Chapter Thirteen
Kencan yang Belum Diakui
POV Alva
Pasar malam bukan tempat yang masuk akal untuk merekam suara bersih.
Ada musik dangdut dari dua arah, anak-anak berteriak di dekat wahana, pedagang memukul wajan, dan pengeras suara mengumumkan kehilangan dompet setiap lima belas menit. Semua frekuensi bertabrakan seperti sedang berusaha menjadi bagian terpenting dari malam.
Menurut Helen, itu alasan kami harus datang.
Menurutku, Helen hanya ingin naik bianglala.
Aku tiba di gerbang pukul tujuh kurang lima. Tripod terikat di sisi tas dan membuat dua orang menjauh saat aku berbalik terlalu cepat. Helen belum terlihat, jadi aku mengirim pesan.
Aku: Aku di gerbang timur. Bawa tripod, jadi cukup mudah dikenali dan dihindari.
Balasannya masuk hampir seketika.
Helen: Lihat ke kiri.
Aku menoleh ke kanan lebih dahulu.
Helen: Itu kanan, Alva.
Saat berbalik ke arah yang benar, Helen berdiri lima meter dariku sambil menahan tawa.
Ia tidak mengenakan seragam atau pakaian latihan teater. Sweater kremnya sedikit kebesaran, rambut panjangnya dibiarkan tergerai, dan tas kecil menggantung di bahu. Aku sudah melihat Helen dalam banyak pakaian selama dua tahun, tetapi malam itu otakku mendadak kehilangan kemampuan menghasilkan sapaan biasa.
“Kamu membawa tripod ke pasar malam,” katanya ketika mendekat.
“Kita bekerja.”
“Tentu.” Tatapannya bergerak dari tas peralatanku ke wajahku. “Makanya kamu pakai kemeja yang bukan seragam.”
Aku melihat kemeja biru gelap yang kupilih tiga kali sebelum berangkat. “Masa pakai seragam?”
“Aku cuma mengamati.”
“Dengan ekspresi menghakimi.”
“Wajahku memang begini.”
Ia menggunakan kalimatku dari ruang musik, lalu berjalan masuk sebelum aku menemukan balasan.
Kami mulai dari area permainan. Aku merekam bola yang menghantam tumpukan kaleng, bunyi senapan mainan, dan lonceng kecil setiap kali seseorang memenangkan hadiah. Helen mengambil foto untuk referensi visual, tetapi lebih sering muncul di dekat meja permainan daripada memeriksa naskah.
“Kita butuh suara lemparan gelang?” tanyaku saat ia membeli lima gelang plastik.
“Kita butuh pengalaman autentik.”
“Pengalaman gagal?”
“Aku belum mulai.”
Lima lemparan kemudian, tidak ada satu gelang pun yang masuk ke leher botol.
Penjaga permainan memberikan gantungan kunci ikan sebagai hadiah hiburan. Helen menerimanya dengan wajah seolah baru memenangkan medali nasional, lalu menggantungkannya pada resleting tas peralatanku.
“Kenapa di tasku?”
“Supaya perlengkapanmu sedikit punya kepribadian.”
“Ikannya berwarna merah muda.”
“Dia percaya diri.”
Aku membiarkannya tetap di sana.
Di permainan berikutnya, penjaga stan menawarkan paket lempar bola untuk dua orang. “Pacarnya sekalian coba, Kak. Kalau total skornya cukup, hadiahnya boneka besar.”
“Bukan pacar,” jawabku terlalu cepat. “Kami partner kerja.”
Penjaga stan mengangguk tanpa peduli dan beralih menawarkan paket yang sama kepada pengunjung lain.
Helen menatap deretan boneka di dinding. “Cepat sekali menyangkalnya.”
“Aku menjelaskan supaya dia nggak salah hitung paket.”
“Tentu. Masalah administrasi.”
“Kamu mau mencoba?”
“Nggak. Partner kerjaku sudah memastikan paketnya nggak berlaku.”
Ia berjalan lebih dahulu. Tidak benar-benar marah, tetapi tidak lagi menggoda. Aku mengikuti sambil menyadari betapa mudahnya menggunakan pekerjaan sebagai jawaban untuk pertanyaan yang sebenarnya ingin kujawab berbeda.
Semakin malam, kerumunan menjadi lebih padat. Aku berjalan sedikit di depan agar tripod tidak mengenai orang lain. Ketika sekelompok anak berlari memotong jalan kami, tangan Helen tiba-tiba melingkari lenganku.
“Biar nggak terpisah,” katanya.
Alasannya masuk akal. Cara jemarinya tetap berada di lipatan sikuku setelah kerumunan longgar tidak terlalu masuk akal.
Aku memusatkan perhatian pada indikator alat perekam.
“Detak jantungmu masuk rekaman nggak?” tanya Helen.
“Nggak.”
“Sayang sekali.”
“Kenapa?”
“Bisa jadi ambience.”
Ia mengatakan itu sambil tetap menggandeng lenganku. Aku mengusap bingkai kacamata dengan tangan bebas, membuat Helen tersenyum puas seperti baru menemukan tombol yang bisa ditekan kapan saja.
“Kita masih bekerja?” tanyaku.
“Kamu yang membawa tripod.”
Jawaban itu seharusnya membuat semuanya sederhana. Kami berada di sana untuk proyek. Film akan diputar besok. Setelah itu, tidak ada lagi rekaman yang harus dicari, naskah yang harus diperbaiki, atau tenggat yang memberi kami alasan untuk bertemu setiap sore.
Pikiran itu membuat keramaian di sekeliling terasa terlalu cepat bergerak.
Kami membeli gulali dan duduk di bangku dekat wahana. Helen merobek sedikit bagian berwarna biru, lalu memberikannya kepadaku.
“Aku nggak terlalu suka manis.”
“Aku tahu. Makanya sedikit.”
Aku menerimanya. Gula itu menempel di ujung jariku.
“Setelah besok, kita nggak punya jadwal rapat lagi,” kataku.
Helen menjilat gula dari ibu jarinya sebelum menjawab. “Kamu terdengar sedih.”
“Aku sedang menyampaikan fakta.”
“Fakta bisa disampaikan dengan wajah yang tidak seperti baru kehilangan folder proyek.”
“Wajahku—”
“Memang begitu. Aku tahu.”
Ia menyandarkan punggung ke bangku. Genggamannya sudah lepas dari lenganku, tetapi rasa hangatnya belum hilang.
Aku ingin mengatakan kami bisa tetap bertemu. Kalimat itu sederhana. Namun, mengatakannya berarti mengakui aku menginginkan sesuatu yang tidak diwajibkan proyek.
Selama bertahun-tahun, aku terbiasa mendapat tempat di dekat seseorang dengan menjadi berguna. Kali ini tidak ada bantuan yang bisa kutawarkan. Tidak ada masalah yang perlu kuselesaikan. Aku hanya ingin Helen tetap datang.
“Naik bianglala,” katanya tiba-tiba.
“Itu perintah?”
“Aku sudah menjalani seluruh malam dengan tripodmu. Kamu bisa menjalani sepuluh menit dengan ketakutanku.”
Aku menatap wahana yang bergerak lambat di belakangnya. “Kamu takut ketinggian?”
“Nggak.”
“Lalu ketakutan apa?”
“Naik sendirian.”
Kami masuk ke satu kabin kecil. Pintu ditutup dari luar, lalu roda mulai bergerak. Lampu pasar malam perlahan turun di bawah kami. Dari ketinggian, kebisingannya berubah menjadi dengung jauh, seperti seseorang mengecilkan volume kota.
Helen duduk di seberangku pada awalnya. Ketika kabin bergoyang terkena angin, ia berpindah ke sampingku.
“Katanya nggak takut ketinggian.”
“Aku nggak takut. Aku menghormati gravitasi.”
“Dengan duduk sangat dekat?”
“Gravitasi lebih lemah kalau ada dua orang.”
“Pengetahuan fisikamu mengkhawatirkan.”
Helen tertawa, lalu melihat ke luar jendela. Cahaya merah dan kuning memantul pada wajahnya. Untuk beberapa saat, kami tidak merekam apa pun.
“Kamu gugup dari tadi,” katanya.
“Kabin ini bergoyang.”
“Sejak di gerbang.”
“Tripodnya berat.”
“Tripodnya dititipkan di bawah.” Helen menoleh kepadaku. “Kenapa kamu gugup, Va?”
Aku bisa menjawab dengan lelucon lain. Bisa menunggu sampai proyek selesai dan berharap Helen mengajak pergi lagi. Cara lama selalu menyediakan ruang untuk menyangkal keinginan sendiri.
Namun, aku sudah tahu ke mana kebiasaan itu membawaku.
“Karena aku berharap ini kencan,” kataku.
Suara pasar malam terasa menghilang sepenuhnya.
Helen tidak tertawa. Matanya tetap pada wajahku, membuatku sadar aku tidak bisa menarik kalimat itu kembali tanpa merusaknya.
“Kalau menurutmu ini hanya pekerjaan,” lanjutku, “nggak apa-apa. Aku cuma nggak mau pura-pura aku datang cuma untuk merekam suara.”
Helen memiringkan kepala. “Kamu pikir aku pakai sweater ini untuk kualitas audio?”
Aku kehilangan jawaban.
Ia tersenyum kecil, bukan senyum yang biasa dipakainya setelah berhasil menggodaku. Ada kegugupan di sana, tipis tetapi nyata.
“Aku juga berharap demikian,” katanya.
Kabin berhenti sesaat di titik tertinggi. Di bawah, pasar malam terlihat seperti kumpulan cahaya yang tidak tahu kami baru saja mengubah nama malam itu.
“Jadi ini kencan?” tanyaku.
“Kencan yang sangat buruk. Kamu menyuruhku memegang mikrofon setengah malam.”
“Kamu melempar gelang selama dua puluh menit.”
“Aktivitas romantis.”
“Kamu gagal lima kali.”
“Jangan rusak momennya.”
Helen menyelipkan tangannya ke lenganku lagi. Kali ini tidak ada kerumunan yang bisa dijadikan alasan.
Aku membiarkannya, lalu sedikit menggeser siku agar genggamannya lebih nyaman.
Setelah turun, kami mengambil tas peralatan dan berjalan menuju gerbang. Proyek kami masih harus diputar besok. Ada evaluasi juri, revisi terakhir, dan kemungkinan file video rusak pada waktu paling buruk. Namun, tidak satu pun terasa seperti batas akhir lagi.
Di halte, bus Helen datang lebih dahulu.
“Besok setelah pemutaran, jangan langsung pulang,” kataku.
Ia berhenti di anak tangga pertama. “Kenapa?”
“Ada yang ingin kukatakan.”
“Kamu bisa bilang sekarang.”
“Aku ingin mengatakannya tanpa pengeras suara yang mengumumkan dompet hilang.”
Helen menatapku beberapa detik. “Baik. Besok.”
Ia naik, lalu duduk di dekat jendela. Ketika bus bergerak, aku melihat gantungan ikan merah muda masih tergantung di tasku.
Aku tidak melepasnya.
Besok, untuk pertama kalinya, aku akan meminta seseorang tinggal bukan karena ia membutuhkan bantuanku.
Aku akan memintanya karena aku ingin berjalan bersamanya setelah semua alasan lain selesai.
- 1 Cowok yang Tidak Mungkin Menyukaiku
- 2 Plester di Bingkai Kacamata
- 3 Duo Goddess
- 4 Payung yang Dipakai Berdua
- 5 Senyum Setelah Hujan
- 6 Sahabat yang Selalu Tersedia
- 7 Tepuk Tangan dari Kursi Terakhir
- 8 Aku Memilih Berhenti
- 9 Hari Aku Tidak Mencarimu
- 10 Kenalan Lagi
- 11 Tujuh Menit yang Berantakan
- 12 Suara yang Ingin Kusimpan
- 13 Kencan yang Belum Diakui reading
- 14 Aku Selesai Sebelum Kita Mulai
- 15 Pacar Pertama
- 16 Lima Menit Lagi
- 17 Pacarku Terlalu Sopan
- 18 Senyum yang Bukan Lagi Untukku
- 19 Jadi Kamu Bisa Cemburu
- 20 Lagu untuk Pacarku
- 21 Jangan Jadikan Aku Penonton
- 22 Rumah Tempat Alva Tidak Pernah Mengeluh
- 23 Tempat Helen Boleh Lelah
- 24 Semua Hal yang Tidak Pernah Kulihat
- 25 Kemungkinan yang Sudah Berakhir
- 26 Tidak Ada yang Disembunyikan
- 27 Hari Helen Boleh Meminta Apa Saja
- 28 Jangan Kecilkan Masa Depanmu
- 29 Orang yang Terlambat Melihat
- 30 Lagu yang Dimulai dari Nol