Chapter Twenty Three
Tempat Helen Boleh Lelah
POV Helen
Orang tuaku sudah memilih fakultas hukum bahkan sebelum aku membuka formulir pendaftaran universitas.
Minggu siang, Papa meletakkan brosur kampus di meja makan. Satu program diberi lingkaran merah. Di sampingnya ada nama kenalan Papa yang bekerja di kantor hukum dan bersedia membantuku memahami proses magang.
“Kamu nggak perlu langsung memutuskan bidangnya,” kata Papa. “Nanti setelah dua semester baru lihat mau hukum bisnis atau pidana.”
Mama mengangguk. “Kakakmu juga dulu ragu, tapi sekarang dia sudah jelas jalannya.”
Aku memandang lingkaran merah itu. “Aku nggak mau kuliah hukum.”
Kedua orang tuaku berhenti makan.
“Lalu kamu mau apa?” tanya Mama.
Aku sudah melatih jawabannya berkali-kali. Penulisan naskah. Sastra. Program yang membuatku ingin begadang bukan karena takut gagal, tetapi karena ingin menyelesaikan satu halaman lagi.
Namun, di depan wajah mereka, seluruh penjelasanku terdengar seperti keputusan seorang anak yang belum mengenal dunia.
“Aku masih melihat pilihan,” jawabku akhirnya.
Papa menghela napas. “Helen, waktu pendaftaran tinggal sedikit. Jangan memilih hanya karena suka menulis cerita di sekolah.”
“Itu bukan cuma kegiatan sekolah.”
“Kami hanya ingin masa depanmu aman.”
Percakapan berakhir tanpa teriakan. Justru itu yang membuatnya lebih melelahkan. Papa melipat brosur. Mama mengatakan kami akan membahasnya lagi setelah aku berpikir jernih. Mereka bicara seolah keinginanku adalah kabut sementara yang akan hilang jika dibiarkan cukup lama.
Senin pagi, aku tetap tersenyum di sekolah.
Aku menjawab pertanyaan Kei, memimpin rapat teater, dan mengoreksi dua halaman naskah anggota junior. Tidak ada alasan orang lain ikut menanggung masalah yang bahkan belum berani kuucapkan dengan benar di rumah.
Saat latihan sore, tubuhku berhenti bekerja sama.
Kami sedang mengulang adegan monolog untuk pementasan akhir tahun. Aku berdiri di tengah panggung, lampu latihan mengarah tepat ke wajah, dan semua kalimat yang kutulis sendiri mendadak kehilangan urutan.
“Aku...”
Aku melihat halaman naskah.
Kalimatnya ada di sana. Aku tahu setiap kata. Tetap saja, suaraku tidak keluar.
“Ulang dari paragraf kedua,” kata pembina teater dari kursi penonton.
Aku mengetuk sisi naskah tiga kali dan mencoba lagi.
Pada kalimat keempat, napasku terlalu pendek. Suaraku pecah. Seorang anggota junior menunduk, pura-pura tidak melihat.
“Istirahat sepuluh menit,” kata pembina.
Aku turun dari panggung sebelum siapa pun menawarkan bantuan. Di koridor, aku membuka ponsel dan melihat tiga pesan dari Mama tentang jadwal konsultasi pendidikan.
Aku tidak membalas.
Kakiku membawaku ke ruang musik.
Alva berada di dalam, memasang kembali tombol pengontrol audio yang lepas. Ia mengangkat wajah saat pintu terbuka.
“Latihannya selesai?”
“Belum.”
Ia melihat naskah yang kuremas, lalu obeng kecil di tangannya. Biasanya Alva akan bertanya apa yang rusak dan mencoba menemukan langkah pertama untuk memperbaikinya.
Kali ini ia menaruh obeng tanpa berkata apa-apa.
Pertahanan yang kupakai sejak pagi retak hanya karena seseorang tidak memaksaku menjelaskan.
“Aku gagal di panggung,” kataku.
“Apa yang terjadi?”
“Aku nggak bisa bernapas. Lupa dialog. Semua orang melihat.”
Alva berdiri, tetapi tidak langsung mendekat. “Kamu ingin kembali latihan atau pulang?”
“Aku nggak tahu.”
“Mau kubantu latihan?”
Aku menggeleng. “Aku nggak butuh solusi dulu.”
Kalimat itu terasa egois. Aku menunggu ekspresinya berubah kecewa.
Alva hanya mengangguk. “Oke.”
Aku menelan sesuatu yang berat di tenggorokan. “Aku cuma ingin kamu temani.”
“Aku di sini.”
Sesederhana itu.
Kami duduk di sofa. Aku mencoba bersandar, tetapi tubuhku tidak menemukan posisi nyaman. Akhirnya aku melepaskan sepatu, memanjangkan kaki, lalu menatap pangkuan Alva.
“Boleh?” tanyaku.
Ia menggeser laptop dari pahanya. “Boleh.”
Aku berbaring dengan kepala di pangkuannya. Posisi itu seharusnya membuatku malu. Di sekolah, aku menghabiskan hampir seluruh hari menjaga punggung tetap tegak dan wajah tetap tenang. Sekarang rambutku berantakan di celana Alva dan satu tanganku menutup mata.
Jemarinya menyentuh rambutku dengan hati-hati, menyisir beberapa helai dari dahi.
“Kalau nggak nyaman, bilang,” katanya.
“Nyaman.”
“Bagus.”
Ia tidak bertanya lagi selama beberapa menit. Dari luar terdengar langkah siswa pulang dan bunyi pintu kelas ditutup. Di dalam ruang musik, Alva membiarkanku bernapas sampai dadaku tidak lagi terasa sempit.
“Mama dan Papa ingin aku masuk hukum,” kataku akhirnya.
Tangannya berhenti sesaat, lalu kembali bergerak di rambutku. “Kamu ingin apa?”
“Menulis.”
“Itu jawaban pendek.”
“Aku takut kalau dijelaskan panjang, jawabannya tetap dianggap nggak masuk akal.”
Alva menunggu.
Aku menceritakan semuanya. Brosur dengan lingkaran merah. Kakakku yang selalu menjadi contoh. Papa yang sudah menghubungi kenalan tanpa bertanya. Ketakutanku bahwa memilih sastra atau penulisan naskah akan membuat mereka melihatku sebagai anak yang menyia-nyiakan kesempatan.
“Kalau mereka kecewa?” tanyaku. “Kalau aku ternyata nggak cukup bagus, lalu mereka benar?”
Alva tidak mengatakan aku pasti berhasil. Ia juga tidak menyebut orang tuaku jahat. Keduanya akan terdengar mudah dan tidak jujur.
“Kamu takut gagal di pilihanmu sendiri,” katanya.
“Iya.”
“Tapi kamu lebih takut menjalani pilihan mereka dan berhasil di sesuatu yang nggak kamu inginkan.”
Aku membuka mata. Dari posisi itu, wajah Alva terlihat terbalik sedikit.
“Kedengarannya buruk saat kamu bilang begitu.”
“Karena kamu sudah tahu jawabannya.”
“Aku bilang nggak mau solusi.”
“Itu bukan solusi. Cuma mengulang ketakutanmu dengan kalimat lebih pendek.”
Aku mencubit sisi kakinya. Alva meringis, tetapi tangannya tetap berada di rambutku.
“Apa yang kamu butuhkan saat bicara dengan mereka?” tanyanya.
Pertanyaan itu berbeda dari jurusan mana yang harus kupilih. Ia tidak mengambil keputusan dari tanganku.
“Aku butuh rencana yang nggak terdengar seperti mimpi kosong,” kataku. “Daftar kampus, jalur masuk, biaya, kemungkinan kerja. Dan aku perlu mengatakan semuanya tanpa berubah jadi anak kecil yang minta izin punya hidup.”
“Kita bisa menyusunnya.”
“Kita?”
“Kalau kamu mau dibantu.”
“Menurutmu mereka akan mendengarkan?”
Alva tidak menjawab terlalu cepat. “Aku nggak tahu.”
Kejujurannya anehnya lebih menenangkan daripada keyakinan palsu.
“Mereka mungkin tetap nggak setuju,” lanjutnya. “Tapi setidaknya mereka harus menolak pilihan yang benar-benar kamu jelaskan, bukan versi samar yang mereka anggap cuma hobi.”
“Kalau setelah itu mereka masih memaksa?”
“Kamu putuskan langkah berikutnya. Aku bisa menemani menimbangnya, tapi aku nggak akan memilihkan.”
Aku memandang tangannya di dekat wajahku. Alva yang dulu menyelesaikan segala sesuatu untuk orang lain kini justru tahu kapan harus tidak mengambil alih.
“Terima kasih,” kataku.
“Aku belum melakukan apa-apa.”
“Kamu nggak mencoba memperbaiki aku. Itu sesuatu.”
Aku meraih tangannya dan menempelkannya kembali ke kepalaku ketika ia hampir berhenti mengusap rambut.
“Aku mau,” kataku. “Tapi hari ini temani saja.”
“Baik.”
Aku berbaring hampir setengah jam. Sesekali Alva mengubah posisi kakinya dan aku mengeluh karena bantal hidupku bergerak. Ia mengatakan kakinya mulai kebas. Aku menyuruhnya bertahan lima menit lagi.
“Kamu selalu meminta lima menit,” katanya.
“Dan kamu selalu memberikannya.”
“Aku sedang mempertimbangkan tarif.”
“Aku bisa bayar dengan ciuman.”
Alva menatap ke bawah. “Sekarang?”
“Kakimu kebas. Jangan serakah.”
Ia tertawa, dan suara itu membuat ruangan terasa lebih ringan.
Ketika akhirnya duduk, naskah yang tadi kuremas masih berada di meja. Aku meratakannya pelan.
“Aku akan bicara lagi dengan Mama dan Papa,” kataku. “Bukan malam ini. Aku mau menyiapkan datanya dulu.”
“Kapan?”
“Akhir minggu.”
“Mau latihan bicara denganku?”
“Mau. Tapi kamu harus pura-pura jadi Papa yang sulit diyakinkan.”
“Aku bisa pakai suara berat.”
“Jangan. Aku ingin tetap menghormatimu setelah latihan.”
Aku kembali ke aula dan meminta mengulang monolog dari awal. Suaraku belum sempurna. Pada satu bagian, napasku masih goyah. Namun, kali ini aku menyelesaikan adegan tanpa melarikan diri.
Malamnya, saat sedang membuat daftar program studi, satu pesan dari Eve masuk.
Eve: Aku sama Raka sudah selesai.
Aku menatap layar cukup lama.
Eve adalah sahabatku. Aku tahu aku harus menelepon, mendengarkan, dan berada di sisinya. Namun, aku juga tahu berakhirnya hubungan itu akan memaksanya melihat sesuatu yang selama ini terus ia hindari.
Aku menekan tombol panggil.
Di sisi lain, suara Eve pecah bahkan sebelum ia mengatakan halo.
- 1 Cowok yang Tidak Mungkin Menyukaiku
- 2 Plester di Bingkai Kacamata
- 3 Duo Goddess
- 4 Payung yang Dipakai Berdua
- 5 Senyum Setelah Hujan
- 6 Sahabat yang Selalu Tersedia
- 7 Tepuk Tangan dari Kursi Terakhir
- 8 Aku Memilih Berhenti
- 9 Hari Aku Tidak Mencarimu
- 10 Kenalan Lagi
- 11 Tujuh Menit yang Berantakan
- 12 Suara yang Ingin Kusimpan
- 13 Kencan yang Belum Diakui
- 14 Aku Selesai Sebelum Kita Mulai
- 15 Pacar Pertama
- 16 Lima Menit Lagi
- 17 Pacarku Terlalu Sopan
- 18 Senyum yang Bukan Lagi Untukku
- 19 Jadi Kamu Bisa Cemburu
- 20 Lagu untuk Pacarku
- 21 Jangan Jadikan Aku Penonton
- 22 Rumah Tempat Alva Tidak Pernah Mengeluh
- 23 Tempat Helen Boleh Lelah reading
- 24 Semua Hal yang Tidak Pernah Kulihat
- 25 Kemungkinan yang Sudah Berakhir
- 26 Tidak Ada yang Disembunyikan
- 27 Hari Helen Boleh Meminta Apa Saja
- 28 Jangan Kecilkan Masa Depanmu
- 29 Orang yang Terlambat Melihat
- 30 Lagu yang Dimulai dari Nol