Chapter Eleven

Tujuh Menit yang Berantakan

POV Alva

Tiga hari setelah kami berkenalan lagi, aku mengetahui dua hal tentang Helen Angelina.

Pertama, ia bisa menghabiskan satu jam memperbaiki satu kalimat tetapi tidak punya kesabaran menunggu lift selama tiga puluh detik.

Kedua, ia bersenandung ketika gugup.

Aku menemukan hal kedua saat kami hendak merekam narasi pertama untuk film. Helen berdiri di dalam bilik rekaman ruang musik, mengenakan headphone besar, sementara aku duduk di depan mixer di sisi lain kaca.

Bibirnya bergerak pelan mengikuti lagu yang tidak bisa kudengar.

Aku menekan tombol komunikasi. “Kamu sedang menyanyi?”

Helen berhenti seketika. “Nggak.”

“Meter audionya bergerak.”

“Mungkin bilikmu berhantu.”

“Hantunya hafal lagu Tulus?”

Ia menatapku dari balik kaca. “Kita mulai saja.”

Naskah film kami berubah total setelah aku merekam satu hari bersamanya. Bukan satu hari penuh—hanya tiga jam setelah sekolah—tetapi Helen membawaku ke tempat-tempat yang tidak pernah kupikirkan sebagai bahan cerita. Gudang properti teater yang dipenuhi suara kayu tua. Tangga belakang perpustakaan tempat siswa berlatih pidato karena gema di sana membuat suara mereka terdengar lebih besar. Ruang kelas kosong ketika semua kursi seperti masih menyimpan percakapan pemiliknya.

Ia juga menunjukkan hal-hal yang biasanya disembunyikannya. Ia salah menyebut nama karakter di depan anggota teater. Menginjak ujung rok kostum dan hampir jatuh. Mengeluh lapar empat kali. Memarahi dirinya sendiri karena kehilangan satu halaman naskah yang ternyata terselip di map.

Versi Helen yang berantakan jauh lebih menarik daripada tokoh sempurna yang ditulisnya.

Dari rekaman itu, kami membuat cerita tentang seorang siswi yang selalu berlatih menyampaikan kalimat sempurna, tetapi rekaman paling berharga justru berisi suara-suara ketika ia gagal: napas gugup, tawa, dan kalimat yang tidak selesai.

Konsepnya sederhana. Bu Ratih menyetujuinya dengan syarat kami berhenti menjelaskan tema melalui dialog.

Sekarang kami harus membuktikan konsep itu tidak hanya terdengar bagus di kertas.

Aku mengangkat tiga jari dari balik kaca, menghitung mundur, lalu menekan tombol rekam.

Helen mengetuk penyangga naskah tiga kali.

“Aku selalu mengira suara terbaikku adalah suara yang sudah kulatih,” bacanya. “Yang tahu kapan harus berhenti, kapan harus tersenyum, dan kata mana yang membuat orang—”

Ia berhenti.

Aku menunggu.

“Kenapa?” tanyanya.

Kutekan tombol komunikasi. “Kamu yang berhenti.”

“Karena kamu menatapku seperti aku salah.”

“Aku menatap layar.”

“Wajahmu menghakimi.”

“Wajahku memang begini.”

Helen menarik napas panjang. “Ulang.”

Percobaan kedua gagal karena ia membaca terlalu cepat. Percobaan ketiga gagal ketika sebuah motor lewat di luar gedung dengan knalpot yang terdengar seperti lemari besi jatuh dari tangga.

Pada percobaan keempat, Helen berhasil menyelesaikan dua paragraf. Namun, suaranya terlalu bersih. Setiap jeda berada di tempat yang benar. Setiap kata terdengar seperti sudah dipoles sampai tidak memiliki sidik jari.

Aku menghentikan rekaman.

“Sekarang apa?” tanyanya.

“Terlalu sempurna.”

Helen melepas satu sisi headphone. “Kemarin kamu menyuruhku latihan artikulasi.”

“Artikulasinya bagus.”

“Intonasi?”

“Bagus.”

“Tempo?”

“Bagus.”

“Lalu?”

“Aku nggak percaya satu pun kata yang kamu ucapkan.”

Helen membuka pintu bilik dan keluar. “Kamu tahu, kebanyakan orang cukup bilang ‘bisa lebih natural’.”

“Itu nggak spesifik.”

“Dan ‘aku nggak percaya satu pun kata yang kamu ucapkan’ sangat menenangkan?”

Ia berdiri di samping kursiku, membaca tampilan gelombang pada layar. Aku memutar bagian terakhir. Suaranya memang indah, tetapi terdengar seperti suara Helen saat menjadi pembawa acara: terkendali, elegan, dan tidak membiarkan siapa pun terlalu dekat.

“Dengar ini,” kataku.

Aku membuka rekaman dari gudang teater. Di dalamnya, Helen sedang berusaha memindahkan kursi properti sambil mengeluh.

“Siapa yang membuat kursi dari kayu seberat dosa?” suara rekaman Helen terdengar.

Kemudian ada bunyi benda jatuh, napasku yang tertahan, dan tawa Helen ketika menyadari kursi itu tidak rusak.

Helen buru-buru menekan tombol berhenti. Jarinya mendarat tepat di atas tanganku yang masih berada pada mouse.

“Hapus,” katanya.

“Itu contoh yang bagus.”

“Itu barang bukti untuk mempermalukanku.”

“Dengarkan perbedaannya.”

Tangannya belum berpindah. Telapak jarinya hangat di punggung tanganku, tekanannya ringan tetapi jelas. Aku menoleh. Ia juga menyadarinya pada saat yang sama.

Tidak ada yang langsung menarik diri.

Selama satu detik, suara kipas komputer menjadi sangat keras.

Helen mengangkat tangannya lebih dahulu, lalu menyelipkan rambut ke belakang telinga. “Perbedaannya apa?”

Aku harus melihat layar dua kali sebelum menemukan file yang tadi kubuka.

“Di rekaman ini kamu nggak sedang berusaha terdengar seperti siapa pun.”

“Aku sedang menghina kursi.”

“Dengan sangat jujur.”

“Jadi arahanmu adalah membayangkan naskahku sebagai furnitur yang kubenci?”

“Kalau membantu.”

Helen kembali masuk ke bilik. “Aku akan mencoba sekali lagi. Kalau gagal, aku ganti pengisi suara.”

“Dengan kucing?”

“Dengan Dimas.”

“Ancaman yang efektif.”

Aku menekan rekam.

Percobaan berikutnya hanya bertahan tujuh menit, tetapi di dalamnya terjadi lebih banyak kekacauan daripada empat percobaan sebelumnya. Helen salah mengucapkan ‘mengabadikan’ menjadi ‘mengabadi-abadi’. Ia mengulang kalimat itu tiga kali, semakin salah pada setiap percobaan. Aku menyuruhnya berhenti memikirkan suku kata. Ia menyuruhku berhenti bernapas terlalu keras di mikrofon komunikasi.

Lalu perutnya berbunyi.

Suara itu tertangkap jelas oleh mikrofon studio.

Helen membeku. Aku menatap meter audio yang melonjak, lalu menutup mulut dengan tangan.

“Jangan,” katanya dari balik kaca.

Aku mencoba.

“Alva, jangan berani-berani—”

Tawaku keluar sebelum ia menyelesaikan kalimat.

Bukan tawa kecil yang biasa kugunakan untuk memberi tanda bahwa aku memahami lelucon. Aku tertawa sampai harus melepas kacamata karena lensanya berembun. Helen menatapku dengan wajah tersinggung selama dua detik, kemudian ia ikut tertawa.

Mikrofon merekam semuanya: suara kursinya bergeser, napas kami yang putus-putus dari dua ruangan berbeda, dan Helen yang berusaha mengatakan bahwa ini tidak lucu sambil terus tertawa.

Tujuh menit setelah tombol rekam ditekan, tidak satu pun paragraf selesai.

Aku menghentikan rekaman. Helen keluar dari bilik dengan pipi sedikit merah.

“Kalau file itu tersebar,” katanya, “aku akan memastikan audisi beasiswamu gagal secara misterius.”

“Audisinya sudah selesai.”

“Berarti aku akan mengganggu proses administrasi.”

Aku masih tersenyum ketika memasang kembali kacamata. “Duduk.”

“Kenapa?”

“Dengarkan.”

Kami memakai headphone yang sama. Kali ini Helen menarik kursi dan duduk di sebelahku tanpa perlu kuminta. Bahunya menyentuh bahuku ketika kami membungkuk ke layar.

Kumainkan rekaman tujuh menit itu dari awal. Sebagian besar tidak bisa dipakai. Ada terlalu banyak koreksi, bunyi perut, dan ancaman kepada operator audio. Namun, setelah tawa kami mereda, Helen menarik napas lalu membaca satu kalimat tanpa aba-aba.

Suaranya masih tersenyum ketika berkata, “Mungkin suara yang paling jujur memang muncul saat nggak ada waktu untuk membuatnya sempurna.”

Kami sama-sama diam.

Kalimat itu tidak ada di naskah.

“Itu,” kataku.

Helen memutar ulang bagian tersebut. “Napasnya berantakan.”

“Biarkan.”

“Ada suara kamu tertawa di belakang.”

“Bisa kupotong.”

Ia mendengarkannya sekali lagi. Kali ini bahunya tidak lagi menegang saat mendengar kesalahannya sendiri.

“Jangan semuanya,” katanya.

“Apa?”

“Jangan potong semua tawanya.” Helen melepaskan headphone dan menatapku. “Kalau temanya suara yang tidak terdengar, mungkin kita nggak seharusnya membersihkan semua hal yang membuatnya nyata.”

Keputusan itu mengubah film kami. Bukan hanya rekamannya. Untuk pertama kalinya, Helen rela membiarkan sesuatu yang tidak sempurna mewakili dirinya. Untuk pertama kalinya, aku mempertimbangkan musik yang memberi ruang pada kekacauan, bukan menutupinya dengan nada sedih.

Kami menghabiskan satu jam berikutnya menandai bagian yang bisa digunakan. Helen tidak lagi masuk ke bilik. Ia membaca dari kursi di sebelahku, kadang berhenti untuk mengganti kata, kadang membiarkan kalimatnya patah jika terdengar lebih jujur.

Ketika langit di luar jendela berubah jingga, kami memiliki empat puluh detik narasi yang terasa hidup.

“Besok kita butuh ambience baru,” kata Helen. “Yang di foldermu terlalu banyak suara sekolah.”

“Kita sedang membuat film pelajar.”

“Tokohnya punya hidup setelah gerbang sekolah.” Ia menutup naskah. “Sabtu, ikut aku naik bus ke pusat kota. Kita cari suara yang belum pernah kamu rekam.”

“Ini ajakan kerja atau hukuman karena aku menertawakanmu?”

“Keduanya.”

Aku menyimpan file dengan nama NARASI_FINAL_01, meskipun kami berdua tahu akan ada sedikitnya sembilan versi setelahnya.

“Jam berapa?” tanyaku.

Helen tersenyum, lalu mengambil satu sisi headphone yang masih kupakai.

“Aku kirim nanti. Jangan terlambat, partner.”

Ia berjalan keluar sambil membawa naskah. Aku tetap duduk di depan layar, mendengarkan kembali empat puluh detik rekaman kami.

Di bagian akhir, suara Helen tertawa bercampur dengan tawaku.

Untuk pertama kalinya, aku tidak merasa perlu menghapus salah satunya.