Chapter Two
Plester di Bingkai Kacamata
POV Alva
Dua tahun sebelum aku berbohong kepada Eve bahwa aku tidak mungkin menyukainya, ia pernah memperbaiki kacamataku dengan plester bergambar bebek kuning.
Hari itu adalah hari pertama masa pengenalan siswa di SMA Arunika. Seragamku masih terlalu kaku, sepatu hitamku belum memiliki satu pun lipatan, dan satu-satunya targetku hanya melewati sekolah baru tanpa memberi siapa pun alasan untuk mengingat namaku.
Target yang sederhana. Seharusnya mudah.
Aku memilih kursi paling belakang di aula, mencatat jadwal yang ditampilkan panitia, dan tidak ikut berteriak ketika kakak kelas meminta setiap kelompok membuat yel-yel. Anak laki-laki di sebelahku—Dimas, berdasarkan tulisan besar di tanda pengenalnya—mengambil porsi suara untuk kami berdua.
“Lo sakit tenggorokan?” tanyanya setelah acara selesai.
“Nggak.”
“Berarti emang hemat kata.”
Aku mengangguk.
Dimas tertawa seolah baru mendapat jawaban panjang. “Gue suka. Kita kayaknya bakal cocok.”
Aku belum sempat mengatakan bahwa penilaiannya terlalu cepat karena ia sudah ditarik teman-temannya menuju kantin. Aku memilih berjalan ke perpustakaan. Tempat dengan buku biasanya memiliki lebih sedikit orang yang menganggap diam sebagai masalah yang harus diperbaiki.
Koridor gedung utama penuh oleh murid baru. Suara sepatu, panggilan panitia, dan tawa memantul di dinding. Aku menunduk untuk memeriksa denah sekolah di lembar orientasi ketika seseorang keluar dari kelas sambil membawa tumpukan karton.
Bahunya menghantamku.
Kacamataku terlepas, jatuh ke lantai, lalu terdorong ujung sepatu orang lain.
Semuanya berubah menjadi warna-warna tanpa garis yang jelas.
“Aduh, sorry!” kata seseorang.
Aku berjongkok dan meraba lantai. Sepasang sepatu berhenti di depanku, lalu bergeser tanpa membantu. Dari sisi koridor terdengar tawa pendek.
“Kacamata minus berapa tuh? Tebal banget.”
“Mode hemat HD.”
Tidak ada yang benar-benar kejam. Hanya dua komentar yang mungkin akan dilupakan lima menit kemudian. Tetap saja, tengkukku terasa panas.
Ayah pernah mengatakan aku terlalu sensitif. Katanya, orang tidak akan terus menganggapku merepotkan kalau aku belajar menyelesaikan semuanya sendiri.
Jadi aku tetap menunduk dan mencari tanpa meminta bantuan.
“Ini kacamatamu?”
Suara perempuan terdengar dari dekat. Sesuatu diletakkan ke telapak tanganku. Aku mengenali bingkai hitamku dari retakan pada engsel kiri.
“Iya. Terima kasih.”
Aku mencoba memasangnya. Tangkainya menggantung dan lensa sebelah kiri terus melorot.
“Jangan dipaksa.” Gadis itu berjongkok di depanku. Wajahnya hanya terlihat sebagai garis samar dengan rambut gelap dan tanda pengenal putih. “Boleh aku lihat?”
Aku menyerahkan kacamataku.
“Engselnya patah,” suara perempuan lain berkata. Lebih datar, lebih tenang. “Kalau dilem sekarang juga nggak akan kering sebelum acara berikutnya.”
“Aku punya plester.”
“Plester luka bukan alat reparasi, Eve.”
“Fungsinya menahan sesuatu supaya nggak lepas. Hampir sama.”
Eve.
Aku pernah mendengar namanya saat pembagian kelompok. Eve Loviana, murid yang bisa membuat seluruh barisan tertawa ketika salah menyebut nama ketua yayasan. Gadis di sebelahnya pasti Helen Angelina. Keduanya sudah dibicarakan bahkan sebelum hari pertama selesai.
“Jangan bergerak dulu,” kata Eve.
“Aku nggak bergerak.”
“Bagus. Pertahankan.”
Jari-jarinya bekerja di dekat wajahku. Karena tidak bisa melihat jelas, aku hanya menangkap aroma jeruk dari tangannya dan bunyi plastik kecil yang dibuka. Beberapa detik kemudian, ia memasangkan kacamata itu kembali kepadaku.
Dunia muncul lagi dengan garis yang benar.
Hal pertama yang kulihat adalah wajah Eve dari jarak kurang dari satu lengan. Matanya besar, rambutnya dikuncir tinggi, dan ia sedang menahan senyum.
Aku melihat alasannya ketika menyentuh engsel kacamataku.
Plester putih bergambar bebek kuning melilit bingkai hitamku.
“Itu satu-satunya motif yang ada,” katanya cepat.
Helen mengangkat kotak plester dari tangan Eve. “Ada yang polos.”
“Tadi aku nggak lihat.”
“Kamu yang beli.”
Eve mengambil kembali kotaknya dan memasukkannya ke saku rok. “Yang penting sekarang bisa dipakai.”
Aku seharusnya malu. Dua murid yang tadi menertawakanku masih berada di ujung koridor dan pasti bisa melihat bebek kuning di pelipisku.
Namun, Eve memandangku seolah tidak ada yang memalukan dari diriku.
“Terima kasih,” kataku.
“Sama-sama. Aku Eve.”
“Aku tahu.”
Alisnya terangkat. “Kok tahu?”
“Tanda pengenal.”
Itu bohong kecil pertamaku kepadanya. Tanda pengenalnya terbalik.
Helen memperkenalkan diri setelahnya. Berbeda dengan Eve, ia menyadari tanda pengenal sahabatnya tidak terbaca. Tatapannya bertahan padaku satu detik lebih lama, tetapi ia tidak mengatakan apa-apa.
Bel panggilan berbunyi dari aula.
“Kami mau ke kantin dulu,” kata Eve. “Kamu sudah makan?”
“Sudah.”
Perutku memilih saat yang buruk untuk berbunyi.
Eve menatapku. Helen juga.
“Itu suara kursi,” kataku.
Tidak ada kursi di dekat kami.
Helen menutup mulut, tetapi bahunya bergerak menahan tawa. Eve tidak berusaha sekeras itu.
“Ayo,” katanya sambil menarik ujung lenganku. “Kita cari makanan sebelum kursinya kelaparan.”
Aku bisa menolak. Seharusnya aku menolak. Menghabiskan waktu dengan dua orang yang dalam sehari sudah menjadi pusat perhatian sekolah bukan cara yang tepat untuk tidak dikenal.
Namun, jari Eve masih menyentuh lengan seragamku, ringan dan tanpa keraguan.
Aku mengikuti mereka.
Kantin penuh, tetapi Helen menemukan meja kosong di dekat jendela. Eve membeli nasi ayam dan teh lemon dingin. Setelah satu tegukan, wajahnya langsung berkerut.
“Manis banget.”
“Kamu sendiri yang bilang sirupnya dua kali,” kata Helen.
“Kupikir biar lebih segar.”
“Gula bukan udara.”
Eve mendorong gelasnya menjauh. “Besok aku minta setengah sirup saja.”
Percakapan mereka bergerak cepat: tentang kakak panitia yang salah memberi petunjuk, guru olahraga yang terlalu bersemangat, dan rumor bahwa kelas di lantai tiga berhantu. Aku lebih banyak mendengarkan. Anehnya, tidak ada yang memaksaku berbicara. Eve bertanya sesekali, lalu menerima jawaban pendekku tanpa menyebutku terlalu diam.
Untuk pertama kalinya di sekolah baru, keheninganku tidak terasa seperti kesalahan.
Kami kembali ke aula ketika panitia meminta setiap kelompok menampilkan pertunjukan tiga puluh detik. Dimas langsung mengusulkan tarian yang tidak seorang pun tahu gerakannya. Dua murid lain ingin menyanyi, tetapi pengeras suara kelompok kami hanya mengeluarkan dengung panjang.
Aku duduk di belakang mereka sampai Eve datang membawa mikrofon itu kepadaku.
“Kamu kelihatannya ngerti kabel,” katanya.
“Apa yang membuatku kelihatan ngerti kabel?”
“Kamu menatap colokannya seperti sedang kecewa secara pribadi.”
Aku mengambil mikrofon tersebut. Salah satu sambungannya longgar. Tidak ada peralatan, jadi aku melipat potongan kertas dari lembar jadwal dan menyelipkannya di antara konektor. Dengungnya hilang.
Dimas menepuk bahuku. “Bebek kuning kita berguna juga.”
Beberapa orang tertawa. Refleks, tanganku menyentuh plester di kacamata.
“Namanya Alva,” kata Eve. Nada suaranya masih ringan, tetapi cukup membuat Dimas mengangkat kedua tangan.
“Siap. Alva si penyelamat audio.”
Aku tidak membutuhkan pembelaan. Setidaknya, begitu yang ingin kukatakan. Namun, ketika Eve menyerahkan mikrofon kepadaku dan meminta bantuan mengatur urutan penampilan, aku tetap menerimanya.
Kelompok kami tidak menang. Tarian Dimas terlalu cepat, dua penyanyi masuk di nada berbeda, dan aku salah memutar musik selama dua detik. Kami tetap tertawa ketika turun dari panggung. Bahkan aku, meski hanya sebentar.
Sore harinya, Ibu melihat plester bebek di kacamataku saat aku membantunya menutup percetakan.
“Model baru?” tanyanya.
“Engselnya patah.”
“Ibu tahu. Yang Ibu tanyakan bebeknya.”
Aku membuka kacamata dan mengambil kotak peralatan kecil dari laci kasir. “Seseorang membantu.”
Ibu tidak bertanya lebih jauh. Ia hanya tersenyum sambil menghitung uang receh. Aku mengganti sekrup engsel dengan cadangan dari bingkai lama. Setelah kacamata itu kembali kokoh, plester bebek seharusnya masuk tempat sampah.
Tanganku sempat berada di atas keranjang selama beberapa detik.
Pada akhirnya, aku melipat plester itu dan memasukkannya ke saku depan tas.
Keesokan harinya, aku datang dengan kacamata cadangan. Plester bebek kuning itu kusimpan di saku depan tas, meskipun tidak ada alasan untuk menyimpan plester bekas.
Aku bertemu Eve dan Helen di kantin saat istirahat. Eve berdiri di depan penjual minuman sambil menatap daftar menu.
“Teh lemon satu,” katanya. “Sirupnya...”
Ia terdiam, berusaha mengingat.
“Setengah,” kataku sebelum sempat menahan diri.
Eve menoleh. “Oh, iya. Setengah. Kok kamu ingat?”
“Kamu bilang kemarin.”
“Aku saja lupa.” Ia tertawa, lalu memesan sesuai ucapanku.
Helen tidak ikut tertawa. Ia menatapku, kemudian melirik saku tas tempat ujung plester bebek kuning sedikit menyembul.
“Dia memang gampang lupa,” katanya.
Aku mengira itu hanya informasi biasa.
Baru jauh setelahnya aku mengerti bahwa Helen sedang memperingatkanku.
- 1 Cowok yang Tidak Mungkin Menyukaiku
- 2 Plester di Bingkai Kacamata reading
- 3 Duo Goddess
- 4 Payung yang Dipakai Berdua
- 5 Senyum Setelah Hujan
- 6 Sahabat yang Selalu Tersedia
- 7 Tepuk Tangan dari Kursi Terakhir
- 8 Aku Memilih Berhenti
- 9 Hari Aku Tidak Mencarimu
- 10 Kenalan Lagi
- 11 Tujuh Menit yang Berantakan
- 12 Suara yang Ingin Kusimpan
- 13 Kencan yang Belum Diakui
- 14 Aku Selesai Sebelum Kita Mulai
- 15 Pacar Pertama
- 16 Lima Menit Lagi
- 17 Pacarku Terlalu Sopan
- 18 Senyum yang Bukan Lagi Untukku
- 19 Jadi Kamu Bisa Cemburu
- 20 Lagu untuk Pacarku
- 21 Jangan Jadikan Aku Penonton
- 22 Rumah Tempat Alva Tidak Pernah Mengeluh
- 23 Tempat Helen Boleh Lelah
- 24 Semua Hal yang Tidak Pernah Kulihat
- 25 Kemungkinan yang Sudah Berakhir
- 26 Tidak Ada yang Disembunyikan
- 27 Hari Helen Boleh Meminta Apa Saja
- 28 Jangan Kecilkan Masa Depanmu
- 29 Orang yang Terlambat Melihat
- 30 Lagu yang Dimulai dari Nol