Chapter Twenty One
Jangan Jadikan Aku Penonton
POV Alva
Mesin cetak utama mati pada Jumat malam dan membawa seluruh akhir pekanku bersamanya.
Modul pengendalinya terbakar. Teknisi bisa memesan pengganti, tetapi barang baru datang paling cepat lima hari lagi. Di lantai percetakan masih ada pesanan seribu dua ratus buku acara yang harus selesai Senin, ditambah undangan dan kartu nama dari pelanggan kecil.
Ibu duduk di depan meja kasir sambil menghitung uang yang tersedia untuk ketiga kalinya.
“Kita bisa minta tambahan waktu,” katanya.
“Acara mereka hari Selasa.”
“Berarti kita kembalikan uang muka.”
“Uang mukanya sudah dipakai beli kertas.”
Ibu menggosok pelipis. “Aku bisa bicara dengan Pak Yudi. Mungkin sebagian dicetak di tempatnya.”
“Biayanya lebih mahal.”
“Lebih baik rugi sedikit daripada kehilangan kepercayaan pelanggan.”
Aku tahu ia benar. Tetap saja, angka-angka di kertas membuat tengkukku tegang. Biaya modul, ongkos cetak di tempat lain, dan cicilan mesin bulan itu tidak berubah hanya karena aku ingin semuanya baik-baik saja.
Ponselku bergetar.
Helen: Besok jadi latihan presentasi kampus jam sebelas? Aku sudah siapkan daftar pertanyaan menyebalkan.
Kami membuat janji itu seminggu lalu. Helen akan membantu latihan wawancara program musik, lalu aku akan menemaninya mencari buku referensi jurusan.
Aku melihat tumpukan pesanan di lantai.
Aku: Maaf. Besok aku harus bantu Ibu. Bisa minggu depan?
Helen: Bisa. Ada apa?
Jemariku berhenti di atas layar.
Aku: Cuma pesanan lagi banyak. Semuanya baik-baik saja.
Kalimat terakhir terkirim terlalu mudah.
Sabtu dan Minggu kuhabiskan memeriksa ulang file, memotong kertas dengan mesin kecil, dan menghubungi dua percetakan yang mungkin bisa membantu. Senin pagi aku tetap masuk sekolah karena ada ujian, tetapi tidurku hanya tiga jam.
Dimas menemukan kepalaku hampir menyentuh meja saat istirahat.
“Kamu sakit?”
“Kurang tidur.”
“Karena lagu cinta lagi?”
“Mesin percetakan rusak.”
Aku mengatakannya tanpa berpikir. Dimas langsung berhenti bercanda.
“Parah?”
“Cukup.”
“Butuh bantuan?”
“Nggak. Sudah diurus.”
Bel berbunyi sebelum ia bertanya lagi. Aku mengira percakapan itu selesai.
Ternyata aku lupa Dimas tidak tahu cara menyimpan informasi yang menurutnya penting.
Helen menungguku di depan ruang musik setelah kelas terakhir. Tangannya bersilang, naskah berada di bawah lengannya, dan ekspresinya terlalu tenang.
“Mesin percetakan rusak?” tanyanya.
Aku berhenti berjalan. “Dimas cerita.”
“Iya.”
“Dia seharusnya nggak—”
“Kamu seharusnya bilang.”
Koridor masih ramai. Aku membuka pintu ruang musik dan membiarkannya masuk lebih dahulu. Setelah pintu tertutup, Helen meletakkan naskah di meja.
“Aku sudah bilang pesanan sedang banyak,” kataku.
“Kamu bilang semuanya baik-baik saja.”
“Aku nggak ingin membuatmu ikut khawatir.”
“Jadi kamu membatalkan janji, menghilang dua hari, dan memutuskan sendiri bahwa aku lebih baik nggak tahu?”
“Aku sedang mencoba menyelesaikannya.”
“Sendirian.”
“Ini masalah keluargaku.”
Begitu kalimat itu keluar, wajah Helen berubah. Bukan marah besar. Lebih buruk: terluka.
“Dan aku siapa?” tanyanya.
“Bukan begitu maksudku.”
“Lalu bagaimana?”
Aku mengusap bingkai kacamata. “Kamu punya latihan, tugas, dan masalahmu sendiri. Aku nggak mau menambah beban.”
“Va, aku bukan jadwal yang harus kamu lindungi.”
“Aku tahu.”
“Nggak, kamu belum tahu.” Helen menarik napas, menahan suaranya agar tidak meninggi. “Kalau kamu cuma datang waktu bahagia, aku bukan pacarmu. Aku cuma penonton.”
Kalimat itu membuat semua jawaban yang sudah kusiapkan kehilangan bentuk.
Sejak kecil, aku percaya masalah harus dikecilkan sebelum diberikan kepada orang lain. Kalau tidak bisa dikecilkan, simpan saja. Menjadi mudah adalah cara paling aman agar seseorang tidak lelah lalu pergi.
Namun, Helen tidak sedang meminta masalahku hilang. Ia meminta pintunya dibuka.
“Aku takut kamu melihat hidupku dan merasa ini terlalu banyak,” kataku.
Helen menatapku lama. “Kamu pikir aku hanya menyukai ruang musik, lagu, dan versi kamu yang sudah rapi?”
“Aku nggak tahu.”
“Karena kamu nggak memberiku kesempatan untuk tahu.”
Aku duduk di tepi sofa. Tubuhku mendadak terasa seberat dua hari tanpa tidur. Helen masih berdiri, tetapi ekspresinya melunak sedikit.
“Masalahnya apa?” tanyanya.
Aku menjelaskan semuanya. Modul mesin yang rusak. Pesanan yang tidak mungkin selesai tepat waktu. Biaya cetak di tempat lain. Uang yang sudah terikat pada kertas. Ibu yang mengatakan ia bisa menanganinya sambil menghitung saldo berkali-kali.
Helen tidak menyela sampai aku selesai.
“Apa yang sudah kalian coba?”
“Pak Yudi bisa mengambil tujuh ratus buku, tapi kami harus mengantar file dan kertas malam ini. Sisanya mungkin dicetak digital, jauh lebih lambat.”
“Pelanggan sudah diberi tahu?”
“Belum. Ibu takut mereka langsung membatalkan.”
Helen duduk di sebelahku. “Kamu ingin bantuanku untuk apa?”
Pertanyaan itu membuatku ingin menjawab tidak ada. Mulutku hampir membentuknya.
Aku berhenti.
“Aku butuh seseorang memeriksa daftar pesanan dan membantu menulis pesan untuk pelanggan,” kataku. “Aku juga... ingin kamu menemaniku saat menelepon mereka. Aku buruk kalau harus mengatakan kami mungkin terlambat.”
Helen mengangguk tanpa membuat permintaanku terasa besar. “Baik.”
“Kamu ada latihan.”
“Jam enam. Kita punya dua jam.”
“Kalau nggak cukup?”
“Aku akan bilang. Kamu nggak perlu menolakku atas namaku sendiri.”
Ia membuka laptopnya. Kami membuat tabel sederhana: nama pelanggan, jumlah pesanan, batas waktu, opsi penyelesaian, dan kompensasi jika terlambat. Helen menyusun kalimat pemberitahuan yang jujur tanpa terdengar panik. Aku menghubungi pelanggan satu per satu.
Tidak semuanya berjalan mudah. Satu pelanggan marah. Dua meminta potongan harga. Namun, pemesan buku acara setuju menerima tujuh ratus eksemplar Senin dan sisanya Selasa pagi. Itu memberi kami ruang bernapas.
Helen juga menemukan jasa sewa mesin digital harian melalui akun komunitas percetakan. Harganya tetap berat, tetapi lebih murah daripada membatalkan seluruh pesanan. Aku mengirim informasi itu kepada Ibu.
Ibu: Boleh dicoba. Bawa Helen ke rumah besok kalau dia sempat. Ibu mau berterima kasih langsung.
Aku menatap pesan tersebut.
Aku menelepon Ibu dengan pengeras suara. Ia menjawab di dering pertama.
“Pak Yudi setuju mengambil tujuh ratus,” kataku. “Pelanggan juga setuju pengiriman dibagi dua. Kami menemukan tempat sewa mesin untuk sisanya.”
“Kami?”
Aku melihat Helen. Ia mengangkat alis, menunggu.
“Aku sama Helen.”
“Halo, Tante,” kata Helen mendekati ponsel. “Maaf ikut campur.”
“Jangan minta maaf. Anak saya harus dipaksa dulu baru mau bilang sedang tenggelam.”
“Ibu,” protesku.
Helen menutup mulut agar tawanya tidak masuk terlalu keras ke panggilan.
“Besok datang,” lanjut Ibu. “Kami perlu melipat sampul dan menempel label. Tante bayar pakai makan malam.”
“Saya datang,” jawab Helen sebelum aku sempat memberi pilihan lain.
Setelah panggilan berakhir, ia menatapku dengan wajah puas. “Ibumu menyukaiku.”
“Kalian baru bicara dua puluh detik.”
“Beliau memberikan informasi penting tentangmu.”
“Sejak kapan ibumu tahu aku?” tanya Helen.
“Aku pernah bilang punya pacar.”
“Pernah bilang?”
“Sekali, setelah film kami diputar.”
“Apa yang kamu ceritakan?”
“Namamu.”
Helen menunggu.
“Dan kamu suka pedas.”
“Informasi penting.”
Ketegangan di antara kami akhirnya pecah. Aku tertawa pelan, lalu menutup laptop.
“Maaf,” kataku. “Bukan karena mesinnya rusak. Karena aku berbohong semuanya baik-baik saja.”
“Aku maafkan.” Helen mengambil tanganku. “Tapi lain kali, jangan membuatku mencari kabar dari Dimas. Dia menikmati perannya terlalu banyak.”
“Aku akan berusaha.”
“Bukan janji sempurna?”
“Nggak. Mungkin aku akan salah lagi.” Aku menggenggam balik tangannya. “Kalau itu terjadi, ingatkan aku bahwa kamu bukan penonton.”
Helen bergerak lebih dekat dan memelukku. Kali ini aku tidak menunggu instruksi tentang berapa lama. Aku merangkul pinggangnya dan membiarkan berat tubuhku bersandar sedikit padanya.
Ketika kami berpisah, ia menyentuh pipiku.
“Aku masih agak marah,” katanya.
“Aku tahu.”
“Tapi aku juga ingin mencium kamu.”
“Dua hal itu bisa terjadi bersamaan.”
Helen tersenyum kecil. “Pintar.”
Ia menciumku pelan. Tidak untuk menghapus percakapan, hanya untuk menandai bahwa setelah marah dan jujur, kami masih memilih berada di tempat yang sama.
Besok, Helen akan datang ke rumahku. Ia akan melihat percetakan, Ibu, tumpukan pesanan, dan semua bagian hidup yang selama ini kusembunyikan agar terlihat mudah.
Anehnya, untuk pertama kali, pikiran itu tidak hanya membuatku takut.
- 1 Cowok yang Tidak Mungkin Menyukaiku
- 2 Plester di Bingkai Kacamata
- 3 Duo Goddess
- 4 Payung yang Dipakai Berdua
- 5 Senyum Setelah Hujan
- 6 Sahabat yang Selalu Tersedia
- 7 Tepuk Tangan dari Kursi Terakhir
- 8 Aku Memilih Berhenti
- 9 Hari Aku Tidak Mencarimu
- 10 Kenalan Lagi
- 11 Tujuh Menit yang Berantakan
- 12 Suara yang Ingin Kusimpan
- 13 Kencan yang Belum Diakui
- 14 Aku Selesai Sebelum Kita Mulai
- 15 Pacar Pertama
- 16 Lima Menit Lagi
- 17 Pacarku Terlalu Sopan
- 18 Senyum yang Bukan Lagi Untukku
- 19 Jadi Kamu Bisa Cemburu
- 20 Lagu untuk Pacarku
- 21 Jangan Jadikan Aku Penonton reading
- 22 Rumah Tempat Alva Tidak Pernah Mengeluh
- 23 Tempat Helen Boleh Lelah
- 24 Semua Hal yang Tidak Pernah Kulihat
- 25 Kemungkinan yang Sudah Berakhir
- 26 Tidak Ada yang Disembunyikan
- 27 Hari Helen Boleh Meminta Apa Saja
- 28 Jangan Kecilkan Masa Depanmu
- 29 Orang yang Terlambat Melihat
- 30 Lagu yang Dimulai dari Nol