Chapter Seventeen
Pacarku Terlalu Sopan
POV Helen
Pacarku meminta izin tiga kali dalam waktu dua belas menit.
Pertama, ia bertanya apakah boleh membawakan mapku ketika melihat kedua tanganku penuh. Kedua, ia bertanya apakah boleh duduk di sebelahku meskipun sofa ruang musik cukup untuk empat orang. Ketiga, ia bertanya apakah boleh memindahkan rambut yang tersangkut di kerah bajuku.
Untuk yang terakhir, aku sengaja menjawab tidak hanya untuk melihat reaksinya.
Alva langsung menurunkan tangan. “Oke.”
Tidak protes. Tidak memasang wajah tersinggung. Ia kembali menatap layar laptop dan melanjutkan mixing seolah rambutku yang tersangkut bukan urusannya.
Aku bertahan dua puluh detik sebelum menyerah.
“Boleh,” kataku.
Alva menoleh. “Apa?”
“Rambutku.”
“Kamu bilang nggak.”
“Aku berubah pikiran.”
Ia mengangkat tangan lagi, berhenti sesaat di dekat bahuku, lalu membebaskan beberapa helai rambut dari kerah. Ujung jarinya hampir tidak menyentuh kulitku.
“Sudah,” katanya.
Kemudian ia kembali bekerja.
Aku menatap sisi wajahnya. Kacamatanya memantulkan susunan gelombang suara di layar. Alva terlihat terlalu tenang untuk seseorang yang membuat jantungku bereaksi pada sentuhan setengah detik.
Meminta izin bukan masalah. Justru aku menyukai ia mendengarkan jawaban tanpa membuat penolakanku menjadi hukuman untuk dirinya. Masalahnya, Alva meminta izin bahkan ketika kami sudah membentuk kebiasaan dan aku sudah berulang kali menunjukkan apa yang kusukai.
Ia tidak hanya menghormati batas. Kadang ia bersembunyi di baliknya agar tidak perlu mengaku menginginkan sesuatu.
“Va,” panggilku.
“Hm?”
“Peluk aku.”
Tangannya berhenti di atas keyboard. “Sekarang?”
“Nggak. Setelah kita punya cucu.”
Alva menutup laptop sebagian, lalu bergeser menghadapku. Ia merentangkan tangan dengan gerakan hati-hati. Aku masuk ke pelukannya dan menyandarkan dagu di bahunya.
Tubuhnya hangat. Aroma sabun dan kopi tipis menempel di kemejanya. Tangannya berada di punggungku, tetapi tekanannya begitu ringan sampai aku hampir tidak merasakannya.
Tiga detik kemudian ia melepaskan pelukan.
Aku masih memegang lengannya. “Itu apa?”
“Pelukan.”
“Itu pemeriksaan keamanan.”
“Aku nggak tahu berapa lama yang kamu mau.”
“Lebih dari waktu yang dibutuhkan untuk memindai kartu pelajar.”
Alva terlihat hendak meminta maaf. Aku menutup mulutnya dengan telapak tangan sebelum kalimat itu keluar.
“Jangan bilang maaf.”
Ia mengangkat alis.
Aku menurunkan tangan. “Kamu terlalu sopan.”
“Bukannya itu sifat baik?”
“Bisa. Tapi aku nggak mau kamu selalu menunggu instruksi untuk menjadi pacarku.”
“Aku belum pernah menjadi pacar siapa pun.”
“Aku juga belum.” Aku menarik satu kaki ke atas sofa agar bisa menghadapnya penuh. “Aku nggak minta kamu berhenti bertanya kalau ragu. Aku cuma ingin kamu percaya pada jawaban yang sudah kuberikan.”
“Jawaban apa?”
“Bahwa aku ingin berada di sini. Bahwa aku suka kalau kamu menggenggam tanganku. Bahwa kamu boleh bilang kamu ingin ditemani tanpa mengubahnya jadi tawaran untuk membantuku.”
Alva diam. Aku tahu wajah itu. Ia tidak sedang menolak; ia sedang membongkar kalimatku sampai bagian terkecil.
“Kalau kamu nggak mau sesuatu, kamu akan bilang?” tanyanya.
“Iya.”
“Kalau aku membuatmu nggak nyaman?”
“Aku akan menyuruhmu berhenti.”
“Kamu yakin?”
“Alva, aku pernah bilang musikmu terdengar seperti awan hitam punya masalah keluarga pada rapat pertama. Aku bisa menyampaikan kritik.”
Sudut bibirnya bergerak. “Itu memang cukup jelas.”
Ia menatap tangannya sendiri. “Aku cuma nggak mau berubah jadi orang yang membuatmu merasa wajib.”
“Meminta sesuatu nggak otomatis membuatku wajib memberikannya.”
“Aku tahu secara logis.”
“Tapi?”
Alva mengembuskan napas. “Lebih mudah nggak meminta daripada mendengar seseorang bilang aku terlalu banyak butuh.”
Jawabannya membuat keinginanku untuk menggoda berhenti sesaat. Ada bagian hidup Alva yang membentuk kalimat itu jauh sebelum aku datang. Aku tidak bisa menghapusnya dengan satu pelukan, dan aku juga tidak ingin menjanjikan akan selalu menjawab iya.
“Kalau kamu meminta, aku mungkin bilang iya atau nggak,” kataku. “Tapi kalau kamu memutuskan jawabanku sendiri, aku bahkan nggak diberi kesempatan memilihmu.”
Alva menatapku lagi.
“Aku ingin memilih,” lanjutku. “Termasuk memilih saat kamu sedang butuh, bukan cuma saat kamu berguna.”
Kali ini ia tidak langsung mengangguk. Ia membiarkan kalimat itu tinggal di antara kami sampai wajahnya sedikit melunak.
“Bagus.” Aku mengulurkan tangan. “Sekarang kacamatamu.”
“Kenapa?”
“Aku ingin memeriksanya.”
“Memeriksa apa?”
“Apakah kamu tetap terlalu sopan kalau nggak bisa melihat wajahku.”
Sebelum ia menjawab, aku mengambil kacamata dari wajahnya. Gerakanku cukup pelan untuk dihentikan jika ia tidak suka. Alva hanya berkedip saat dunia di depannya berubah buram.
Aku memakai kacamatanya, lalu langsung melepas karena kepalaku terasa aneh.
“Kembalikan,” katanya.
“Ambil sendiri.”
Aku memegangnya di belakang punggung.
Alva menghela napas. “Helen.”
“Ya?”
“Aku sedang bekerja.”
“Pacarmu butuh perhatian.”
“Tadi sudah kupeluk.”
“Tiga detik.”
“Empat.”
“Kamu menghitung?”
“Aku suka data.”
Ia berdiri. Aku ikut berdiri dan mundur dua langkah sampai bagian belakang lututku menyentuh bangku piano. Alva berjalan mendekat tanpa terburu-buru. Tanpa kacamata, matanya sedikit menyipit, tetapi ia tidak tampak ragu.
“Terakhir kali,” katanya. “Kembalikan.”
“Ambil.”
Aku menunggu ia mencoba meraih ke belakang tubuhku. Sebaliknya, Alva berhenti sangat dekat. Satu tangannya diletakkan pada tepi piano di sampingku, bukan untuk menahan, hanya untuk menstabilkan tubuh saat membungkuk.
“Kamu sengaja melakukan ini supaya aku mendekat,” katanya.
Nada suaranya rendah dan tenang. Senyumku kehilangan sebagian kekuatannya.
“Mungkin.”
“Berarti kalau aku mendekat, kamu nggak keberatan.”
“Tergantung.”
“Pada apa?”
“Apa yang kamu lakukan.”
Alva mengulurkan tangan. Jarinya menyentuh pergelangan tanganku, lalu bergerak pelan sampai menemukan bingkai kacamata yang kusembunyikan. Ia mengambilnya tanpa menjauh dan memasangnya kembali.
Sekarang ia bisa melihat wajahku dengan jelas.
Aku mendadak menyesali seluruh rencana.
“Pipimu merah,” katanya.
“Ruangannya panas.”
“Kamu pernah menertawakan alasan itu.”
“Sekarang alasan itu sah.”
Alva tersenyum kecil. Bukan senyum gugup yang biasa muncul setelah kugoda. Senyum itu tenang, seolah ia sudah tahu aku tidak akan bergerak ke mana-mana.
“Aku ingin mencium kamu,” katanya.
Dadaku berhenti bekerja secara profesional.
“Kamu bertanya lagi,” kataku, meskipun suaraku lebih pelan daripada yang kuinginkan.
“Nggak.” Tatapannya turun ke bibirku sesaat, lalu kembali ke mata. “Aku bilang apa yang kuinginkan. Beda.”
Ia masih memberiku ruang untuk menolak. Tidak ada tangan yang menahan tubuhku, tidak ada jarak yang dipaksa hilang. Namun, kali ini ia tidak menyamarkan keinginannya sebagai pertanyaan yang bisa ditarik kembali.
Aku mengangguk. “Lakukan.”
Alva menyentuh sisi wajahku dan menciumku.
Singkat. Hangat. Cukup lama untuk menghapus semua kalimat pintar yang kusiapkan. Ketika ia mundur, ibu jarinya masih berada di dekat rahangku.
“Masih terlalu sopan?” tanyanya.
Aku membuka mulut, tetapi tidak ada jawaban yang pantas keluar.
Alva—cowok yang pada minggu lalu hampir berhenti merespons setelah kucium pipinya—baru saja membuatku kehilangan kata-kata.
Ia tampak sangat puas.
“Jangan senang dulu,” kataku setelah akhirnya menemukan suara. “Itu baru satu percobaan.”
“Aku bisa mengulang kalau datanya belum cukup.”
Aku menatapnya. Ia kembali ke laptop sebelum wajahku semakin panas.
“Helen,” katanya sambil membuka proyek audio.
“Apa?”
“Aku ingin kamu menemaniku sampai mixing ini selesai.”
Tidak ada tambahan kalau kamu tidak sibuk atau tapi nggak apa-apa kalau harus pulang. Hanya satu permintaan jujur.
Aku kembali duduk di sofa dan mengambil naskahku. “Baik.”
Alva menoleh. “Sesederhana itu?”
“Iya. Kamu minta, aku mau.”
Ia mengangguk, lalu mulai bekerja. Aku membaca sambil mendengarkan suara musik dari monitor. Sesekali Alva meminta pendapatku, sesekali aku mengeluh lapar, dan satu jam berlalu tanpa satu pun dari kami menghitung berapa lama pelukan seharusnya berlangsung.
Di halte, saat busku terlihat di ujung jalan, Alva meraih tanganku dan menarikku ke dalam pelukan lebih dahulu.
Kali ini kedua lengannya mengelilingi punggungku dengan mantap. Aku menyandarkan wajah di dadanya dan mendengar detak jantung yang lebih cepat daripada ekspresinya.
“Busku datang,” gumamku.
“Aku tahu.”
Ia belum melepaskan.
Aku tersenyum pada kemejanya. “Pacarku mulai nggak sopan.”
“Kamu keberatan?”
“Nggak.”
“Bagus.”
Alva baru melepaskanku ketika bus berhenti tepat di depan halte. Aku naik dengan lutut yang terasa sedikit tidak bisa dipercaya.
Selama ini aku mengira bagian paling menyenangkan dari menggoda Alva adalah melihatnya kehilangan ketenangan.
Ternyata aku belum mempertimbangkan apa yang akan terjadi ketika ia belajar membalas.
- 1 Cowok yang Tidak Mungkin Menyukaiku
- 2 Plester di Bingkai Kacamata
- 3 Duo Goddess
- 4 Payung yang Dipakai Berdua
- 5 Senyum Setelah Hujan
- 6 Sahabat yang Selalu Tersedia
- 7 Tepuk Tangan dari Kursi Terakhir
- 8 Aku Memilih Berhenti
- 9 Hari Aku Tidak Mencarimu
- 10 Kenalan Lagi
- 11 Tujuh Menit yang Berantakan
- 12 Suara yang Ingin Kusimpan
- 13 Kencan yang Belum Diakui
- 14 Aku Selesai Sebelum Kita Mulai
- 15 Pacar Pertama
- 16 Lima Menit Lagi
- 17 Pacarku Terlalu Sopan reading
- 18 Senyum yang Bukan Lagi Untukku
- 19 Jadi Kamu Bisa Cemburu
- 20 Lagu untuk Pacarku
- 21 Jangan Jadikan Aku Penonton
- 22 Rumah Tempat Alva Tidak Pernah Mengeluh
- 23 Tempat Helen Boleh Lelah
- 24 Semua Hal yang Tidak Pernah Kulihat
- 25 Kemungkinan yang Sudah Berakhir
- 26 Tidak Ada yang Disembunyikan
- 27 Hari Helen Boleh Meminta Apa Saja
- 28 Jangan Kecilkan Masa Depanmu
- 29 Orang yang Terlambat Melihat
- 30 Lagu yang Dimulai dari Nol