Chapter Twenty Seven

Hari Helen Boleh Meminta Apa Saja

POV Alva

Helen mengetahui aku merencanakan sesuatu sejak tiga hari sebelum ulang tahunnya.

Masalahnya bukan karena aku buruk menyimpan rahasia. Masalahnya, Dimas menanyakan ukuran kue di depan Helen saat kami sedang makan di kantin.

“Kalau yang datang enam orang, ukuran delapan belas sentimeter cukup?” tanyanya.

Aku menatapnya.

Dimas berhenti mengunyah. “Kue untuk... rapat.”

Helen duduk di sebelahku dengan dagu bertumpu pada telapak tangan. “Rapat apa yang pakai kue?”

“Rapat ulang tahun,” jawab Dimas, lalu membeku setelah menyadari mulutnya bergerak lebih cepat daripada otak.

“Menarik.” Helen beralih kepadaku. “Ulang tahun siapa?”

“Belum ditentukan,” kataku.

Sejak hari itu, interogasi dimulai.

Helen memeriksa ekspresiku setiap kali ponsel berbunyi. Ia mencoba menyuap Maya dengan mengirim foto bolu cokelat. Ia bahkan meminta Kei berpura-pura tersinggung karena tidak dilibatkan, padahal Kei sudah merekam pesan ulang tahun dua hari sebelumnya.

Aku tidak memberi jawaban.

Pada pagi ulang tahunnya, aku hanya mengirim satu pesan.

Aku: Selamat ulang tahun.

Balasan datang dalam dua puluh detik.

Helen: Hanya begitu?

Aku: Aku menambahkan titik.

Helen: Aku akan mencari pacar baru sebelum jam istirahat.

Aku: Semoga berhasil.

Helen: Alva Mahendra.

Aku bisa membayangkan wajahnya saat mengetik nama lengkapku.

Aku: Sepulang sekolah, tunggu di depan gerbang. Jangan membuat rencana lain.

Helen: Nah. Ancaman romantis. Lebih baik.

Ia tetap menyulitkanku sepanjang hari. Saat berpapasan di koridor, Helen menyelipkan tangannya ke lenganku dan bertanya apakah aku menyewa aula. Di perpustakaan, ia mengirim foto Dimas yang sedang membawa kantong kertas dengan tulisan tertangkap. Saat jam makan siang, ia duduk rapat di sebelahku meskipun bangkunya luas, lalu mencoba membaca percakapan di ponselku dari pantulan kacamata.

“Itu pelanggaran privasi,” kataku.

“Hari ini aku boleh meminta apa saja.”

“Siapa yang membuat aturan?”

“Aku. Ulang tahun memberi wewenang khusus.”

“Pengadilan mana yang mengesahkan?”

“Pengadilan pacarmu.”

Aku mematikan layar. “Permohonan ditolak.”

Helen menyandarkan kepala ke bahuku dengan dramatis. “Kejam sekali.”

Namun, ketika bel pulang berbunyi, ia sudah menungguku di depan gerbang dengan rambut dikuncir rendah dan rasa ingin tahu yang hampir terlihat secara fisik.

“Kita ke mana?” tanyanya.

“Naik bus.”

“Itu arah, bukan tujuan.”

“Masuk dulu.”

Aku membawanya ke warung mi ayam Bu Nani. Helen menatap papan nama, lalu kepadaku.

“Ini tempat pertama kita makan setelah mulai proyek,” katanya.

“Kamu mengeluh lapar sebelas kali.”

“Tujuh.”

“Aku punya rekamannya.”

Bu Nani sudah menyiapkan meja sudut. Dua mangkuk datang tanpa perlu dipesan. Punyaku memakai daun bawang. Punya Helen tidak.

Ia melihat permukaan mi yang bersih, lalu tersenyum. “Kamu memberi instruksi khusus?”

“Bu Nani sudah hafal.”

“Berarti aku pelanggan penting.”

“Berisik, tapi penting.”

Helen menendang sepatuku pelan di bawah meja.

Perayaan itu tidak mahal atau rumit. Setelah makan, Bu Nani membawa sepotong kue cokelat kecil dengan satu lilin. Maya membuatnya pagi tadi sebelum membuka percetakan. Krim di satu sisinya sedikit miring karena aku membawanya naik bus.

Helen tidak mengomentari bentuknya. Ia menutup mata, membuat harapan, lalu meniup lilin.

“Apa yang kamu minta?” tanyaku.

“Kalau kuberi tahu, nggak terkabul.”

“Prinsip ilmiah yang kuat.”

Ia mengambil sedikit krim dengan ujung garpu dan mengarahkannya ke hidungku.

Aku menangkap pergelangan tangannya sebelum sampai. “Jangan.”

“Tradisi ulang tahun.”

“Ulang tahunmu, hidungmu.”

Helen mencoba memakai tangan yang lain. Aku menahannya juga, membuat kedua pergelangan tangannya berada dalam genggamanku di atas meja.

Ia berhenti melawan. Tatapannya turun ke tangan kami, lalu kembali ke wajahku.

“Kalau mau memegang tanganku, bilang saja,” katanya.

Aku mengendurkan genggaman, tetapi tidak langsung melepas. “Aku mau memegang tanganmu.”

Pipinya memerah. “Kamu curang.”

“Aku mengikuti saranmu.”

Ia membiarkanku menggenggam satu tangannya sementara kami berbagi kue dengan garpu yang berbeda. Ketika krim tetap mengenai ujung hidungku karena kelalaianku sendiri, Helen tertawa terlalu puas.

“Jangan bergerak,” katanya.

Ia membersihkannya dengan tisu, lalu mengecup tempat yang sama sebelum duduk kembali.

Bu Nani pura-pura sibuk mengelap meja lain. Aku tahu beliau melihat dari senyum yang tidak berhasil disembunyikan.

“Masih ada satu tempat,” kataku setelah kami selesai.

“Aku tahu.” Helen meraih tanganku. “Ruang musik.”

“Kamu merusak kejutan.”

“Kamu selalu membawa hal penting ke sana.”

Ia benar.

Ruang musik sudah gelap saat kami tiba, kecuali lampu kecil dekat piano. Dimas dan Kei tidak berada di sana. Mereka sudah menyelesaikan bagiannya: sebuah file audio tersimpan di laptop, berisi pesan-pesan dari teman teater, guru, Dimas, Kei, Maya, serta orang tua Helen.

Aku menekan tombol putar.

Suara pertama adalah Dimas yang mengeluh naskah ucapannya dibatasi tiga puluh detik. Kei menyuruhnya diam dari belakang. Anggota teater mengucapkan selamat secara bergantian. Maya mengatakan terima kasih karena Helen sudah membuat rumah kami lebih ramai.

Lalu suara Mama Helen masuk.

“Selamat ulang tahun, Sayang. Mama mungkin belum memahami semua pilihanmu, tapi Mama mau belajar mendengarkan sampai selesai.”

Helen menutup mulut dengan satu tangan.

Suara Papa menyusul, lebih kaku tetapi jujur. “Presentasimu bagus. Papa masih punya banyak pertanyaan. Namun, kami akan melihat kampus yang kamu pilih akhir pekan ini.”

Helen sudah menceritakan bahwa percakapan mereka tidak berakhir dengan persetujuan penuh. Namun, untuk pertama kalinya, orang tuanya meminta melihat daftar program yang ia inginkan. Itu belum kemenangan. Itu pintu yang akhirnya terbuka sedikit.

Setelah suara Papa memudar, musik masuk. Bukan lagu baru yang dibuat semalam untuk mengejar kesan besar. Aku menyusun ulang melodi dari film pertama kami, lalu menyambungkannya dengan empat nada dari Yang Ingin Kusimpan. Pada bagian akhir, suara Helen menyanyi pelan saat mengira mikrofon belum menyala menjadi melodinya sendiri.

Helen menatap laptop, lalu kepadaku. “Kamu menyimpan rekaman itu?”

“Kamu terdengar bagus.”

“Aku sedang salah nada.”

“Tetap bagus.”

Saat rekaman selesai, matanya basah.

“Kamu menghubungi mereka?” tanyanya.

“Aku minta izin mengumpulkan pesan. Itu saja.”

“Kamu nggak membujuk?”

“Nggak. Presentasimu yang melakukan bagian sulit.”

Helen memelukku. Wajahnya tersembunyi di dadaku, kedua lengannya mengikat pinggangku erat.

“Terima kasih,” katanya.

Aku membalas pelukannya. “Selamat ulang tahun.”

“Nah, yang ini lebih baik daripada pesan bertitik.”

Kami duduk di lantai bersandar pada sofa. Aku memberinya satu hadiah terakhir: buku catatan berkulit biru gelap untuk naskah pertamanya di kampus. Tidak ada kalimat besar di halaman awal. Aku hanya menuliskan tanggal ulang tahunnya dan namanya.

Helen membalik beberapa halaman kosong. “Kamu nggak menulis pesan romantis?”

“Itu bukumu. Aku nggak mau mengambil halaman pertama.”

Ia menatapku lama, lalu menyandarkan kepala di bahuku. “Bagus.”

“Hanya bagus?”

“Sangat bagus. Tapi hari ini aku masih boleh meminta apa saja.”

“Aturan sepihak itu lagi.”

Helen mengangkat kepala. Kali ini ekspresinya tidak bermain-main.

“Aku mau satu hari,” katanya. “Bukan hari ini. Nanti kapan pun kamu siap.”

“Untuk apa?”

“Satu hari ketika kamu mengatakan semua yang kamu inginkan tanpa menambahkan nggak apa-apa kalau tidak bisa. Nggak mengecilkan permintaan. Nggak memutuskan jawabanku lebih dulu.”

Permintaan itu terdengar sederhana. Justru karena itu, aku tahu betapa sulitnya.

Aku melihat buku kosong di pangkuannya, ruang musik yang menjadi tempat begitu banyak hal dimulai, dan tangan Helen yang terbuka di antara kami.

“Aku bisa mulai sekarang,” kataku.

Helen tidak bergerak.

Aku mengambil tangannya. “Aku ingin kamu meneleponku setelah bicara dengan orang tuamu, bahkan kalau hasilnya buruk dan kamu nggak tahu harus bilang apa.”

“Baik.”

“Aku ingin kamu berhenti bilang terserah kalau sebenarnya punya pilihan tempat makan.”

“Itu serangan pribadi.”

“Aku belum selesai.”

Helen menutup mulut dan membuat gerakan mengunci.

“Aku ingin punya lebih banyak hari seperti ini. Nggak harus ulang tahun. Nggak harus ada hadiah.” Aku menarik napas. “Dan kalau nanti kita kuliah di kota berbeda, aku ingin kamu tetap bersamaku. Bukan karena kita takut kehilangan, tapi karena aku masih ingin membangun hubungan ini.”

Wajah Helen melunak. “Itu permintaan besar.”

“Iya.”

“Kamu nggak mau menambahkan kalau aku tidak bisa?”

“Aku mau mendengar jawabanmu.”

Helen memindahkan buku ke lantai, lalu duduk lebih dekat sampai lutut kami bersentuhan.

“Aku mau tetap bersamamu,” katanya. “Kalau kita beda kota, kita cari caranya. Kalau sulit, kita bilang sulit. Aku nggak menjanjikan semuanya akan selalu manis.”

“Aku juga nggak.”

“Tapi aku mau mencoba.”

“Aku juga.”

Ia mengecup pipiku, lalu daguku, sengaja berhenti sebelum bibir.

“Yang terakhir?” tanyaku.

“Hadiah tambahan.”

“Aku sudah memberi hadiah.”

“Hari ini ulang tahunku.”

“Aturan sepihak.”

“Alva.”

Aku tersenyum dan mencium bibirnya singkat. Helen mengeluh ketika aku menjauh, kemudian bergelayut pada lenganku dan menyandarkan seluruh berat kepalanya di bahuku.

“Lima menit lagi,” katanya.

“Kita belum pulang.”

“Aku sedang memesan dari sekarang.”

Kami tinggal sampai penjaga sekolah mengingatkan gedung akan dikunci.

Malamnya, saat aku membantu Ibu menutup percetakan, pesan Helen masuk bersama tangkapan layar sebuah email.

Helen: Hasil seleksi awal kampusku keluar.

Aku membuka gambar itu. Namanya tertera di bawah kalimat diterima, di program penulisan yang ia pilih, pada universitas di kota lain.

Sebelum aku sempat membalas, ponselku menerima email baru.

Program musik di Bandung juga mengirim hasil penerimaan.

Dua kabar baik menyala di layar yang sama.

Untuk pertama kalinya, jarak bukan lagi ketakutan yang kami bicarakan sebagai kemungkinan. Jarak sudah memiliki nama kota dan tanggal keberangkatan.