Chapter Twenty

Lagu untuk Pacarku

POV Alva

Aku menghabiskan empat malam membuat lagu untuk Helen dan tiga malam berikutnya mempertimbangkan untuk tidak pernah memperdengarkannya.

Masalahnya bukan pada kualitas mixing. Aku bisa memperbaiki suara kereta yang terlalu tajam, menurunkan frekuensi keramaian pasar malam, atau memindahkan ketukan meja beberapa milidetik agar masuk tempo.

Masalahnya, lagu itu terdengar terlalu jujur.

Aku tidak bisa menyebutnya tugas, eksperimen, atau latihan beasiswa. Tidak ada tema festival yang bisa dipakai sebagai pelindung. Setiap suara di dalamnya dipilih karena mengingatkanku pada Helen.

Dimas mendengarkan versi pertama saat jam istirahat. Setelah lagu selesai, ia melepas headphone dan menatapku seolah baru menemukan spesies baru.

“Kamu membuat lagu cinta.”

“Aku membuat komposisi.”

“Untuk pacarmu.”

“Itu konteks, bukan genre.”

“Ada suara dia tertawa.”

“Sebagai tekstur.”

Dimas memberikan headphone kembali. “Kalau kamu terus bicara, lagunya akan malu punya pencipta seperti kamu.”

Aku hampir menghapus bagian tawa Helen sore itu. Bukan karena tidak cocok. Justru karena suara itu menjadi bagian yang paling kusukai.

Pada Jumat pagi, akhirnya aku mengirim pesan sebelum keberanianku berubah.

Aku: Datang ke ruang musik jam empat. Sendiri.

Balasan Helen muncul satu menit kemudian.

Helen: Ini kejutan romantis atau ancaman?

Aku: Belum tahu.

Helen: Kalau aku diculik, aku akan sangat kesal.

Pukul empat lewat dua, pintu ruang musik terbuka. Helen masuk sambil membawa dua kotak susu dan satu bungkus keripik.

“Aku membawa bekal kalau ancamannya panjang,” katanya.

“Kamu terlambat dua menit.”

“Pacarmu datang. Sambut dulu sebelum mengkritik.”

Aku berjalan mendekat dan mengecup keningnya. Helen terlihat puas, lalu menyerahkan satu kotak susu kepadaku.

“Nah. Sekarang boleh kritik.”

“Kamu terlambat dua menit.”

“Aku pulang.”

Ia baru berbalik setengah badan ketika aku menangkap tangannya. “Duduk.”

Helen melihat jemari kami, kemudian wajahku. “Kamu tegang.”

“Nggak.”

“Kamu mengusap bingkai kacamata empat kali sejak aku masuk.”

Aku melepaskan tangannya untuk menghentikan gerakan kelima. “Aku mau memperdengarkan sesuatu.”

Ia duduk di sofa belakang. Aku sudah memindahkan posisi speaker agar suaranya membentuk ruang kecil di tengah. Tirai jendela ditutup untuk mengurangi pantulan, membuat cahaya sore masuk dalam garis tipis di lantai.

“Film baru?” tanyanya.

“Bukan.”

“Tugas beasiswa?”

“Bukan.”

“Kamu membuat rekaman suara perutku versi panjang?”

“Aku belum kehilangan keinginan hidup.”

Helen menyandarkan punggung. “Baik. Aku diam.”

Aku kembali ke meja, meletakkan tangan pada mouse, dan hampir memilih file lain. Ada puluhan alasan masuk akal untuk menunda. Mix belum sempurna. Transisi kedua masih terlalu padat. Aku belum yakin judulnya benar.

Namun, tidak satu pun masalah itu akan berubah jika aku terus bersembunyi.

Aku menekan tombol putar.

Lagu dimulai dengan suara kereta yang melintas, direkam dari jarak jauh hingga terdengar seperti napas logam. Tiga ketukan jari masuk setelahnya. Pelan. Teratur. Kebiasaan Helen sebelum melakukan sesuatu yang membuatnya gugup.

Piano mengikuti ketukan tersebut. Bukan melodi besar. Hanya empat nada yang bergerak naik, berhenti, lalu menemukan keberanian untuk melanjutkan.

Suara pasar malam masuk sebagai lapisan berikutnya: lonceng permainan, roda bianglala, dan pengumuman dari pengeras suara yang sudah kupotong sampai kata-katanya tidak dikenali. Di bawah semuanya, ada getaran mesin bus dari hari ketika kami berbagi satu earphone.

Helen tidak bergerak. Tangannya yang semula memegang kotak susu turun ke pangkuan.

Pada bagian tengah, musik menjadi lebih sepi. Terdengar bunyi sendok menyentuh mangkuk di warung Bu Nani, halaman buku dibalik, hujan pada payung, lalu napas Helen sebelum membaca narasi.

Terakhir, tawanya muncul.

Bukan tawa yang bersih. Ada suaraku di belakang, sama berantakannya. Aku membiarkan kedua suara itu bertahan sementara piano menemukan nada akhirnya.

Lagu selesai tanpa fade panjang. Tawa kami berhenti, lalu ruangan kembali sunyi.

Aku menunggu Helen mengatakan sesuatu.

Ia menunduk. Bahunya bergerak kecil.

“Kalau kamu nggak suka—”

Helen mengangkat wajah. Ada air mata di pipinya.

Aku berdiri terlalu cepat. “Kenapa menangis?”

“Karena pacarku bodoh.”

“Bagian mana yang salah?”

“Nggak ada.” Ia menghapus pipi dengan telapak tangan, tetapi air matanya kembali jatuh. “Itu masalahnya.”

Aku mendekat, masih tidak tahu apakah harus memberinya tisu, ruang, atau penjelasan teknis mengenai bagian yang belum selesai.

Helen memilih untukku. Ia berdiri dan memelukku.

Kedua lengannya melingkari pinggangku erat. Aku membalas, menahan tubuhnya sampai napasnya kembali lebih teratur.

“Aku belum pernah dibuatkan sesuatu seperti ini,” katanya di dadaku.

Kalimat otomatis hampir keluar: ini cuma draft.

Aku menahannya.

Jika aku merendahkan lagu itu, aku juga merendahkan perasaan yang baru saja diterima Helen dengan utuh.

“Aku membuatnya untukmu,” kataku.

Helen mengangkat wajah. “Aku tahu.”

“Judulnya Yang Ingin Kusimpan.”

Ia tertawa kecil di antara sisa air mata. “Kamu benar-benar romantis kalau berhenti berusaha menyangkalnya.”

“Jangan sebarkan.”

“Terlambat. Aku akan memberi tahu semua orang.”

“Aku bisa menghapus filenya.”

“Berani coba.”

Tangannya naik ke wajahku, ibu jarinya menyentuh sisi bingkai kacamata. Ia menatapku beberapa detik, memberi waktu yang cukup untuk memahami apa yang ia inginkan, lalu menciumku.

Ciuman pertama kami di atap terasa seperti pertanyaan. Ciuman kali ini tidak ragu.

Aku menariknya lebih dekat dengan satu tangan di pinggangnya. Helen menyelipkan jemari ke rambutku dan memiringkan wajah, membuat ciuman itu lebih dalam. Napasku tertahan. Ketika aku berhenti sesaat untuk memastikan, ia tidak menjauh. Tatapannya tetap padaku, lalu tangannya menarik kerah kemejaku pelan.

Aku menciumnya lagi.

Tidak ada kebutuhan untuk terburu-buru. Ruang musik sudah sepi, pintunya tertutup tetapi tidak dikunci, dan lagu kami masih menampilkan garis datar di layar. Aku hanya mengenali kehangatan bibirnya, jemarinya di tengkukku, dan cara tubuhnya bersandar karena mempercayaiku menahannya.

Kami berpisah ketika napas menjadi tidak teratur. Dahi Helen menyentuh daguku. Wajahnya merah, dan untuk sekali ini aku yakin bukan karena suhu ruangan.

“Masih mau memberi tahu semua orang?” tanyaku.

“Tentang lagunya.” Ia mencoba mengatur napas. “Bagian lain milikku.”

“Posesif.”

“Sangat.”

Kami kembali duduk di sofa. Helen memilih duduk rapat meskipun sisi lainnya kosong. Ia meminta lagu diputar sekali lagi, lalu mengambil satu earphone agar kami mendengar versi mentah dari laptop.

Pada putaran kedua, ia menunjukkan bagian favoritnya. Aku tidak menjelaskan kekurangannya. Tidak berkata hasilnya biasa atau bisa dibuat siapa pun.

Ketika Helen mengatakan ia menyukainya, aku menjawab, “Makasih.”

“Tawanya jangan dibersihkan di versi final,” katanya.

“Ada bunyi kursi bergeser dan napasku masuk.”

“Aku tahu.” Helen mengambil tanganku dan memainkan ujung jariku. “Itu suara hari ketika aku berhenti berusaha terlihat sempurna di depanmu. Aku ingin tetap mendengarnya seperti itu.”

Biasanya aku akan memperbaiki setiap bunyi yang tidak disengaja sampai sebuah karya terdengar terkendali. Namun, lagu itu memang bukan tentang kendali.

“Aku biarkan,” kataku.

“Janji?”

“Janji.”

Helen mencium punggung tanganku singkat, lalu tetap menggenggamnya selama sisa lagu. Gerakan kecil itu membuat dadaku kembali penuh, tetapi kali ini aku tidak mencari cara untuk mengecilkan perasaannya.

Menerima pujian ternyata lebih sulit daripada memperbaiki frekuensi, tetapi tidak sesakit yang selama ini kubayangkan.

Helen pulang menjelang magrib dengan salinan lagu di ponselnya. Ia mengancam akan memutarnya sebelum tidur dan setelah bangun, sampai dirinya bosan atau aku menyerah membuat versi final.

Aku baru membereskan kabel ketika pesan dari Ibu masuk.

Ibu: Va, mesin cetak utama mati lagi. Teknisi bilang modulnya harus diganti. Pesanan buku acara mungkin terlambat.

Aku menelepon. Suara Ibu terdengar tenang, tetapi di belakangnya tidak ada bunyi mesin yang biasanya memenuhi percetakan.

“Biayanya berapa?” tanyaku.

Ibu menyebut angka yang membuat tanganku mengencang pada ponsel.

“Jangan pikirkan dulu,” katanya. “Fokus sekolah.”

“Aku pulang sekarang.”

Setelah panggilan berakhir, Helen mengirim foto layar pemutar musik dengan judul laguku.

Helen: Sudah kuputar lagi. Aku masih nangis sedikit. Ini salahmu.

Jemariku berada di atas keyboard. Aku bisa mengatakan ada masalah. Bisa menulis bahwa aku takut pesanan Ibu gagal dan biaya perbaikan terlalu besar.

Sebaliknya, aku mengetik jawaban yang lebih mudah.

Aku: Minum air. Jangan dengarkan sambil jalan.

Pesan terkirim.

Aku memasukkan laptop ke tas dan bergegas pulang tanpa memberi tahu Helen bahwa sesuatu baru saja berhenti bekerja di rumahku.