Chapter Fifteen

Pacar Pertama

POV Alva

Menjadi pacar Helen ternyata tidak langsung memberiku pengetahuan tentang cara menyapa pacar pada Senin pagi.

Aku sudah memikirkan beberapa pilihan sejak bangun tidur.

Selamat pagi terdengar terlalu biasa. Hai terdengar seperti kami baru bertemu. Menanyakan apakah ia sudah sarapan terdengar seperti pemeriksaan kesehatan. Memeluknya di depan gerbang terasa terlalu berani untuk seseorang yang masih salah posisi saat menggenggam tangan dua malam sebelumnya.

Akhirnya, aku berdiri di depan loker sambil pura-pura mencari buku dan berharap tubuhku menemukan jawaban sendiri.

Dimas bersandar di loker sebelah. “Kamu sudah memindahkan buku fisika itu tiga kali.”

“Aku sedang merapikan.”

“Sejak kapan?”

“Hari ini.”

“Perubahan besar.” Ia melihat ke ujung koridor, lalu menyeringai. “Oh. Aku mengerti.”

Helen berjalan bersama Kei dari arah tangga. Seragamnya sama seperti setiap Senin, rambutnya diikat setengah, dan map teater berada di lengannya. Tidak ada yang berbeda kecuali fakta bahwa terakhir kali kami bertemu, ia menciumku di atap gedung seni.

Atau aku yang menciumnya.

Kami melakukannya dua kali. Pembagian tanggung jawabnya tidak penting.

Helen melihatku. Langkahnya tidak melambat, tetapi senyumnya berubah sedikit. Lebih kecil, lebih pribadi.

Aku menutup pintu loker.

“Pagi,” kataku ketika ia sampai di depanku.

Semua persiapan sejak bangun tidur menghasilkan satu kata.

“Pagi.” Helen menatap buku fisika di tanganku. “Kamu mau masuk kelas atau pindah rumah?”

“Aku sedang merapikan loker.”

Dimas mengeluarkan suara batuk yang sangat mirip tawa. Kei melihat kami bergantian, matanya menyempit seperti sedang menyusun bukti.

“Film kalian keren,” katanya. “Tapi kenapa suasananya sekarang aneh?”

“Nggak aneh,” jawabku.

Helen mengulurkan tangan dan menggenggam tanganku.

“Sekarang?” tanyanya.

Dimas berhenti tertawa. Kei membuka mulut.

Jari Helen menyelip di antara jemariku dengan percaya diri yang pasti dilatihnya sejak Sabtu malam. Aku berdiri terlalu kaku, masih memegang buku fisika di tangan lain.

“Kalian...” Kei menunjuk tangan kami. “Sejak kapan?”

“Sabtu,” jawab Helen.

“Sabtu yang dua hari lalu?”

“Setahu aku dalam satu minggu cuma ada satu Sabtu.”

Dimas memegang bahuku. “Aku pergi ke toilet tujuh menit dan kehilangan seluruh perkembangan hidupmu.”

“Itu tiga minggu lalu,” kataku.

“Berarti kamu menyembunyikan prosesnya.”

“Kami sendiri baru tahu prosesnya.”

Kei menoleh kepada Helen. “Kamu serius?”

Helen mengangkat tangan kami sedikit. “Aku jarang memegang tangan orang untuk bercanda.”

“Waktu kelas sepuluh kamu pernah menggandeng tanganku supaya aku ikut masuk rumah hantu.”

“Itu keadaan darurat.”

Bel pertama berbunyi. Siswa-siswa mulai bergerak lebih cepat di koridor, tetapi Dimas dan Kei masih menatap kami seolah pelajaran hari itu dipindahkan ke depan lokerku.

“Kami harus ke kelas,” kata Helen. Ia menoleh kepadaku. “Sampai nanti, pacarku.”

Kata terakhir sengaja diucapkan sedikit lebih jelas.

Sebelum aku sempat bereaksi, Helen menarik kerah kemejaku cukup untuk membuatku membungkuk, lalu mengecup pipiku.

Singkat. Ringan. Terjadi di tengah koridor pada pukul tujuh lewat dua belas.

Ketika ia melepaskan tanganku dan berjalan pergi bersama Kei, aku masih berdiri di tempat yang sama.

Dimas melambai di depan wajahku. “Masih hidup?”

“Sayangnya.”

“Pipimu merah.”

“Koridornya panas.”

“Ini Bandung.”

Aku memasukkan buku ke tas dan berjalan ke kelas tanpa menanggapi. Di belakangku, Dimas terus tertawa sampai wali kelas menyuruhnya diam.

Kabar itu menyebar sebelum istirahat pertama. Tidak ada pengumuman, foto, atau perubahan status di media sosial. Cukup Kei berbicara dengan dua orang dan Dimas gagal berbisik kepada siapa pun.

Beberapa siswa memandangku di kantin. Dua anak kelas sebelas yang biasanya menyapa Helen berhenti mendekat setelah melihatnya duduk di depanku. Aku tidak tahu harus merasa lega atau bersalah.

Dimas dan Kei datang membawa nampan, lalu duduk tanpa meminta izin. Kei meletakkan minumannya dan langsung mencondongkan tubuh.

“Siapa yang menyatakan perasaan duluan?” tanyanya.

“Kenapa itu penting?” kataku.

“Untuk menentukan siapa yang harus kuinterogasi.”

“Alva bilang dia ingin tetap bertemu setelah proyek selesai,” jawab Helen. “Aku bilang aku suka dia. Lalu dia mengajakku pacaran.”

Dimas menghitung dengan jari. “Jadi seri?”

“Hubungan bukan pertandingan,” kataku.

“Ucapan orang yang takut kalah.”

Kei menatap Helen. “Kamu sengaja nggak cerita kepadaku?”

“Aku baru resmi dua hari. Salah satunya hari Minggu, dan kamu menelepon cuma untuk mengeluh soal tugas ekonomi.”

“Kamu bisa menyela.”

“Kamu nggak mengambil napas selama sebelas menit.”

Mereka berdebat mengenai hak sahabat atas berita romantis. Aku biasanya akan memakai keributan itu untuk diam dan menghilang dari pusat perhatian. Namun, ketika Dimas bertanya apakah aku benar-benar serius, aku menjawab sebelum Helen sempat membuat lelucon.

“Iya,” kataku. “Aku serius.”

Helen menoleh. Di bawah meja, ujung sepatunya menyentuh sepatuku sekali.

Kei bersandar lagi. “Baik. Itu cukup. Sisanya bisa kuamati sendiri.”

“Kalimatmu menyeramkan,” kata Helen.

“Aku sahabat yang berdedikasi.”

“Kamu nggak nyaman?” tanya Helen.

Ia sedang memindahkan daun bawang dari mangkuk baksonya ke piring kecil. Aku mendorong piring kosong di sisiku agar ia tidak memenuhi tempat tisu.

“Aku cuma nggak terbiasa dilihat.”

“Mau aku lepas status pacarnya sampai kamu terbiasa?”

“Bisa begitu?”

“Nggak.” Helen mengambil satu bakso dari mangkukku. “Tapi aku ingin tahu jawabanmu.”

“Aku nggak mau disembunyikan. Aku juga nggak mau menyembunyikanmu.”

“Bagus.”

Ia memakan bakso curiannya dengan tenang.

“Kamu bisa minta,” kataku.

“Kalau minta, bukan mencuri.”

“Itu memang tujuan meminta.”

Helen menopang dagu pada tangan. “Kamu akan selalu sesopan ini sebagai pacar?”

“Sopan itu masalah?”

“Belum. Aku sedang mengumpulkan data.”

Di meja sebelah, beberapa teman Helen memanggilnya untuk membahas latihan. Ia berdiri, tetapi sebelum pergi, jemarinya menyentuh punggung tanganku di atas meja.

“Aku selesai jam empat,” katanya. “Tunggu aku di ruang musik?”

“Aku ada mixing sampai setengah lima.”

“Berarti aku yang menunggu.”

Kalimat itu diucapkan biasa, tetapi aku tetap memandangnya setelah ia pergi.

Aku belum terbiasa dengan seseorang yang menyesuaikan waktunya untukku tanpa perlu kuminta.

Sore hari, Helen muncul di ruang musik pukul empat lewat tiga menit. Ia duduk di sofa belakang sambil membaca naskah dan benar-benar tidak mengganggu selama aku bekerja. Sesekali ia bersenandung, lalu berhenti setiap kali menyadari mikrofon meja mungkin menangkap suaranya.

Pukul setengah lima, kusimpan proyek audio dan mematikan monitor.

“Sudah?” tanyanya.

“Sudah.”

“Sekarang antar pacarmu ke halte.”

“Perintah lagi?”

“Permintaan manis.”

Kami keluar dari ruang musik. Koridor sore hampir kosong. Helen berjalan dekat di sisiku, tetapi tidak langsung mengambil tanganku seperti pagi tadi.

Mungkin ia memberiku ruang. Mungkin ia menunggu aku melakukan sesuatu.

Di dekat tangga, kami bertemu dua anggota teater. Mereka menyapa Helen dan melirikku, lalu salah satunya tersenyum penuh arti.

Refleks pertamaku adalah memasukkan tangan ke saku. Aman, tidak menimbulkan perhatian, dan tidak memberi siapa pun bahan untuk dibicarakan.

Kemudian aku teringat tangan Helen yang terbuka di sandaran kursi aula. Ia tidak menariknya sampai lampu menyala.

Aku meraih tangannya lebih dahulu.

Helen berhenti setengah langkah.

“Kenapa?” tanyaku.

“Nggak apa-apa.” Senyumnya muncul perlahan. “Lanjut saja.”

Aku menggenggamnya lebih pasti dan berjalan menuruni tangga. Dua anggota teater di belakang kami berbisik, tetapi kali ini suara mereka tidak membuatku ingin melepaskan tangan.

Di halaman sekolah, Helen mengayunkan tangan kami sekali.

“Kemajuan besar untuk hari pertama,” katanya.

“Aku memang cepat belajar.”

“Jangan sombong. Tadi pagi kamu kelihatan seperti komputer yang berhenti merespons.”

“Kamu menciumku di depan Dimas.”

“Di pipi.”

“Dia akan membicarakannya sampai kelulusan.”

“Kalau begitu kita harus memberinya materi baru secara berkala.”

Aku menoleh tajam. Helen tertawa, lalu bergelayut ringan pada lenganku sampai kami tiba di halte.

Busnya belum datang. Ia berdiri di depanku dan merapikan ujung dasiku yang sedikit miring.

“Sabtu depan kosong?” tanyanya.

“Seharusnya.”

“Aku mau kencan.”

“Pasar malam kemarin katanya kencan.”

“Itu kencan yang menyamar jadi kerja.” Helen menepuk dasiku setelah selesai. “Aku mau kencan pertama yang benar-benar kencan. Kamu yang rencanakan.”

“Ada kriteria?”

“Aku, kamu, nggak ada tripod.”

Busnya muncul di ujung jalan. Helen mundur satu langkah, masih memegang ujung jariku sampai jarak memaksa kami terlepas.

“Jangan terlalu serius merencanakannya,” katanya.

Aku mengangguk.

Lalu menghabiskan perjalanan pulang dengan menyusun sedikitnya tujuh kemungkinan rencana.