Chapter Five

Senyum Setelah Hujan

POV Alva

Aku tidak pernah pandai berhadapan dengan orang yang melihat terlalu banyak.

Helen masih berdiri di ambang pintu aula ketika aku memasukkan payung biru ke dalam tas. Tatapannya tidak berpindah, seolah ia sedang menunggu sampai aku menyerah berpura-pura.

Aku mengambil gulungan kabel dari lantai. “Kalau mau pulang, pulang saja. Sopirmu pasti sudah sampai.”

“Belum.”

“Kamu bisa tunggu di lobi.”

“Aku bisa bantu beresin.”

“Nggak perlu.”

“Aku tidak ingat bertanya.”

Helen masuk, meletakkan gulungan pita putih di meja, lalu mulai melepas lampu kecil dari dinding. Ia tidak meminta penjelasan. Tidak mengatakan aku terlalu baik, terlalu bodoh, atau seharusnya berhenti sejak awal. Diamnya justru membuat aula terasa lebih sempit.

Kami bekerja dari sisi yang berbeda. Aku menggulung kabel dan mengembalikan speaker ke lemari. Helen melipat taplak, mengumpulkan gelas kosong, lalu memasukkan sisa dekorasi ke kardus. Di luar, hujan menghantam atap seng di lorong penghubung seperti ribuan jari yang mengetuk tanpa sabar.

Tulisan UNTUK RAKA masih menempel di dinding.

Aku naik ke kursi dan melepas huruf paling kanan. Selotipnya menolak terangkat. Ketika akhirnya terlepas, kertas itu sobek di tengah.

“Biar aku,” kata Helen.

“Aku bisa.”

“Kamu sudah bilang begitu tiga kali.”

“Karena kamu terus menawarkan bantuan.”

“Dan hasilnya kamu masih berdiri di kursi sambil berdebat dengan selotip.”

Aku turun. Helen naik menggantikanku dan melepas sisa huruf tanpa merobeknya. Ia tidak terlihat menang. Ia hanya memasukkan kertas-kertas itu ke kardus seolah kalimat besar yang beberapa jam lalu mengubah hidup Eve tidak lebih dari sampah acara.

Ponselku bergetar di saku.

Eve: Kami sudah sampai gerbang. Makasih lagi ya, Va!

Beberapa detik kemudian, pesan lain masuk.

Eve: Aku bahagia banget.

Aku menatap layar sampai cahaya ponsel meredup sendiri.

“Kalau kamu membalas sekarang, kamu akan menulis apa?” tanya Helen.

“Selamat.”

“Kamu sudah mengatakannya.”

“Berarti nggak perlu membalas.”

Aku memasukkan ponsel kembali ke saku. Helen turun dari kursi dan mengambil kardus. Kami membawa perlengkapan ke gudang tanpa berbicara.

Ketika semuanya selesai, sekolah hampir gelap. Petugas keamanan sudah mematikan lampu di beberapa koridor. Hujan belum reda, tetapi kami tetap berjalan menuju halte di depan gerbang.

Aku membuka payung biru. Helen menggunakan payung krem kecil yang pernah melindungi setengah bahuku beberapa minggu lalu. Kami berjalan berdampingan dengan jarak cukup jauh agar kedua payung tidak saling bertabrakan.

Di halte tidak ada siapa pun selain penjual kopi keliling yang sedang menutupi gerobaknya dengan plastik. Jadwal bus menunjukkan kendaraan berikutnya datang dua puluh dua menit lagi.

Helen duduk di ujung bangku. Aku memilih berdiri.

“Kamu bisa duduk,” katanya.

“Aku nggak capek.”

“Kamu juga nggak baik-baik saja, tapi kita sudah melihat seberapa akurat pengakuanmu malam ini.”

Aku duduk di sisi lain bangku.

Air mengalir dari ujung atap halte dan membentuk genangan di dekat sepatu kami. Lampu kendaraan melewati jalan dalam garis-garis kabur. Kacamataku berembun karena udara dingin, tetapi aku tidak melepasnya.

“Aku nggak butuh dikasihani,” kataku akhirnya.

Helen tidak langsung menjawab. Ia membuka tas, mengeluarkan dua kotak susu hangat dari mesin penjual di lobi sekolah, lalu meletakkan satu di antara kami.

“Bagus,” katanya. “Karena aku juga nggak sedang mengasihani kamu.”

“Terus kenapa kamu masih di sini?”

“Karena kamu temanku.”

Jawabannya terlalu sederhana. Aku tidak tahu harus melakukan apa dengannya.

“Teman nggak harus menunggu sampai dua puluh menit hanya karena seseorang sedang sedih.”

“Benar. Aku bisa meninggalkanmu sendirian, lalu besok berpura-pura tidak melihat mata kamu bengkak.” Helen menyandarkan punggung pada bangku. “Tapi aku nggak mau.”

“Mataku nggak akan bengkak.”

“Bukan itu inti kalimatnya.”

Aku mengambil kotak susu tersebut. Masih hangat.

Beberapa menit berlalu hanya dengan suara hujan. Helen tidak memaksaku bicara, dan aku tidak tahu mana yang lebih buruk: ditanya terus-menerus atau diberikan ruang sampai tidak ada alasan untuk bersembunyi.

“Kamu sudah tahu?” tanyaku.

“Bahwa kamu suka Eve?”

Mendengar kalimat itu diucapkan orang lain membuat dadaku terasa lebih berat. Aku mengangguk.

“Sudah lama.”

“Sejak kapan?”

“Aku nggak punya tanggal pasti.” Ia menatap jalan. “Tapi orang baik kepada semua orang dengan cara berbeda. Kamu membantu semua orang kalau diminta. Untuk Eve, kamu mencari tahu apa yang dia butuhkan sebelum dia meminta.”

Aku memutar kotak susu di antara telapak tangan. “Dia nggak tahu.”

“Aku tahu.”

“Jangan bilang ke dia.”

Helen menoleh tajam. “Aku tidak akan membicarakan perasaanmu seolah itu gosip milikku.”

“Aku cuma memastikan.”

“Kamu selalu memastikan semua orang aman dari perasaanmu, ya?”

Pertanyaan itu menembus lebih dalam daripada seharusnya.

“Eve bahagia,” kataku.

“Iya.”

“Raka juga baik.”

“Iya.”

“Jadi nggak ada masalah.”

“Kalau kamu mengulangnya cukup banyak, mungkin tubuhmu berhenti gemetar.”

Tanganku mengerat pada kotak susu.

Aku ingin marah kepada Helen. Ia membuat semuanya terdengar begitu jelas: Eve bahagia, Raka tidak bersalah, dan aku adalah satu-satunya orang yang memilih berdiri di tempat yang menyakitkan.

Namun, Helen tidak menatapku dengan kemenangan. Ia memandang hujan seolah memberiku privasi untuk runtuh tanpa harus dilihat langsung.

“Aku pikir aku bisa,” kataku.

“Bisa apa?”

“Membantunya. Melihat mereka bersama. Tetap jadi temannya seperti biasa.”

Suaraku terdengar lebih serak pada kalimat terakhir.

Helen menggeser kotak susu miliknya dengan ujung jari. “Mungkin kamu memang bisa. Pertanyaannya, berapa harga yang harus kamu bayar?”

Aku tidak mempunyai jawaban.

Bus kami terlihat di ujung jalan. Lampunya semakin dekat, memantul di genangan. Aku mengira rasa sakit akan mengecil jika berhasil bertahan sampai bus datang. Ternyata tidak. Dadaku tetap sesak. Tenggorokanku tetap terasa seperti menahan sesuatu yang tidak bisa ditelan.

Ponselku kembali bergetar. Kali ini pesan dari Ibu.

Ibu: Pulang jam berapa? Kiriman kertas sudah selesai. Ibu tunggu makan malam?

Aku mulai mengetik bahwa aku baik-baik saja dan akan segera pulang. Kalimat itu terasa otomatis. Sejak Ayah pergi, aku terbiasa memastikan Ibu tidak perlu menambahkan kekhawatiran tentangku ke dalam daftar tagihan, pesanan percetakan, dan masalah rumah.

Aku: Nggak usah tunggu, Bu. Aku sudah makan di sekolah.

Padahal roti terakhir yang kumakan sudah lewat tujuh jam.

Helen melirik layar yang baru kumatikan. “Kamu belum makan.”

“Nanti di rumah.”

“Kamu baru bilang ke ibumu sudah makan.”

“Supaya Ibu nggak menunggu.”

“Kenapa semua orang harus dibuat tenang kecuali kamu?”

Aku menatapnya. Helen tetap melihat lurus ke depan, tetapi kalimatnya membuat pertahanan yang sejak tadi kujaga terasa sangat tipis.

Selama ini aku mengira menyembunyikan rasa sakit adalah bentuk kebaikan. Jika tidak ada yang tahu, tidak ada yang merasa bersalah. Tidak ada yang harus berhenti bahagia untuk memikirkan aku.

Malam itu, untuk pertama kalinya aku mempertanyakan apakah diam benar-benar melindungi orang lain, atau hanya membuatku lebih mudah ditinggalkan sendirian.

“Helen.”

“Hm?”

“Aku nggak baik-baik saja.”

Kalimat itu sangat pelan, hampir hilang di antara hujan dan suara mesin bus. Helen tetap mendengarnya.

Ia tidak memelukku. Tidak mengatakan semuanya akan cepat berlalu. Ia hanya mengangguk.

“Aku tahu,” katanya. “Kamu nggak harus jadi baik-baik saja malam ini.”

Helen mengeluarkan sebungkus roti dari tasnya dan meletakkannya di atas kotak susu milikku.

“Ini bukan hadiah,” katanya sebelum aku sempat menolak. “Aku cuma nggak mau mendengar perutmu menyalahkan kursi lagi.”

Aku hampir tertawa. Suaranya tidak benar-benar keluar, tetapi untuk beberapa detik aku bisa bernapas tanpa merasa dadaku dililit sesuatu.

Pintu bus terbuka. Kami naik dan duduk di baris berbeda karena kendaraan cukup penuh. Untuk pertama kalinya sejak Eve memeluk Raka, aku berhenti memaksa wajahku tersenyum.

Keesokan paginya, pesan Eve membangunkanku sebelum alarm.

Eve: Va, Raka bilang dia sibuk latihan sore ini. Menurutmu dia marah karena aku terlalu banyak kirim pesan semalam?

Aku membaca pesan itu dengan mata masih berat.

Seolah malam sebelumnya tidak mengubah apa pun, Eve kembali datang kepadaku membawa pertanyaan tentang Raka.

Dan seperti orang bodoh yang belum belajar, aku mulai mengetik jawaban.