Chapter Four

Payung yang Dipakai Berdua

POV Alva

Janji untuk membantu Eve mendekati Raka mulai kutepati keesokan harinya.

Bukan karena aku sudah siap melihat mereka bersama. Aku hanya belum menemukan cara menolak Eve tanpa menjelaskan alasan sebenarnya.

Kesempatan pertama datang saat Dimas mengajakku ke latihan basket. Tim sekolah ingin mencoba musik pembuka yang kubuat, dan ia membutuhkan seseorang untuk memastikan pengeras suara lapangan tidak kembali mengeluarkan bunyi seperti mesin pemotong rumput.

Aku mengatakan kepada Eve bahwa ia boleh ikut jika mau.

Balasannya datang dalam enam detik.

Eve: Mau.

Eve: Tapi jangan bilang Raka aku sengaja datang buat dia.

Aku: Terus aku harus bilang apa?

Eve: Aku menemani Helen.

Helen: Kenapa aku ikut terseret?

Eve: Karena kamu sahabat terbaikku.

Helen: Pemerasan emosional yang sangat halus.

Sore itu, Eve dan Helen duduk di tribun kecil dekat lapangan. Eve membawa dua botol minuman isotonik meskipun terus bersikeras salah satunya untuk dirinya sendiri. Botol itu tetap belum dibuka sampai latihan selesai.

Aku berada di meja teknis bersama Dimas. Musik pembuka berjalan dengan baik pada percobaan pertama, sesuatu yang justru membuat Dimas terlihat kecewa karena ia sudah menyiapkan beberapa lelucon jika pengeras suara meledak.

“Karya lo kurang dramatis,” katanya.

“Nggak ada yang terbakar.”

“Nah, itu maksud gue.”

Peluit akhir latihan berbunyi. Para pemain menyebar ke tepi lapangan. Eve berdiri terlalu cepat, lalu duduk lagi ketika menyadari Raka berjalan ke arah kami.

“Musiknya pas,” kata Raka kepadaku. Kaus latihannya basah di bagian leher, dan napasnya masih sedikit berat. “Bisa ditambah delapan hitungan sebelum bagian terakhir? Buat waktu pemain masuk.”

“Bisa.”

“Kirim ke gue kalau sudah, ya.”

Raka baru menyadari Eve dan Helen di tribun. “Kalian nonton latihan?”

“Kami menemani Alva,” jawab Helen sebelum Eve sempat menggunakan namanya sebagai alasan.

Eve melirik tajam, tetapi Helen pura-pura sibuk dengan ponselnya.

“Oh.” Raka tersenyum kepada Eve. “Makasih sudah datang.”

Eve mengangkat botol minuman yang belum dibuka. “Ini buat kamu.”

“Katanya yang satu buat kamu,” bisik Helen.

“Aku berubah pikiran,” balas Eve tanpa menoleh.

Raka menerima botol itu. “Kebetulan gue lupa bawa minum tambahan.”

Percakapan setelahnya tidak berlangsung sempurna. Eve dua kali salah menyebut jadwal pertandingan. Raka menjawab terlalu panjang ketika bercerita tentang posisi pemain. Dimas beberapa kali mencoba masuk dengan komentar yang tidak dibutuhkan.

Namun, Eve tertawa. Raka bertanya apakah ia akan datang pada pertandingan berikutnya. Saat mereka berpisah, Raka menyimpan botol kosong Eve ke dalam tas daripada membuangnya di tempat sampah dekat lapangan.

Detail kecil itu tidak luput dari Eve.

“Menurutmu dia suka aku juga?” tanyanya setelah Raka masuk ke ruang ganti.

“Dia baru menerima minuman.”

“Tapi dia ngajak aku datang lagi.”

“Dia ngajak kita.”

“Dia lihat aku waktu ngomong.”

Helen berdiri sambil memasukkan ponsel ke tas. “Kalau kamu terus bertanya kepada Alva, Raka keburu lulus sebelum kamu menyimpulkan apa pun.”

Eve memonyongkan bibir. “Aku cuma minta pendapat.”

“Pendapat orang yang tepat atau jawaban yang ingin kamu dengar?”

Aku mencabut kabel dari pengeras suara sebelum percakapan mereka berubah menjadi perdebatan. Di luar gedung olahraga, langit sudah berwarna abu-abu pekat.

“Sebentar lagi hujan,” kataku.

“Nggak mungkin. Tadi panas,” jawab Eve.

Tiga menit kemudian, hujan turun begitu deras hingga suara air menenggelamkan percakapan kami.

Dimas dijemput kakaknya. Helen menerima telepon dari sopir keluarganya yang terjebak di jalan utama. Eve berdiri di bawah atap gedung olahraga sambil menepuk-nepuk tasnya, meskipun aku sudah tahu apa yang tidak akan ia temukan.

“Jangan bilang,” katanya kepadaku.

“Kamu lupa bawa payung.”

“Aku bilang jangan bilang.”

Aku membuka tasku dan mengeluarkan payung lipat biru.

“Pakai ini.”

“Terus kamu?”

“Aku tunggu hujannya reda.”

“Bukannya kamu harus bantu di percetakan?”

Aku memang harus sampai sebelum pukul enam. Ibu menunggu kiriman kertas yang perlu diturunkan dari mobil. “Masih sempat.”

Eve belum mengambil payung itu ketika Raka keluar dari ruang ganti. Ia sudah mengenakan jaket sekolah dan membawa tas olahraga di punggung.

“Kalian belum pulang?” tanyanya.

“Nunggu hujan,” jawab Eve.

Raka melihat payung di tanganku. “Gue lewat gerbang depan. Kalau lo mau, kita bisa bareng sampai halte.”

Wajah Eve langsung berubah cerah. Ia menatapku sejenak, meminta izin untuk sesuatu yang sebenarnya bukan milikku.

Aku menyerahkan payung tersebut.

“Bawa saja,” kataku.

Eve membukanya, lalu berdiri di sebelah Raka. Payung itu cukup untuk dua orang hanya jika mereka berjalan berdekatan. Raka mengambil gagangnya agar Eve bisa menghindari genangan.

“Besok aku balikin,” kata Eve.

“Nggak usah buru-buru.”

Mereka turun dari teras gedung olahraga. Bahu Raka melindungi Eve dari air yang tertiup angin. Eve mengatakan sesuatu yang tidak terdengar, dan Raka tertawa.

Payung biruku bergerak semakin jauh di tengah hujan.

“Kamu benar-benar mau menunggu sampai reda?” tanya Helen.

Aku melihat jam. “Nggak.”

Aku memasukkan tas ke balik jaket, lalu berlari menembus hujan. Air langsung membasahi rambut dan kacamataku. Gedung percetakan Ibu berjarak dua pemberhentian bus dari sekolah; jika aku tidak segera ke halte, kiriman kertas akan tiba lebih dahulu.

Aku baru melewati gerbang ketika sesuatu menahan hujan dari kepalaku.

Helen berjalan di sampingku dengan payung lipat berwarna krem. Ukurannya terlalu kecil untuk kami berdua. Bahu kirinya tetap kering sementara lengan kananku terkena hujan.

“Sopirmu?” tanyaku.

“Masih macet.”

“Kamu bisa menunggu di sekolah.”

“Kamu juga bisa.”

Kami berjalan pelan karena trotoar licin. Helen menggeser payung lebih banyak ke arahku. Aku mengembalikannya ke tengah.

“Kamu akan masuk angin,” kataku.

“Kamu sudah basah.”

“Berarti nggak ada gunanya melindungiku.”

“Logikamu menyebalkan.”

Di persimpangan, lampu kendaraan memantul di permukaan jalan. Dari kejauhan aku masih bisa melihat payung biru di depan kami. Eve dan Raka berjalan rapat di bawahnya.

Helen mengikuti arah pandangku.

“Kamu selalu begini?” tanyanya.

“Begini bagaimana?”

“Memberikan sesuatu, lalu berpura-pura nggak kehilangan apa-apa.”

Aku membersihkan air dari lensa kacamata. “Itu cuma payung.”

“Aku bukan sedang membicarakan payung.”

Bus yang kutunggu berhenti di halte. Aku melangkah naik sebelum perlu menjawab.

Helen berdiri di trotoar, masih memegang payung kecilnya. Sebelum pintu menutup, ia berkata, “Kamu boleh baik, Va. Tapi jangan sampai kebaikanmu selalu bikin kamu pulang sendirian.”

Keesokan paginya, payung biru itu sudah tergantung rapi di sisi mejaku. Eve mengembalikannya dalam keadaan kering dan membawa cerita tentang perjalanan singkatnya bersama Raka.

“Dia mengirim pesan duluan tadi malam,” katanya, berdiri di samping mejaku sebelum kelas dimulai.

“Apa katanya?”

Eve menunjukkan layar ponselnya.

Raka: Sudah sampai rumah? Makasih sudah datang latihan tadi.

Eve: Sudah. Sama-sama. Semoga minumannya nggak terlalu manis.

Raka: Pas. Pertandingan minggu depan datang lagi, ya.

“Dia pakai ‘ya’,” kata Eve, seolah satu suku kata itu memiliki makna rahasia. “Bukan cuma memberi tahu jadwal.”

“Itu memang bentuk ajakan,” jawabku.

“Berarti dia mau aku datang?”

Helen yang baru tiba meletakkan tas di meja sebelah. “Kalau Raka menulis surat resmi lengkap dengan meterai, kamu masih akan tanya hal yang sama.”

Eve menyimpan ponselnya sambil tersenyum. “Aku cuma ingin memastikan.”

Ia tidak menyadari bahwa meminta kepastian tentang perasaan laki-laki lain kepada seseorang yang mencintainya adalah bentuk ketidaktahuan yang sangat kejam. Aku juga belum cukup jujur untuk menyebutnya demikian.

Selama beberapa hari berikutnya, mereka mulai lebih sering bicara. Raka mengirim pesan lebih dahulu. Eve datang ke pertandingan. Sesekali namaku masuk di antara percakapan mereka karena aku menjadi alasan awal mereka bertemu.

Seminggu kemudian, Eve duduk di depanku di ruang musik. Ia memeluk tasnya dan memiliki ekspresi yang selalu muncul ketika sedang menyusun permintaan sulit.

“Va,” katanya, “kalau aku mau bilang perasaanku ke Raka, kamu mau bantu aku menyiapkan sesuatu?”

Aku teringat payung kecil Helen, bahu kami yang sama-sama basah, dan kalimat yang tidak kujawab di halte.

Kemudian aku melihat harapan di wajah Eve.

“Mau,” jawabku.