Chapter Three
Lima Belas Menit
POV: Devan
Aku membuat kesalahan dengan membantu OSIS.
Kesalahan itu bukan spreadsheet.
Spreadsheet-nya selesai dengan baik.
Kesalahannya adalah sekarang mereka tahu aku bisa membantu.
Dua hari setelah sesi pertama, Bima muncul di depan kelasku saat jam istirahat dengan setumpuk kertas.
“Van, punya waktu?”
Aku menatap kertas di tangannya.
“Nggak.”
“Lima belas menit.”
“Nggak.”
“Clara yang minta.”
Aku berdiri.
Raka, yang sedang makan keripik di sebelahku, berhenti mengunyah.
Aku mengambil laptop dari tas.
“Apa?” tanyaku kepadanya.
Raka menelan keripik pelan-pelan.
“Nggak ada.”
“Jangan.”
“Gue belum ngomong.”
“Mukamu ngomong.”
“Gue cuma terharu melihat dedikasi lu terhadap OSIS.”
“Aku membantu karena datanya berantakan.”
“Tentu.”
Aku meninggalkannya sebelum percakapan itu menjadi lebih buruk.
Ruang OSIS lebih ramai daripada terakhir kali. Empat orang berdiri di depan papan tulis, dua orang membahas vendor, dan seseorang di sudut sedang menghitung kursi sambil terlihat menyesali pilihan hidup.
Clara berada di tengah semuanya.
Dia berbicara dengan tiga orang sekaligus tanpa kelihatan bingung. Tangan kirinya memegang daftar, tangan kanannya menunjuk jadwal di papan. Ketika satu junior memanggil, dia menoleh, menjawab, lalu kembali ke pembicaraan awal tanpa kehilangan alur.
Aku berdiri di pintu lebih lama dari yang diperlukan.
Bima menyenggol siku.
“Keren, kan?”
“Apa?”
“Ketua kita.”
Aku melihatnya.
Clara tertawa karena sesuatu yang dikatakan Nadine, lalu menepuk bahu seorang junior yang tampak tegang.
“Efisien,” jawabku.
Bima menatapku.
“Lu kalau muji orang kayak laporan audit, ya?”
Aku mengabaikannya.
Clara akhirnya melihat kami.
Matanya langsung berhenti di aku.
Kemudian dia tersenyum.
Senyum yang berbeda.
Aku mulai menyadari ada banyak jenis senyum Clara dan hampir semuanya berbahaya.
“Devan.”
Aku tidak suka betapa natural namaku terdengar ketika dia mengucapkannya.
“Katanya cuma lima belas menit.”
“Siapa yang bilang?”
Aku menoleh ke Bima.
Bima sudah pergi.
Aku menghela napas.
Clara tertawa. “Tenang. Aku nggak bakal menculik kamu sampai sore.”
“Kata-kata orang yang akan menculik orang sampai sore.”
“Wah. Kamu makin lucu.”
“Nggak sengaja.”
“Tetap dihitung.”
Masalah hari itu sederhana: daftar peminjaman ruangan saling bentrok. Aku duduk di kursi paling ujung, membuka file jadwal, lalu mulai menandai konflik.
Lima menit kemudian Clara menarik kursi di sebelahku.
Kursi lain tersedia.
Banyak.
Dia tetap memilih yang paling dekat.
“Bisa?” tanyanya.
“Bisa.”
“Butuh bantuan?”
“Bisa jangan bicara dua menit?”
Clara memasang ekspresi tersinggung yang terlalu teatrikal untuk dipercaya.
Lalu dia menutup mulut dengan kedua tangan.
Aku kembali ke layar.
Dua puluh detik.
Tiga puluh.
Empat puluh.
Aku mulai merasa ada yang salah.
Aku menoleh.
Clara masih menutup mulut. Matanya tertawa.
“Apa?” tanyaku.
Dia mengangkat dua jari.
Aku melihat jam.
“Baru empat puluh lima detik.”
Dia mengangguk serius.
Aku kembali ke layar.
Satu menit kemudian aku mendengar suara kertas bergeser.
Aku menoleh lagi.
Clara sudah menulis di sticky note.
Kalau aku ngomong lewat tulisan, dihitung bicara nggak?
Aku mengambil pena.
Di bawahnya kutulis: Iya.
Dia mengambil kembali kertas itu.
Kejam.
Aku menulis: Satu menit lagi.
Clara mengangkat jempol.
Anehnya, ruangan yang ramai tidak terlalu mengganggu setelah itu.
Aku menyelesaikan jadwal, memindahkan dua kegiatan, lalu membuat tabel akses ruangan.
“Selesai,” kataku.
Clara langsung bicara. “Aku hampir meninggal.”
“Dua menit.”
“Dua menit yang panjang.”
“Kamu ketua OSIS.”
“Apa hubungannya?”
“Kupikir kamu terlatih menghadapi situasi sulit.”
Dia menatapku, lalu tertawa keras sampai Nadine menoleh.
Aku memalingkan wajah.
Telingaku terasa sedikit panas.
Mungkin ruangan ini memang terlalu ramai.
“Van.”
Aku mengenali suara Raka dari pintu.
Tidak bagus.
Dia berdiri di sana membawa botol minumku yang tertinggal di kelas.
“Nih. Ketinggalan.”
“Taruh aja.”
Dia berjalan masuk, lalu melihat Clara di sebelahku.
Senyumnya muncul.
Lebih tidak bagus.
“Oh,” katanya.
“Apa?”
“Nggak ada.”
Clara menoleh kepadanya. “Kamu Raka, kan?”
“Kak Clara tahu nama gue?”
“Pernah lihat daftar kelas.”
Raka meletakkan botol di meja. “Saya temannya Devan. Teman dekat.”
Aku menatapnya.
Dia mengabaikan.
Clara tampak menahan senyum. “Bagus. Tolong pastikan dia datang lagi besok.”
“Siap.”
“Aku nggak bilang akan datang.”
Raka menepuk pundakku. “Dia bakal datang.”
“Raka.”
“Gue dukung kegiatan sekolah.”
Clara akhirnya tertawa.
Aku ingin melempar botol minum ke kepala seseorang.
Setelah Raka pergi, Clara memutar kursinya sedikit menghadapku.
“Temanmu lucu.”
“Kadang.”
“Dia pikir kamu bakal datang besok.”
“Dia sering salah.”
“Kalau aku yang minta?”
Aku menatapnya.
Dia tidak mendekat kali ini. Tidak memakai nada aneh. Hanya bertanya.
Aneh sekali bahwa itu justru lebih sulit.
“Ada kerjaan?” tanyaku.
“Ada.”
“Jam berapa?”
Clara tidak langsung menjawab.
Senyumnya pelan-pelan muncul.
“Tiga.”
Aku mengangguk.
“Oke.”
“Devan.”
“Hm?”
“Kamu gampang banget kalau diminta baik-baik.”
Aku menutup laptop.
“Jangan disalahgunakan.”
“Aku nggak janji.”
Aku berdiri.
Saat berjalan keluar, aku mendengar Nadine bertanya pelan kepada Clara, “Sudah puas?”
Clara menjawab, “Belum.”
Aku mempercepat langkah.
Masalahnya, aku tidak yakin bagian mana dari jawaban itu yang paling mengkhawatirkanku.
- 1 Katanya Aku Kebal
- 2 Reaksi yang Pelit
- 3 Lima Belas Menit reading
- 4 Indikator Gugup
- 5 Kebetulan yang Konsisten
- 6 Cocok
- 7 Selalu Punya Alasan
- 8 Senyum yang Nggak Perlu
- 9 Kalau Nggak Diganggu
- 10 Aku yang Nyari
- 11 Kalau Begitu, Pacaran
- 12 Hak Istimewa Pacar
- 13 Rahasia yang Buruk
- 14 Kencan yang Katanya Bukan Kencan
- 15 Serangan Balik
- 16 Aku Memang Nunggu
- 17 Kursi Devan
- 18 Semua Orang Tahu
- 19 Terlalu Banyak
- 20 Rumah yang Berisik
- 21 Pegang Tanganku
- 22 Kita Sudah Hafal
- 23 Giliran Aku
- 24 Semua Datang Sekaligus
- 25 Jangan Tambah Beban
- 26 Ruang yang Kuberi
- 27 Kalau Kamu Tahu
- 28 Percakapan yang Gagal
- 29 Jangan Menebak Lagi
- 30 Minta Tolong
- 31 Aku yang Mulai
- 32 Tidak Pernah Kebal