Chapter Twenty Two

Rumah Tempat Alva Tidak Pernah Mengeluh

POV Alva

Rumahku berada tepat di belakang percetakan, dipisahkan oleh pintu kayu yang tidak bisa tertutup sempurna saat udara lembap.

Aku sudah tinggal di sana sejak kecil. Baru ketika Helen akan datang, aku melihat semua kekurangannya sekaligus: cat dinding dekat dapur mengelupas, rak sepatu miring, sofa ruang tamu ditutup kain karena bagian lengannya sobek, dan suara mesin dari depan masuk sampai kamar.

Sabtu siang, aku memindahkan tiga tumpukan kertas yang sebenarnya tidak mengganggu siapa pun.

Ibu melihatku dari meja potong. “Kalau terus dipindah, pesanannya nggak akan selesai sendiri.”

“Aku mencari tempat yang lebih aman.”

“Dari Helen?”

“Dari debu.”

Ibu tersenyum tanpa percaya. “Dia pacarmu, bukan petugas penilai rumah.”

Bel depan berbunyi sebelum aku sempat menjawab.

Helen berdiri di pintu dengan rambut diikat tinggi dan dua kantong plastik di tangan. Ia mengenakan kaus lengan panjang, celana hitam, dan sepatu yang terlihat siap terkena potongan kertas.

“Aku membawa makan siang,” katanya. “Dan plester luka karena pacarku punya sejarah berkelahi dengan alat kerja.”

“Aku cuma pernah terluka sekali.”

“Sekali yang kuceritakan.”

Ibu muncul dari belakangku. “Helen?”

“Iya, Tante.” Helen menyerahkan salah satu kantong. “Ini ada bolu. Mama selalu bilang nggak sopan datang pertama kali dengan tangan kosong.”

“Kamu datang membawa makanan dan mau membantu. Alva biasanya pulang membawa kabel rusak.”

“Ibu.”

Helen tersenyum kepada Ibu. “Saya mulai paham kenapa dia jarang cerita tentang rumah.”

Mereka baru bertemu kurang dari semenit dan sudah membentuk kerja sama melawanku.

Percetakan jauh lebih ramai daripada biasanya. Mesin pengganti sewaan memenuhi lorong sempit dan mengeluarkan suara yang lebih kasar. Pak Yudi mengirim hasil tujuh ratus buku acara dalam tumpukan besar yang harus diperiksa, dilipat sampulnya, lalu dikemas per seratus eksemplar.

Ibu menunjukkan Helen cara mengecek nomor halaman. Aku berharap ia cepat bosan dan memilih mengerjakan tugas sekolah di ruang tamu.

Sebaliknya, Helen mengikat rambutnya lebih tinggi dan duduk di lantai bersama kami.

“Kalau ada halaman terbalik?” tanyanya.

“Pisahkan di kotak merah,” jawab Ibu.

“Kalau Alva yang terbalik?”

“Biarkan. Sudah dari lahir.”

Aku menjatuhkan satu tumpukan sampul sedikit lebih keras. Keduanya tertawa.

Selama dua jam, Helen membantu tanpa mencoba mengambil alih. Ia salah menempel dua label, mengaku sebelum aku melihatnya, lalu memperbaiki sendiri. Ketika tangannya mulai merah karena melipat sampul, ia tidak berpura-pura baik-baik saja.

“Istirahat lima menit,” katanya sambil menyodorkan kedua telapak tangan kepadaku.

“Kenapa ditunjukkan?”

“Pijat.”

“Aku sedang menghitung paket.”

“Pacarmu terluka saat bekerja untuk keluargamu.”

“Kamu hanya pegal.”

“Penderitaanku diremehkan.”

Aku tetap mengambil tangannya dan memijat pelan bagian bawah jemarinya. Helen langsung bersandar pada bahuku dengan ekspresi puas.

Ibu lewat membawa tali rafia. “Kalian tahu saya masih di sini?”

Aku melepaskan tangan Helen. Ia justru menjawab tenang, “Tahu, Tante.”

Wajahku menghangat. Ibu tertawa sepanjang jalan ke meja kemasan.

Menjelang sore, semua buku selesai dibagi dalam dua belas paket. Pelanggan datang mengambil tujuh paket pertama dan menerima jadwal untuk sisanya tanpa marah. Masalah keuangan belum hilang. Kami masih harus membayar modul dan sewa mesin. Namun, setidaknya tidak ada pesanan yang dibatalkan.

Ibu memasak nasi goreng untuk makan malam. Kami duduk di meja kecil dekat dapur, tiga piring hampir memenuhi permukaannya.

“Alva bilang Tante mengurus percetakan sendiri sejak lama,” kata Helen.

“Sejak ayahnya pergi.” Ibu menambahkan telur ke piringku. “Dia mulai membantu terlalu cepat.”

“Aku cuma melakukan pekerjaan kecil.”

“Waktu SMP kamu pernah demam dan tetap turun untuk memotong kartu nama.”

“Pesanannya harus selesai.”

“Dan waktu uang belanja sedang sulit, dia bilang sudah makan di sekolah.” Ibu menatap Helen. “Padahal belum.”

“Ibu, nggak perlu menceritakan semuanya.”

“Kenapa? Dia pacarmu. Biar tahu kebiasaan burukmu bukan cuma lupa tidur.”

Aku menatap piring. Rasa malu datang bukan karena rumah kecil atau nasi goreng sederhana. Aku malu Helen melihat betapa lama aku membangun hidup dengan aturan yang sama: jangan meminta, jangan mengeluh, jangan menjadi pengeluaran tambahan.

Di bawah meja, Helen menyentuh lututku dengan lututnya.

Ia tidak mengatakan kasihan. Tidak mencoba mengubah percakapan menjadi tragedi. Helen hanya mengambil satu potong telur dari piringnya dan meletakkannya di piringku.

“Sekarang makan,” katanya.

“Kamu nggak suka telur?”

“Aku suka. Tapi aku bisa minta lagi.” Ia menoleh kepada Ibu. “Boleh, Tante?”

“Boleh. Di rumah ini orang diizinkan minta tambah.”

Ibu mengatakan itu sambil melihatku.

Setelah makan, Helen membantu mencuci piring. Aku mengeringkan, sedangkan Ibu kembali ke depan untuk mengecek mesin. Ruang dapur terlalu sempit untuk dua orang berdiri tanpa sesekali menyentuh siku.

“Ibumu hebat,” kata Helen.

“Iya.”

“Dan kamu terlihat seperti ingin bersembunyi di bawah meja selama makan.”

“Beliau membocorkan sejarah memalukan.”

“Beliau menunjukkan bagian kamu yang nggak pernah kamu ceritakan.” Helen memberikan piring terakhir. “Aku senang tahu.”

Aku membawanya ke kamar setelah semua pekerjaan selesai. Ruangannya tidak besar: satu tempat tidur, meja dengan laptop dan pengontrol audio, lemari, rak buku, serta kardus berisi kabel dan perangkat rusak. Busa peredam suara ditempel tidak rata di satu dinding.

Helen berdiri di tengah kamar dan melihat sekeliling.

“Semua lagumu dibuat di sini?”

“Sebagian. Kalau suara mesin terlalu keras, aku pindah ke sekolah.”

Ia menyentuh salah satu lembar busa yang ujungnya hampir lepas. “Kamu menempelnya sendiri?”

“Kelihatan, ya?”

“Sangat.”

Helen duduk di tepi tempat tidur. Aku tetap berdiri dekat pintu, mendadak sadar ia adalah orang pertama di luar Dimas yang masuk ke ruangan itu.

“Kamu boleh duduk,” katanya.

“Aku tahu.”

“Kamu terlihat seperti sedang menjaga museum.”

Aku duduk dengan jarak kecil di sampingnya. Helen mengambil headphone dari meja dan melihat bekas selotip pada kabelnya.

“Kamu memperbaiki semua barang kecuali kamarmu.”

“Kamar ini masih berfungsi.”

“Begitu juga kabel ini, rupanya.”

Ia meletakkan headphone, lalu menggenggam tanganku.

“Va, lihat aku.”

Aku menurut.

“Aku nggak mencintaimu lebih sedikit setelah melihat rumahmu, percetakan, atau masalah keluargamu.” Suaranya tenang, tanpa nada menghibur yang berlebihan. “Aku justru merasa akhirnya mengenal tempat yang membentukmu.”

“Tempatnya berantakan.”

“Kamu juga kadang berantakan.”

“Meyakinkan sekali.”

Helen tersenyum dan menyandarkan kepala pada bahuku. “Untung aku suka keduanya.”

Aku melihat meja yang penuh kabel, dinding dengan busa miring, dan seragam yang tadi pagi lupa kulipat. “Aku takut kamu datang lalu melihat semua ini sebagai sesuatu yang harus ikut kamu tanggung.”

Helen mengangkat kepala. “Aku nggak bisa berjanji semua masalahmu akan mudah untukku.”

Jawabannya membuatku menoleh.

“Aku juga nggak mau memberi janji palsu,” lanjutnya. “Mungkin ada hari ketika aku capek, nggak bisa membantu, atau perlu pulang lebih dulu. Tapi itu berbeda dengan meninggalkanmu hanya karena hidupmu nggak rapi.”

“Kamu selalu bicara seperti sedang merundingkan kontrak.”

“Karena pacarku suka kepastian.” Ia menyentuh sisi tanganku dengan ibu jarinya. “Kepastiannya begini: aku memilih ada di sini. Kalau nanti ada yang terlalu berat, kita bicarakan. Bukan kamu sembunyikan lebih dulu.”

Aku mengangguk. Kalimat itu tidak menyelesaikan utang atau memperbaiki mesin. Namun, justru karena Helen tidak berpura-pura bisa menyelesaikan semuanya, aku memercayainya.

Untuk pertama kali, kamar itu tidak terasa seperti tempat persembunyian. Ada orang lain di dalamnya, melihat kekacauan yang sama, dan tidak terburu-buru pergi.

Kami duduk sambil mendengarkan versi awal lagu pertama yang pernah kubuat. Kualitasnya buruk dan melodinya tersesat di tengah, tetapi Helen menuntut file itu dikirim kepadanya.

“Untuk bahan ancaman?” tanyaku.

“Untuk koleksi.”

Ponselnya bergetar di atas tempat tidur. Layar menyala cukup lama untuk menampilkan pesan.

Mama: Besok siang kita bicara serius soal formulir fakultas hukum. Papa sudah menghubungi kenalannya.

Tubuh Helen menjadi kaku di bahuku. Ia cepat-cepat membalik ponselnya.

“Ada masalah?” tanyaku.

“Nggak.” Jawabannya datang terlalu cepat. “Cuma urusan rumah.”

Aku mengenali kalimat itu. Bentuknya berbeda, tetapi pintu yang ditutupnya sama.

Aku tidak memaksa. Namun, saat mengantar Helen pulang, aku tahu besok mungkin giliranku berdiri di luar pintu yang ia takut buka.