Chapter Eight

Aku Memilih Berhenti

POV Alva

Mengatakan ingin jujur jauh lebih mudah daripada benar-benar duduk di depan orang yang harus menerima kejujuran itu.

Sabtu siang, kantin belakang sekolah hampir kosong. Kelas tambahan baru selesai dan sebagian besar siswa sudah pulang. Kursi-kursi plastik ditumpuk di sisi dinding. Kipas angin tua berputar di atas kami, mengeluarkan bunyi kecil setiap kali kepalanya bergerak ke kiri.

Eve duduk di seberangku dengan dua gelas teh lemon di atas meja. Satu untuknya, satu untukku. Pesananku salah—terlalu manis dan memakai banyak es—tetapi aku tidak mengatakan apa-apa.

“Aku masih kepikiran kemarin,” katanya. “Aku benar-benar minta maaf karena nggak datang.”

“Aku tahu.”

“Kalau pertandingan nggak masuk overtime, aku pasti—”

“Ini bukan cuma tentang pertunjukan.”

Eve berhenti memutar sedotannya.

Sejak bangun pagi, aku sudah melatih kalimat pembuka setidaknya dua belas kali. Tidak satu pun terdengar benar sekarang. Tanganku dingin meskipun udara di kantin hangat.

Aku bisa membatalkan. Mengatakan tidak ada apa-apa. Membiarkan Eve pulang dengan lega dan melanjutkan semuanya seperti biasa.

Namun, aku teringat komposisi yang hampir kehilangan tempat karena pilihanku sendiri. Kursi kosong di aula. Pertanyaan Dimas. Helen yang mengatakan musikku tetap utuh meski satu kursinya kosong.

“Aku suka kamu, Eve.”

Kipas tua itu kembali berbunyi ketika berputar ke kiri.

Eve tidak bergerak. Tangannya masih melingkari gelas, tetapi jari-jarinya tidak lagi memainkan sedotan.

“Apa?”

“Aku suka kamu.” Aku memaksa suaraku tetap rata. “Sudah lama. Sejak kelas sepuluh.”

Wajahnya kehilangan warna sedikit demi sedikit. Ia menatapku seperti sedang menunggu tanda bahwa aku bercanda.

Aku tidak tersenyum.

“Tapi...” Eve menelan ludah. “Kamu nggak pernah bilang.”

“Iya.”

“Selama ini?”

“Selama ini.”

Ia menarik tangannya dari gelas. “Waktu aku cerita soal Raka? Waktu aku minta kamu bantu? Kamu sudah...”

“Sudah.”

“Kenapa kamu tetap bantu aku?”

Aku sudah menanyakan hal yang sama kepada diriku berulang kali. Jawabannya tidak membuatku terlihat baik.

“Karena kalau aku menolak, aku takut kamu berhenti datang kepadaku.”

Eve menunduk. “Jadi semua yang kamu lakukan...”

“Bukan kebohongan.”

Ia kembali menatapku.

“Aku benar-benar ingin kamu bahagia,” lanjutku. “Aku juga benar-benar menyakiti diriku sendiri setiap kali membantu. Dua hal itu bisa sama-sama benar.”

“Apa kamu melakukan semua itu karena berharap aku akan membalas perasaanmu?”

Pertanyaannya menusuk tepat ke bagian yang paling sulit kuakui. Aku memang berharap. Diam-diam, tidak masuk akal, dan terlalu lama. Aku mengumpulkan setiap ucapan terima kasihnya seolah semuanya bisa berubah menjadi sesuatu yang lebih besar jika jumlahnya sudah cukup.

“Aku berharap suatu hari kamu melihatku,” jawabku. “Tapi kamu nggak pernah berutang cinta karena aku membantumu. Kalau selama ini aku menghitung kebaikanku sebagai alasan kamu harus memilihku, berarti yang kulakukan bukan kebaikan.”

Eve menggigit bibir bawahnya. “Jadi persahabatan kita nyata?”

“Nyata.”

“Bukan cuma cara kamu menungguku?”

“Aku sungguh-sungguh jadi temanmu. Aku juga sungguh-sungguh mencintaimu.” Aku menatap kedua tanganku sendiri. “Kesalahanku adalah memakai persahabatan itu sebagai tempat bersembunyi. Selama aku masih dibutuhkan, aku nggak perlu menghadapi kemungkinan bahwa aku memang nggak akan pernah dipilih.”

Mata Eve mulai basah. “Kalau aku tahu, aku nggak akan pernah meminta semua itu.”

“Aku tahu.”

“Kamu seharusnya bilang.”

Tidak ada tuduhan keras dalam suaranya. Justru rasa bersalah yang membuat kalimat itu lebih sulit diterima.

“Seharusnya,” kataku. “Tapi waktu itu aku nggak mau mendengar jawabanmu. Selama aku diam, aku masih bisa tinggal di dekatmu dan berpura-pura itu cukup.”

“Alva...”

“Kamu nggak salah karena nggak tahu.”

“Tapi aku tetap merasa salah.”

“Perasaanmu boleh ada. Tapi jangan mengubah cerita ini seolah kamu sengaja memanfaatkanku. Kamu meminta bantuan dari orang yang kamu percaya. Aku yang tidak jujur soal batas kemampuanku.”

Air mata Eve jatuh sebelum sempat ia hapus. Ia cepat-cepat menyekanya dengan punggung tangan.

Aku pernah membayangkan mengungkapkan perasaan kepadanya. Dalam bayangan itu, Eve selalu tersenyum atau setidaknya memberikan jawaban yang mengubah hidupku menjadi lebih baik. Tidak pernah ada versi ketika pengakuanku membuatnya menangis karena merasa bersalah.

Itulah sebabnya aku harus menyelesaikannya dengan benar.

“Aku nggak mengatakan ini supaya kamu memilih aku,” kataku. “Kamu bersama Raka. Aku menghormati itu.”

Eve terdiam lama. Ketika akhirnya berbicara, suaranya sangat pelan.

“Aku sayang kamu, Va. Tapi aku...”

“Bukan seperti itu.”

Ia mengangguk. Air matanya jatuh lagi.

Kalimat tersebut tetap menyakitkan meskipun aku sudah mengetahui jawabannya. Ada perbedaan antara menebak pintu terkunci dan mendengar bunyi kunci diputar dari sisi lain.

Kukunci jemariku di bawah meja sampai kuku menekan telapak tangan. Rasa sakit kecil itu menjaga tubuhku tetap di kursi saat seluruh bagian lain dalam diriku ingin pergi.

“Kalau kamu bilang dari dulu...” Eve berhenti, menarik napas yang bergetar. “Apa semuanya bisa berbeda?”

Aku tahu godaan di balik pertanyaan itu. Sebuah dunia rekaan tempat aku bicara lebih cepat, Raka belum hadir, dan Eve punya jawaban lain. Dunia yang bisa kujadikan alasan baru untuk terus menunggu.

“Aku nggak tahu,” kataku. “Dan kita nggak bisa memperbaiki masa lalu dengan membuat jawaban yang nggak kita punya.”

Eve menatapku lama, lalu mengangguk. Tidak ada janji yang ia berikan untuk mengurangi sakitku. Tidak ada kemungkinan yang sengaja kami sisakan agar percakapan ini terasa lebih mudah.

Aku menarik napas perlahan.

“Aku tahu,” kataku.

Eve mengusap wajah, kemudian meraih tisu dari tasnya. “Terus sekarang gimana?”

“Aku perlu berhenti.”

“Berhenti berteman sama aku?”

Nada panik dalam suaranya hampir membuat semua keberanianku runtuh.

“Bukan begitu. Aku nggak membencimu. Aku juga nggak mau menghapus semua tahun kita.”

“Terus apa?”

“Aku nggak bisa terus jadi orang pertama yang kamu cari setiap kali ada masalah dengan Raka. Aku nggak bisa membatalkan hal-hal penting setiap kali kamu membutuhkan aku. Dan untuk sementara, aku mungkin nggak akan membalas pesan secepat biasanya.”

Eve memandangku dengan mata merah. “Aku bisa berhenti cerita soal Raka. Kita bisa tetap seperti dulu selain itu.”

“Seperti dulu adalah masalahnya.”

“Aku nggak mengerti.”

“Seperti dulu berarti aku menyimpan kursi untukmu, menunggu pesanmu, mengatur jadwalku supaya selalu tersedia, lalu menganggap semua itu bukan apa-apa.”

“Aku nggak pernah meminta kamu mengatur seluruh hidupmu buat aku.”

“Benar.” Aku mengangguk. “Itu pilihanku.”

Eve terdiam.

Aku meremas kedua tangan di bawah meja agar suaraku tidak ikut gemetar.

“Aku yang memilih menunggu,” kataku. “Jadi aku juga yang harus memilih berhenti.”

Bunyi kipas kembali terdengar. Dari lapangan belakang, beberapa siswa berteriak saat bermain sepak bola. Dunia terus bergerak meskipun sesuatu di antara kami baru saja berakhir.

“Kalau kamu berhenti...” Eve menghapus air matanya lagi. “Aku kehilangan kamu?”

Pertanyaan itu hampir membuatku mengatakan tidak. Hampir membuatku berjanji akan tetap ada dengan bentuk yang sama, hanya agar wajahnya tidak terlihat sehancur itu.

Namun, janji tersebut akan membawa kami kembali ke tempat semula.

“Mungkin untuk sementara kamu kehilangan versi aku yang selalu menunggu,” jawabku. “Aku berharap nanti kita masih bisa berteman. Tapi aku perlu belajar jadi temanku sendiri dulu.”

Eve menutupi wajahnya selama beberapa detik. Aku membiarkannya. Tidak menyentuh tangannya, tidak berpindah duduk ke sebelahnya, dan tidak mencoba memperbaiki rasa sakit yang memang lahir dari keputusan yang perlu kami ambil.

Ketika ia menurunkan tangan, matanya masih basah tetapi napasnya sudah lebih teratur.

“Raka tahu?” tanyanya.

“Nggak.”

“Kamu mau dia tahu?”

“Itu bukan tujuanku. Tapi aku juga nggak mau kamu harus berbohong kalau dia bertanya kenapa kita berubah.”

Eve mengangguk pelan. “Aku nggak tahu harus bilang apa ke kamu.”

“Nggak perlu bilang apa-apa sekarang.”

“Aku minta maaf.”

“Aku juga.”

“Karena suka sama aku?”

“Bukan.” Aku menatap gelas teh lemon yang masih penuh. “Karena terlalu lama berpura-pura semuanya baik-baik saja.”

Kami meninggalkan kantin secara terpisah. Eve berjalan lebih dahulu menuju gerbang. Aku menunggu sampai sosoknya hilang di ujung koridor sebelum berdiri.

Langkah pertama terasa lebih berat daripada yang kubayangkan. Tidak ada kelegaan instan. Aku masih mencintainya. Masih ingin mengejar dan mengatakan batas-batas itu tidak perlu. Keputusan ternyata tidak langsung mengubah perasaan; ia hanya menentukan tindakan apa yang tidak lagi boleh kulakukan.

Di depan ruang musik, aku bertemu Helen yang sedang membawa map teater. Ia melihat wajahku, lalu melirik koridor tempat Eve menghilang.

“Sudah kamu katakan?” tanyanya.

Aku mengangguk.

“Bagaimana rasanya?”

“Seperti menjatuhkan sesuatu yang masih ingin kupegang.”

Helen tidak mengatakan aku melakukan hal yang benar. Ia hanya berdiri di sampingku beberapa saat.

“Aku mau ke ruang musik,” kataku.

“Aku tahu.”

“Kamu nggak perlu ikut.”

“Aku juga nggak bilang mau ikut.” Helen mengangkat mapnya. “Aku ada latihan.”

Aku hampir tersenyum. Helen selalu tahu kapan harus tinggal dan kapan harus membiarkanku berjalan sendiri.

Di rumah, setelah membantu Ibu menutup percetakan, aku membuka laci meja dan menemukan plester bebek kuning yang kusimpan sejak hari pertama sekolah. Warnanya sudah kusam. Perekatnya tidak lagi menempel.

Selama ini benda itu berada di bagian depan laci, mudah terlihat setiap kali aku membukanya. Aku tidak membuangnya. Hari ketika Eve menolongku tetap berarti, meskipun maknanya tidak harus menentukan seluruh masa depanku.

Aku memasukkan plester itu ke kotak berisi kartu pelajar lama dan foto kelas, lalu menyimpan kotaknya di rak paling atas.

Setelah itu, aku membuka ponsel. Percakapan Eve masih berada di urutan pertama. Aku menonaktifkan notifikasi khususnya dan melepaskan percakapan itu dari daftar tersemat.

Tidak menghapus. Tidak memblokir. Hanya berhenti membangun seluruh layar agar namanya selalu menjadi hal pertama yang kulihat.

Sebelum tidur, satu pesan masuk.

Eve: Aku tetap nggak mau kehilangan kamu.

Aku membacanya dua kali.

Aku: Aku juga nggak mau kehilangan diriku sendiri.

Pesan itu terkirim. Tidak ada balasan sampai layar padam.

Besok, Eve masih akan berada di sekolah yang sama. Ia masih akan memanggil namaku dengan suara yang sama. Perasaanku mungkin masih akan bergerak setiap kali melihatnya.

Berhenti menunggu bukan berarti aku sudah berhenti mencintai.

Itu hanya berarti mulai besok, aku tidak akan lagi menjadikan cinta sebagai alasan untuk meninggalkan diriku sendiri.