Chapter One
Katanya Aku Kebal
POV: Devan
Ada tiga alasan kenapa aku suka perpustakaan sekolah.
Pertama, sepi.
Kedua, dingin.
Ketiga, orang-orang yang datang ke perpustakaan biasanya memang ingin membaca, mengerjakan tugas, atau tidur diam-diam di meja paling belakang. Ketiganya adalah kegiatan yang tidak membutuhkan keterlibatanku.
Tempat yang ideal.
Setidaknya sampai Clara Maheswari masuk.
Aku tahu itu dia bahkan sebelum melihat ke arah pintu.
Bukan karena aku hafal suara langkah kakinya. Aku belum separah itu.
Ruangan saja yang berubah.
Dua anak kelas sepuluh yang tadi berbisik di dekat rak referensi mendadak berhenti bicara. Seorang anak di meja sebelah mengangkat kepala dari laptop. Bahkan petugas perpustakaan menurunkan kacamatanya sedikit.
Lalu terdengar suara perempuan dari arah pintu.
“Permisi, Kak. Aku nyari Devan Pradipta.”
Aku menutup mata.
Tiga detik.
Mungkin kalau aku tidak bergerak, masalahnya akan pergi sendiri.
“Van.”
Ternyata tidak.
Aku membuka mata.
Raka berdiri di sisi meja sambil membawa dua buku fisika. Senyumnya lebar sekali untuk seseorang yang baru saja mengkhianati teman.
“Dicari ketua OSIS.”
“Aku dengar.”
“Terus?”
“Aku sedang mempertimbangkan pura-pura mati.”
“Telat.”
Raka mengangguk ke belakangku.
“Dia udah lihat.”
Aku menoleh.
Clara berdiri beberapa meter dari meja.
Seragamnya sama seperti semua siswa lain: kemeja putih, rok abu-abu, dasi sekolah, dan blazer yang dilipat di lengan. Tapi entah bagaimana keberadaannya cukup membuat tiga orang di jalur antara pintu dan mejaku spontan bergeser memberi jalan.
Matanya bertemu denganku.
Kemudian dia tersenyum.
Aku segera mengalihkan pandangan ke buku.
Tidak ada alasan untuk panik.
Dia ketua OSIS.
Aku siswa.
Ketua OSIS berbicara dengan siswa setiap hari.
Normal.
Sangat normal.
“Devan?”
Aku mengangkat kepala lagi.
Sekarang dia sudah berdiri di depan meja.
Jarak tempuh lima meter yang luar biasa cepat.
“Iya?”
“Akhirnya ketemu.”
Clara menarik kursi kosong di seberangku.
Dia duduk.
Aku menatapnya.
Kemudian menatap Raka.
Raka mundur satu langkah.
Aku menatapnya lebih lama.
Dia mundur dua langkah lagi.
Pengkhianat.
“Aku ganggu?” tanya Clara.
“Sedikit.”
Raka tersedak.
Clara berkedip.
Aku baru menyadari kemungkinan bahwa jawaban yang diharapkan adalah nggak kok.
Terlambat.
Tapi bukannya tersinggung, sudut bibir Clara justru terangkat.
“Jujur banget.”
“Kamu tanya.”
“Benar juga.”
Dia menopang dagu dengan satu tangan.
Aku menunggu penjelasan kenapa ketua OSIS meninggalkan habitat alaminya dan datang ke sini.
Penjelasan itu tidak kunjung datang.
Sebaliknya, dia menatapku.
Lima detik.
Enam.
Tujuh.
Aku mulai mempertimbangkan apakah ada sesuatu di wajahku.
“Ada apa?” tanyaku.
“Nggak ada.”
“Terus?”
“Aku lagi lihat kamu.”
Aku diam.
Ada banyak kemungkinan jawaban terhadap kalimat itu.
Sayangnya, otakku memutuskan berhenti bekerja sebelum menemukan satu pun.
Clara memiringkan kepala.
“Kamu nggak gugup?”
“Kenapa harus gugup?”
Kalimat itu keluar dengan tenang.
Bagus.
Sangat bagus.
Sementara itu, di bawah meja, jari telunjukku sudah tiga kali meluruskan ujung halaman buku yang sebenarnya tidak bengkok.
Clara menatapku beberapa detik lagi.
Lalu dia tertawa kecil.
“Menarik.”
Aku tidak menyukai kata itu.
Terutama dari ketua OSIS.
“Ada yang bisa kubantu?”
“Nah.” Dia menepukkan kedua telapak tangannya pelan. “Itu baru pertanyaan yang benar.”
Dia membuka tas, mengeluarkan map biru, lalu menyodorkannya kepadaku.
Di bagian depan tertulis: <strong>PENDATAAN INVENTARIS FESTIVAL ARUNIKA</strong>.
Aku membaca judulnya.
Lalu membaca lagi.
“Kenapa diberikan ke aku?”
“Karena Bima bilang kamu yang bikin sistem inventaris kelas tahun lalu.”
“Aku cuma bikin spreadsheet.”
“Spreadsheet yang bikin kelasmu jadi satu-satunya kelas yang nggak kehilangan kabel terminal waktu pentas seni.”
“Itu standar yang rendah.”
“Standar OSIS kadang memang menyedihkan.”
Dari belakang, Raka mengeluarkan suara seperti sedang menahan tawa.
Aku mengabaikannya.
“Jadi?”
“Kami butuh bantuan merapikan data inventaris buat festival.”
“Aku bukan anggota OSIS.”
“Aku tahu.”
“Bagus.”
“Tapi kamu bisa bantu.”
“Itu dua hal yang berbeda.”
Clara tersenyum lagi.
Aku mulai curiga senyum itu adalah alat negosiasi.
“Sekali aja.”
“Nggak.”
“Dua jam.”
“Nggak.”
“Aku traktir.”
“Nggak.”
“Kalau aku bilang tolong?”
Aku membuka mulut.
Berhenti.
Clara sedikit mencondongkan tubuh.
Tidak banyak.
Hanya cukup untuk membuat jarak kami berubah dari aman menjadi tidak perlu sedekat ini.
“Devan,” katanya, lebih pelan, “tolong?”
Aku menatapnya.
Dia menatap balik.
Ada sesuatu yang sangat tidak adil dari cara orang ini menggunakan kontak mata.
Aku bisa mencium aroma sampo yang samar.
Kesalahan.
Jangan perhatikan hal-hal seperti itu.
Aku menurunkan pandangan ke map.
“Jam berapa?”
Keheningan.
Lalu terdengar suara Raka dari belakang.
“Buset.”
Aku menoleh tajam.
Dia langsung membuka buku fisika dan berpura-pura membaca.
Clara tidak mengatakan apa-apa.
Ketika aku kembali menatapnya, senyumnya sudah berubah.
Bukan senyum lebar yang tadi dia berikan saat masuk. Yang ini lebih kecil. Seperti orang yang baru saja menemukan tombol tersembunyi dan berniat menekannya berkali-kali.
“Jam tiga,” katanya.
“Oke.”
“Ruang OSIS.”
“Iya.”
“Jangan kabur.”
“Aku bilang oke.”
“Cuma memastikan.”
Dia memasukkan kembali map ke tas.
Seharusnya percakapan selesai di situ.
Ternyata tidak.
Clara masih duduk.
Aku menunggu.
Dia masih menatapku.
“Apa lagi?”
“Aku penasaran.”
Aku punya firasat buruk.
“Katanya kamu susah dibaca.”
“Siapa yang bilang?”
“Orang-orang.”
Jawaban yang sangat tidak berguna.
“Aku nggak merasa begitu.”
“Hmm.”
Clara menyipitkan mata sedikit.
Kemudian, tanpa peringatan, dia berdiri dan berjalan mengitari meja.
Aku mengikutinya dengan pandangan.
Dia berhenti di samping kursiku.
Terlalu dekat.
Sangat terlalu dekat.
Aku menegakkan punggung.
“Apa?”
“Nggak apa-apa.”
“Kalau nggak apa-apa, kenapa pindah?”
“Biar bisa lihat lebih jelas.”
“Lihat apa?”
“Kamu.”
Lagi.
Kenapa dia terus menggunakan kata itu seperti senjata?
Clara membungkuk sedikit.
Wajahnya kini berada cukup dekat sampai aku bisa melihat satu helai rambut yang jatuh di sisi pipinya.
Jantungku melakukan sesuatu yang tidak profesional.
Aku tidak bergerak.
Jangan bergerak.
Bergerak berarti kalah.
Aku tidak tahu kompetisi apa yang sedang berlangsung, tetapi jelas aku tidak boleh kalah.
Mata Clara bergerak mengamati wajahku.
Dahi.
Mata.
Hidung.
Kemudian turun sedikit.
Aku segera menatap lurus ke depan.
Kesalahan kedua.
Sekarang pandanganku jatuh tepat ke wajahnya.
“Serius?” gumam Clara.
“Apa?”
“Nggak ada reaksi.”
“Aku harus bereaksi bagaimana?”
Biasanya aku cukup bangga pada kemampuan suaraku untuk terdengar stabil.
Hari ini aku ingin memberikan penghargaan khusus kepadanya.
Clara berdiri tegak.
Dia tampak benar-benar heran.
Lalu tatapannya berubah.
Aku mengenali tatapan itu.
Itu tatapan orang yang baru saja menemukan permainan baru.
“Oh,” katanya.
Satu suku kata.
Entah kenapa terdengar mengancam.
“Apa?”
“Nggak apa-apa.”
“Kamu sudah bilang itu dua kali.”
“Devan.”
“Iya?”
Senyumnya kembali.
Kali ini penuh keyakinan.
“Aku bakal bikin kamu gugup.”
Aku menatapnya.
Satu detik.
Dua.
Tiga.
Lalu aku menutup buku.
“Semoga berhasil.”
Raka menjatuhkan buku fisikanya.
Clara membeku.
Hanya sebentar.
Kemudian dia tertawa.
“Wah.”
Aku memasukkan buku ke tas.
“Jam tiga, kan?”
“Iya.”
“Oke.”
Aku berdiri.
Clara bergeser memberiku jalan, tetapi matanya terus mengikutiku.
Aku melewatinya.
Satu langkah.
Dua.
Tiga.
Normal.
Jalan biasa.
Jangan terlalu cepat.
Begitu sampai di ujung rak, Raka menyusul dan mencengkeram bahuku.
“Van.”
“Apa?”
“Gila.”
“Kenapa?”
“Lu barusan nantang Clara Maheswari.”
“Aku nggak nantang siapa-siapa.”
“Dia bilang bakal bikin lu gugup, terus lu jawab semoga berhasil.”
“Itu respons sopan.”
“Itu deklarasi perang.”
Aku berhenti.
“Berlebihan.”
Raka menatapku dari samping.
Lalu matanya turun sedikit.
Dia mendekat.
“Van.”
“Apa lagi?”
“Kuping lu merah.”
Aku diam.
Refleks, tanganku terangkat hendak menyentuh telinga.
Aku menghentikannya di tengah jalan.
Raka melihat gerakan itu.
Senyumnya perlahan melebar.
“Wah.”
“Diam.”
“Wah.”
“Raka.”
“Gue kira lu beneran kebal.”
Aku memasukkan kedua tangan ke saku dan berjalan lebih cepat menuju pintu perpustakaan.
Di belakangku, Raka masih tertawa.
Aku mengabaikannya.
Yang lebih sulit diabaikan adalah satu fakta sederhana.
Clara Maheswari baru saja mengumumkan bahwa dia akan membuatku gugup.
Masalahnya, dia terlambat sekitar sepuluh menit.
- 1 Katanya Aku Kebal reading
- 2 Reaksi yang Pelit
- 3 Lima Belas Menit
- 4 Indikator Gugup
- 5 Kebetulan yang Konsisten
- 6 Cocok
- 7 Selalu Punya Alasan
- 8 Senyum yang Nggak Perlu
- 9 Kalau Nggak Diganggu
- 10 Aku yang Nyari
- 11 Kalau Begitu, Pacaran
- 12 Hak Istimewa Pacar
- 13 Rahasia yang Buruk
- 14 Kencan yang Katanya Bukan Kencan
- 15 Serangan Balik
- 16 Aku Memang Nunggu
- 17 Kursi Devan
- 18 Semua Orang Tahu
- 19 Terlalu Banyak
- 20 Rumah yang Berisik
- 21 Pegang Tanganku
- 22 Kita Sudah Hafal
- 23 Giliran Aku
- 24 Semua Datang Sekaligus
- 25 Jangan Tambah Beban
- 26 Ruang yang Kuberi
- 27 Kalau Kamu Tahu
- 28 Percakapan yang Gagal
- 29 Jangan Menebak Lagi
- 30 Minta Tolong
- 31 Aku yang Mulai
- 32 Tidak Pernah Kebal