← Ketua OSIS vs Cowok Perpus

Chapter Twenty Two

Kita Sudah Hafal

POV: Clara

Ada fase dalam pacaran ketika hal-hal yang dulu membuat jantung berdebar mulai terasa biasa.

Aku menemukan fase itu bersama Devan di ruang OSIS.

Aku masuk.

Kopi susu sudah ada di meja.

“Aku belum minta.”

“Kamu selalu minum.”

Aku duduk.

Devan menggeser kursi sedikit supaya aku punya ruang.

Aku membuka laptop.

Dia melanjutkan membaca.

Tidak ada sapaan dramatis.

Tidak ada godaan.

Lima menit kemudian aku mengambil minumannya tanpa bertanya.

Dia hanya melihat sedotan, lalu aku.

“Hak istimewa pacar,” kataku.

“Sudah tahu.”

Sepuluh menit kemudian aku menyandarkan kepala ke bahunya.

Dia tidak menegang lagi.

Hanya menggeser badan sedikit supaya lebih nyaman.

Aku mengangkat kepala.

“Van.”

“Hm?”

“Kamu sudah kebal.”

Dia menutup bukunya.

“Bukannya dari dulu?”

“Beda.”

“Bedanya?”

“Dulu pura-pura.”

“Sekarang?”

Aku memikirkan jawabannya.

“Sekarang terbiasa.”

Devan menatapku.

Entah kenapa kata itu terdengar sedikit menyedihkan setelah keluar.

“Bosan?” tanyanya.

Aku langsung duduk tegak.

“Apa?”

“Kamu bilang terbiasa.”

“Terbiasa bukan bosan.”

“Terus?”

Aku menunjuk kopi susu.

“Kamu tahu aku mau ini tanpa tanya.”

“Iya.”

“Aku tahu kamu bakal pilih kursi ini.”

“Iya.”

“Kamu tahu kalau aku bilang ‘nggak apa-apa’ dengan nada tertentu berarti justru ada apa-apa.”

Devan diam.

Aku melanjutkan.

“Aku tahu kalau tanganmu masuk saku berarti gugup. Kalau kamu rapihin barang yang sudah rapi berarti panik. Kalau kamu jawab terlalu cepat berarti bohong.”

Dia menatapku datar.

“Menyeramkan.”

Aku tertawa.

“Kita sudah hafal.”

Devan melihat meja.

Lalu berkata, “Aku suka.”

Aku berhenti.

“Apa?”

“Terbiasa.”

Seperti biasa, satu kalimat sederhana darinya jauh lebih berbahaya daripada seluruh rencana godaanku.

Aku mengambil minum.

“Jangan mendadak begitu.”

“Katanya sudah hafal.”

“Itu bukan berarti kamu boleh improvisasi.”

Sudut bibirnya naik.

Aku menendang kakinya pelan di bawah meja.

Dia membalas.

Aku menatap.

“Mulai berani?”

“Katanya seimbang.”

Aku tertawa.

Sore itu kami pulang bersama.

Di halte, aku menggandeng tangannya.

Devan membalas tanpa ragu.

Dulu aku akan menghitung berapa detik sebelum telinganya merah.

Sekarang aku hanya menikmati hangat tangannya.

“Van.”

“Hm?”

“Kalau suatu hari aku nggak bilang apa-apa, kamu tetap tahu aku kenapa?”

Pertanyaan itu keluar begitu saja.

Devan berpikir sebentar.

“Mungkin.”

“Cuma mungkin?”

“Aku bukan cenayang.”

Aku tertawa.

“Jawaban romantis sekali.”

“Kalau penting, bilang.”

Aku menoleh.

Dia masih melihat jalan.

Kalimat itu masuk ke kepalaku, tapi tidak tinggal cukup lama.

Karena aku yakin aku akan bilang.

Kalau capek, aku bisa bilang.

Kalau sedih, aku bisa bilang.

Kalau butuh dia, tentu aku akan bilang.

Devan juga pasti begitu.

Kami sudah hafal satu sama lain, kan?

Bus datang.

Kami naik.

Aku menyandarkan kepala ke bahunya.

Beberapa menit kemudian Devan bertanya, “Besok rapat sampai sore?”

“Iya.”

“Aku tunggu.”

Aku tersenyum.

“Sudah tahu.”

Dia menoleh sedikit.

“Apa?”

“Kamu pasti nunggu.”

“Kalau nggak?”

Aku mengangkat kepala.

“Kamu bakal nunggu.”

“Percaya diri.”

“Aku hafal kamu.”

Devan tidak membantah.

Dia hanya tersenyum kecil.

Aku kembali bersandar.

Saat itu, keyakinan itu terasa hangat.

Aman.

Nyaman.

Aku belum tahu bahwa merasa terlalu yakin bisa menjadi awal dari kesalahan.

Bukan karena kami tidak saling mengenal.

Justru karena kami merasa sudah cukup mengenal sampai tidak perlu selalu bertanya.