Chapter Fourteen

Aku Selesai Sebelum Kita Mulai

POV Alva

Film kami berdurasi tujuh menit empat puluh detik.

Aku sudah menontonnya dua puluh tiga kali, memeriksa setiap perpindahan suara, napas, dan potongan gambar. Namun, saat lampu aula dipadamkan dan judul Suara yang Tidak Dihapus muncul di layar besar, aku mendadak tidak yakin pernah melihatnya sama sekali.

Helen duduk di sebelahku pada baris ketiga. Lututnya bergerak kecil di bawah kursi. Sebelum film dimulai, ia mengetuk sandaran tangannya tiga kali.

“Gugup?” bisikku.

“Nggak.”

“Kursinya salah apa?”

Ia berhenti mengetuk, lalu menekan ujung sepatuku dengan sepatunya. “Diam.”

Dimas duduk di sisi kiriku. Ia membawa sekantong keripik meskipun panitia sudah melarang makanan di aula. Ketika suara kemasan berisik pada adegan pembuka, aku mengambil kantong itu dari tangannya dan meletakkannya di bawah kursi.

“Karya seni menindas kebebasan,” gumamnya.

Film kami dimulai dengan layar gelap dan suara napas Helen sebelum latihan. Lalu muncul gambar gudang properti, kursi tua, tangga belakang perpustakaan, dan lorong sekolah setelah semua orang pulang. Tokoh utama berusaha merekam narasi sempurna, tetapi setiap kesalahan kecil justru membuka bagian hidup yang tidak pernah ia masukkan ke naskah.

Di tengah film, suara perut Helen dari sesi rekaman terdengar sangat pelan.

Aku sudah menurunkan volumenya hampir setengah. Tetap saja, Helen menoleh tajam kepadaku.

“Kamu bilang dipotong,” bisiknya.

“Aku bilang akan mempertimbangkan.”

“Pembohong.”

Beberapa penonton tertawa, bukan menertawakan Helen, tetapi karena tokoh di layar juga berhenti bicara dan menatap mikrofon dengan ekspresi bersalah. Tawa itu berubah menjadi sunyi ketika narasi terakhir masuk.

“Mungkin suara yang paling jujur memang muncul saat nggak ada waktu untuk membuatnya sempurna.”

Napas Helen tetap sedikit berantakan. Di belakang suaranya, ada tawaku yang sengaja tidak kuhapus seluruhnya.

Gambar terakhir menunjukkan ruang rekaman kosong dengan dua headphone tertinggal di kursi berbeda. Layar menghitam.

Hening bertahan cukup lama untuk membuat dadaku mengencang.

Kemudian tepuk tangan memenuhi aula.

Helen mengembuskan napas. Tangannya jatuh di sandaran di antara kami, punggung jarinya menyentuh tanganku. Ia tidak memindahkannya. Aku membalik telapak tangan, dan selama beberapa detik jemari kami bertemu di ruang sempit yang tidak terlihat siapa pun.

Lalu lampu menyala. Helen menarik tangannya untuk ikut bertepuk tangan kepada tim film berikutnya, tetapi kehangatannya tertinggal di kulitku.

Empat film lain diputar setelah kami. Aku mencoba menonton, tetapi pikiranku terus kembali pada satu kalimat yang sudah kusiapkan sejak pasar malam.

Aku ingin tetap bertemu setelah proyek ini selesai.

Kalimatnya sederhana. Masalahnya, aku tidak hanya ingin bertemu. Aku ingin menunggu bus bersamanya, menerima voice note yang tidak penting, mendengar keluhannya saat lapar, dan menjadi orang yang ia cari ketika tidak perlu tampil sempurna.

Aku ingin meminta semua itu tanpa menawarkan jasa sebagai imbalan.

Setelah pemutaran terakhir, Bu Ratih naik ke panggung bersama kepala sekolah. Film kami dipilih mewakili SMA Arunika pada festival tingkat kota. Helen menutup mulut dengan kedua tangan ketika judulnya disebut. Dimas menepuk punggungku begitu keras sampai kacamataku bergeser.

Bu Ratih hanya mengangguk dari atas panggung, tetapi saat turun ia berhenti di depan kami.

“Jangan puas,” katanya.

“Ibu bisa mengucapkan selamat dulu,” kata Helen.

“Selamat. Jangan puas.”

Ia berjalan pergi sebelum Helen sempat membalas.

Beberapa anggota teater mengerubungi kami. Kei memeluk Helen. Dimas berusaha menjelaskan bahwa kontribusi moralnya memiliki pengaruh besar pada desain suara. Aku menjawab pertanyaan tentang perangkat lunak, menerima ucapan selamat, dan memastikan salinan film tersimpan di tiga tempat.

Namun, setiap kali melihat Helen di tengah kerumunan, aku tahu hal terpenting malam itu belum terjadi.

Hampir setengah jam kemudian aula mulai kosong. Helen membantuku membawa laptop ke ruang musik, lalu berhenti ketika aku tidak membuka pintunya.

“Katanya ada yang mau kamu katakan.”

“Di sini terlalu banyak orang.”

“Kita mau ke mana?”

Aku menunjuk tangga menuju atap gedung seni.

“Kalau kamu berniat mendorongku setelah mempermalukanku lewat suara perut, setidaknya serahkan file filmnya dulu.”

“Aku membuat tiga salinan.”

“Tentu saja.”

Kami naik dua lantai. Pintu atap berderit saat dibuka. Udara malam lebih dingin daripada yang kuduga, membawa aroma rumput basah dari lapangan. Lampu kota terlihat di antara gedung sekolah, dan suara kendaraan terdengar seperti dengung rendah di kejauhan.

Helen berjalan ke pagar pembatas, lalu merapatkan sweaternya. Aku berdiri di sampingnya dengan jarak satu lengan.

Di bawah, panitia masih memindahkan kursi. Sesekali terdengar bunyi kaki meja menggesek lantai aula.

“Filmnya berhasil,” kataku.

“Itu yang mau kamu katakan?”

“Bukan.”

“Bagus. Aku sudah tahu filmnya berhasil.”

Aku mengusap bingkai kacamata. Helen memperhatikan gerakan itu, lalu tersenyum tipis.

“Aku ingin kita tetap bertemu setelah proyek selesai,” kataku.

“Untuk membuat film lain?”

“Nggak harus.”

“Merekam suara?”

“Nggak harus.”

Helen memutar tubuh menghadapku. “Jadi tanpa alasan?”

Itulah pertanyaan yang selama ini sulit kujawab. Tanpa tugas, bantuan, atau seseorang yang membutuhkan sesuatu dariku, apa yang masih bisa kutawarkan?

Aku menarik napas. “Dengan alasan aku suka menghabiskan waktu sama kamu.”

Angin menggerakkan beberapa helai rambut di wajah Helen. Ia menyelipkannya ke belakang telinga, tetapi tidak langsung menjawab.

“Aku juga suka,” katanya akhirnya. “Kamu pasti sudah tahu setelah kemarin.”

“Aku ingin memastikan.”

“Kamu memang suka memastikan semuanya.”

“Pekerjaan.”

“Bukan partner kerja lagi, ingat?”

Nada suaranya ringan, tetapi kedua tangannya saling menggenggam di depan tubuh. Helen gugup. Kesadaran itu tidak membuatku lebih tenang. Justru membuat momen tersebut terasa sama pentingnya bagi kami berdua.

“Va,” katanya, “aku perlu menanyakan sesuatu sebelum kita menyebut ini apa pun.”

Aku tahu pertanyaannya bahkan sebelum ia mengucapkannya.

“Eve.”

Namanya tidak terasa seperti pintu yang kembali terbuka. Hanya bagian dari riwayat yang harus kami lihat dengan jujur sebelum melangkah.

Helen melanjutkan, “Aku melihat kamu waktu masih menunggunya. Aku juga melihat hari ketika kamu bilang sudah berhenti. Tapi melihat dari luar nggak sama dengan mendengar jawabanmu.”

Aku menunggu tanpa memotong.

“Aku nggak mau hubungan kita dimulai karena aku hadir saat kamu terluka,” katanya. “Aku juga nggak mau suatu hari mengetahui bahwa sebagian dirimu masih berharap Eve menoleh.”

Tidak ada tuduhan dalam suaranya. Ia tidak meminta jaminan bahwa dirinya lebih baik atau lebih pantas. Helen hanya meminta ruang yang utuh untuk sesuatu yang mungkin kami bangun.

“Aku berhenti bukan karena kamu datang,” kataku. “Waktu itu aku bahkan belum membiarkan diriku melihat kamu seperti sekarang.”

Helen menatapku tanpa berkedip.

“Aku berhenti karena cara hidupku sendiri sudah menyakitiku. Karena aku nggak bisa terus menggunakan cinta sebagai alasan untuk menghilangkan kebutuhan dan masa depanku.” Aku membiarkan setiap kalimat berdiri tanpa dipercepat. “Sepuluh minggu setelahnya, sebelum kita mulai proyek, aku sudah bisa melihat Eve tanpa menginginkan apa pun darinya.”

“Dan sekarang?”

“Sekarang dia temanku yang pernah kucintai. Itu bagian dari hidupku, tapi bukan arah yang sedang kutuju.”

Helen menunduk sebentar. “Aku tahu pertanyaan ini mungkin nggak adil.”

“Adil.”

“Aku cuma—”

“Aku selesai sebelum kita mulai.”

Ia mengangkat wajah.

“Bukan selesai karena ingin mengganti seseorang,” lanjutku. “Bukan juga karena kamu lebih mudah dipilih. Aku selesai lebih dulu. Lalu aku mengenalmu lagi.”

Udara dingin masuk ke balik kerah kemejaku. Aku hampir memasukkan tangan ke saku, tetapi memilih membiarkannya terbuka di sisi tubuh.

“Aku suka kamu karena kamu berani bilang musikku terdengar seperti awan hitam punya masalah keluarga,” kataku.

Sudut bibir Helen terangkat.

“Aku suka kamu tetap datang ke studio meskipun kamu tahu aku akan mengoreksi setiap napas. Kamu mengetuk meja tiga kali saat gugup, bernyanyi pelan lalu menyangkalnya, dan selalu mengaku nggak lapar sampai perutmu sendiri membongkar kebohongan.”

“Bagian terakhir nggak perlu.”

“Aku suka kamu memisahkan daun bawang satu per satu, memilih sambal terlalu banyak, dan ingin menulis cerita meskipun belum berani mengatakan itu di rumah.”

Senyumnya menghilang, berganti sesuatu yang lebih lembut.

“Yang paling penting,” lanjutku, “aku suka versi diriku ketika bersamamu. Aku bisa salah, tertawa terlalu keras, bilang aku menginginkan sesuatu, dan kamu nggak membuatku merasa itu merepotkan.”

Helen menarik napas perlahan. Matanya mulai berkilau, tetapi ia masih mencoba mempertahankan wajah tenang.

“Kamu menyiapkan pidato?” tanyanya.

“Nggak.”

“Menyebalkan. Bagus sekali.”

“Aku bisa mengulang dengan lebih buruk.”

“Jangan.” Ia tertawa kecil, lalu menghapus sudut matanya dengan ujung jari. “Sekarang giliranku sebelum kamu mengira cuma kamu yang boleh serius.”

Helen melangkah mendekat. Jarak satu lengan menyusut menjadi beberapa sentimeter.

“Aku suka kamu karena kamu memperhatikan tanpa membuatku merasa sedang dipajang,” katanya. “Kamu nggak selalu setuju denganku. Kamu tahu aku bisa menangani banyak hal, tapi tetap ingat memastikan aku makan. Dan waktu melihat sisi paling berantakanku, kamu malah menyimpannya di film.”

“Dengan izin yang sangat samar.”

“Aku masih mempertimbangkan gugatan.”

Tangannya menyentuh ujung lenganku, lalu naik perlahan hingga jemarinya melingkari pergelangan tanganku.

“Aku suka kamu, Alva,” katanya. “Bukan sejak dulu. Bukan saat kamu masih mencintai Eve. Aku suka kamu yang sekarang, setelah kita benar-benar saling kenal.”

Kalimat itu melepaskan sesuatu di dadaku yang bahkan tidak kusadari masih kutahan.

Aku membalik tanganku dan menggenggam jemarinya.

“Mau mencoba menjalani ini sama aku?” tanyaku.

Helen memandang tangan kami, lalu kembali ke wajahku. “Sebagai partner film?”

“Sebagai pacarku.”

Ia sengaja membiarkanku menunggu dua detik.

“Mau,” jawabnya.

Angin menggerakkan rambutnya lagi. Kali ini aku mengangkat tangan untuk menyingkirkannya, tetapi berhenti sebelum menyentuh wajahnya.

Helen melihat tanganku yang menggantung di udara. Lalu ia maju setengah langkah dan meletakkan pipinya pada telapak tanganku.

Gerakan kecil itu terasa lebih jelas daripada jawaban apa pun.

“Boleh aku mencium kamu?” tanyaku.

Helen mengangguk. “Boleh.”

Aku membungkuk perlahan, memberi cukup waktu jika ia ingin mundur. Ia tidak mundur. Jemarinya berpindah ke lengan kemejaku, menahannya ringan.

Bibir kami bertemu.

Ciumannya lembut dan singkat, tetapi seluruh tubuhku seolah membutuhkan waktu lebih lama untuk memahaminya. Udara dingin, suara kursi dari aula, dan dengung kendaraan di kejauhan tetap ada. Tidak ada musik yang masuk pada waktu sempurna. Kacamataku sedikit menyentuh pelipis Helen, membuatku menarik wajah dengan canggung.

Helen membuka mata. “Kacamatamu mengganggu.”

“Maaf.”

“Aku nggak bilang berhenti.”

Ia menarik ujung kemejaku sebelum keberanianku sempat hilang. Ciuman kedua tetap pelan, kali ini tanpa benturan kacamata. Aku merasakan senyumnya sesaat sebelum kami berpisah.

Kami berdiri terlalu dekat selama beberapa detik. Dahiku hampir menyentuh dahinya. Helen masih memegang lenganku, dan tanganku tetap di sisi wajahnya.

“Jadi,” katanya pelan, “kita benar-benar pacaran?”

“Kamu baru bilang mau.”

“Aku memastikan.”

“Kamu memang suka memastikan semuanya.”

Helen menyipitkan mata. “Jangan mencuri kalimatku pada hari pertama.”

“Sudah terlambat.”

Kami akhirnya duduk di bangku dekat pintu atap. Tangan kami tetap saling menggenggam, meskipun posisi jemari kami beberapa kali berubah karena tidak satu pun tahu bentuk yang paling nyaman.

Setelah semua kalimat besar selesai, keheningan datang tanpa terasa kosong.

“Besok kita masuk sekolah sebagai apa?” tanyaku.

“Sebagai siswa kelas dua belas. Semoga kamu masih ingat.”

“Maksudku, kita bilang ke orang-orang?”

Helen menyandarkan bahu padaku. “Aku nggak mau disembunyikan.”

“Aku juga nggak mau menyembunyikanmu.”

“Tapi aku ingin melihat berapa lama Dimas menyadarinya sendiri.”

“Tiga detik.”

“Dua, kalau aku menggandeng tanganmu.”

Aku menoleh. “Kamu berencana begitu?”

Helen mengangkat tangan kami yang masih terhubung. “Aku sudah latihan.”

Wajahku menghangat. Ia tertawa dan menyandarkan kepala sedikit lebih berat pada bahuku.

Untuk pertama kalinya, masa depan dekat tidak berbentuk seseorang yang mungkin memilihku suatu hari nanti. Masa depan itu adalah Senin pagi, koridor sekolah, dan Helen yang sudah memilih duduk di sisiku tanpa perlu kusiapkan tempat.

Aku tidak tahu cara menjadi pacar. Helen juga tidak. Namun, saat kami turun dari atap beberapa menit kemudian, masalah itu tidak terasa menakutkan.

Kami bisa mempelajarinya mulai besok.