Chapter Twelve

Suara yang Ingin Kusimpan

POV Helen

Aku mengajak Alva pergi pada hari Sabtu untuk membuktikan satu hal: kami hanya cocok ketika sedang bekerja.

Rencana itu sudah bermasalah sejak awal karena aku tiba di halte dua belas menit lebih cepat.

Alva datang tepat pukul sembilan dengan tas selempang berisi alat perekam, headphone, kabel cadangan, baterai cadangan, dan mungkin persediaan untuk bertahan hidup selama bencana kecil. Kemeja hitamnya digulung sampai siku. Rambutnya masih sedikit basah, seolah ia baru mandi lima menit sebelum berangkat.

“Kamu sudah lama?” tanyanya.

“Baru datang.”

Ia melihat layar jadwal bus di belakangku. “Bus sebelumnya berangkat sebelas menit lalu.”

“Aku nggak naik bus sebelumnya.”

“Berarti kamu—”

“Jangan membuat kesimpulan yang merusak citraku.”

Alva mengusap bingkai kacamatanya. Aku mulai mengenali gerakan itu sebagai cara tubuhnya menyimpan senyum.

“Baik,” katanya. “Kamu baru datang.”

Bus menuju pusat kota tiba tiga menit kemudian. Kami mendapat dua kursi berdampingan di sisi jendela. Aku duduk lebih dahulu, lalu Alva mengambil tempat di sebelahku dan langsung memeriksa tingkat suara pada alat perekam.

“Kita mencari apa?” tanyanya.

“Suara di luar sekolah.”

“Itu kategori yang sangat luas.”

“Makanya aku mengajak orang yang suka merekam mesin potong kertas.”

“Mesin itu punya ritme.”

“Aku yakin ibumu sangat tersentuh.”

Alva memberikan satu sisi earphone kepadaku. “Dengar.”

Aku memasangnya. Sisi lain tetap berada di telinga Alva, membuat kabel tipis itu membentang di antara kami. Dari earphone, bunyi mesin bus terdengar lebih dalam. Getaran jendela menjadi dengung panjang. Percakapan penumpang di belakang bercampur dengan suara lampu penyeberangan dari luar.

Bus berbelok, bahuku menyentuh bahunya.

Aku tidak langsung menjauh.

Alva juga tidak.

“Kalau alatnya diarahkan ke jendela, suara kendaraan terlalu dominan,” katanya, masih menatap indikator pada layar.

“Hm.”

“Kalau ditaruh di tengah, kita dapat suara kabin.”

“Hm.”

Ia menoleh. “Kamu dengar?”

“Aku sedang berusaha.”

Masalahnya, aku lebih bisa mendengar gesekan lengan kemejanya dengan jaketku setiap kali bus berguncang. Jarak kami tidak jauh berbeda dari saat berbagi headphone di ruang musik, tetapi di sana ada meja, layar, dan alasan untuk mengabaikannya. Di bus, tidak ada apa pun selain kaca jendela dan bahu Alva yang tetap berada di tempatnya.

Aku menggeser sedikit lebih dekat agar kabel tidak tertarik.

Alva memandang earphone, lalu bahu kami. “Kabelnya masih cukup panjang.”

“Aku tahu.”

Kali ini ia benar-benar tersenyum.

Kami turun di Jalan Braga dan berjalan tanpa rute yang terlalu ketat. Alva merekam lonceng sepeda, roda koper di trotoar, penjual yang menarik pintu besi tokonya, dan seorang anak kecil yang bernyanyi sambil menunggu ayahnya membeli minuman.

Aku mencari cerita di antara suara-suara itu. Seorang perempuan tua menghitung uang receh sebelum masuk toko roti. Dua pekerja mengecat papan nama sambil saling mengejek. Seorang pengamen berhenti di tengah lagu karena lupa lirik, lalu tertawa bersama penontonnya.

“Yang itu,” kataku.

Alva sudah mengarahkan alat perekam sebelum aku menunjuk.

“Kamu juga dengar?”

“Dia salah, lalu nggak mengulang dari awal.”

Kami saling memandang. Itu persis inti film kami.

Aku mengambil alat perekam dari tangannya dan mengarahkannya kepada Alva. “Kalau cuma boleh menyimpan satu suara dari hidupmu, apa?”

“Itu wawancara mendadak?”

“Jawab.”

Ia sempat melihat lampu merah pada alat itu, tetapi tidak mematikannya. “Mesin cetak di rumah saat Ibu bekerja pagi-pagi.”

“Bukannya berisik?”

“Iya.” Alva memasukkan satu tangan ke saku. “Waktu kecil, kalau bangun dan mendengar mesin itu, aku tahu Ibu ada di bawah. Rumah nggak kosong.”

Aku menurunkan alat perekam. Jawabannya jauh lebih jujur daripada yang kuharapkan, sehingga godaan yang sudah kusiapkan terasa tidak pantas dikeluarkan.

“Simpan file itu,” kataku.

Alva menatapku sesaat, lalu menekan tombol stop. “Aku akan menyimpannya.”

Aku seharusnya merasa puas karena perjalanan ini produktif. Sebaliknya, aku justru mulai berharap kami kehabisan suara yang layak direkam agar tidak ada alasan untuk segera pulang.

Menjelang siang, perutku berbunyi. Tidak sekeras suara yang terekam di studio, tetapi Alva menoleh juga.

“Kita makan,” katanya.

“Aku masih bisa jalan.”

“Itu bukan jawaban.”

“Kamu selalu mengatur jadwal makan partner kerja?”

“Hanya yang mengancam proses rekaman dengan suara perut.”

Ia membawaku ke warung mi ayam kecil bernama Bu Nani, berada di gang yang tidak pernah kuperhatikan meski beberapa kali melewatinya. Tempatnya hanya memiliki enam meja, kipas angin tua, dan aroma bawang goreng yang langsung membuatku sadar aku belum sarapan.

“Dua mi ayam,” kata Alva kepada perempuan di belakang gerobak. “Yang satu pedas, tanpa daun bawang. Yang satu biasa, tambah pangsit.”

Aku baru meletakkan tas saat menyadari pesanannya.

“Kamu tahu aku nggak suka daun bawang?”

Alva menuangkan air dari teko ke dua gelas. “Pernah lihat.”

“Kapan?”

“Waktu rapat festival tahun lalu. Kamu memindahkan semuanya ke tutup kotak makan.”

“Kamu mengingat sesuatu yang kulakukan setahun lalu?”

“Aku memang ingat detail.”

Ia mengatakannya tanpa nada khusus, seolah perhatian itu bukan hadiah yang harus kubayar. Tetap saja, dadaku menghangat dengan cara yang tidak ada hubungannya dengan udara warung.

Orang-orang sering mengingat hal tentangku. Merek baju yang kupakai. Nilai ujianku. Foto mana yang paling banyak mendapat komentar. Mereka tahu aku suka tampil di panggung, lalu menganggap itu berarti aku selalu percaya diri.

Tidak ada yang pernah mengingat daun bawang.

“Kenapa kamu menatapku begitu?” tanya Alva.

“Aku sedang memutuskan apakah itu mengesankan atau menyeramkan.”

“Hasilnya?”

“Mi ayamnya belum datang.”

Bu Nani meletakkan dua mangkuk di meja. Pesananku benar-benar bersih dari daun bawang. Aku mencicipi kuahnya, lalu menambahkan sambal dua sendok.

Alva melihatku menambah sendok ketiga. “Kamu masih ingin merasakan lidahmu setelah ini?”

“Aku suka tantangan.”

“Pantas naskah pertamamu dua belas halaman.”

Aku menendang ujung sepatunya di bawah meja. Tidak keras. Ia hampir menjatuhkan pangsit karena tertawa.

Kami makan sambil membicarakan hal-hal yang awalnya masih berkaitan dengan film. Suara apa yang kurang. Adegan mana yang perlu dipotong. Berapa lama narasi bisa bertahan tanpa terasa menjelaskan.

Lalu percakapan bergerak sendiri.

Alva bercerita bahwa ia sering membantu di percetakan sejak SMP. Aku bercerita tentang kakakku yang selalu memiliki rencana lima tahun dan orang tuaku yang menganggap semua anak seharusnya sama teraturnya. Ia tidak langsung memberiku nasihat. Ia hanya bertanya jurusan apa yang sebenarnya kuinginkan.

“Penulisan naskah,” jawabku. “Atau sastra. Belum berani bilang di rumah.”

“Kenapa?”

“Karena kakakku kuliah hukum. Di keluargaku, pilihan hidup dinilai dari seberapa mudah dijelaskan saat reuni.”

Alva mengaduk kuahnya. “Penulis naskah cukup mudah dijelaskan.”

“Menurutmu?”

“Orang yang dibayar untuk membuat orang lain pura-pura jadi manusia.”

Aku tertawa. “Kamu buruk sekali menjual profesi.”

“Tapi kamu tersenyum waktu membicarakannya.”

Kalimat itu membuatku berhenti mengangkat sendok.

Alva tidak memaksaku meneruskan. Ia memanggil Bu Nani untuk menambah pangsit, lalu mengeluh ketika aku mengambil satu dari mangkuknya.

Hari itu seharusnya menjadi ujian. Aku ingin tahu apakah chemistry kami hanya efek ruang musik, tenggat festival, dan dua orang yang kebetulan cocok berdebat.

Namun, saat kami kembali naik bus sore hari, pekerjaannya sudah selesai. Alat perekam tersimpan. Tidak ada naskah di antara kami.

Aku tetap memilih duduk di sebelahnya.

Alva memasang satu earphone dan menatap jalan melalui jendela. Aku mengulurkan tangan.

“Mana punyaku?”

“Kita sudah selesai merekam.”

“Aku tahu.”

Ia menyerahkan sisi earphone yang lain. Lagu instrumental pelan mengalir. Aku menyandarkan bahu pada bahunya sedikit lebih lama dari yang dibutuhkan kabel.

Kali ini Alva tidak mengingatkan bahwa kabelnya cukup panjang.

Malamnya, aku membuka percakapan kami. Aku sudah mengetik tiga kalimat tentang file rekaman, lalu menghapus semuanya. Pesan kerja terasa terlalu aman. Pesan biasa terasa terlalu jelas.

Akhirnya, aku menekan tombol voice note.

Helen: Aku baru dengar lagu yang tadi lagi. Ternyata bagian pianonya lebih bagus kalau nggak ada suara mesin bus. Dan... makasih untuk mi ayamnya. Selamat malam, partner.

Aku mengirimnya sebelum sempat menilai betapa tidak penting isi pesan itu.

Balasan Alva muncul dua menit kemudian.

Alva: Sama-sama. Lain kali sambalnya dua sendok saja. Aku masih butuh pengisi suara yang bisa bicara.

Aku tersenyum pada layar.

Perjalanan itu sudah berakhir beberapa jam lalu. Tidak ada pekerjaan yang perlu dibahas. Tidak ada pertanyaan yang membutuhkan suaraku.

Aku hanya ingin Alva mendengarnya sekali lagi sebelum tidur.

Dan untuk pertama kalinya, aku tidak menyebut keinginan itu sebagai rasa ingin tahu.