← Ketua OSIS vs Cowok Perpus

Chapter Two

Reaksi yang Pelit

POV: Clara

Aku tidak punya kebiasaan mengejar cowok.

Kalimat itu terdengar lebih dramatis daripada kenyataannya. Aku memang sering bicara dengan banyak orang, dan kalau suasana sedang santai aku tidak keberatan menggoda sedikit. Tapi biasanya semuanya selesai dalam tiga langkah sederhana: aku bilang sesuatu, orang di depanku salah tingkah, lalu kami tertawa.

Efisien.

Devan merusak sistem itu dalam waktu kurang dari lima belas menit.

Sejak pertemuan di perpustakaan kemarin, satu kalimatnya mengganggu pikiranku lebih lama daripada seharusnya.

Semoga berhasil.

Bukan karena kalimatnya hebat. Justru karena dia mengucapkannya seperti sedang menyampaikan ramalan cuaca.

Hari ini aku berniat membuktikan bahwa tidak ada manusia kelas sebelas yang setenang itu.

Nadine tahu niatku bahkan sebelum aku mengatakannya.

“Jangan,” katanya sambil menandatangani surat peminjaman aula.

Aku berhenti di depan mejanya. “Aku belum ngomong apa-apa.”

“Mukamu ngomong.”

“Mukaku bilang apa?”

Nadine mengangkat kepala. “Kamu mau melakukan sesuatu yang nanti bikin aku harus mengurus akibatnya.”

Aku menarik kursi dan duduk di depannya.

“Aku cuma penasaran.”

“Kalimat yang sangat menenangkan dari ketua OSIS.”

“Kamu kenal Devan?”

Nadine menatapku dua detik terlalu lama.

“Nah.” Aku menunjuk wajahnya. “Itu. Jangan lihat aku begitu.”

“Aku kenal sebatas tahu. Anak XI-B. Nilainya bagus, nggak banyak ngomong, beberapa guru suka minta bantu kalau proyektor rusak.”

“Kenapa aku baru tahu?”

“Karena kamu ketua OSIS, bukan badan intelijen.”

Masuk akal, tetapi tidak membantu.

Aku menyandarkan dagu di telapak tangan. “Dia aneh.”

“Definisi aneh versi kamu?”

“Aku mendekat.”

“Tragis.”

“Nadine.”

“Lanjut.”

“Aku bilang aku bakal bikin dia gugup.”

“Dan?”

“Dia bilang ‘semoga berhasil’.”

Nadine kembali menunduk ke surat.

“Mungkin dia memang nggak tertarik.”

Aku terdiam.

Kemungkinan itu tentu ada.

Entah kenapa, aku tidak suka betapa cepatnya kemungkinan itu membuatku ingin membuktikan sesuatu.

“Atau,” kataku, “dia jago pura-pura.”

“Atau dia memang nggak tertarik.”

“Kamu sudah bilang itu.”

“Karena kelihatannya perlu diulang.”

Pintu ruang OSIS diketuk dua kali.

Bima muncul dengan ekspresi orang yang baru ingat tugas penting lima menit sebelum tenggat.

“Clara, Devan udah datang.”

Aku berdiri terlalu cepat.

Nadine menghentikan pena.

Aku menunjuknya. “Jangan.”

“Aku bahkan belum ngomong.”

“Mukamu ngomong.”

Untuk pertama kalinya hari itu, Nadine tersenyum.

Devan menunggu di depan pintu sambil memegang laptop hitam. Seperti kemarin, ekspresinya datar. Seperti kemarin juga, keberadaannya membuatku punya dorongan tidak masuk akal untuk menguji batas kesabarannya.

“Tepat waktu,” kataku.

Dia melihat jam dinding. “Kurang dua menit.”

“Kamu sengaja datang lebih awal?”

“Aku sengaja nggak terlambat.”

Aku harus mengakui: jawaban-jawabannya menyebalkan dengan cara yang cukup menyenangkan.

Bima membawa kami ke meja panjang yang penuh daftar inventaris. Lima belas menit kemudian aku memahami kenapa dia direkomendasikan.

Devan bekerja cepat tanpa terlihat terburu-buru. Dia memeriksa daftar, menemukan nama barang yang ditulis berbeda, mengelompokkan barang berdasarkan ruangan, lalu membuat kolom kondisi dan penanggung jawab.

“Kenapa kabel HDMI ada tiga nama?” tanyanya.

Bima menggaruk kepala. “Yang satu dari tahun lalu.”

“HDMI cadangan, kabel presentasi, sama kabel hitam panjang itu benda yang sama?”

“Kayaknya.”

Devan menatapnya.

Bima langsung duduk lebih tegak. “Iya. Sama.”

Aku menahan tawa.

“Kamu ternyata galak,” kataku.

“Aku cuma tanya.”

“Bima sampai duduk tegak.”

“Posturnya jadi lebih bagus.”

Aku benar-benar tertawa kali ini.

Devan melirik sebentar, lalu kembali ke layar.

Tidak ada reaksi.

Baiklah.

Aku berdiri dan berjalan ke sisinya.

“Aku lihat.”

Dia menggeser laptop sedikit.

Aku tidak mengambil kursi.

Sebaliknya, aku membungkuk di sampingnya.

Cukup dekat.

Sangat cukup dekat.

“Kolom ini buat apa?” tanyaku.

“Prioritas pengadaan.”

“Yang ini?”

“Lokasi penyimpanan.”

“Yang ini?”

“Clara.”

Aku tersenyum. “Iya?”

“Kamu tadi sudah baca judul kolomnya.”

Ketahuan.

Aku tidak mundur.

“Mungkin aku mau dengar penjelasan langsung.”

Dia menatapku.

Aku sengaja menahan tatapan.

Satu detik.

Dua.

Tiga.

Tidak ada.

Aku mendekat sedikit lagi.

Dari ujung meja, Bima perlahan memindahkan kursinya menjauh seperti tidak mau terlibat ledakan.

Devan menarik napas pendek.

Nah.

Aku hampir tersenyum terlalu lebar.

“Kamu kenapa?” tanyaku.

“Nggak kenapa-kenapa.”

“Yakin?”

“Yakin.”

“Kamu kelihatan tegang.”

“Aku lagi mikir.”

“Mikir apa?”

“Kenapa orang yang punya kursi memilih berdiri.”

Aku menahan bibir supaya tidak tertawa.

Lalu dia menambahkan, masih dengan nada yang sama, “Kalau kakimu pegal nanti jangan salahkan spreadsheet.”

Aku berhenti.

Bima menunduk ke kertas seolah sedang berdoa.

Nadine, dari meja seberang, menutup mulut dengan tangan.

Aku akhirnya mundur satu langkah.

Bukan karena kalah.

Tentu saja bukan.

Aku hanya butuh jarak untuk berpikir.

“Kamu ternyata bisa bercanda,” kataku.

“Itu bukan bercanda.”

Lebih buruk.

Dia serius.

Aku menarik kursi di sebelahnya dan duduk.

Selama dua puluh menit berikutnya aku benar-benar membantu. Bukan karena menyerah, tetapi karena sistem inventarisnya ternyata membuat pekerjaan kami jauh lebih gampang.

Ketika Bima pergi mengambil daftar gudang, aku melihat Devan menggosok bagian belakang lehernya.

“Capek?” tanyaku.

“Belum.”

“Lapar?”

“Sedikit.”

Aku bangkit dan mengambil dua roti dari kotak konsumsi di lemari.

Satu kusodorkan kepadanya.

“Bayaran awal.”

Dia menerima. “Katanya ditraktir.”

“Ini traktiran versi organisasi siswa.”

“Menyedihkan.”

“Aku sudah bilang standar OSIS kadang menyedihkan.”

Untuk pertama kalinya, sudut bibirnya bergerak jelas.

Bukan senyum penuh. Bahkan mungkin orang lain tidak akan menganggapnya senyum.

Tapi aku melihatnya.

Entah kenapa, kepuasan kecil muncul di dadaku.

Aku menyandarkan punggung ke kursi.

“Nah.”

Devan menatapku. “Apa?”

“Nggak ada.”

“Kamu kalau bilang begitu biasanya ada.”

Aku berkedip.

Dia mengingat.

Hal kecil. Tidak penting.

Tetap saja aku tersenyum.

“Aku baru sadar sesuatu.”

“Apa?”

Aku menunjuk wajahnya dengan roti yang masih terbungkus.

“Kamu bukan nggak punya reaksi.”

“Terus?”

“Reaksimu cuma pelit.”

Dia menatapku cukup lama.

Lalu menggigit rotinya.

“Kalau begitu jangan boros-boros nyarinya.”

Aku memutuskan saat itu juga.

Tentu saja aku akan boros.