Chapter Nine

Hari Aku Tidak Mencarimu

POV Alva

Sepuluh minggu setelah aku berhenti menunggu Eve, aku hampir terlambat mengikuti audisi karena mesin pemotong kertas di percetakan Ibu macet.

Masalahnya bukan besar. Sebatang potongan karton masuk ke sela pisau dan membuat sensor berhenti membaca. Namun, Ibu menerima pesanan dua ratus undangan yang harus dikirim siang itu, sementara tangannya sudah berlumur tinta biru.

“Pergi,” katanya saat melihatku membuka penutup mesin. “Kamu ada audisi.”

“Masih empat puluh menit.”

“Dan perjalanan ke sekolah dua puluh menit.”

“Berarti aku punya dua puluh menit.”

Ibu menatapku dengan wajah yang biasa dipakai untuk menghadapi pelanggan yang meminta cetak seribu lembar dalam satu jam. “Alva.”

“Lima menit.”

Aku mengeluarkan karton yang tersangkut, membersihkan sensor, lalu menyalakan mesin kembali. Pisau bergerak dengan suara pendek dan tumpukan pertama terpotong rapi.

Aku mencuci tangan, meraih tas, dan berlari keluar setelah Ibu menyelipkan roti ke saku jaketku.

“Kalau gagal karena terlambat, jangan salahkan mesin!” teriaknya.

“Aku akan salahkan rotinya.”

Untuk pertama kalinya pagi itu, Ibu tertawa.

Audisi Beasiswa Komposisi Arunika diadakan di ruang pertunjukan kecil gedung seni. Pemenangnya mendapat biaya kursus produksi musik selama enam bulan dan kesempatan mengirim portofolio ke program seni beberapa universitas. Bu Ratih sudah menyuruhku mendaftar sejak Desember. Aku baru mengirim formulir pada hari terakhir karena terlalu lama mempertanyakan apakah karyaku pantas didengar orang di luar sekolah.

Dimas menungguku di depan gedung dengan nomor peserta di tangan.

“Tiga puluh satu menit,” katanya sambil melihat jam. “Aku sudah menyiapkan pidato untuk pemakaman kesempatanmu.”

“Simpan untuk hasil audisinya.”

“Optimis sekali.” Ia menempelkan nomor peserta ke dadaku. “Nomor tujuh. Laptop dan berkasmu sudah dicek panitia. Kamu tinggal bernapas dan tidak merusak apa pun.”

“Standar yang tinggi.”

Aku memasuki lorong menuju ruang tunggu. Di balik pintu, terdengar petikan gitar peserta sebelumku. Tanganku dingin, tetapi bukan karena hal lain selain gugup. Aku sudah berlatih hampir setiap sore selama dua bulan. Komposisi yang kubawa bukan Ruang di Antara Hujan. Karya baru itu berisi suara mesin yang kembali bekerja, langkah kaki di trotoar pagi, pintu bus menutup, dan bunyi pensil Dimas yang selalu jatuh saat pelajaran matematika.

Judulnya Hari Biasa.

Sepuluh minggu lalu, aku tidak akan percaya ada hari biasa yang cukup menarik untuk dijadikan musik.

Pada minggu pertama setelah percakapanku dengan Eve, setiap kebiasaan terasa seperti lubang. Tanganku masih membuka ponsel saat jam makan siang. Aku masih menoleh ke pintu kantin ketika mendengar tawanya. Ketika ia mengembalikan payung biruku lewat Dimas, aku duduk hampir setengah jam tanpa membukanya.

Minggu kedua, Eve mengirim pesan karena bertengkar dengan Raka. Aku menatap nama itu, lalu membalas bahwa mungkin ia perlu membicarakannya langsung dengan pacarnya. Aku tidak menanyakan kelanjutannya.

Minggu keempat, aku berhenti menghitung berapa lama ia tidak menghubungiku.

Setelah itu, waktu mulai dipenuhi hal lain. Pesanan Ibu. Latihan audisi. Dimas yang memaksaku makan sebelum sore. Bu Ratih yang mengembalikan komposisiku dengan tiga belas catatan merah. Bahkan diam ternyata memiliki banyak suara ketika aku tidak menggunakannya untuk menunggu satu nama.

“Alva?”

Aku mengenali suara Eve sebelum melihatnya.

Ia berdiri di ujung lorong bersama Raka. Eve membawa dua gelas minuman, sedangkan Raka mengenakan jaket tim basket dengan map tebal di bawah lengan. Pagi itu sekolah juga mengadakan wawancara rekomendasi atlet di gedung sebelah. Aku ingat pengumumannya, tetapi tidak tahu Raka mendapat jadwal yang sama.

Dahulu, satu pemandangan seperti itu bisa mengubah seluruh hari. Aku akan menghitung jarak di antara bahu mereka, mencari tahu minuman mana yang dibeli Eve untuknya, lalu membenci diriku sendiri karena memperhatikan.

Sekarang aku hanya menyadari Raka tampak sama gugupnya denganku.

“Hai,” jawabku.

Eve mendekat dua langkah, lalu berhenti pada jarak yang sudah kami pelajari selama sepuluh minggu terakhir. Tidak terlalu jauh untuk disebut bermusuhan. Tidak cukup dekat untuk membuat semuanya kembali seperti dahulu.

“Kamu audisi hari ini?” tanyanya.

Aku menunjuk nomor di dada. “Aku menyamar sebagai peserta tujuh.”

Raka tertawa kecil. “Semoga lebih berhasil daripada penyamaranku jadi atlet yang nggak takut wawancara.”

“Kamu takut?” tanya Dimas.

“Sejak pelatih bilang pewawancaranya mantan atlet nasional.” Raka mengangkat map. “Tiba-tiba semua prestasiku terasa seperti sertifikat lomba makan kerupuk.”

Percakapan itu berlangsung biasa. Tidak ada yang berjalan di atas pecahan kaca. Eve menanyakan keadaan Ibu. Aku menjawab seperlunya. Raka mengucapkan semoga berhasil dan aku membalas hal yang sama.

Lalu Eve mengulurkan salah satu gelas minumannya.

“Aku beli teh dua, tapi Raka ternyata sudah bawa kopi. Kamu mau?”

Tanganku tidak langsung bergerak. Bukan karena aku sedang mencari makna tersembunyi. Aku hanya tidak terlalu menyukai teh leci.

“Kasih Dimas saja,” kataku. “Dia akan minum apa pun selama gratis.”

“Fitnah,” kata Dimas sambil menerima gelas itu. “Tapi terima kasih.”

Eve tersenyum. Ada sesuatu yang sedikit canggung di sana, tetapi aku tidak ingin memperbaikinya. Kecanggungan bukan keadaan darurat.

Pintu ruang audisi terbuka. Seorang panitia memanggil nomor tujuh.

“Giliranmu,” kata Eve. “Semoga lancar, Va.”

“Makasih.”

Aku berjalan menuju pintu.

Pada langkah ketiga, aku menyadari sesuatu yang aneh: aku tidak ingin menoleh.

Bukan karena sedang membuktikan kekuatan. Bukan karena takut melihat Eve menggandeng tangan Raka. Aku hanya sudah menghadap ke arah yang ingin kutuju.

Di dalam ruangan, tiga orang juri duduk di belakang meja panjang. Bu Ratih berada di sisi dekat perangkat audio sebagai pengawas, bukan penilai. Ia mengangguk sekali ketika aku menyambungkan laptop.

“Silakan perkenalkan karya kamu,” kata salah satu juri.

Aku mengusap bingkai kacamata. “Judulnya Hari Biasa. Saya membuatnya dari suara-suara yang biasanya kita anggap tidak penting.”

“Kenapa suara itu?”

Aku memandang layar, pada susunan gelombang yang kukumpulkan selama berminggu-minggu.

“Karena saya pernah terlalu lama menunggu satu kejadian besar sampai lupa hidup juga berlangsung di antaranya.”

Bu Ratih tidak tersenyum, tetapi penanya berhenti bergerak.

Aku menekan tombol pemutar.

Suara mesin pemotong kertas menjadi ketukan pertama. Pintu bus menutup pada hitungan keempat. Pensil Dimas jatuh dan berubah menjadi perkusi kecil yang berulang. Di tengah lagu, piano masuk tanpa meminta suara lain menghilang.

Aku tidak memainkan karya itu untuk Eve. Aku tidak memainkan karya itu agar seseorang akhirnya melihatku. Selama empat menit dua belas detik, aku hanya ingin para juri mendengar dunia seperti aku mendengarnya.

Ketika nada terakhir berhenti, salah satu juri langsung menanyakan proses mixing. Juri lain meminta penjelasan tentang motif piano. Pertanyaan mereka sulit, spesifik, dan tidak memberi ruang untuk bersembunyi di balik jawaban aman.

Aku menyukai semuanya.

Saat keluar, lorong sudah lebih sepi. Raka pergi ke gedung wawancara. Eve tidak ada. Dimas juga menghilang bersama teh gratisnya.

Helen berdiri di dekat jendela sambil memegang map hitam.

“Kamu menunggu Dimas?” tanyaku.

“Dia ke toilet.”

“Dengan teh leci?”

“Aku memilih nggak menanyakan detailnya.”

Aku berdiri di sebelahnya. Dari jendela, lapangan terlihat terang setelah hujan semalam.

“Aku lihat kamu tadi,” kata Helen.

“Semua peserta lewat lorong yang sama.”

“Bukan waktu masuk audisi.” Ia menatap lurus ke lapangan. “Waktu Eve datang.”

Aku menunggu pertanyaan yang tidak muncul.

“Dan?” tanyaku akhirnya.

Helen menoleh kepadaku. Tatapannya teliti seperti biasa, tetapi kali ini tidak terasa sedang membongkar rahasia.

“Nggak ada apa-apa,” katanya. “Itu intinya.”

Aku memahami maksudnya. Dadaku tidak terasa menang atau kosong. Hanya ringan.

“Iya,” jawabku. “Nggak ada apa-apa.”

Pintu ruang guru seni terbuka sebelum percakapan kami berlanjut. Bu Ratih keluar membawa dua lembar formulir.

“Bagus, kalian berdua ada di sini,” katanya.

Helen mengangkat map hitamnya. “Saya baru mau menyerahkan revisi naskah.”

“Simpan dulu. Festival film pelajar dibuka bulan depan. Sekolah akan mengirim satu film pendek.” Bu Ratih memberikan satu formulir kepadaku dan satu kepada Helen. “Alva mengurus musik dan desain suara. Helen menulis naskah sekaligus mengisi narasi.”

Aku membaca judul formulir itu, lalu memandang Helen. Ia juga sedang menatapku.

“Kenapa kami?” tanyanya.

“Karena kalian sama-sama berbakat dan sama-sama menyebalkan kalau merasa paling benar.” Bu Ratih kembali masuk ke ruangannya. “Rapat pertama Senin. Jangan membuat saya menyesal.”

Helen menatap pintu yang sudah tertutup. “Aku baru akan bertanya apakah kamu keberatan.”

“Aku juga.”

“Kamu keberatan?”

Aku melihat formulir di tanganku. Sepuluh minggu lalu, setiap keputusan baru terasa seperti sesuatu yang harus kuukur terhadap Eve.

Hari itu, nama pertama yang kupikirkan justru tertulis di lembar yang sama denganku.

“Belum tahu,” kataku. “Tapi sepertinya kita akan segera mengetahuinya.”