Chapter Eighteen

Senyum yang Bukan Lagi Untukku

POV Alva

Tiga hari sebelum Pameran Seni Arunika dibuka, aula berubah menjadi tempat paling berisik di sekolah.

Panitia menyeret papan display, siswa teater menguji lampu, dan dari sisi panggung terdengar potongan lagu yang sama diputar berulang kali. Aku bertanggung jawab memasang perangkat audio untuk instalasi film kami. Helen bertanggung jawab pada panel sinopsis dan koordinasi penampil.

Dalam praktiknya, Helen juga merasa bertanggung jawab memastikan aku makan.

“Turun,” katanya dari bawah tangga lipat.

Aku sedang memasang speaker kecil di sudut atas panel. “Tinggal satu kabel.”

“Kamu bilang begitu dua puluh menit lalu.”

“Sekarang kabelnya berbeda.”

“Turun atau aku matikan listriknya.”

Aku menatapnya. Helen memegang kotak nasi di satu tangan dan kabel utama di tangan lain.

“Itu ancaman terhadap karya seni,” kataku.

“Itu bentuk kasih sayang.”

Aku menyelesaikan ikatan kabel, lalu turun. Begitu kedua kakiku menyentuh lantai, Helen menyerahkan kotak nasi kepadaku dan mengambil tangga untuk dipindahkan.

“Kamu juga belum makan,” kataku.

“Aku sedang menyuruh pacarku lebih dulu.”

“Kedengarannya tidak setara.”

“Baik.” Ia membuka kotak nasi kedua. “Kita makan sama-sama. Puas?”

“Lumayan.”

Kami duduk di tepi panggung. Helen memisahkan daun bawang dari mi gorengnya ke tutup kotak, sedangkan aku mencoba membuka sambal plastik tanpa menumpahkan isinya ke kemeja.

“Kamu kalah melawan bungkus sambal?” tanyanya.

“Ini dirancang oleh orang yang membenci manusia.”

Helen mengambilnya, merobek sudutnya dengan mudah, lalu menuangkan setengah ke makananku. “Pacarku ternyata punya musuh yang sangat kecil.”

“Aku memilih pertempuran.”

“Dan kalah.”

Aku tertawa. Bukan karena kalimatnya sangat lucu, tetapi karena ekspresi puasnya tidak sebanding dengan kemenangan atas satu bungkus sambal.

“Va?”

Aku menoleh. Eve berdiri beberapa langkah dari panggung sambil membawa gulungan label foto. Rambutnya diikat tinggi dan ada noda cat putih di lengan seragamnya.

“Bisa bantu sebentar?” tanyanya. “Panel kelas kami miring. Kayaknya pengaitnya salah.”

Dulu, tubuhku akan bergerak sebelum aku memikirkan hal lain. Sekarang aku melihat speaker yang belum diuji, kotak nasi di pangkuan, dan Helen yang baru duduk setelah berkeliling aula sejak pagi.

“Aku masih pasang audio sampai jam dua,” jawabku. “Coba panggil Dimas. Dia yang memasang pengait panel kelas kemarin.”

Eve berhenti sesaat, lalu mengangguk. “Oh. Iya, bisa.”

“Kalau setelah tes suara masih bermasalah, aku lihat.”

“Nggak apa-apa. Aku cari Dimas.”

Ia tersenyum kecil kepada Helen sebelum berjalan pergi. Helen tidak berkomentar. Ia hanya mengambil satu potong telur dari kotakku.

“Itu milikku,” kataku.

“Kamu menolak membantu sahabat demi makan sama aku. Aku sedang memastikan pengorbanannya layak.”

“Aku menunda, bukan menolak.”

“Lebih romantis kalau kamu biarkan versiku.”

Selesai makan, kami kembali bekerja. Film diputar pada layar kecil dengan headphone untuk pengunjung, sedangkan beberapa rekaman ambience dimainkan bergantian melalui speaker di panel. Helen menempel sinopsis, lalu mundur untuk memeriksa apakah posisinya lurus.

“Miring,” kataku.

“Yang mana?”

“Sebelah kanan turun dua sentimeter.”

Helen menyesuaikan kertas, lalu mundur lagi. “Sekarang?”

“Kiri terlalu tinggi.”

“Aku baru memindahkan kanan.”

“Efek perspektif.”

“Efek pacarku menyebalkan.”

Ia menyuruhku memasang sendiri. Aku naik ke kursi untuk menjangkau bagian atas panel, lalu menyadari selotipnya menempel pada ujung lengan kemeja.

“Helen.”

“Apa?”

“Bantu.”

“Kamu bilang apa?”

“Selotipnya menempel.”

“Bukan itu. Bagian pertama.”

Aku menatapnya dari atas kursi. “Jangan membuatku menyesal sudah belajar meminta.”

Helen tersenyum, lalu melepaskan selotip dari lenganku. “Aku cuma menikmati progres.”

Ia tetap berada di samping kursi untuk menahan kakiku ketika aku menempelkan sinopsis. Setelah selesai, aku turun dan bersandar pada bahunya beberapa detik.

“Capek?” tanyanya.

“Punggungku resmi berusia enam puluh tahun.”

“Kasihan sekali.” Helen menepuk kepalaku seperti anak kecil. “Mau duduk?”

“Mau pulang.”

“Kita baru setengah.”

Aku mengeluh pelan. Helen tertawa, lalu menggeser tubuh agar aku bisa menyandarkan lebih banyak berat padanya.

Saat itulah aku melihat Eve lagi.

Ia berdiri di sisi lain aula bersama Dimas. Panel kelasnya sudah tegak. Namun, ia tidak sedang melihat panel. Tatapannya tertahan pada kami, lalu cepat berpindah ketika mataku bertemu dengannya.

Aku berdiri lurus. Bukan karena merasa bersalah, hanya karena kami masih punya pekerjaan.

Ponselku bergetar di atas kotak kabel. Sebuah email masuk dari panitia beasiswa yang mengadakan audisi Februari lalu.

Panitia Beasiswa Komposisi Arunika: Selamat. Anda terpilih sebagai penerima program pelatihan produksi musik selama enam bulan.

Aku membaca kalimat itu dua kali.

“Kenapa?” Helen langsung mendekat. “Ada masalah?”

Aku menyerahkan ponsel tanpa mampu menjelaskan. Helen membaca emailnya, lalu mengeluarkan suara kecil yang membuat beberapa panitia menoleh.

“Kamu lolos!”

“Sepertinya.”

“Sepertinya?” Ia memegang kedua lenganku. “Mereka menulis selamat, bukan mungkin.”

Sebelum aku sempat mengingatkan kami berada di tengah aula, Helen memelukku erat. Tubuhku terangkat sedikit karena ia berdiri dengan ujung kaki.

“Aku tahu kamu akan lolos,” katanya di dekat telingaku.

“Kamu nggak pernah bilang.”

“Karena kalau gagal, aku akan terlihat menyebalkan.”

Aku tertawa dan memeluknya balik. Ketika Helen melepaskanku, Eve sudah berdiri lebih dekat bersama gulungan labelnya.

“Kamu dapat beasiswanya?” tanyanya.

“Iya. Emailnya baru masuk.”

“Selamat, Va.” Senyumnya hangat, tetapi terlambat setengah detik. “Kamu harus kasih tahu Tante Maya.”

“Nanti setelah aula selesai. Aku ingin menelepon langsung.”

“Iya. Pasti.” Eve mengangguk, lalu kembali menuju panel kelasnya.

Helen menyenggol bahuku. “Nanti malam kita rayakan lewat video call.”

“Merayakan lewat layar?”

“Aku akan beli kue. Kamu cari lilin. Kita pura-pura berada di meja yang sama.”

Aku ingin mengatakan itu berlebihan, tetapi senyum Helen membuat kata tersebut tidak keluar.

Pukul dua, Bu Ratih datang memeriksa instalasi. Ia meminta suara pembuka dikecilkan, durasi transisi dipersingkat, dan seluruh kabel ditempel ulang agar tidak membuat pengunjung tersandung. Saat aku mulai menjelaskan kenapa volume pembuka dibutuhkan, Helen menarik ujung kemejaku.

“Kita revisi,” katanya.

“Tapi—”

“Kamu mau berdebat dengan Bu Ratih sampai pamerannya selesai?”

Bu Ratih mengangguk kepada Helen. “Pilihan yang bijak.”

Setelah guru itu pergi, aku menatap Helen. “Kamu seharusnya membela visi artistikku.”

“Aku membela waktu pulang kita.”

“Pengkhianatan.”

“Nanti aku belikan es kopi.”

“Aku mempertimbangkan memaafkan.”

Helen tertawa lagi. Aku baru menyadari dasiku miring ketika ia berdiri di depanku dan merapikannya. Gerakannya sudah menjadi kebiasaan; jemarinya menarik simpul sedikit, meratakan kerah, lalu menepuk dadaku sekali.

“Rapi,” katanya.

Aku membungkuk dan mengecup keningnya.

Tidak direncanakan. Tidak ada godaan lebih dahulu atau keberanian yang harus dikumpulkan. Aku hanya ingin melakukannya, dan tubuh Helen langsung melunak sedikit di dekatku.

“Itu untuk apa?” tanyanya.

“Pembayaran jasa perbaikan dasi.”

“Tarifku naik mulai besok.”

“Berapa?”

“Nanti kupikirkan.”

Dari sudut mata, aku melihat Eve kembali menunduk pada label-label fotonya. Jemarinya meremas ujung kertas terlalu kuat sampai salah satu sudutnya terlipat.

Aku tidak tahu apa yang ia pikirkan. Kami masih berbicara sesekali, tetapi percakapan kami sekarang memiliki batas dan selesai tanpa pesan lanjutan sampai tengah malam. Ia tidak lagi datang membawa setiap masalah kecil. Aku mengira perubahan itu hanya berarti kami kehilangan rutinitas.

Hari itu, dari cara Eve memandangku, aku mulai curiga ia sedang melihat sesuatu yang lebih besar daripada bantuan yang tidak lagi ia dapatkan.

Menjelang sore, panel akhirnya selesai. Helen duduk di lantai bersandar pada panggung, terlalu lelah untuk mempertahankan postur sempurnanya. Aku menyerahkan es kopi yang kubeli dari kantin dan duduk di sebelahnya.

“Pegang,” katanya sambil memberikan ponselnya.

“Kenapa?”

“Tanganku dingin. Bukakan sedotannya.”

“Kamu baru mengejekku soal sambal.”

“Itu berbeda. Aku sedang manja.”

Setelah memasang sedotan, aku mengembalikan minumannya. Helen mengambil satu teguk, lalu menyelipkan tangan dinginnya ke sela jemariku.

“Lebih hangat,” katanya.

“Aku merasa dimanfaatkan.”

“Sebagai pacar, bukan teknisi.”

Aku tidak bisa membantah logika itu.

Kami meninggalkan aula setelah lampu mulai dipadamkan. Eve dan Raka berjalan beberapa meter di depan. Eve sempat menoleh ke belakang ketika Helen mengatakan sesuatu yang membuatku tertawa.

Raka mengikuti arah pandangannya.

Ia tidak langsung mengatakan apa pun. Namun, sebelum mereka berbelok ke koridor berbeda, aku mendengar suaranya bertanya pelan,

“Kamu dari tadi melihat Alva?”

Langkah Eve berhenti sepersekian detik.

Aku tidak mendengar jawabannya.