Chapter Twenty Six
Tidak Ada yang Disembunyikan
POV Helen
Pukul empat kurang lima, Alva belum tiba di ruang musik.
Aku sudah menyusun map presentasiku berdasarkan urutan yang paling masuk akal: pilihan program, biaya, beasiswa, prospek kerja, lalu alasan pribadi. Seharusnya aku memakai lima menit terakhir untuk berlatih pembukaan.
Sebaliknya, aku melihat jam dinding setiap tiga puluh detik.
Aku tahu ia sedang berbicara dengan Eve. Aku juga tahu alasan pertemuan itu mungkin jauh lebih besar daripada pembicaraan dua teman lama. Mengetahui tidak membuat waktu bergerak lebih cepat.
Ponselku bergetar tepat saat jarum panjang berpindah satu garis.
Alva: Aku datang. Setelah latihan, ada yang perlu kuceritakan.
Aku membalas bahwa aku akan mendengarkan semuanya, lalu menaruh ponsel telungkup.
Satu menit kemudian, pintu terbuka.
Alva masuk dengan napas sedikit berat. Rambutnya berantakan seperti ia berjalan terlalu cepat, tetapi seragamnya tetap rapi. Hal pertama yang kucari adalah keraguan di wajahnya.
Aku tidak menemukannya.
Yang ada hanya lelah dan sedih.
“Jam empat tepat,” katanya setelah melihat jam. “Aku nggak terlambat.”
“Kamu terdengar seperti murid yang minta tambahan nilai.”
“Aku membawa bukti.” Ia menunjukkan layar ponselnya. “Masih empat tepat.”
“Duduk.”
Alva meletakkan tas di lantai, lalu mengambil kursi di depanku. “Latihan dulu atau bicara dulu?”
Aku menatap map yang terbuka. Aku bisa berpura-pura menjalankan rencana, tetapi setiap jawaban Alva nanti akan terdengar melalui pertanyaan yang belum diucapkan.
“Bicara dulu,” kataku.
Ia mengangguk.
Tidak ada pembukaan panjang. Alva menceritakan percakapannya dengan Eve dari awal: perpisahan Eve dan Raka, chat lama yang dibaca Eve, benda-benda yang pernah ia perbaiki, lalu pengakuan bahwa Eve mencintainya.
Aku tidak menyela. Jemariku tetap berada di atas map, menekan plastik bening sampai ujungnya melengkung.
Alva mengatakan Eve bertanya apakah mereka mungkin bersama jika ia sadar lebih cepat.
“Kamu jawab apa?” tanyaku.
“Mungkin.”
Ada rasa tidak nyaman yang tipis dan tajam di bawah tulang rusukku. Bukan kecurigaan. Bukan ketakutan bahwa Alva akan kembali. Hanya kenyataan bahwa sebelum kami, memang pernah ada jalan yang hampir terbuka untuk dua orang lain.
Aku membiarkan perasaan itu ada tanpa mengubahnya menjadi tuduhan.
“Kenapa mungkin?”
“Karena dulu aku akan memilih dia.” Tatapan Alva tidak bergeser dariku. “Kalau perasaannya datang sebelum semuanya berubah, aku nggak mau berbohong seolah kesempatan itu nggak pernah ada.”
“Lalu sekarang?”
“Aku bilang aku nggak hidup di kemungkinan itu lagi.” Ia berhenti sebentar. “Aku bilang aku mencintai kamu.”
Jemari yang menekan map perlahan mengendur.
Aku sudah tahu jawabannya sebelum ia bicara. Ada di caranya datang tepat waktu, duduk di hadapanku, dan memberikan seluruh bagian percakapan tanpa membuang kalimat yang mungkin membuatku tidak nyaman.
Tetap saja, mendengarnya terasa hangat.
“Eve bagaimana?” tanyaku.
“Hancur.” Rahang Alva mengeras. “Dia menangis. Aku ingin menolong, tapi aku nggak memeluknya. Aku takut gerakan itu memberi arti yang salah.”
“Kamu sedih?”
“Iya.”
“Merasa bersalah?”
“Sedikit.” Ia mengusap sisi bingkai kacamatanya. “Aku tahu menolak adalah jawaban yang benar. Tapi melihat orang yang pernah sangat penting terluka karena jawabanku tetap terasa buruk.”
Aku pindah dari kursiku dan duduk di sebelahnya. “Sedih bukan berarti kamu ragu.”
“Aku nggak ragu.”
“Aku tahu.”
Alva menatapku, seolah jawaban sesederhana itu lebih sulit dipercaya daripada pertanyaan panjang.
“Kamu nggak mau bertanya lagi?”
“Aku mau.” Aku menyilangkan satu kaki dan menghadapnya. “Apa ada bagian yang kamu sembunyikan karena takut aku marah?”
“Nggak ada.”
“Apa kamu menjanjikan sesuatu kepadanya?”
“Aku bilang dia boleh mengambil waktu dan menjauh sementara kalau itu yang dibutuhkan.”
“Masuk akal.”
“Itu saja?”
“Va, aku bisa merasa nggak nyaman mendengar ada jalan masa lalu yang mungkin membuat kalian bersama. Aku juga bisa kasihan kepada Eve, karena dia sahabatku.” Aku mengambil tangannya. “Semua perasaan itu bisa ada tanpa membuatku meragukan pilihanmu sekarang.”
Bahunya turun sedikit, seperti ada beban yang akhirnya diletakkan.
“Aku takut ceritanya akan melukaimu.”
“Kalau kamu menyembunyikannya, itu yang akan melukaiku.”
Ia membalik telapak tangan dan menggenggam jemariku. “Aku nggak mau ada bagian hidupku yang kamu tahu dari orang lain lagi.”
“Bagus.”
“Bagus?”
“Aku sedang menghargai perkembangan karaktermu.”
Alva menatapku datar. “Aku bukan naskah.”
“Kamu lebih sulit diedit.”
Sudut bibirnya akhirnya bergerak. Senyum kecil itu mengubah udara di antara kami. Percakapan belum menjadi ringan, tetapi tidak lagi menekan dada.
Aku memikirkan Eve yang pulang dengan mata bengkak. Aku ingin meneleponnya, memeluknya, sekaligus mengatakan bahwa aku tidak bisa menjadi tempat ia membicarakan Alva hari ini. Persahabatan kami akan membutuhkan bentuk baru. Bukan sore ini, saat lukanya masih terbuka.
“Aku akan memberinya ruang,” kataku. “Besok aku kirim pesan untuk memastikan dia nggak sendirian. Tanpa membahas kalian.”
Alva mengangguk. “Makasih.”
“Jangan berterima kasih atas nama Eve. Dia bisa melakukannya sendiri.”
“Benar.”
Aku mengangkat map presentasi dan menepukkannya pelan ke lengannya. “Sekarang giliran masalahku.”
“Kamu masih mau latihan hari ini?”
“Sangat. Papa palsuku sudah dibayar dengan roti.”
Alva pindah ke kursi di seberang. Ia membaca daftar pertanyaan yang kubuat, lalu berdeham dengan sengaja.
“Helen,” katanya memakai suara berat yang buruk, “menulis cerita tidak menjamin masa depan.”
Aku menutup wajah. “Aku pernah bilang jangan pakai suara itu.”
“Aku sedang mendalami peran.”
“Papa nggak terdengar seperti kepala sekolah dalam sinetron.”
Kami mengulang latihan dari awal. Kali ini Alva bertanya serius tentang biaya, pilihan cadangan, dan apa yang akan kulakukan jika tidak lolos program utama. Ia beberapa kali memotong saat jawabanku terlalu defensif. Aku mengulang sampai bisa menjelaskan keinginanku tanpa terdengar sedang meminta maaf karena memilikinya.
Empat puluh menit kemudian, seluruh halaman penuh catatan.
“Lebih baik,” kata Alva.
“Aku pantas dapat hadiah.”
“Aku baru saja bekerja sebagai Papa palsu tanpa bayaran layak.”
“Kamu sudah dapat roti.”
“Rotinya kecil.”
Aku berdiri di antara kedua lututnya, lalu mengambil kacamata dari wajahnya. Alva tidak mencoba merebut kembali. Ia hanya mendongak, pandangannya sedikit kehilangan fokus.
“Kamu harus menanggung konsekuensi,” kataku.
“Karena membantu presentasi?”
“Karena terlalu mudah dicintai.”
Wajahnya tidak langsung memerah seperti dulu. Satu tangannya justru bergerak ke pinggangku, berhenti di sana tanpa menarik.
“Konsekuensinya apa?” tanyanya.
Nada suaranya membuat keberanianku goyah satu tingkat.
“Cium aku,” jawabku.
“Sebagai hukuman?”
“Jangan banyak bertanya.”
“Aku perlu memastikan.” Ibu jarinya menyentuh sisi pinggangku melalui kain seragam. “Boleh aku cium?”
“Boleh.”
Alva menarikku lebih dekat dan menciumku.
Pelan pada awalnya, memberi ruang bagiku untuk berubah pikiran. Aku meletakkan kacamatanya di meja, lalu menyelipkan kedua tangan ke rambutnya dan membalas. Ciuman kedua menjadi lebih dalam. Jarinya mengencang sedikit di pinggangku, menahan tubuhku dengan aman ketika jarak di antara kami hilang.
Tidak ada nama lain di kepalaku. Tidak ada perlombaan dengan masa lalu. Hanya napas Alva yang berubah, kehangatan telapak tangannya, dan kepastian bahwa seluruh percakapan sulit tadi sudah diletakkan terbuka di antara kami sebelum kami mendekat.
Ketika kami berpisah, dahinya menyentuh dahiku. Aku masih memegang bagian belakang rambutnya.
“Hukumannya cukup?” tanyanya.
Aku mencoba mengatur napas. “Belum yakin.”
“Perlu pemeriksaan ulang?”
“Kamu sekarang banyak bicara.”
“Perkembangan karakter.”
Aku tertawa, lalu menciumnya sekali lagi, singkat kali ini. “Yang tadi lebih baik.”
“Kritik yang membantu.”
Kami membereskan ruang musik saat matahari mulai turun. Alva memasukkan catatan presentasiku ke map, merapikan kabel, lalu bertanya seolah tidak sengaja,
“Kamu ulang tahun minggu depan, kan?”
Aku menoleh. “Kamu bertanya karena lupa atau sedang merencanakan sesuatu?”
“Memastikan data.”
“Data apa?”
“Rahasia.”
Aku menyipitkan mata. “Tadi kita baru membuat perjanjian tidak ada yang disembunyikan.”
“Kejutan ulang tahun punya pengecualian administratif.”
“Siapa yang membuat aturannya?”
“Aku.”
Ia mengambil kacamatanya dari meja, tetapi aku lebih cepat menyembunyikannya di belakang punggung.
“Kembalikan,” katanya.
“Beri tahu rencanamu.”
Alva berdiri sangat dekat sampai aku harus mendongak. Tangannya bertumpu pada meja di kedua sisiku, tidak menyentuh tetapi membuat jalan kabur terasa tidak penting.
“Simpan dulu,” katanya tenang. “Aku masih bisa melihatmu dari jarak ini.”
Kali ini aku yang lebih dulu kehilangan jawaban.
Alva tersenyum puas. Aku langsung tahu satu hal: apa pun yang sedang ia rencanakan, minggu berikutnya akan sangat panjang.
- 1 Cowok yang Tidak Mungkin Menyukaiku
- 2 Plester di Bingkai Kacamata
- 3 Duo Goddess
- 4 Payung yang Dipakai Berdua
- 5 Senyum Setelah Hujan
- 6 Sahabat yang Selalu Tersedia
- 7 Tepuk Tangan dari Kursi Terakhir
- 8 Aku Memilih Berhenti
- 9 Hari Aku Tidak Mencarimu
- 10 Kenalan Lagi
- 11 Tujuh Menit yang Berantakan
- 12 Suara yang Ingin Kusimpan
- 13 Kencan yang Belum Diakui
- 14 Aku Selesai Sebelum Kita Mulai
- 15 Pacar Pertama
- 16 Lima Menit Lagi
- 17 Pacarku Terlalu Sopan
- 18 Senyum yang Bukan Lagi Untukku
- 19 Jadi Kamu Bisa Cemburu
- 20 Lagu untuk Pacarku
- 21 Jangan Jadikan Aku Penonton
- 22 Rumah Tempat Alva Tidak Pernah Mengeluh
- 23 Tempat Helen Boleh Lelah
- 24 Semua Hal yang Tidak Pernah Kulihat
- 25 Kemungkinan yang Sudah Berakhir
- 26 Tidak Ada yang Disembunyikan reading
- 27 Hari Helen Boleh Meminta Apa Saja
- 28 Jangan Kecilkan Masa Depanmu
- 29 Orang yang Terlambat Melihat
- 30 Lagu yang Dimulai dari Nol