← Ketua OSIS vs Cowok Perpus

Chapter Sixteen

Aku Memang Nunggu

POV: Clara

Aku baru sadar Devan sering menungguku pada hari Selasa.

Bukan menunggu seperti kemarin, ketika dia memang bilang akan menunggu.

Menunggu yang ini ternyata sudah terjadi jauh sebelum kami pacaran.

Nadine yang membocorkannya.

“Dia sering duduk di tangga depan habis jam empat,” katanya sambil mengecek daftar sponsor.

Aku berhenti menulis.

“Siapa?”

Nadine menatapku.

Aku mengangkat tangan. “Iya, iya. Devan.”

“Sejak sebelum kalian jadian.”

Aku menatapnya.

“Sering?”

“Cukup sering buat Bima mengira dia anggota OSIS tidak resmi.”

Aku melihat ke arah kursi Devan.

Kosong.

Dia sedang membantu guru informatika di ruang multimedia.

Entah kenapa ruang OSIS terasa sedikit berbeda saat kursi itu kosong.

“Kenapa kamu baru bilang?”

“Karena baru sekarang kamu tanya.”

“Aku nggak tanya.”

“Benar.”

Nadine kembali ke laptop.

Menyebalkan.

Sore itu rapat selesai pukul empat lewat dua puluh.

Aku membereskan meja lebih cepat dari biasanya.

Bima melihat.

“Ketua buru-buru?”

“Nggak.”

“Pacarnya nunggu?”

Aku menatapnya.

Dia langsung menunduk ke map.

Aku keluar.

Devan duduk di bangku dekat tangga.

Tentu saja.

Buku terbuka di tangannya.

Tas diletakkan di samping kaki.

Dia mengangkat kepala saat mendengar langkahku.

“Sudah?”

“Sudah.”

Aku tidak langsung berjalan.

Devan menutup buku.

“Kenapa?”

Aku berdiri di depannya.

“Kamu sering nunggu di sini?”

Dia mengernyit sedikit.

“Kadang.”

“Sejak kapan?”

“Entah.”

“Sejak sebelum kita pacaran?”

Dia diam.

Itu jawaban.

Aku menyilangkan tangan.

“Van.”

“Hm?”

“Kenapa?”

Devan melihat ke arah koridor.

“Pulangnya searah.”

“Itu alasan.”

“Iya.”

“Alasan yang sebenarnya.”

Dia menghela napas kecil.

Telinganya mulai merah.

Biasanya aku akan senang.

Kali ini jantungku justru jadi lebih cepat.

“Kadang kamu pulang telat,” katanya.

“Iya.”

“Halte lebih sepi kalau terlalu sore.”

Aku menunggu.

Dia masih belum melihatku.

“Terus?”

“Terus… aku memang nunggu.”

Sederhana.

Datar.

Tidak dramatis.

Tepat karena itu dadaku terasa sesak dengan cara yang aneh.

Aku duduk di sampingnya.

“Sejak sebelum pacaran?”

“Iya.”

“Kenapa nggak bilang?”

“Kamu nggak tanya.”

Aku menoleh.

Dia masih serius.

Aku tertawa pelan.

“Jawabanmu nyebelin.”

“Katanya.”

Aku menyandarkan kepala ke bahunya.

Devan langsung diam total.

“Apa?” tanyaku.

“Nggak.”

“Merah?”

“Jangan mulai.”

Aku tidak mulai.

Tidak hari itu.

Kami duduk beberapa detik tanpa bicara.

Akhirnya aku berkata, “Makasih.”

“Buat?”

“Udah nunggu.”

Devan mengangkat bahu sedikit, hati-hati agar kepalaku tidak bergeser.

“Bukan masalah.”

“Buat aku iya.”

Dia diam lagi.

Aku tersenyum kecil.

“Van.”

“Hm?”

“Kalau suatu hari aku selesai lebih cepat, kamu jangan kecewa.”

Dia menoleh sedikit.

“Kenapa aku kecewa?”

“Waktu nunggu berkurang.”

“Bagus.”

“Kok bagus?”

“Berarti kita bisa pulang lebih cepat.”

Aku mengangkat kepala dan menatapnya.

Dia menatap balik.

Sekali lagi, Devan berhasil mengucapkan sesuatu yang seharusnya biasa dan membuatku kehilangan kemampuan membalas.

Aku menyandarkan kepala lagi.

“Curang.”

“Apa?”

“Kamu makin jago.”

“Jago apa?”

“Bikin aku diam.”

Devan diam dua detik.

Lalu berkata, “Bagus.”

Aku mencubit lengannya.

Dia tertawa kecil.

Dan sore itu, untuk pertama kalinya, aku berharap rapat besok selesai sedikit terlambat.