Chapter Twenty Four

Semua Hal yang Tidak Pernah Kulihat

POV Eve

Raka mengakhiri hubungan kami tanpa meninggikan suara.

Kami duduk di tribun lapangan basket setelah latihan timnya selesai. Matahari hampir tenggelam di balik gedung sekolah, menyisakan cahaya jingga pada lantai yang penuh garis putih. Raka masih mengenakan kaus latihan. Handuk tergantung di lehernya, tetapi bola di dekat kakinya sudah diam sejak sepuluh menit lalu.

“Aku masih sayang kamu,” katanya.

Kalimat itu seharusnya memberi harapan. Dari caranya menatapku, aku tahu kalimat berikutnya tidak akan melakukan hal yang sama.

“Tapi kita sudah terlalu lama berusaha membuktikan hubungan ini baik-baik saja.”

Aku mengunci kedua tangan di pangkuan. “Karena akhir-akhir ini kita jarang ketemu?”

“Bukan cuma itu.” Raka menunduk sebentar. “Setiap kita bertengkar, kamu menunggu aku mengerti sesuatu tanpa kamu katakan. Kalau aku nggak mengerti, kamu kecewa. Lalu kamu bilang Alva dulu selalu tahu.”

“Aku nggak selalu membandingkan kamu.”

“Nggak selalu.” Ia mengangguk. “Tapi cukup sering sampai aku mulai merasa kita bertiga ada di hubungan ini, padahal Alva bahkan sudah pergi dari tempat itu.”

Aku ingin membantah. Nama Alva memang beberapa kali keluar saat kami bertengkar, tetapi hanya karena ia mengenalku lebih lama. Hanya karena ia tahu aku tidak suka pulang sendirian setelah latihan malam. Hanya karena ia ingat aku sakit perut kalau minum kopi sebelum makan. Hanya karena—

Aku berhenti menyusun alasan.

Terlalu banyak kalimatku dimulai dengan hanya.

“Aku nggak pernah selingkuh,” kataku.

“Aku tahu.” Raka menjawab tanpa ragu. “Kamu juga nggak pernah sengaja menyakiti aku.”

“Terus kenapa rasanya seperti aku orang jahat?”

“Kamu bukan orang jahat, Eve. Kita cuma nggak berhasil saling memberi apa yang dibutuhkan.”

Ia tidak menyalahkanku sendirian. Raka mengakui bahwa ia terlalu sering menganggap satu kencan besar bisa menggantikan percakapan-percakapan kecil yang terlewat. Aku mengakui bahwa aku meminta diperhatikan tanpa menjelaskan cara mendekatiku. Kami berbicara sampai lampu lapangan menyala dan seorang petugas kebersihan mulai menyapu tribun paling bawah.

Tidak ada pengkhianatan yang bisa kubenci. Tidak ada kebohongan yang dapat kujadikan alasan untuk pergi sambil marah.

Hanya ada dua orang yang pernah saling menyukai, lalu akhirnya cukup jujur untuk berhenti.

Ketika kami berdiri, Raka memasukkan kedua tangan ke saku celana olahraganya.

“Ada satu hal yang mungkin akan terdengar menyebalkan,” katanya.

“Hari ini rasanya cocok untuk hal menyebalkan.”

“Aku pikir kamu perlu mencari tahu kenapa kehilangan perhatian Alva lebih mengganggumu daripada kehilangan banyak hal dari hubungan kita.”

Dada yang sejak tadi sesak mendadak terasa kosong.

“Aku kehilangan sahabat,” jawabku.

“Mungkin.” Raka mengambil bola di dekat sepatunya. “Tapi setiap kamu melihat dia sama Helen, wajahmu bukan seperti orang yang cuma kehilangan teman.”

Ia pergi lebih dahulu. Tidak menoleh, tidak mengatakan kami mungkin kembali, dan tidak meninggalkan celah yang bisa kugunakan untuk menunda memahami kalimat terakhirnya.

Malam itu aku mengirim pesan kepada Helen.

Eve: Aku sama Raka sudah selesai.

Ia menelepon kurang dari satu menit kemudian.

Aku berusaha mengatakan halo seperti biasa. Suaraku justru pecah pada huruf pertama.

“Kamu di rumah?” tanya Helen.

“Iya.”

“Sendirian?”

“Mama sama Papa belum pulang.”

“Aku ke sana.”

“Nggak usah.” Aku menghapus air mata dengan telapak tangan. “Sudah malam.”

“Aku nggak bertanya apakah perlu.”

Biasanya aku akan tertawa mendengar nada tegasnya. Malam itu, ada nama lain yang langsung muncul di kepalaku. Alva juga sering begitu—datang sambil membawa sesuatu yang kubutuhkan sebelum aku sempat meminta.

Perbandingan itu membuatku menutup mata.

“Temani lewat telepon saja,” kataku. “Tolong.”

Helen diam sesaat, lalu mengiyakan.

Ia mendengarkan tanpa mengubah Raka menjadi penjahat. Aku menceritakan tribun, percakapan kami, dan kalimat terakhir yang tidak berhenti berputar dalam kepalaku. Ketika kusebut nama Alva, suara Helen tetap tenang.

“Menurutmu Raka benar?” tanyaku.

“Aku pikir ada bagian yang harus kamu jawab sendiri.”

“Kamu pacarnya. Pasti kamu tahu.”

“Justru karena aku pacarnya, jawabanku nggak boleh kamu pakai untuk menggantikan jawabanmu.”

Aku menggigit bibir. “Kamu marah?”

“Aku sahabatmu, dan kamu baru putus. Malam ini aku di sini untuk itu.”

Jawabannya lembut, tetapi memiliki batas yang jelas. Helen tidak akan menyerahkan hubungan mereka untuk menenangkan kebingunganku. Anehnya, aku tidak bisa membencinya.

Setelah panggilan berakhir, rumah kembali sunyi. Aku mencoba tidur. Lima menit kemudian aku bangun dan menyalakan lampu meja.

Di laci paling atas ada pulpen biru yang pernah diperbaiki Alva saat kelas sepuluh. Pegasnya sempat hilang, dan aku berniat membuangnya. Alva mengambil pulpen itu, membongkar miliknya sendiri, lalu memindahkan pegas yang cocok.

Aku masih ingat mengatakan ia terlalu serius untuk barang seharga lima ribu rupiah.

Pulpen itu menulis lancar ketika kucoba di kertas.

Di bawahnya ada gantungan berbentuk stroberi dari tas lamaku. Rantainya pernah putus. Alva mengganti kaitnya dengan lingkaran kawat kecil yang dibentuk memakai tang. Ada jam tangan dengan pengait baru, juga earphone putih yang kabelnya dilapisi pelindung bening pada bagian dekat colokan.

Aku menyimpan semuanya bukan karena menganggap benda-benda itu romantis. Aku hanya terbiasa percaya bahwa sesuatu yang disentuh Alva akan kembali berfungsi.

Aku meletakkan keempat benda di atas meja.

Untuk pertama kali, yang kulihat bukan hasil perbaikannya. Aku melihat waktu yang diberikan seseorang agar barang-barang kecil milikku tidak perlu berakhir di tempat sampah.

Aku membuka percakapan lama kami.

Namanya sudah tenggelam jauh dari urutan atas. Dulu, aku tidak pernah perlu mencari. Percakapan kami selalu bergerak setiap hari.

Eve: Va, kamu masih di sekolah?

Alva: Masih. Kenapa?

Eve: Gantungan tasku copot :(

Alva: Bawa besok.

Percakapan lain.

Alva: Jangan minum kopi dulu. Kamu belum makan sejak siang.

Eve: Kamu cenayang?

Alva: Kamu mengeluh lapar dua jam lalu.

Lalu pesan pada malam hujan ketika latihan teater selesai terlambat.

Alva: Tunggu di lobi. Aku bawa payung.

Eve: Rumahmu kan beda arah.

Alva: Aku belum pulang.

Aku tahu sekarang itu bohong. Pada malam tersebut, ujung celana Alva basah sampai lutut ketika ia tiba. Ia pasti sudah berjalan jauh, lalu kembali setelah membaca pesanku.

Dahulu aku hanya senang karena tidak perlu menunggu hujan sendirian.

Aku terus menggulir layar.

Di antara permintaan tolong, ada hal-hal yang tidak berhubungan dengan kegunaan. Foto langit yang dikirim Alva karena awannya terlihat seperti ikan. Rekaman suara kucing di gang rumahnya. Keluhan datar tentang Dimas yang meminjam penghapus lalu menghilangkannya. Tautan lagu yang ia kira akan kusukai. Pertanyaan apakah presentasiku berjalan lancar, dikirim berjam-jam setelah aku sendiri lupa pernah bercerita tentang presentasi itu.

Aku membalas semua pesan tersebut. Kadang dengan antusias, kadang hanya stiker. Namun, aku jarang bertanya balik lebih jauh.

Aku tahu Alva suka musik. Aku tidak tahu lagu apa yang ia putar ketika sedih.

Aku tahu ia bisa memperbaiki earphone. Aku tidak tahu ia takut dianggap merepotkan.

Aku tahu ibunya memiliki percetakan. Aku tidak pernah datang membantu saat mesin mereka rusak.

Helen datang.

Kesadaran itu terasa lebih tajam daripada cemburu. Perempuan yang selama ini berada di sampingku melihat pintu-pintu yang tidak pernah kucoba buka. Ia mengenal tawa Alva yang lepas, kamar tempat lagu-lagunya dibuat, cara memintanya tinggal, bahkan cara diam ketika Alva tidak membutuhkan solusi.

Aku pernah memiliki waktu bertahun-tahun dan menggunakannya untuk merasa aman.

Air mataku jatuh ke layar. Aku mengusapnya cepat, lalu tanpa sengaja membuka foto lama kelas sepuluh. Kami bertiga duduk di bangku belakang aula. Aku berada di tengah, tersenyum paling lebar. Helen memandang kamera. Alva justru melihat ke arahku.

Tatapan itu begitu jelas setelah aku tahu apa yang harus dicari.

Namun, rasa sakit terbesar bukan karena dahulu ia mencintaiku.

Yang membuatku sulit bernapas adalah ingatan tentang bagaimana Alva sekarang tertawa bersama Helen. Ia tidak berdiri menunggu perintah. Ia membantah, menggoda, meminta ditemani, dan membiarkan orang lain merawatnya. Ada seluruh bagian dirinya yang tidak pernah kukenal karena aku terlalu sibuk menikmati semua hal yang ia lakukan untukku.

Aku merindukan orang itu.

Bukan teknisi yang memperbaiki barangku. Bukan tempat mengadu setiap kali Raka dan aku bertengkar. Bukan seseorang yang akan membatalkan jadwal jika kupanggil.

Aku merindukan Alva yang mengirim rekaman kucing. Alva yang menahan tawa ketika leluconnya sendiri buruk. Alva yang bisa membuat musik dari suara pintu bus. Alva yang sekarang tidak lagi menoleh saat mendengar namaku.

Dan di balik semua itu, ada sesuatu yang jauh lebih memalukan: setiap kali membayangkan masa depan setelah lulus, aku selalu menyediakan tempat untuknya. Mungkin kami kuliah di kampus berbeda. Mungkin aku tetap bersama Raka. Namun, Alva akan ada di grup chat, di ulang tahunku, di hari aku panik sebelum wawancara, di foto kelulusan, dan di semua kepulangan.

Aku tidak pernah bertanya apakah ia ingin hidup di tempat yang kusediakan.

Aku hanya menganggap ia akan selalu ada.

Tanganku bergetar ketika membuka kolom pesan.

Eve: Va, kamu masih bisa kembali mencintaiku, nggak?

Aku membaca kalimat itu sampai huruf-hurufnya kabur.

Lalu kuhapus.

Pertanyaan itu kejam. Seolah cinta adalah barang rusak yang bisa kubawa kembali kepadanya setelah akhirnya sadar aku masih menginginkannya. Seolah Helen tidak ada. Seolah Alva tidak menghabiskan berbulan-bulan membangun dirinya setelah aku mengatakan aku menyayanginya, tetapi bukan seperti itu.

Aku menangis dengan wajah menempel pada kedua tangan. Tidak ada seorang pun di rumah yang melihat. Tidak ada musik sedih, hujan, atau gestur besar yang membuat penyesalan terasa indah.

Hanya ada meja berisi benda-benda kecil yang masih berfungsi dan pengetahuan bahwa orang yang memperbaikinya sudah belajar hidup tanpa menungguku.

Menjelang pukul satu, aku membuka percakapan itu lagi.

Kali ini aku tidak meminta Alva kembali. Aku tidak berhak meminta jawaban yang menghapus konsekuensi.

Namun, jika tetap diam, aku akan melakukan kesalahan yang sama: membiarkan ia menebak sesuatu yang seharusnya kukatakan sendiri.

Eve: Va, besok sepulang sekolah kamu punya waktu? Aku perlu bicara jujur. Sekali saja.

Pesan itu terkirim.

Aku meletakkan ponsel di meja dan menunggu tanda dibaca muncul.

Untuk pertama kalinya, aku memahami betapa panjang satu menit ketika seluruh hatimu berada di sisi lain layar—dan orang yang menerimanya tidak lagi punya alasan untuk segera menjawab.