Chapter Twenty Nine

Orang yang Terlambat Melihat

POV Eve

Aku berjanji kepada diriku sendiri tidak akan menangis pada hari kelulusan.

Sudah tiga minggu sejak Alva menolakku di taman belakang perpustakaan. Tiga minggu cukup untuk belajar tersenyum ketika berpapasan dengannya, cukup untuk berhenti membuka percakapan lama setiap malam, dan belum cukup untuk membuat dadaku tidak sakit saat mendengar namanya.

Hari kelulusan seharusnya mudah. Duduk di kursi sesuai nomor. Naik ke panggung saat dipanggil. Berfoto dengan Mama dan Papa. Mengucapkan selamat kepada teman-teman. Pulang sebelum semua kenangan berubah menjadi alasan untuk berharap lagi.

Aku datang ke aula dengan riasan yang sengaja dibuat tahan lama.

Helen sudah berada di barisan depan bersama anggota teater. Ia mengenakan kebaya biru gelap dan kain batik, rambut panjangnya disanggul rendah. Ketika melihatku, ia tersenyum dan mengangkat tangan.

Aku membalas.

Hubungan kami selama tiga minggu terakhir berjalan dengan hati-hati. Helen mengirim pesan sehari setelah pengakuanku kepada Alva.

Helen: Aku tahu kamu butuh ruang. Aku cuma mau memastikan kamu nggak sendirian.

Aku menjawab bahwa aku baik-baik saja, meskipun itu tidak sepenuhnya benar. Ia tidak memaksa. Kami tetap berbicara tentang tugas akhir dan persiapan kelulusan, tetapi tidak pernah menyebut Alva.

Ada wilayah kosong di antara kami. Kami berdua tahu bentuknya.

Aku duduk dua baris di belakang Helen. Aula dihiasi kain putih dan rangkaian bunga yang terlalu besar di sisi panggung. Di atas layar tertulis nama angkatan kami. Musik instrumental diputar pelan, nyaris tenggelam oleh suara orang tua dan siswa yang mencari tempat.

Alva masuk dari pintu samping bersama Dimas.

Ia mengenakan setelan hitam sederhana dan kacamata bingkai tipis. Dasi abu-abunya sedikit miring. Dahulu, aku mungkin akan memanggilnya, menyuruhnya mendekat, lalu membetulkan dasi itu tanpa memikirkan apa pun.

Kali ini Helen yang berdiri.

Ia berjalan ke lorong, menghentikan Alva dengan satu tangan di lengannya, lalu merapikan simpul dasi tersebut. Alva menunduk agar Helen lebih mudah menjangkaunya. Mereka berbicara terlalu pelan untuk kudengar.

Helen mengatakan sesuatu. Alva tersenyum, kemudian mengecup keningnya.

Bukan ciuman yang dibuat untuk dilihat orang. Singkat, biasa, seperti gerakan yang sudah memiliki tempat tetap dalam keseharian mereka.

Helen langsung memukul lengannya pelan sambil melihat sekeliling. Alva mengatakan sesuatu lagi. Keduanya tertawa.

Dadaku terasa seperti terlipat ke dalam.

Aku pernah melihat Alva tersenyum ribuan kali. Senyum sopan ketika guru memujinya. Senyum kecil setelah memperbaiki barangku. Senyum yang dipaksakan saat aku memeluknya setelah Raka menerima pengakuanku.

Senyum ini berbeda. Tidak ditahan. Tidak meminta izin untuk bahagia.

Dan Helen tahu cara memunculkannya.

Pembawa acara meminta semua siswa duduk. Helen kembali ke kursinya. Alva mengambil tempat di bagian kelas IPA, cukup jauh dariku. Sebelum menghadap panggung, ia mencari Helen di antara barisan. Tatapan mereka bertemu. Helen mengangkat dua jari membentuk tanda kecil. Alva membalas dengan anggukan.

Gerakan itu hanya berlangsung sedetik.

Aku tetap melihatnya setelah keduanya menghadap depan.

Upacara dimulai. Kepala sekolah berpidato tentang masa depan. Nama siswa dipanggil satu per satu. Ketika namaku terdengar, aku berjalan ke panggung, menerima map kelulusan, dan tersenyum kepada kamera.

Semuanya berlangsung sesuai rencana.

Lalu nama Alva dipanggil.

Tepuk tangan dari bagian tempat Helen duduk terdengar paling keras. Dimas bersiul sampai ditegur guru. Alva menerima map, membungkuk, dan turun dari panggung dengan telinga sedikit merah.

Aku ikut bertepuk tangan.

Pikiran yang paling menyakitkan datang tanpa diundang: jika aku melihatnya lebih cepat, mungkin aku yang akan menunggu di ujung tangga panggung. Mungkin aku yang merapikan dasinya. Mungkin senyum itu akan diarahkan kepadaku.

Alva sendiri sudah mengatakan kemungkinan itu pernah ada.

Namun, ia juga mengatakan kemungkinan tersebut berakhir.

Aku menekan kuku ke telapak tangan sampai sesi resmi selesai. Ketika siswa dibebaskan berfoto, aula langsung penuh oleh pelukan, bunga, dan suara kamera.

Mama memelukku. Papa mengambil terlalu banyak foto. Aku tersenyum pada semuanya. Kei menyeretku ke foto kelas. Raka datang bersama tim basket, mengucapkan selamat, dan kami berbicara tanpa luka baru. Untuk sesaat, aku percaya bisa melewati hari itu dengan baik.

Lalu fotografer sekolah memanggil para penerima penghargaan seni.

Alva dan Helen berdiri berdampingan di depan panel bertuliskan SMA Arunika. Helen kembali membetulkan kerahnya. Alva memegang map kelulusan Helen saat ia merapikan rambut. Mereka tidak menampilkan kemesraan besar. Justru gerakan-gerakan kecil itu yang membuatku hancur.

Aku mengenali semuanya.

Membawakan barang. Mengingat detail. Mencari wajah tertentu di keramaian.

Dahulu Alva melakukan itu kepadaku sementara aku melihat Raka.

Sekarang aku berdiri di tempat yang sama: mencintai seseorang yang matanya selalu menemukan orang lain lebih dahulu.

Bedanya, Alva pernah menahan rasa sakitnya agar hari bahagiaku tidak rusak. Aku hampir tidak mampu berdiri tegak hanya karena melihatnya bahagia.

Aku berbalik sebelum sesi foto selesai.

Toilet lantai dua kosong. Musik aula terdengar jauh melalui dinding. Aku masuk ke bilik paling ujung, menutup pintu, lalu menangis dengan kedua tangan menekan mulut.

Semua yang kutahan selama tiga minggu keluar sekaligus.

Aku menangisi Alva yang tidak akan kembali. Aku menangisi diriku yang dahulu menerima seluruh perhatiannya tanpa bertanya apa harganya. Aku menangisi masa depan khayalan yang bahkan tidak pernah kami bangun bersama, tetapi terasa begitu nyata setelah tahu ia mungkin pernah menginginkannya.

Air mata menembus riasan tahan lama. Ketika akhirnya keluar dari bilik, maskara meninggalkan bayangan hitam di bawah mata. Bedak di pipiku bergaris. Aku menyalakan keran dan menatap wajah sendiri di cermin.

Aku terlihat buruk.

Tidak ada keindahan dalam terlambat mencintai seseorang. Tidak ada kemuliaan dalam berdiri jauh dan berharap hubungan orang lain retak. Penyesalan tidak membuatku lebih berhak dipilih.

Aku membasuh wajah sampai hampir seluruh riasan hilang.

Di balik pintu, terdengar dua siswi masuk sambil tertawa. Aku menunggu mereka pergi, lalu duduk di bangku kecil dekat wastafel. Ponselku dipenuhi pesan dari Mama yang bertanya aku di mana dan Kei yang mengirim foto kelas.

Satu pesan dari Helen berada di antaranya.

Helen: Kamu baik-baik saja? Aku nggak melihatmu di aula.

Jemariku menggantung di atas layar.

Aku bisa menjawab sakit perut. Bisa pulang melalui pintu belakang dan membiarkan wilayah kosong di antara kami tumbuh sampai persahabatan kami hilang dengan sendirinya.

Itu cara lama: menganggap orang akan tetap ada meskipun aku tidak mengatakan hal yang penting.

Aku mengetik jawaban.

Eve: Aku di toilet lantai dua. Aku menangis dan riasanku hancur. Aku perlu bicara kalau kamu bersedia.

Balasan muncul segera.

Helen: Tunggu di sana.

Helen datang beberapa menit kemudian sambil membawa tas kecil dan dua botol air. Ia berhenti setelah melihat wajahku. Tidak mengatakan kasihan. Tidak langsung memeluk.

“Boleh masuk?” tanyanya dari ambang pintu.

Aku mengangguk.

Ia mengunci pintu utama toilet agar tidak ada siswa lain masuk, lalu duduk di ujung bangku. Kami menyisakan jarak satu orang di tengah.

Helen meletakkan tisu basah dan satu botol air di antara kami. “Kamu ingin aku dengar atau bantu memperbaiki riasan dulu?”

Pertanyaan itu hampir membuatku menangis lagi.

“Dengar dulu.”

“Baik.”

Aku memegang botol tanpa membukanya. “Aku melihat kalian.”

Ekspresi Helen tidak berubah. “Di aula?”

“Kamu merapikan dasinya. Dia mencium keningmu. Kalian tertawa.” Aku menarik napas yang bergetar. “Kalian nggak melakukan apa-apa yang salah. Aku tahu itu.”

Helen menunggu.

“Aku cuma tiba-tiba mengerti posisi Alva dulu.” Air mataku kembali jatuh. “Dia melihat aku sama Raka. Dia membantu kami. Dia tetap tersenyum supaya aku nggak merasa bersalah. Aku baru melihat beberapa menit dan rasanya seperti... aku nggak bisa bernapas.”

“Eve.”

“Biar aku selesai.” Aku menghapus pipi. “Aku nggak datang untuk meminta kamu menjauh darinya. Aku juga nggak mau kamu mengecilkan kebahagiaanmu supaya aku nyaman.”

Helen menunduk sebentar, lalu kembali menatapku.

“Aku tidak minta maaf karena perasaanku datang terlambat,” kataku. “Aku nggak memilih kapan aku sadar. Tapi aku minta maaf karena terlalu lama menganggap kehadiran kalian pasti.”

Suaraku patah, tetapi aku melanjutkan.

“Aku menganggap Alva akan selalu ada saat kupanggil. Aku juga menganggap kamu akan selalu berdiri di sampingku dan memahami semuanya, bahkan ketika aku menyembunyikan hal sebesar ini. Aku menerima terlalu banyak tanpa bertanya apa yang kalian butuhkan.”

Helen menggenggam tutup botolnya erat.

“Aku marah,” katanya akhirnya.

Aku mengangguk. “Kamu berhak.”

“Bukan karena kamu mencintai Alva. Aku nggak bisa mengatur perasaanmu.” Ia berhenti, memilih kalimat. “Aku marah karena aku melihatmu terluka berbulan-bulan, tapi kamu terus bilang nggak ada apa-apa. Aku jadi harus menebak apakah diamku membantumu atau justru meninggalkanmu.”

“Aku takut kalau jujur, aku akan terdengar seperti sedang meminta izin untuk merebutnya.”

“Aku mungkin tetap akan terluka mendengarnya.”

“Aku tahu.”

“Tapi terluka oleh kebenaran berbeda dengan dibuat buta.”

Kalimat itu tidak menyenangkan. Karena benar, aku tidak mencoba membantah.

“Aku juga perlu batas,” lanjut Helen. “Untuk sekarang, aku nggak bisa menjadi orang yang kamu hubungi kalau kamu ingin membicarakan Alva. Aku sahabatmu, tapi aku juga pacarnya.”

“Aku mengerti.”

“Dan mungkin kita nggak akan kembali seperti dulu.”

Dadaku kembali sesak. Namun, kali ini aku tidak meminta janji bahwa ia akan selalu ada.

“Mungkin memang nggak seharusnya,” kataku. “Dulu kita dekat karena merasa nggak perlu menjelaskan apa-apa. Sekarang aku ingin belajar bertanya.”

Helen melihatku cukup lama. Matanya mulai basah, tetapi ia tidak mengalihkan wajah.

“Aku masih ingin menjadi sahabatmu,” katanya. “Bentuknya mungkin berbeda. Lebih jujur. Kadang lebih canggung.”

“Aku juga mau.”

“Kalau aku cerita soal kampus, kamu benar-benar mau dengar?”

“Mau.”

“Kalau ceritanya kadang menyebut Alva?”

Aku menelan rasa sakit yang langsung muncul. “Mungkin aku perlu bilang kalau hari itu aku belum sanggup.”

Helen mengangguk. “Itu jawaban yang jujur.”

Kami tidak membuat janji persahabatan selamanya. Tidak mengatakan semuanya sudah baik. Ada luka yang tidak hilang hanya karena permintaan maaf diterima.

Namun, wilayah kosong di antara kami akhirnya memiliki pintu.

“Boleh aku peluk?” tanya Helen.

Aku mengangguk.

Ia berpindah mendekat dan memelukku. Aku menangis lagi di bahunya, kali ini bukan hanya karena kehilangan Alva. Aku menangisi versi persahabatan kami yang sudah berakhir dan merasa lega karena sesuatu yang lebih jujur mungkin masih bisa tumbuh.

Setelah kami berpisah, Helen membantu membersihkan sisa maskara. Ia tidak mencoba mengembalikan riasanku seperti semula. Kami hanya memastikan wajahku tidak lagi dipenuhi garis hitam.

“Siap kembali?” tanyanya.

“Belum.”

“Aku juga nggak suka aula yang penuh.”

Kami menunggu lima menit lagi.

Ketika akhirnya turun, Alva berdiri di ujung koridor. Ia tidak mendekat sampai Helen mengangguk. Tatapannya singgah pada wajahku yang tanpa riasan, lalu kembali ke mata.

“Selamat lulus, Eve,” katanya.

Ada banyak hal yang pernah ingin kukatakan. Hari itu aku memilih yang paling jujur dan tidak meminta apa pun darinya.

“Selamat juga, Va.”

Helen berjalan ke sisinya. Alva tidak langsung mengambil tangannya; ia menunggu sampai Helen sendiri menyelipkan jemari ke telapak tangannya.

Aku melihat gerakan itu. Sakitnya masih ada.

Namun, untuk pertama kali, aku tidak mengubah rasa sakit menjadi alasan bahwa sesuatu seharusnya menjadi milikku.

“Foto terakhir angkatan akan dimulai,” kataku. “Kalian harus masuk.”

“Kamu ikut?” tanya Helen.

Aku menatap aula, lalu dua orang di depanku.

“Iya,” jawabku. “Aku ikut.”

Kami kembali bersama. Di depan kamera, aku berdiri di sisi Kei. Helen berdiri di sebelah Alva. Tidak ada seorang pun yang harus menghilang agar foto itu bisa diambil.

Seminggu setelah kelulusan, Helen akan naik kereta menuju kota barunya. Alva akan tetap di Bandung.

Aku tahu perpisahan itu akan menyakitkan mereka. Aku juga tahu mereka telah memilih sakit yang datang dari tumbuh, bukan nyaman yang dibayar dengan mengecilkan hidup.

Ketika kamera menghitung mundur, aku tidak melihat Alva.

Aku menatap lurus ke depan dan tersenyum untuk hidupku sendiri.