← Ketua OSIS vs Cowok Perpus

Chapter Twenty Eight

Percakapan yang Gagal

POV: Devan

Aku tahu percakapan kami akan gagal bahkan sebelum dimulai.

Bukan karena kami sedang marah.

Itu justru masalahnya.

Kami terlalu hati-hati.

Sabtu siang, Clara mengirim pesan:

Bisa ketemu?

Aku menjawab iya terlalu cepat.

Kami bertemu di minimarket dekat sekolah.

Tempat yang biasanya sederhana.

Aman.

Hari itu terasa seperti ruang ujian.

Clara datang duluan.

Ada dua kopi susu di meja.

Satu milikku.

Aku duduk di depannya.

“Makasih.”

“Iya.”

Hening.

Biasanya dia akan mengomentari sesuatu.

Rambutku.

Telingaku.

Cara dudukku.

Hari itu tidak ada.

Aku membuka sedotan.

Clara menatap botolnya.

“Kita aneh.”

Aku mengangguk.

“Iya.”

“Aku nggak suka.”

“Aku juga.”

Dia menarik napas.

“Van.”

“Hm?”

“Kenapa kamu nggak datang kemarin?”

Pertanyaan itu sederhana.

Jawabanku juga.

“Kamu bilang nggak usah.”

Clara menunduk.

“Aku tahu.”

“Aku kira kamu butuh ruang.”

“Aku tahu.”

“Terus?”

Dia mengusap ujung botol dengan ibu jari.

“Aku berharap kamu tetap datang.”

Aku diam.

Kalimat itu masuk pelan.

Sakitnya datang belakangan.

“Kenapa nggak bilang?”

Clara menatapku.

Pertanyaan itu terdengar lebih tajam daripada niatku.

Aku langsung menyesal.

Dia tersenyum kecil.

Bukan senyum bahagia.

“Nah.”

“Maaf.”

“Nggak. Kamu benar.”

Aku melihat meja.

“Aku juga harusnya tanya lagi.”

“Kamu sudah tanya.”

“Aku berhenti terlalu cepat.”

“Karena aku terus bilang nggak apa-apa.”

Kami saling diam.

Aneh.

Tidak ada orang jahat di meja ini.

Tidak ada kebohongan besar.

Tidak ada pengkhianatan.

Hanya dua orang yang sama-sama mencoba tidak merepotkan.

Dan hasilnya tetap menyakitkan.

“Aku kira kalau kamu butuh aku, kamu akan bilang,” kataku.

Clara mengangguk.

“Aku kira kalau kamu benar-benar lihat aku, kamu akan tahu.”

Aku menatapnya.

“Itu nggak adil.”

“Aku tahu.”

Nada suaranya pecah sedikit.

Dadaku langsung menegang.

“Aku tahu itu nggak adil.”

Aku ingin meraih tangannya.

Tanganku bergerak sedikit.

Berhenti.

Entah kenapa aku takut salah.

Clara melihat gerakan itu.

Lebih buruk.

“Van.”

“Hm?”

“Kita sekarang bahkan takut pegang tangan?”

Aku menatap tanganku sendiri.

“Bukan takut.”

“Terus?”

“Nggak tahu kamu mau atau nggak.”

Dia tertawa kecil tanpa humor.

“Aku juga nggak tahu kamu mau atau nggak.”

Hening lagi.

Kami benar-benar hebat membaca tanda kecil.

Ujung telinga.

Senyum.

Tangan masuk saku.

Jeda satu detik.

Tapi ketika tanda itu bercampur dengan takut, kami sama-sama mulai menebak.

Dan tebakan ternyata tidak cukup.

“Aku nggak mau putus,” kata Clara tiba-tiba.

Aku langsung mengangkat kepala.

“Siapa bilang putus?”

“Nggak ada.”

“Jangan.”

Dia berkedip.

“Jangan apa?”

“Jangan ngomong itu seperti pilihan.”

Clara menatapku lama.

Lalu mengangguk.

“Oke.”

Aku menghela napas.

Setidaknya satu hal jelas.

“Kita cuma lagi jelek komunikasi,” kataku.

“Jelek banget.”

“Lumayan.”

Dia hampir tersenyum.

Hampir.

Aku lanjut.

“Aku butuh waktu mikir.”

Begitu kalimat itu keluar, wajah Clara berubah.

Sial.

“Maksudku bukan menjauh.”

“Oke.”

“Clara.”

“Aku tahu.”

Tapi suaranya bilang dia tidak tahu.

Aku mencoba memperbaiki.

“Aku cuma nggak mau ngomong asal.”

“Iya.”

Dia berdiri.

Terlalu cepat.

“Aku pulang dulu.”

Aku ikut berdiri.

“Aku antar.”

“Nggak usah.”

Kalimat itu.

Lagi.

Aku membeku.

Clara juga.

Kami berdua mendengarnya.

Dia menutup mata sebentar.

“Maaf.”

“Nggak apa-apa.”

Kesalahan berikutnya keluar dari mulutku sendiri.

Kami saling menatap.

Lalu, untuk pertama kalinya, kalimat itu terdengar seperti dinding.

Clara mengangguk kecil.

“Aku chat nanti.”

“Iya.”

Dia pergi.

Aku tetap berdiri di samping meja.

Dua kopi susu.

Satu hampir habis.

Satu masih penuh.

Percakapan kami tidak menyelesaikan apa pun.

Tapi setidaknya satu kebohongan sudah hilang.

Kami tidak baik-baik saja.

Dan akhirnya kami berdua tahu.