← Ketua OSIS vs Cowok Perpus

Chapter Twenty

Rumah yang Berisik

POV: Clara

Aku pertama kali masuk ke rumah Devan karena printer.

Setidaknya itu alasan resminya.

Sabtu siang, dia mengirim pesan bahwa printer di rumahnya tiba-tiba tidak mau menarik kertas.

Aku tidak tahu kenapa informasi itu dikirim kepadaku.

Mungkin karena minggu lalu aku bilang aku punya printer cadangan.

Mungkin karena Devan mulai belajar meminta bantuan.

Mungkin juga karena dia tidak tahu cara mengawali percakapan hari Sabtu.

Aku memilih kemungkinan ketiga.

“Bawa file-nya ke rumahku,” balasku.

Lima menit kemudian dia menelepon.

“Kenapa ke rumahmu?”

“Karena printernya di sini.”

“Itu masuk akal.”

“Tentu.”

“Tapi aku bisa ke tempat fotokopi.”

“Van.”

“Hm?”

“Aku sudah kasih alamat.”

Hening.

“Oke.”

Dua jam kemudian dia datang membawa flashdisk dan ekspresi seperti orang yang sedang memasuki wilayah diplomatik asing.

Ibuku membuka pintu lebih dulu.

“Oh, ini Devan?”

Aku hampir menjatuhkan gelas.

Devan berhenti.

Aku menatap Ibu.

Ibu menatapku balik dengan wajah polos yang sangat palsu.

“Masuk, Nak.”

“Siang, Tante.”

Suaranya sopan sekali.

Aku baru sadar aku tidak pernah melihat Devan berbicara dengan orang tua.

Dia melepas sepatu rapi, mengucapkan terima kasih tiga kali, dan duduk terlalu tegak di sofa.

Aku berdiri di depan tangga.

“Van.”

“Hm?”

“Santai.”

“Aku santai.”

“Kamu duduk kayak wawancara beasiswa.”

Ibu tertawa dari dapur.

Telinga Devan merah.

Bagus.

Rumah akhirnya terasa normal.

Kami mencetak tugas di ruang kerja kecil.

Masalah selesai dalam tujuh menit.

Seharusnya dia pulang.

Dia tidak.

Ayah pulang membawa makanan.

Adikku, Niko, muncul dari kamar dan langsung bertanya, “Ini pacarnya Kak Clara?”

Aku menutup mata.

Devan mematung.

“Niko.”

“Apa?”

“Kamar.”

“Tapi aku cuma—”

“Kamar.”

Dia pergi sambil tertawa.

Aku menoleh ke Devan.

“Maaf.”

“Nggak apa-apa.”

“Kalau kamu mau pulang—”

“Kenapa?”

Aku berhenti.

Devan terlihat sungguh-sungguh bingung.

“Karena rumahku berisik.”

Dia melihat ke ruang tengah. Ibu sedang bicara dengan Ayah. Televisi menyala. Niko entah kenapa bernyanyi dari lantai atas.

“Lumayan,” katanya.

“Nah.”

“Tapi nggak masalah.”

Aku menatapnya.

“Rumahmu lebih sepi?”

Dia mengangguk.

“Cuma aku sama Ibu. Ibu sering pulang malam.”

“Oh.”

“Ayah kerja di luar kota.”

Nada suaranya biasa.

Tidak terdengar sedih.

Tapi ada ruang kosong di kalimat itu.

Aku tidak ingin mengisinya dengan asumsi.

“Sering sendirian?”

“Lumayan.”

Aku duduk di ujung meja.

“Masak sendiri?”

“Kadang.”

“Makan apa?”

“Yang ada.”

“Itu jawaban mengkhawatirkan.”

“Kenapa?”

“Definisi ‘yang ada’ versi cowok tujuh belas tahun bisa kriminal.”

Devan hampir tersenyum.

Aku membuka laci, mengambil bungkus biskuit, lalu melempar satu kepadanya.

“Mulai hari ini kalau makan malam cuma roti tawar, lapor.”

“Ke siapa?”

“Pacar.”

“Kenapa?”

“Program pengawasan gizi.”

“Program keanggotaan makin banyak.”

Aku tertawa.

Kami akhirnya makan bersama keluargaku.

Devan bicara sedikit, tapi Ayah berhasil membuatnya ikut debat soal klub sepak bola.

Ibu terus menambahkan lauk ke piringnya.

Niko beberapa kali menyebut “Kak Devan” terlalu antusias.

Aku malu.

Aneh sekali, tapi aku juga senang.

Saat mengantarnya ke depan rumah, Devan berhenti di pagar.

“Clara.”

“Hm?”

“Rumahmu enak.”

Aku menatapnya.

“Berisik.”

“Iya.”

“Tadi kamu bilang lumayan.”

“Sekarang aku yakin.”

Aku mencubit lengannya.

Dia tertawa kecil.

Kemudian ekspresinya berubah sedikit lebih tenang.

“Serius,” katanya. “Enak.”

Aku tidak menggoda.

Aku hanya mengangguk.

“Kalau mau datang lagi, datang.”

“Tanpa printer rusak?”

“Lebih bagus.”

Telinganya merah lagi.

Aku tersenyum.

Untuk pertama kalinya aku melihat bagian hidup Devan yang tidak ada di sekolah.

Dan untuk pertama kalinya juga aku ingin ada di sana lebih sering, bukan untuk memperbaiki sesuatu.

Hanya supaya rumah yang sepi itu tidak selalu terlalu sepi.