← Ketua OSIS vs Cowok Perpus

Chapter Four

Indikator Gugup

POV: Clara

Aku menemukan kelemahan Devan pada hari Kamis pukul tiga lewat dua belas menit.

Penemuan itu terjadi secara ilmiah.

Kurang lebih.

Sebenarnya aku sedang berdiri di belakangnya sambil membaca daftar kebutuhan panggung ketika ujung telinganya berubah merah.

Aku berhenti membaca.

Devan tidak menyadarinya.

Dia masih mengetik.

Aku sedikit bergeser ke kanan.

Telinga kanan juga merah.

Menarik.

Sangat menarik.

“Kenapa?” tanyanya tanpa menoleh.

Aku mundur setengah langkah.

“Nggak kenapa-kenapa.”

Tangannya berhenti di atas keyboard.

“Kamu kalau bilang begitu biasanya ada.”

Aku menahan senyum.

“Kamu mulai hafal aku?”

Sekarang dia menoleh.

Ekspresinya tetap datar.

Telinganya semakin merah.

Aku hampir bertepuk tangan.

Jadi begini.

Wajah Devan bukan tidak bereaksi.

Wajah Devan cuma pembohong.

Aku menarik kursi dan duduk di sebelahnya.

“Van.”

“Apa?”

“Panas?”

“Nggak.”

“Demam?”

“Nggak.”

“Alergi?”

“Nggak.”

Aku menatap telinganya.

Dia menyadari arah pandanganku.

Tangannya naik.

Berhenti di tengah jalan.

Lalu turun lagi.

Aku menutup mulut.

Terlambat. Tawa sudah lolos.

“Apa?” tanyanya.

“Nggak ada.”

“Clara.”

Aku semakin yakin sekarang.

Ada nada khusus ketika dia menyebut namaku dalam keadaan kesal. Sangat tipis, tapi ada.

“Kuping kamu merah.”

Devan diam.

Satu detik.

Dua.

Kemudian dia kembali ke laptop.

“Ruangan panas.”

Aku melihat AC tepat di atas kami.

“Dingin.”

“Relatif.”

“Kamu bohong.”

“Nggak.”

“Van.”

“Apa?”

Aku mendekat sedikit.

“Kamu gugup, ya?”

Tangannya masuk ke saku celana.

Bukti kedua.

Aku harus menahan kegembiraan yang sama sekali tidak pantas untuk ketua OSIS.

“Nggak.”

“Kupingmu bilang iya.”

“Kupingku nggak bisa bicara.”

“Aku bisa bahasa kuping.”

Untuk pertama kalinya dia terlihat benar-benar tidak punya jawaban.

Hanya dua detik.

Tapi dua detik itu cukup.

Aku bersandar puas.

“Ketemu.”

“Apa?”

“Tombolnya.”

Dia menatapku seolah aku baru mengaku melakukan kejahatan.

“Kamu aneh.”

“Kata orang yang badannya punya indikator gugup.”

“Semua orang punya.”

“Punya, tapi punyamu lucu.”

Telinganya kembali merah.

Aku menunjuk.

“Nah!”

Devan menutup laptop.

“Aku pulang.”

Aku spontan memegang lengan kemejanya.

“Eh, jangan.”

Dia berhenti.

Tanganku juga berhenti.

Untuk sesaat aku baru sadar aku sedang menarik ujung lengan seragamnya.

Kontak kecil.

Biasa saja.

Aku sering menarik Nadine kalau dia jalan terlalu cepat, atau menepuk bahu anggota OSIS.

Tapi Devan melihat tanganku seperti benda itu baru saja mengubah hukum fisika.

Lalu matanya naik ke wajahku.

Aku tidak melepas.

Entah kenapa.

“Masih ada kerjaan,” kataku.

Suaraku sedikit lebih pelan.

“Katanya lima belas menit.”

“Itu Bima yang bilang.”

“Kamu memanfaatkan penipuan sistematis.”

“Kedengarannya keren kalau kamu bilang begitu.”

Sudut bibirnya bergerak.

Aku merasakan dorongan aneh untuk melihatnya lagi.

Bukan telinganya.

Senyumnya.

Aku baru melepas lengan kemejanya ketika Nadine masuk membawa map.

Matanya turun ke tanganku, lalu naik ke wajahku.

Aku pura-pura tidak melihat.

“Data vendor,” katanya.

“Taruh sini.”

Nadine meletakkan map, lalu memandang Devan.

“Terima kasih sudah jadi korban.”

“Nadine.”

“Apa? Aku simpati.”

Devan mengangguk. “Terima kasih.”

Aku memelototi mereka bergantian.

“Kalian kompak sekali.”

“Penderitaan menyatukan orang,” kata Nadine.

Devan kembali membuka laptop.

Aku memutuskan untuk bersikap profesional selama sepuluh menit berikutnya.

Itu berhasil selama kira-kira empat menit.

Kemudian Devan mengambil penggaris dari meja, menggeser kertas ke arahku, dan berkata, “Kalau mau bantu, cek jumlah meja tiap kelas.”

Aku mengangkat alis.

“Menyuruh ketua OSIS?”

“Katanya kamu mau bantu.”

“Aku ketua OSIS.”

“Berarti bisa menghitung.”

Nadine batuk keras untuk menyamarkan tawa.

Aku mengambil penggaris.

“Baik.”

Devan menatapku sejenak, mungkin menunggu balasan.

Aku sengaja tidak memberi.

Kami bekerja.

Aneh, tapi menyenangkan.

Tidak ada kebutuhan untuk mengisi setiap detik dengan percakapan. Aku biasanya terbiasa menjadi orang yang menjaga suasana tetap hidup. Kalau rapat mulai sepi, aku bicara. Kalau orang baru canggung, aku membuka percakapan.

Dengan Devan, diam tidak terasa seperti kegagalan.

Lima belas menit kemudian aku selesai memeriksa tabel.

“Van.”

“Hm?”

“Tiga puluh dua meja.”

Dia memeriksa.

“Benar.”

Aku menyodorkan penggaris.

“Hadiah?”

“Apa?”

“Aku bantu.”

“Kamu minta hadiah karena mengerjakan pekerjaanmu sendiri?”

“Aku ketua OSIS. Aku bisa.”

“Terus kenapa tanya?”

Aku mencondongkan badan.

“Pujilah aku.”

Dia menatapku.

Aku menunggu.

Telinganya mulai merah lagi.

Aku merasa menang bahkan sebelum dia bicara.

Devan menghela napas kecil.

“Kerja bagus.”

Kalimat biasa.

Nada biasa.

Entah kenapa aku justru yang kehilangan jawaban.

Nadine berhenti membalik halaman.

Aku cepat-cepat mengambil map lain.

“Ya. Bagus. Makasih.”

Devan memiringkan kepala sedikit.

“Kamu kenapa?”

“Nggak kenapa-kenapa.”

Dia diam.

Aku tahu persis apa yang akan dia katakan.

“Kamu kalau bilang begitu biasanya ada.”

Aku menunjuknya dengan map.

“Jangan pakai kalimatku sendiri buat lawan aku.”

Sudut bibirnya bergerak lagi.

Sial.

Ternyata permainan ini punya dua arah.

Dan untuk pertama kalinya, aku mulai curiga aku tidak keberatan.