyukainya.

Clara membuka kotak makan.

“Enak?”

“Lumayan.”

“Lumayan itu berapa dari sepuluh?”

“Tujuh.”

“Tinggi.”

“Biasa.”

“Berarti kalau delapan kamu bakal senyum?”

Aku menatapnya.

“Kamu masih melakukan ini?”

“Apa?”

“Eksperimen.”

Matanya langsung cerah. “Kamu sadar?”

“Sulit nggak sadar kalau setiap kali telingaku berubah warna kamu kelihatan seperti ilmuwan menemukan spesies baru.”

Clara menutup mulut sambil tertawa.

“Maaf.”

Dia sama sekali tidak terdengar menyesal.

“Nggak maaf.”

“Sedikit.”

Kami makan sambil sesekali bicara.

Clara bercerita tentang junior yang salah mencetak poster festival sebanyak dua ratus lembar karena lupa menulis tanggal. Aku mendengarkan sambil berusaha tidak tertawa terlalu jelas.

“Kamu senyum,” katanya tiba-tiba.

Aku langsung berhenti.

“Nggak.”

“Aku lihat.”

“Salah lihat.”

“Van.”

“Apa?”

“Kamu tahu aku punya mata, kan?”

“Aku mulai meragukan objektivitasnya.”

Dia tertawa lagi.

Aku seharusnya tetap menghindarinya.

Masalahnya, ternyata lebih mudah menghindari Clara ketika dia tidak sedang duduk di depanku.

Setelah makan, dia menyandarkan dagu ke tangan.

“Kamu selalu makan di sini?”

“Sering.”

“Kenapa nggak di kantin?”

“Ramai.”

“Kamu nggak suka ramai?”

“Nggak masalah. Cuma kalau bisa pilih, aku pilih tenang.”

Dia mengangguk seolah jawaban itu penting.

“Pantes.”

“Pantes apa?”

“Nggak apa-apa.”

“Kamu sengaja, ya?”

“Sedikit.”

Bel masuk sebentar lagi.

Clara membereskan kotak makan, lalu berdiri.

Aku mengira percakapan selesai.

Dia justru mencondongkan tubuh di sampingku.

“Besok jangan kabur.”

“Aku nggak kabur.”

“Kalau begitu gampang. Datang ke ruang OSIS jam sepuluh.”

“Besok Sabtu.”

“Aku tahu kalender.”

“Aku ada rencana.”

Dia menyipitkan mata. “Rencana apa?”

“Tidur.”

Clara tertawa.

“Jam sebelas?”

“Masih tidur.”

“Jam dua belas?”

“Makan.”

“Jam satu?”

“Tidur lagi.”

“Produktif sekali.”

“Terima kasih.”

Dia menyilangkan tangan.

“Oke. Aku akan minta baik-baik.”

Aku tahu trik itu.

“Jangan.”

“Devan.”

“Clara.”

Dia berkedip.

Aku jarang memanggil namanya lebih dulu.

Aku juga baru sadar sampai kata itu keluar.

Untuk sepersekian detik, ekspresinya berubah.

Bukan senyum ketua OSIS. Bukan tatapan menantang.

Hanya terkejut.

Kemudian dia memulihkan diri.

“Datang besok, ya?”

Aku menghela napas.

“Jam berapa?”

“Sepuluh.”

“Satu jam.”

“Dua.”

“Satu setengah.”

“Deal.”

Dia mengulurkan tangan.

Aku menatap tangannya.

“Apa?”

“Kesepakatan.”

Aku menjabat.

Seharusnya biasa.

Tangan bertemu tangan.

Satu detik.

Dua.

Clara tidak langsung melepas.

Aku juga tidak.

Mata kami bertemu.

Aku tidak tahu siapa yang lebih dulu sadar bahwa jabat tangan kami terlalu lama.

Clara menarik tangannya lebih dulu.

“Besok,” katanya.

“Iya.”

Dia berjalan pergi.

Aku melihat kopi susu di meja.

Lalu tanganku.

Raka muncul kembali entah dari mana.

“Gue boleh duduk lagi sekarang?”

“Nggak.”

“Kejam.”

Aku mengambil botol air.

Raka duduk juga.

“Van.”

“Apa?”

“Lu sadar tadi dia bawain lu minum, kan?”

“Iya.”

“Terus ngajak makan bareng.”

“Dia kebetulan makan.”

“Terus lu jabat tangan kayak tanda tangan perjanjian merger.”

Aku menatapnya.

“Raka.”

“Iya?”

“Diam.”

Dia tertawa.

Aku kembali melihat kopi susu.

Tujuh dari sepuluh ternyata bohong.

Nilainya delapan.