Chapter Twenty One
Pegang Tanganku
POV: Devan
Clara marah pada printer aula.
Lebih tepatnya, dia marah pada seluruh dunia dan printer aula kebetulan berada paling dekat.
Aku tahu karena dia menekan tombol cetak tiga kali, menatap layar, lalu berkata sangat pelan, “Kalau benda ini bunyi sekali lagi, aku lempar.”
Itu bukan gaya Clara.
Biasanya dia akan membuat lelucon.
Aku berdiri dari kursi.
“Masalah?”
“Nggak.”
Jawaban terlalu cepat.
Aku melihat meja.
Ada revisi rundown, daftar tenant, dan catatan dari Bu Ratih.
“Clara.”
“Aku bilang nggak.”
Aku diam.
Dia menutup mata sebentar.
“Maaf.”
“Nggak apa-apa.”
“Bukan kamu.”
“Aku tahu.”
Itu membuat bahunya turun sedikit.
Kami sedang sendirian di ruang OSIS. Yang lain sudah ke aula.
Aku tidak tahu masalah mana yang paling berat.
Aku juga tahu bertanya sepuluh kali tidak akan membantu.
Jadi aku mengambil kursi dan duduk di sebelahnya.
Clara menatapku.
“Kenapa?”
“Nunggu.”
“Kamu selalu nunggu.”
“Katanya.”
Dia tertawa kecil.
Bagus.
Sedikit.
Lalu ponselnya berbunyi.
Pesan baru.
Ekspresinya berubah lagi.
Dia membaca.
Menghela napas.
Meletakkan ponsel.
Mengambil lagi.
Meletakkan lagi.
Aku memperhatikan tangannya.
Jarinya mengetuk meja terlalu cepat.
Biasanya Clara yang memulai semua kontak.
Pegangan tangan.
Gandengan lengan.
Kepala di bahu.
Aku selalu membalas setelah dia lebih dulu bergerak.
Hari itu aku tidak ingin menunggu.
Aku mengulurkan tangan di atas meja.
Telapak menghadap ke atas.
Clara melihatnya.
Kemudian melihatku.
“Van?”
“Pegang.”
Dia berkedip.
“Kenapa?”
“Nggak tahu.”
Jawaban jelek.
Aku mencoba lagi.
“Kayaknya kamu butuh.”
Clara tidak bergerak beberapa detik.
Aku mulai merasa bodoh.
Lalu tangannya masuk ke tanganku.
Aku menggenggam.
Tidak keras.
Cukup.
Clara menatap tangan kami.
Senyumnya kecil.
Bukan senyum ketua OSIS.
“Ini hak istimewa pacar?”
“Bukan.”
“Terus?”
“Aku yang mau.”
Dia menatapku cepat.
Telingaku langsung panas.
Sial.
Clara melihat.
Tapi untuk sekali ini dia tidak menertawakan.
Genggamannya justru menguat.
Kami duduk begitu selama beberapa menit.
Ponselnya berbunyi lagi.
Clara melihat layar.
Lalu menaruhnya terbalik.
“Besok aja,” katanya.
Aku mengangguk.
“Bagus.”
“Jangan sok bangga.”
“Aku nggak.”
“Kupingmu merah.”
“Itu nggak ada hubungannya.”
Sekarang dia tertawa lebih jelas.
Aku ikut tersenyum.
Setelah beberapa menit, Clara berkata, “Van.”
“Hm?”
“Makasih.”
“Buat tangan?”
“Buat nggak nanya terus.”
Aku menatapnya.
“Aku bisa nanya kalau kamu mau.”
“Nanti.”
“Oke.”
Dia menyandarkan kepala ke bahuku.
Tangan kami masih bergandengan di meja.
Aku melihat jari kami.
Dulu sentuhan kecil saja cukup membuat otakku berhenti.
Sekarang masih.
Bedanya, aku mulai belajar bahwa gugup bukan alasan untuk tidak melakukan sesuatu.
Kadang orang yang kita sayang sedang berdiri terlalu lama.
Kadang kita tidak punya kalimat yang tepat.
Kadang satu-satunya hal yang bisa dilakukan adalah mengulurkan tangan lebih dulu.
Dan ternyata itu cukup.
- 1 Katanya Aku Kebal
- 2 Reaksi yang Pelit
- 3 Lima Belas Menit
- 4 Indikator Gugup
- 5 Kebetulan yang Konsisten
- 6 Cocok
- 7 Selalu Punya Alasan
- 8 Senyum yang Nggak Perlu
- 9 Kalau Nggak Diganggu
- 10 Aku yang Nyari
- 11 Kalau Begitu, Pacaran
- 12 Hak Istimewa Pacar
- 13 Rahasia yang Buruk
- 14 Kencan yang Katanya Bukan Kencan
- 15 Serangan Balik
- 16 Aku Memang Nunggu
- 17 Kursi Devan
- 18 Semua Orang Tahu
- 19 Terlalu Banyak
- 20 Rumah yang Berisik
- 21 Pegang Tanganku reading
- 22 Kita Sudah Hafal
- 23 Giliran Aku
- 24 Semua Datang Sekaligus
- 25 Jangan Tambah Beban
- 26 Ruang yang Kuberi
- 27 Kalau Kamu Tahu
- 28 Percakapan yang Gagal
- 29 Jangan Menebak Lagi
- 30 Minta Tolong
- 31 Aku yang Mulai
- 32 Tidak Pernah Kebal