Chapter One

Cowok yang Tidak Mungkin Menyukaiku

POV Alva

Aku sedang membantu perempuan yang kucintai menyatakan perasaan kepada laki-laki lain.

Kalimat itu terdengar cukup menyedihkan kalau diucapkan keras-keras. Untungnya, tidak ada yang bertanya apa yang sedang kulakukan di aula kecil gedung seni, berdiri di atas kursi lipat sambil membenarkan lampu-lampu kuning yang membentuk tulisan sederhana di dinding.

UNTUK RAKA.

Huruf U di ujung kiri miring tiga derajat. Eve pasti tidak akan menyadarinya, tetapi aku tetap turun, menggeser kursi, lalu memperbaikinya.

“Kalau kamu tatap lebih lama lagi, hurufnya nggak bakal berubah jadi puisi,” kata Helen dari bawah.

Ia berdiri sambil memegang gulungan pita putih, masih mengenakan seragam lengkap meskipun bel pulang sudah berbunyi hampir satu jam lalu. Rambut hitamnya diikat rendah. Wajah yang membuat separuh sekolah menyebutnya salah satu dari Duo Goddess itu terlihat sangat tidak terkesan.

“Miring,” jawabku.

“Nggak ada yang akan mengukurnya.”

“Aku akan tahu.”

Helen mendongak ke tulisan itu, kemudian kepadaku. “Ya. Kamu selalu tahu hal-hal yang nggak diperhatikan orang lain.”

Entah kenapa kalimatnya terdengar seperti tuduhan. Aku memilih turun dari kursi.

Di luar aula, hujan mulai mengetuk jendela. Prakiraan cuaca pagi tadi mengatakan kemungkinan hujan hanya tiga puluh persen. Aku tetap membawa payung biru karena Eve tidak pernah memeriksa cuaca dan selalu lupa membawa miliknya.

Di atas meja sudah tersedia dua gelas minuman. Americano tanpa gula untuk Raka dan teh lemon dingin dengan setengah takaran sirup untuk Eve. Di sebelahnya ada kotak kecil berisi gelang hitam yang dipilih Eve setelah menghabiskan dua jam mengirimiku foto dari toko daring.

Terlalu polos nggak, Va?

Kalau hitam begini cowok suka nggak?

Raka ukuran tangannya kira-kira apa, ya?

Pertanyaan terakhir seharusnya tidak ditujukan kepadaku. Aku tidak pernah memperhatikan ukuran pergelangan tangan Raka. Aku hanya tahu Eve memilih gelang itu karena Raka pernah kehilangan gelang pemberian kakaknya saat pertandingan.

Aku tahu karena Eve menceritakannya tiga kali.

“Playlist?” tanya Helen.

“Sudah.”

“Speaker?”

“Sudah dites.”

“Raka?”

“Dimas akan membawanya ke sini setelah latihan basket.”

Helen meletakkan pita di meja. “Hati kamu?”

Tanganku yang sedang merapikan kabel berhenti.

“Nggak masuk daftar.”

“Seharusnya masuk.”

“Acara mulai dua puluh menit lagi.”

Helen mengembuskan napas melalui hidung. Untungnya ia tidak melanjutkan. Sejak Eve meminta bantuan menyiapkan kejutan ini tiga hari lalu, Helen sudah dua kali menatapku seolah ingin mengatakan sesuatu, lalu membatalkannya. Aku berterima kasih atas kedua pembatalan itu.

Pintu aula terbuka begitu jam di ponselku menunjukkan pukul empat lewat dua puluh tiga menit.

Eve masuk dengan napas terengah dan ujung rok yang sedikit basah. Ia membawa tas kecil berwarna krem dan kecemasan yang terlihat jelas di wajahnya.

“Aku telat?” tanyanya.

“Raka belum selesai latihan.”

“Syukurlah.” Ia menempelkan tangan di dada, lalu matanya menyapu ruangan. Senyumnya muncul perlahan. “Ya ampun, bagus banget.”

Aku pernah melihat Eve tersenyum ratusan kali. Tetap saja, ada bagian bodoh dalam diriku yang selalu menganggap setiap senyumnya sebagai hadiah pribadi.

“Helen yang pasang pitanya,” kataku.

“Alva yang mengubah posisi pita itu empat kali,” sahut Helen.

Eve tertawa. Ia mendekat, meraih kedua lenganku, lalu memaksaku berputar menghadapnya. “Lihat aku.”

“Aku sedang lihat.”

“Bukan begitu. Periksa semuanya. Rambutku aneh nggak? Lipstiknya terlalu merah? Aku harus buka pita rambut atau—”

“Eve.”

Ia berhenti bicara.

“Kamu kelihatan cantik.”

Jawaban itu keluar terlalu mudah karena aku tidak perlu berbohong.

Eve mengembuskan napas lega. “Kalau Raka nolak gimana?”

“Berarti seleranya perlu diperiksa.”

Ia tertawa lagi, lebih lepas kali ini. Jarinya sempat meremas lengan seragamku sebelum terlepas. “Aku tahu bisa mengandalkan kamu.”

Helen memalingkan wajah ke jendela. Pantulan kaca memperlihatkan rahangnya yang mengeras sesaat.

Pukul empat lewat tiga puluh tujuh, pesan Dimas masuk.

Raka naik. Dua menit lagi.

Aku mematikan sebagian lampu aula dan menyalakan rangkaian lampu kuning di dinding. Eve berdiri di tengah ruangan dengan kotak gelang di tangannya. Bahunya naik turun terlalu cepat.

“Va,” panggilnya pelan.

Aku mendekat.

“Temani aku sampai dia masuk.”

“Aku di sini.”

“Jangan pergi dulu.”

“Nggak akan.”

Itu jawaban paling jujur sekaligus paling buruk yang bisa kuberikan kepadanya.

Suara langkah terdengar di koridor. Aku mengambil posisi di dekat speaker. Helen berdiri di sisi pintu, siap mematikannya setelah Raka masuk.

Pintu dibuka.

Raka muncul dengan rambut masih lembap oleh keringat dan jaket tim basket tersampir di bahu. Langkahnya berhenti ketika melihat lampu, minuman, dan Eve yang menunggunya.

“Ini...” Tatapannya berpindah kepadaku dan Helen sebelum kembali kepada Eve. “Buat gue?”

Eve mengangguk. Untuk seseorang yang biasanya mampu berbicara kepada seluruh kelas tanpa persiapan, ia mendadak kehilangan hampir semua kata.

“Aku tahu ini mungkin kelihatan berlebihan,” katanya. “Tapi aku suka sama kamu. Sudah lumayan lama. Aku cuma... nggak mau lulus nanti sambil bertanya-tanya apa yang akan terjadi kalau aku berani bilang.”

Jempolku menekan tombol pemutar musik.

Lagu instrumental yang dipilih Eve mengalun pelan. Aku sengaja memilih versi tanpa lirik. Beberapa kalimat tidak perlu dinyanyikan orang lain ketika kita sedang berusaha tidak mendengarnya.

Raka menatap Eve cukup lama hingga aku bisa melihat kegelisahan merambat ke wajahnya. Lalu ia meletakkan tas olahraga, berjalan mendekat, dan tersenyum.

“Harusnya gue yang nyiapin beginian,” katanya.

Eve berkedip. “Apa?”

“Gue juga suka sama lo.”

Suara tawa Eve bercampur dengan bunyi hujan dan musik. Raka menerima gelang itu, kemudian merentangkan tangan dengan sedikit ragu. Eve menghapus jarak di antara mereka.

Aku melihatnya memeluk Raka.

Anehnya, tidak ada suara sesuatu yang patah. Lampu tidak berkedip. Gelas di atas meja tidak retak. Jantungku tetap berdetak dengan patuh, seolah tubuh manusia memang dirancang untuk bertahan bahkan ketika pemiliknya berharap beberapa detik bisa dilewati begitu saja.

Helen berjalan mendekat dan berdiri di sebelahku.

“Kamu boleh keluar,” bisiknya.

“Lagunya belum selesai.”

“Aku bisa matikan.”

“Nanti terlalu tiba-tiba.”

Helen menatap sisi wajahku. “Tentu. Kita nggak mau merusak momen mereka.”

Aku mengabaikan nada suaranya.

Setelah lagu selesai, suasana mendadak lebih ramai. Dimas masuk sambil bersiul, disusul dua teman basket Raka yang rupanya menunggu di ujung koridor. Eve tertawa ketika mereka menggodanya. Raka tidak terlihat malu. Ia bahkan mengangkat pergelangan tangannya agar semua orang melihat gelang pemberian Eve.

Aku membereskan kabel speaker.

“Alva!”

Aku baru sempat berdiri ketika Eve berlari menghampiri dan memelukku.

Tubuhku membeku.

Wangi sampo yang kukenal memenuhi napasku. Tangannya melingkar erat, hangat, dan begitu dekat dengan sesuatu yang selama dua tahun hanya berani kubayangkan. Di belakangnya, Raka sedang tertawa bersama Dimas.

Aku mengangkat tangan, tetapi tidak jadi membalas pelukannya. Telapak tanganku berhenti beberapa senti dari punggung Eve sebelum turun kembali.

“Terima kasih,” katanya. “Serius. Kalau bukan karena kamu, aku nggak akan berani.”

“Selamat.”

Hanya itu kata yang bisa kukeluarkan tanpa terdengar rusak.

Eve melepaskan pelukan, masih dengan wajah paling bahagia yang pernah kulihat. “Untung kamu sahabatku, Va. Aku berani minta bantuan begini karena aku tahu kamu nggak mungkin suka sama aku.”

Ruangan terasa sangat tenang meski orang-orang di belakang kami masih berbicara.

Aku bisa mengatakan yang sebenarnya saat itu. Tidak ada yang menutup mulutku. Tidak ada yang memaksaku tersenyum.

Namun, Raka berdiri beberapa langkah dari kami dengan gelang Eve di pergelangan tangannya. Eve menungguku tertawa karena baginya kalimat itu memang lucu—sebuah kemungkinan mustahil yang tidak perlu ditakuti.

Jadi aku tersenyum.

“Iya,” kataku. “Nggak mungkin.”

Eve menepuk lenganku, lalu kembali kepada Raka.

Hujan turun semakin deras ketika mereka bersiap pulang. Aku mengambil payung biru dari sudut aula karena Eve, seperti biasa, tidak membawa payung. Namun, sebelum sempat kubuka sepenuhnya, Raka sudah mengembangkan payung hitam besar berlambang tim basket.

“Sini,” katanya kepada Eve. “Cukup buat berdua.”

Eve masuk ke bawah payung Raka, kemudian menoleh kepadaku. “Kamu nggak pulang?”

“Aku masih harus beresin aula.”

Ia mengangguk, lalu berjalan menyusuri koridor bersama Raka. Bahu mereka berhimpitan di bawah payung hitam yang perlahan menjauh.

Aku kembali ke dalam aula sambil mencoba melipat payung biruku. Kainnya masih kering, tetapi rangkanya terus meleset dari genggaman.

Sekali.

Dua kali.

Baru pada percobaan ketiga aku menyadari masalahnya bukan pada payung itu.

Jari-jariku gemetar.

“Mereka sudah nggak bisa lihat kamu,” kata Helen dari belakang.

Aku menunduk, memaksa rangka payung masuk ke lipatan yang benar. “Siapa?”

“Kalau mau pura-pura, setidaknya jangan sama aku.”

Aku akhirnya berhasil mengikat tali payung. Saat mengangkat kepala, Helen berdiri di ambang pintu dengan gulungan pita putih di satu tangan. Tatapannya jatuh pada jemariku, lalu berpindah ke wajahku.

Tidak ada rasa kasihan di sana.

Entah kenapa, itu justru membuatku lebih sulit mempertahankan senyum.