Chapter Ten
Kenalan Lagi
POV Alva
Pada rapat pertama proyek film, Helen menyerahkan naskah dua belas halaman yang rapi, lengkap, dan membuatku tidak merasakan apa-apa.
Aku membacanya dua kali untuk memastikan masalahnya bukan pada diriku.
Tokoh utamanya seorang siswi teladan yang berpidato di depan aula tentang keberanian menjadi diri sendiri. Ia memiliki konflik dengan ibunya, sahabatnya, dan ketua panitia kelulusan. Semua persoalan diselesaikan dalam tujuh menit melalui kalimat-kalimat yang terdengar cocok dicetak pada poster ruang konseling.
“Bagaimana?” tanya Helen.
Kami duduk berhadapan di ruang musik. Bu Ratih belum datang. Di meja ada laptopku, map hitam Helen, dan dua lembar formulir yang sudah kami tanda tangani tanpa membahas apa pun selain jadwal.
“Secara struktur bagus,” kataku.
“Kalimat itu biasanya diikuti penghinaan.”
“Bukan penghinaan.”
“Kritik yang sopan, kalau begitu.”
Aku meletakkan naskahnya. “Nggak ada orang yang bicara seperti ini.”
Helen menyilangkan tangan. “Orang di film bicara lebih teratur daripada orang sungguhan.”
“Tokohmu bilang, ‘Aku menolak membiarkan ekspektasi menjadi penjara bagi autentisitas.’ Dia sedang bertengkar dengan ibunya di dapur.”
“Dia pintar.”
“Dia terdengar seperti kamus yang marah.”
Helen menatapku selama tiga detik. “Baik. Putar musik yang kamu siapkan.”
Aku seharusnya mengenali jebakan itu.
Kusambungkan headphone ke laptop dan memutar sketsa musik sepanjang satu menit. Piano rendah membuka adegan, diikuti dengung panjang dan suara langkah yang kuolah menjadi ritme. Aku membuatnya malam sebelumnya setelah membaca sinopsis singkat dari Helen.
Ia mendengarkan tanpa mengubah ekspresi. Setelah selesai, ia melepaskan headphone dengan hati-hati.
“Bagaimana?” tanyaku.
“Secara teknis bagus.”
Aku menghela napas.
“Tapi kalau musik ini dipakai,” lanjutnya, “penonton akan mengira tokoh utamaku meninggal di dapur.”
“Konfliknya berat.”
“Dia dilarang kuliah sastra, bukan didiagnosis penyakit terminal.”
“Aku bisa menaikkan temponya.”
“Kamu bisa membuat musik yang tidak terdengar seperti awan hitam punya masalah keluarga?”
Aku menutup laptop sedikit lebih keras daripada yang diperlukan. Helen menarik naskahnya dari meja. Selama beberapa menit berikutnya, kami bekerja sendiri-sendiri dalam diam yang tidak produktif.
Aku mengenal Helen lebih dari dua tahun. Aku tahu ia selalu membuang daun bawang dari makanannya, mengetuk meja tiga kali sebelum tampil, dan bisa membedakan orang yang berbohong dari cara mereka menghindari kontak mata. Namun, sebagian besar hal itu kuketahui karena ia berada di samping Eve.
Aku tidak tahu film apa yang membuatnya menangis. Tidak tahu kenapa ia menulis tokoh yang berbicara seperti buku. Tidak tahu apakah ia sungguh ingin kuliah sastra atau hanya meminjam konflik yang terlihat cocok dengannya.
Mungkin ia juga hanya mengenalku sebagai cowok pendiam yang terlalu lama mencintai sahabatnya.
Bu Ratih masuk membawa kopi saat kami masih saling mengabaikan.
“Bagaimana progresnya?”
“Musiknya ingin membunuh tokoh saya,” kata Helen.
“Naskahnya ingin mengajar seminar,” kataku.
Bu Ratih menyesap kopi. “Bagus.”
“Bagian mana yang bagus?” tanya Helen.
“Kalian sudah berhenti bersikap sopan.” Ia duduk di ujung meja dan membaca dua halaman pertama naskah. “Masalahnya, kalian berdua membuat karya yang aman.”
Aku mengerutkan kening. “Musik saya dibilang terlalu muram.”
“Muram juga bisa aman kalau itu satu-satunya tempat kamu berani tinggal.”
Bu Ratih beralih kepada Helen. “Dan naskah kamu sangat sempurna sampai tidak ada manusia di dalamnya.”
Helen merapatkan bibir. Kali ini ia tidak langsung menjawab.
“Festival memberi tema ‘Suara yang Tidak Terdengar’,” lanjut Bu Ratih. “Kalian punya alat, kemampuan, dan waktu tiga minggu. Tapi kalian belum punya sesuatu yang ingin disampaikan.”
“Tokoh saya ingin memilih hidupnya sendiri,” kata Helen.
“Apa yang harus ia korbankan?”
Helen diam.
Bu Ratih menatapku. “Kenapa semua musikmu terdengar seperti kehilangan?”
Aku juga tidak menjawab.
“Mulai lagi,” katanya. “Ambil sesuatu yang personal. Bukan berarti kalian harus menyalin hidup sendiri, tetapi berhenti bersembunyi di balik hal yang sudah kalian kuasai.”
Setelah Bu Ratih pergi, ruangan terasa lebih sunyi daripada sebelumnya. Helen membalik naskahnya hingga halaman kosong menghadap ke atas.
“Aku benci kalau dia benar,” katanya.
“Seberapa sering?”
“Terlalu sering untuk kesehatan mentalku.”
Aku membuka kembali laptop. “Kita bisa mulai dari tema.”
“Kita sudah punya tema.”
“Kita punya lima kata dari panitia.”
Helen mengambil pulpen, lalu menulis sesuatu di halaman kosong. “Suara apa yang menurutmu tidak didengar?”
Pertanyaan itu memiliki terlalu banyak jawaban. Suara anak yang berusaha tidak merepotkan. Suara orang yang selalu berkata tidak apa-apa. Suara mesin percetakan Ibu ketika pesanan sepi. Namun, mengatakan semua itu kepada Helen terasa terlalu besar untuk rapat pertama.
“Suara yang dianggap biasa,” jawabku. “Sampai suatu hari nggak ada.”
Helen memutar pulpen di antara jemarinya. “Seperti bunyi bel sekolah?”
“Atau suara orang di rumah.”
Ia mengangguk kecil dan menuliskan jawabanku. “Aku kepikiran seseorang yang merekam suara-suara karena takut lupa.”
“Kenapa dia takut lupa?”
“Belum tahu.”
“Kemajuan besar.”
“Setidaknya dia nggak mati di dapur.”
Untuk beberapa saat, kami melempar kemungkinan tanpa berusaha memenangkannya. Seorang anak yang menyimpan suara rumah sebelum pindah. Seorang ibu yang hanya muncul melalui pesan suara. Sebuah sekolah yang akan dibongkar. Sebagian ide terlalu besar, sebagian terlalu sedih, dan satu ide Helen tentang kucing yang menjadi narator langsung kutolak demi martabat proyek.
“Kamu anti-kucing?” tanyanya.
“Aku anti membayar pengisi suara untuk mengeong.”
“Aku bisa mengeong.”
“Justru itu yang kutakutkan.”
Helen menahan senyum, lalu mengetuk meja tiga kali dengan ujung pulpennya. Kebiasaan itu biasanya muncul sebelum ia naik panggung. Aku baru sadar ia juga melakukannya ketika tidak yakin.
“Kita masih menebak-nebak,” katanya. “Kamu tahu suara dari sudut pandangmu. Aku tahu cerita dari sudut pandangku. Tapi kita belum tahu dunia yang sama.”
Ia berdiri dan berpindah ke sebelahku. “Putar rekaman yang kamu ambil minggu ini.”
Aku membuka folder ambience. Ada suara halte, lorong sekolah, kantin, percetakan, dan lapangan saat sore. Karena hanya tersedia satu headphone, aku memakainya di telinga kiri dan menyerahkan sisi kanan kepadanya.
Helen bukannya kembali ke kursinya. Ia berdiri di sampingku dan memasang headphone itu. Kabelnya pendek, membuat bahu kami hampir bersentuhan.
“Kamu bisa duduk,” kataku.
“Kalau aku duduk, kabelnya tertarik.”
“Ada kursi di sebelahku.”
“Kamu selalu seformal ini dengan partner kerja?”
“Aku belum pernah punya partner yang berdiri terlalu dekat.”
Helen menoleh. Jarak wajah kami membuatku bisa melihat bintik kecil tinta di dekat ibu jarinya.
“Aku bisa mundur,” katanya.
Nada suaranya tidak menggoda. Ia memberi pilihan sungguhan.
“Nggak perlu,” jawabku setelah satu detik terlalu lama.
Ia kembali menatap layar. Aku menekan tombol putar.
Suara sekolah mengalir di antara kami: bola memantul, kursi digeser, dua siswa berdebat tentang tugas, lalu seorang penjual memanggil pesanan dari kantin. Helen sesekali menunjuk bagian yang disukainya. Rambutnya menyentuh bahuku ketika ia membungkuk untuk melihat nama file, dan aku mendadak menjadi terlalu sadar pada panjang kabel headphone.
Ini bukan rasa sakit lama yang kembali dengan wajah berbeda. Tidak ada kebutuhan untuk membuat Helen memilihku atau ketakutan bahwa satu gerakan salah akan membuatku kehilangan tempat di dekatnya.
Yang ada hanya rasa ingin tahu.
Setelah rekaman terakhir selesai, Helen melepas headphone. “Aku punya ide.”
“Kucing narator?”
“Aku mulai mempertimbangkan menggantimu dengan kucing.” Ia menutup laptopku. “Rekam satu hari bersamaku.”
“Untuk apa?”
“Supaya kamu tahu suara yang ingin kutulis, dan aku tahu kenapa kamu merekam hal-hal tertentu.”
“Itu metode riset yang sangat tidak spesifik.”
“Makanya mungkin akan berguna.”
Helen mengulurkan tangan melintasi meja.
“Kita sudah kenal dua tahun,” kataku.
“Kita kenal orang yang berdiri di sebelah Eve.” Tatapannya tetap padaku. “Aku Helen Angelina. Aku menulis naskah terlalu sempurna dan, menurut tuduhan tidak berdasar, bisa mengeong.”
Aku menatap tangannya, lalu menjabatnya.
“Alva Mahendra. Musikku terdengar seperti awan hitam punya masalah keluarga.”
Genggamannya hangat dan mantap.
“Senang kenal kamu lagi, Alva.”
Untuk pertama kalinya, namaku terdengar berbeda ketika diucapkan Helen. Bukan karena ia mengubah nada suaranya. Mungkin karena kali ini, kami tidak sedang membicarakan siapa pun selain diri kami sendiri.
“Besok setelah sekolah,” katanya sambil melepaskan tanganku. “Bawa alat rekammu.”
“Kita mau ke mana?”
Helen memasukkan naskah lama ke map hitam. “Kalau kuberi tahu, kamu akan menyiapkan semuanya.”
“Persiapan itu baik.”
“Aku ingin melihat apa yang kamu dengar saat nggak sempat bersiap.”
Ia berjalan menuju pintu, lalu menoleh dengan senyum kecil yang terasa seperti tantangan.
“Anggap saja hari pertama setelah kita kenalan lagi.”
- 1 Cowok yang Tidak Mungkin Menyukaiku
- 2 Plester di Bingkai Kacamata
- 3 Duo Goddess
- 4 Payung yang Dipakai Berdua
- 5 Senyum Setelah Hujan
- 6 Sahabat yang Selalu Tersedia
- 7 Tepuk Tangan dari Kursi Terakhir
- 8 Aku Memilih Berhenti
- 9 Hari Aku Tidak Mencarimu
- 10 Kenalan Lagi reading
- 11 Tujuh Menit yang Berantakan
- 12 Suara yang Ingin Kusimpan
- 13 Kencan yang Belum Diakui
- 14 Aku Selesai Sebelum Kita Mulai
- 15 Pacar Pertama
- 16 Lima Menit Lagi
- 17 Pacarku Terlalu Sopan
- 18 Senyum yang Bukan Lagi Untukku
- 19 Jadi Kamu Bisa Cemburu
- 20 Lagu untuk Pacarku
- 21 Jangan Jadikan Aku Penonton
- 22 Rumah Tempat Alva Tidak Pernah Mengeluh
- 23 Tempat Helen Boleh Lelah
- 24 Semua Hal yang Tidak Pernah Kulihat
- 25 Kemungkinan yang Sudah Berakhir
- 26 Tidak Ada yang Disembunyikan
- 27 Hari Helen Boleh Meminta Apa Saja
- 28 Jangan Kecilkan Masa Depanmu
- 29 Orang yang Terlambat Melihat
- 30 Lagu yang Dimulai dari Nol