Chapter Seven
Tepuk Tangan dari Kursi Terakhir
POV Alva
Aku menyelesaikan komposisiku sebelas menit sebelum batas terakhir yang diberikan Bu Ratih.
Tidak ada perasaan lega yang besar. Hanya layar laptop dengan progress bar seratus persen, dua gelas kopi kosong, dan Dimas yang tertidur di lantai ruang musik sambil menggunakan tasnya sebagai bantal.
Aku menamai karya itu Ruang di Antara Hujan.
Bagian pembukanya memakai suara mesin percetakan Ibu, ketukan air pada jendela, gesekan sepatu di koridor, dan satu nada piano yang terus mencari tempat untuk pulang. Pada bagian akhir, nada itu tidak menemukan jawaban. Ia hanya berhenti terdengar sendirian setelah suara-suara lain masuk.
Bu Ratih mendengarkannya sampai selesai. Kali ini ia tidak mengatakan aku kehilangan arah.
“Nah,” katanya sambil melepas headphone. “Ini baru terdengar seperti sesuatu yang hanya bisa dibuat Alva.”
Itu pujian paling panjang yang pernah kuterima darinya.
Namaku tetap tercantum sebagai penampil Festival Seni Arunika pada Jumat berikutnya.
Aku memberi tahu Eve saat kami bertemu di kantin. Ia sedang duduk bersama Helen dan menunjukkan foto gelang hitam di pergelangan tangan Raka kepada Kei.
“Jam berapa kamu tampil?” tanyanya setelah aku menjelaskan.
“Setengah lima.”
Senyumnya sedikit turun. “Hari itu Raka ada pertandingan persahabatan.”
Aku sudah tahu. Poster pertandingan ditempel di mading dekat kelas. “Nggak apa-apa.”
“Pertandingannya mulai jam dua. Harusnya selesai sebelum jam empat.” Eve meraih ujung lengan seragamku. “Aku datang. Serius.”
“Kalau nggak sempat juga nggak masalah.”
“Aku pasti sempat.”
Helen yang duduk di seberang berhenti mengaduk minumannya. “Jangan menjanjikan sesuatu sebelum tahu jadwalnya.”
“Aku tahu jadwalnya,” jawab Eve. “Dari gedung olahraga ke aula cuma lima menit.”
“Kalau pertandingan tepat waktu.”
Eve mengabaikannya dan kembali menatapku. “Simpan kursi untukku.”
Aku mengangguk.
Pada hari festival, aku datang ke aula sejak pukul dua belas. Bu Ratih meminta setiap penampil menjalani sound-check, meskipun karyaku hanya membutuhkan laptop, pengontrol audio, dan satu piano elektrik.
Helen berada di baris terakhir dengan naskah di pangkuan. Ia menjadi pembawa acara sesi teater setelah pertunjukanku, sehingga harus mengikuti gladi bersih dari awal.
“Bagian akhirnya berubah,” katanya setelah sound-check selesai.
“Kamu ingat versi lama?”
“Aku ada di ruang musik waktu kamu memutarnya tiga puluh kali.”
“Dua puluh tujuh.”
“Aku suka versi ini.” Helen menutup naskahnya. “Nadanya nggak terdengar menunggu sesuatu lagi.”
Aku tidak tahu apakah itu pujian teknis atau komentar tentang hal lain. Sebelum sempat bertanya, Bu Ratih memanggilku untuk memeriksa susunan penampilan.
Pukul tiga lewat empat puluh, aula mulai penuh. Dimas datang bersama beberapa teman kelas dan duduk di baris tengah. Ibu tidak bisa meninggalkan percetakan karena ada pesanan mendadak, tetapi ia berjanji menonton rekamannya malam nanti.
Aku menyimpan satu kursi di baris kedua untuk Eve.
Tas kecilku kuletakkan di sana sampai penonton hampir memenuhi ruangan. Ketika seorang siswa kelas sebelas bertanya apakah kursi tersebut kosong, aku memindahkan tas ke bawah.
“Ada yang datang,” kataku.
Pukul empat, pesan Eve masuk.
Eve: Pertandingannya belum selesai. Skornya seri.
Aku: Santai. Fokus di sana dulu.
Eve: Aku langsung lari ke aula setelah ini.
Pukul empat lewat dua puluh, pembawa acara memanggil penampil sebelumku. Kursi di baris kedua masih kosong.
Dimas menoleh dan memberi isyarat agar aku bernapas. Aku baru menyadari kedua tanganku dingin.
Pesan berikutnya tiba satu menit sebelum aku naik panggung.
Eve: Masuk overtime. Maaf banget, Va.
Aku mematikan layar ponsel.
Bu Ratih menyentuh bahuku. “Giliranmu.”
Aula menjadi lebih gelap ketika lampu utama dipadamkan. Aku berjalan ke tengah panggung, duduk di depan piano, lalu melihat kursi kosong yang sengaja kusimpan.
Untuk sesaat aku ingin menunggu satu menit lagi. Mungkin Eve sedang berlari melewati koridor. Mungkin pintu akan terbuka sebelum nada pertama.
Namun, ratusan orang lain sudah berada di sana.
Aku menarik napas dan menekan tombol pemutar.
Suara mesin percetakan memenuhi aula lebih dulu, berulang seperti detak yang teratur. Hujan masuk perlahan. Jari-jariku menyentuh tuts, mengikuti ritme yang selama berhari-hari terasa tidak lengkap.
Di atas panggung, aku tidak bisa memikirkan Eve terlalu lama. Satu nada terlambat akan menggeser seluruh lapisan. Aku harus hadir di setiap ketukan, mendengar perubahan, dan mempercayai musik yang kubuat ketika tidak ada siapa pun yang bisa memperbaikinya untukku.
Saat mencapai bagian tengah, kursi kosong itu tidak lagi terlihat. Cahaya panggung menutupi penonton. Yang tersisa hanya suara-suara yang kukumpulkan dari hidupku sendiri.
Nada terakhir menghilang bersama hujan.
Hening bertahan satu detik.
Kemudian tepuk tangan memenuhi aula.
Aku berdiri dan membungkuk. Saat lampu penonton menyala kembali, orang pertama yang kulihat bukan kursi kosong di baris kedua.
Helen berdiri di baris terakhir.
Naskahnya terjatuh ke kursi, tetapi ia tetap bertepuk tangan. Tidak ada senyum kasihan atau usaha menggantikan seseorang. Ia terlihat seperti benar-benar menyukai apa yang baru didengarnya.
Dimas ikut berdiri, lalu beberapa teman lain mengikuti. Aku membungkuk sekali lagi sebelum meninggalkan panggung.
Bu Ratih menungguku di belakang tirai. “Ingat perasaan itu,” katanya. “Bukan tepuk tangannya. Ingat bahwa kamu tetap bisa menyelesaikan sesuatu meski keadaan tidak menyesuaikan diri untukmu.”
Aku mengangguk.
Helen muncul dari sisi tirai sambil membawa naskah yang tadi jatuh dari pangkuannya. Ia menyerahkan sebotol air kepadaku.
“Jangan bilang ini untuk pembawa acara,” kataku.
“Tadinya iya.”
“Terima kasih sudah datang.”
“Aku memang harus gladi bersih.”
“Kamu bisa menunggu di belakang panggung.”
Helen menatapku beberapa detik, kemudian mengangkat bahu. “Aku ingin mendengarkan sebagai penonton.”
Tidak ada kalimat penghiburan setelahnya. Ia membicarakan bagian musik yang menurutnya paling kuat, menanyakan dari mana suara mesin pada pembuka berasal, lalu mengeluh karena ketukan hujan membuatnya ingin pergi ke toilet di tengah pertunjukan.
“Itu berarti tata suaranya berhasil,” kataku.
“Atau kandung kemihku yang terlalu responsif.”
Aku tertawa. Kali ini suara itu benar-benar keluar.
Helen tersenyum singkat, seolah sudah mendapatkan sesuatu yang diinginkannya. “Nah. Wajahmu lebih masuk akal begitu.”
Seorang panitia memanggilnya untuk berganti pakaian. Sebelum pergi, Helen menoleh ke arah aula.
“Musikmu tetap utuh meski satu kursinya kosong, Va.”
Ia pergi sebelum aku bisa menjawab.
Setelah sesi musik selesai, penonton berpindah ke pertunjukan teater di gedung sebelah. Dimas membantu membereskan kabel, sedangkan Helen harus berganti pakaian untuk tugas pembawa acara. Dalam dua puluh menit, aula hampir kosong.
Aku sedang memasukkan pengontrol audio ke tas ketika pintu terbuka.
Eve masuk dengan napas tersengal. Rambutnya sedikit berantakan dan ada bekas hujan di bahu seragamnya.
“Aku telat?” tanyanya, meskipun kursi-kursi kosong sudah menjawab.
“Baru selesai.”
“Raka harus ambil lemparan terakhir. Terus pelatih menahan semua pemain buat evaluasi.” Eve berjalan mendekat. “Aku sudah bilang mau pergi dulu, tapi—”
“Nggak apa-apa.”
“Aku benar-benar minta maaf.”
“Aku tahu.”
Ia mengeluarkan minuman kaleng dari tas. Rasa kopi susu yang biasa kubeli. “Aku bawa ini buat kamu.”
Aku menerimanya karena menolak akan membuat permintaan maafnya lebih sulit. Kaleng itu dingin di tanganku.
“Penampilanmu gimana?” tanyanya.
“Lancar.”
“Kamu rekam, kan? Nanti kirim ke aku.”
“Iya.”
Eve tersenyum lega, seolah rekaman dapat menggantikan kursi yang tetap kosong saat aku mencarinya.
Dahulu, permintaan maafnya akan cukup. Aku akan mengatakan ia tidak salah, mengirim video, lalu meyakinkan diri bahwa niat datang sama berharganya dengan kehadiran.
Namun, aku masih bisa melihat Helen berdiri di kursi terakhir. Aku masih mendengar kalimat Bu Ratih tentang menyelesaikan sesuatu tanpa menunggu keadaan menyesuaikan diri.
“Eve,” panggilku sebelum ia berbalik menuju pintu.
“Hm?”
“Besok kamu ada waktu?”
“Ada. Kenapa?”
Aku menatap minuman dingin di tanganku, lalu kursi kosong di baris kedua.
“Ada yang perlu aku omongin. Dengan jujur.”
Senyum Eve menghilang sedikit. “Kamu bikin aku takut.”
“Aku nggak bermaksud begitu.”
“Setelah kelas tambahan, ya? Di kantin belakang saja.”
Aku mengangguk. Eve mencoba tersenyum lagi sebelum pergi, tetapi kali ini kami sama-sama tahu percakapan besok tidak akan mengembalikan keadaan menjadi lebih mudah.
- 1 Cowok yang Tidak Mungkin Menyukaiku
- 2 Plester di Bingkai Kacamata
- 3 Duo Goddess
- 4 Payung yang Dipakai Berdua
- 5 Senyum Setelah Hujan
- 6 Sahabat yang Selalu Tersedia
- 7 Tepuk Tangan dari Kursi Terakhir reading
- 8 Aku Memilih Berhenti
- 9 Hari Aku Tidak Mencarimu
- 10 Kenalan Lagi
- 11 Tujuh Menit yang Berantakan
- 12 Suara yang Ingin Kusimpan
- 13 Kencan yang Belum Diakui
- 14 Aku Selesai Sebelum Kita Mulai
- 15 Pacar Pertama
- 16 Lima Menit Lagi
- 17 Pacarku Terlalu Sopan
- 18 Senyum yang Bukan Lagi Untukku
- 19 Jadi Kamu Bisa Cemburu
- 20 Lagu untuk Pacarku
- 21 Jangan Jadikan Aku Penonton
- 22 Rumah Tempat Alva Tidak Pernah Mengeluh
- 23 Tempat Helen Boleh Lelah
- 24 Semua Hal yang Tidak Pernah Kulihat
- 25 Kemungkinan yang Sudah Berakhir
- 26 Tidak Ada yang Disembunyikan
- 27 Hari Helen Boleh Meminta Apa Saja
- 28 Jangan Kecilkan Masa Depanmu
- 29 Orang yang Terlambat Melihat
- 30 Lagu yang Dimulai dari Nol