Chapter Twenty Eight

Jangan Kecilkan Masa Depanmu

POV Alva

Dua email penerimaan masuk dalam selisih kurang dari satu menit.

Helen diterima di program penulisan yang paling ia inginkan di Yogyakarta. Aku diterima di program produksi musik di Bandung.

Selama beberapa detik, aku hanya berdiri di depan pintu percetakan sambil melihat dua kabar baik pada layar yang sama. Mesin di belakangku baru dimatikan. Ibu sedang menghitung uang kas, dan suara kendaraan dari jalan terdengar lebih jelas setelah dengung mesin hilang.

Ponselku berdering. Nama Helen muncul.

Aku menjawab sebelum dering kedua.

“Kamu lihat?” tanyanya.

“Lihat.”

“Aku diterima.”

Suaranya tinggi oleh kegembiraan. Aku bisa membayangkan ia berdiri dari kursi, menutup mulut dengan satu tangan, lalu berjalan mengitari kamar karena terlalu penuh energi untuk diam.

“Kamu diterima,” ulangku.

Helen tertawa. “Aku diterima, Va.”

Aku ikut tersenyum. “Selamat.”

“Kamu juga! Cek emailmu. Jangan bilang belum dibuka.”

“Sudah.”

“Bagaimana?”

“Aku diterima.”

Jeritannya membuatku menjauhkan ponsel dari telinga. Ibu menoleh dari meja kasir. Aku mengangkat ibu jari, dan wajahnya langsung berubah cerah.

Selama beberapa menit, Helen dan aku saling berbicara terlalu cepat. Ia mengulang kalimat dari emailnya. Aku memberi tahu jadwal daftar ulang. Kami menghitung siapa yang lebih dulu menerima pesan, seolah selisih detik itu penting.

Lalu Helen bertanya, “Kampusmu tetap di Bandung, kan?”

Kegembiraan kami tidak hilang. Ia hanya berhenti berlari.

“Iya.”

“Kampusku mulai orientasi pertengahan Agustus.”

“Punyaku awal September.”

Di ujung panggilan, ia menarik napas pelan. Yogyakarta tidak berada di sisi lain dunia. Ada kereta, bus, dan jadwal libur. Namun, jarak itu cukup jauh untuk menghapus kebiasaan pulang bersama, ruang musik sore hari, dan keputusan spontan membeli mi setelah latihan.

“Kita bicara besok?” tanyaku.

“Bukan malam ini?”

“Aku mau melihat wajahmu.”

Helen terdiam sesaat. “Video call.”

“Aku ingin memegang tanganmu juga.”

“Oh.” Nada suaranya berubah lebih kecil. “Baik. Besok.”

Setelah panggilan berakhir, Ibu keluar dari percetakan dan memelukku. Ia menangis sedikit, lalu menyangkal ketika kutunjukkan. Kami merayakannya dengan martabak yang dibeli dari ujung jalan.

Tetap saja, di bawah semua rasa bangga, ada kalender yang mulai memisahkan hidupku dan Helen menjadi dua kota.

Sabtu siang, kami bertemu di perpustakaan kota. Bukan tempat paling romantis, tetapi memiliki meja panjang, sambungan internet, dan petugas yang akan menegur jika diskusi kami berubah menjadi pertengkaran.

Helen datang membawa laptop, buku catatan ulang tahunnya, dan dua minuman dingin. Ia duduk di sebelahku alih-alih di seberang, merapat sampai bahu kami bersentuhan.

“Aku membuat daftar,” katanya.

“Aku juga.”

“Bagus. Kita bisa menilai siapa yang lebih cemas.”

Aku membuka dokumen di laptop. Helen melirik judulnya.

“Rencana LDR versi satu?” Ia mengangkat alis. “Kamu benar-benar memberi nomor versi.”

“Akan ada revisi.”

“Romantis sekali.”

“Kamu datang membawa tabel jadwal kereta.”

Helen menutup layar tabletnya dengan cepat. “Itu berbeda.”

Kami tertawa, tetapi tangannya mencari tanganku di bawah meja. Jemarinya menyelip di antara jemariku dan tidak dilepas saat kami mulai berbicara.

“Mama dan Papa bagaimana?” tanyaku.

“Mereka masih takut aku memilih bidang yang terlalu sempit. Tapi setelah kunjungan kampus, mereka setuju aku daftar ulang.” Helen mengusap ujung gelas dengan ibu jari. “Papa sudah mencari kos yang punya penjaga. Mama membuat daftar barang sepanjang tiga halaman.”

“Jadi kamu akan pergi.”

“Iya.” Jawabannya terdengar tegas, tetapi genggamannya mengencang. “Kecuali...”

Aku menunggu.

“Aku juga lolos pilihan kedua di Bandung.”

Kalimat itu membuatku menoleh penuh.

Helen tidak menatapku. “Programnya bukan fokus penulisan, lebih banyak teori sastra. Tapi kampusnya bagus. Kalau aku ambil itu, kita tetap satu kota.”

“Kamu ingin program itu?”

“Aku bisa menyukainya.”

“Bukan itu pertanyaanku.”

Ia mengembuskan napas. “Program Yogyakarta yang aku inginkan.”

Aku sudah tahu jawabannya. Tetap saja, bagian egois dalam diriku ingin mengatakan Bandung juga cukup baik. Aku ingin melihatnya setiap minggu, bisa datang ketika ia lelah, dan tidak perlu menjadwalkan pelukan melalui kalender.

Kali ini aku tidak menghapus keinginan itu agar terlihat dewasa.

“Aku ingin kamu tetap di Bandung,” kataku.

Helen akhirnya menatapku.

“Aku ingin bisa mengajakmu makan tanpa memeriksa harga tiket. Aku ingin kamu datang ke pertunjukanku dan aku datang ke pementasanmu.” Aku menarik napas. “Tapi aku juga ingin kamu pergi ke program yang kamu pilih.”

“Dua keinginan itu bertentangan.”

“Iya.”

“Lalu yang mana?”

Aku mengangkat tangan kami yang masih tergenggam. “Aku ingin ada dalam masa depanmu, bukan membuat masa depanmu lebih kecil.”

Mata Helen langsung berkilau. Ia mengedip beberapa kali, marah kepada air mata yang hampir keluar.

“Kamu nggak boleh mengatakan kalimat seperti itu di perpustakaan,” bisiknya.

“Kenapa?”

“Aku nggak bisa menciummu dengan benar di sini.”

Petugas di meja depan berdeham tanpa melihat ke arah kami. Helen menutup mulut, sedangkan aku berusaha tidak tertawa.

Setelah tenang, ia menyandarkan kepala sebentar ke bahuku.

“Aku akan memilih Yogyakarta,” katanya.

Rasa kehilangan datang bersamaan dengan bangga. Keduanya tidak saling membatalkan.

“Baik.”

“Kamu sedih?”

“Iya.”

“Aku juga.”

Kami membiarkan jawaban itu berada di meja tanpa berusaha memperbaikinya. Memilih hal yang benar tidak selalu membuatnya terasa ringan.

Helen membuka laptop. “Sekarang aturan.”

“Bukan aturan.”

“Kesepakatan.”

“Lebih baik.”

Kami mulai dari komunikasi. Helen ingin video call setiap malam. Aku menunjukkan jadwal kelas orientasi dan pekerjaanku membantu percetakan.

“Setiap malam mungkin nggak realistis,” kataku.

“Lima menit.”

“Kamu tahu lima menitmu sering menjadi dua puluh.”

“Itu inflasi.”

Akhirnya kami menyepakati dua malam khusus setiap minggu untuk panggilan panjang. Pada hari lain, tidak ada kewajiban menjawab cepat saat kelas, latihan, atau pekerjaan. Namun, jika salah satu terlalu sibuk, kami harus mengatakan sedang sibuk, bukan menghilang agar tidak merepotkan.

“Pesan standar,” kata Helen sambil mengetik. “Aku tenggelam. Masih sayang kamu. Besok menelepon.”

“Bagian tengah wajib?”

“Sangat.”

“Kalau sedang marah?”

“Tulis: aku tenggelam, sedang kesal, tetap pacarmu, besok bertengkar.”

Aku menahan senyum. “Efisien.”

Soal kunjungan lebih sulit. Tiket tidak murah, jadwal kuliah belum pasti, dan aku tidak mau Ibu menambah biaya untuk hubungan kami. Helen juga tidak ingin setiap libur habis di perjalanan.

Kami memilih target satu kunjungan setiap enam minggu, bergantian kota, dengan hak membatalkan jika uang atau tugas tidak memungkinkan. Tidak ada skor siapa yang lebih sering datang. Tidak ada tuntutan kejutan yang justru membuat orang lain meninggalkan kewajibannya.

“Kalau kangen sebelum enam minggu?” tanya Helen.

“Pasti.”

“Jawabanmu nggak membantu.”

Aku mengeluarkan satu earphone dari tas, memasangnya di telinga kiri, lalu memberikan sisi kanan kepadanya.

“Minggu malam,” kataku. “Kita putar lagu yang sama, meskipun nggak sempat menelepon.”

Helen memasang earphone itu. Kabelnya kembali membuat bahu kami rapat seperti hari pertama menyusun film.

“Playlist bersama?”

“Kita tambahkan satu lagu setiap minggu.”

“Kalau pilihanmu buruk?”

“Kamu boleh keluar dari hubungan.”

Ia mencubit lenganku. “Jangan bercanda soal itu.”

Aku melepas earphone. “Baik.”

Kalimat berikutnya lebih sulit. Kami harus membicarakan kemungkinan bahwa jarak mengubah sesuatu.

“Aku nggak mau kita berjanji selamanya hanya karena takut,” kataku.

Helen menunduk pada dokumen. “Kedengarannya seperti kamu menyiapkan pintu keluar.”

“Aku menyiapkan pintu untuk kejujuran.” Aku memutar kursi sedikit agar menghadapnya. “Kalau nanti kamu kewalahan, kesepian, atau perasaanmu berubah, bilang. Aku juga akan bilang. Kita cari jalan sebelum memutuskan apa pun. Tapi aku nggak ingin salah satu dari kita bertahan sambil diam-diam membenci hubungan ini.”

Helen mengangkat wajah. Ketakutan yang selama ini ditutup candaan terlihat jelas.

“Aku takut keseharian kita hilang,” katanya. “Bukan cuma takut kamu suka orang lain. Aku takut suatu hari kita menelepon dan nggak punya hal untuk dibicarakan.”

“Kalau itu terjadi, kita bisa diam.”

“Diam lewat telepon terdengar menyedihkan.”

“Kita pernah duduk diam di bus dan tetap merasa dekat.”

“Karena bahumu ada.”

Aku menarik tangannya ke dadaku. “Aku nggak bisa mengirim bahu lewat paket.”

Helen tertawa kecil di antara mata yang basah.

“Tapi aku bisa mengirim suara,” lanjutku. “Kamu kirim lima menit hidupmu. Suara kos, kelas, jalan pulang. Aku juga. Nggak harus selalu cerita besar.”

“Seperti rekamanmu?”

“Iya. Kita bangun keseharian yang baru.”

Helen mengangguk. Ia menambahkan satu baris ke dokumen: kirim satu suara biasa setiap minggu.

Kesepakatan terakhir adalah masa depan kami tidak boleh mengecil karena hubungan. Aku tidak akan melewatkan proyek penting hanya untuk naik kereta. Helen tidak akan menolak kesempatan menulis karena jadwal kunjungan. Jika salah satu membutuhkan dukungan, kami meminta, bukan menguji apakah yang lain cukup peka untuk tahu.

Aku memandang daftar yang akhirnya memenuhi satu halaman. Tidak ada kalimat selamanya. Tidak ada janji bahwa kami tidak akan pernah berubah.

Namun, ada pilihan yang bisa dilakukan Senin depan, enam minggu setelah keberangkatan, dan pada malam ketika salah satu terlalu lelah untuk bicara.

“Aku butuh bantuanmu,” kataku.

Helen berhenti mengetik.

“Untuk apa?”

“Kalau nanti aku mulai menutup masalah lagi, jangan biarkan aku menyebutnya melindungi kamu.”

Ia menggenggam tanganku dengan kedua tangannya. “Baik. Tapi kamu juga harus mengingatkan kalau aku mulai pura-pura kuat dan bilang terserah.”

“Kesepakatan.”

“Kesepakatan.”

Kami menyimpan dokumen dengan nama yang dipilih Helen: Jangan Putus Hanya Karena Sinyal Buruk.

Sebelum pulang, kami duduk di tangga luar perpustakaan. Matahari sore membuat jalan tampak pucat. Helen menyelipkan tangannya ke saku jaketku meski udara tidak terlalu dingin.

“Aku tetap sedih,” katanya.

“Aku juga.”

“Peluk aku.”

Aku merangkulnya. Helen menempelkan pipi ke dadaku dan bertahan cukup lama sampai beberapa pengunjung harus berjalan memutar melewati kami.

“Kita akan mencoba,” kataku di rambutnya.

“Bukan mencoba asal-asalan.”

“Dengan dokumen versi satu.”

“Dan revisi.”

Ia mengangkat wajah. “Cium aku sebelum petugas perpustakaan keluar dan mengusir kita.”

Aku mengecup bibirnya pelan. Tidak seperti perpisahan. Hanya tanda tangan pada keputusan yang baru saja kami buat.

Dua minggu kemudian, undangan kelulusan dibagikan.

Di bawah tanggal upacara tertulis satu kalimat tentang akhir perjalanan di SMA Arunika.

Bagiku, hari itu bukan hanya akhir sekolah. Itu akan menjadi hari terakhir sebelum semua rencana di layar mulai berubah menjadi koper, tiket, dan perpisahan pertama yang benar-benar harus kami jalani.