Chapter Sixteen

Lima Menit Lagi

POV Alva

Aku membuat rencana kencan sepanjang satu halaman.

Tidak ada tabel. Aku mempertimbangkannya, tetapi berhasil menahan diri.

Rencananya sederhana: bertemu pukul sepuluh, mengunjungi pameran ilustrasi di galeri kecil dekat Braga, makan siang, lalu berjalan ke toko buku sebelum Helen pulang pukul empat. Aku sudah memeriksa jam operasional, rute bus, harga tiket, prakiraan cuaca, dan dua pilihan tempat makan jika kedai pertama penuh.

Helen membaca catatan itu saat kami duduk di bus.

“Kamu menuliskan estimasi waktu berjalan tujuh menit,” katanya.

“Itu jaraknya.”

“Kamu juga menulis cadangan tiga menit untuk lampu merah.”

“Kita mungkin berhenti di penyeberangan.”

Ia mengangkat wajah dari ponselku. “Apa ada waktu khusus untuk bersenang-senang?”

“Seluruh kegiatan seharusnya menyenangkan.”

“Seharusnya?”

Aku mengambil ponselku kembali. “Kamu menyuruhku merencanakan.”

“Dan aku sangat tersentuh pacarku mempersiapkan kemungkinan bencana lampu merah.”

Helen menyelipkan tangannya ke lenganku, lalu mengambil satu sisi earphone tanpa bertanya. Sejak perjalanan mencari ambience, berbagi satu lagu di bus menjadi kebiasaan yang tidak pernah kami sepakati tetapi selalu dilakukan.

Aku memutar daftar lagu yang sudah kupilih malam sebelumnya.

“Kamu membuat playlist juga?” tanyanya.

“Mungkin.”

“Berapa lama?”

“Satu jam empat puluh menit.”

“Sesuai durasi perjalanan?”

Aku tidak menjawab.

Helen tertawa dan menyandarkan kepala sekilas pada bahuku. “Kamu lucu sekali kalau terlalu serius.”

Rencana itu bertahan sampai kami turun dari bus.

Hujan jatuh tanpa gerimis pembuka. Aku membuka payung biru dan menarik Helen ke bawahnya. Angin membuat air tetap mengenai ujung celana kami, tetapi setidaknya bagian atas tubuh terlindung.

“Prakiraan cuacamu bilang apa?” tanyanya sambil merapat di sisiku.

“Hujan mulai sore.”

“Ajukan protes.”

Kami berjalan cepat menuju galeri. Di depan pintunya, sebuah kertas ditempel dengan selotip bening.

PAMERAN DITUTUP HARI INI KARENA GANGGUAN LISTRIK.

Aku membaca pengumuman itu dua kali seolah kata-katanya mungkin berubah.

Helen ikut membaca dari balik bahuku. “Apakah gangguan listrik ada di rencana cadangan?”

“Nggak.”

“Banjir?”

“Kita nggak akan kebanjiran.”

Petir terdengar jauh di atas atap toko.

“Alam menyukai tantangan,” katanya.

Aku membuka pencarian di ponsel, tetapi sinyal melemah karena hujan. Kedai makan yang kupilih berada dua blok lagi. Menurut peta, kami bisa sampai dalam sembilan menit. Menurut air yang mulai mengalir di trotoar, sepatu kami akan menyerah lebih dulu.

“Maaf,” kataku.

Helen menatapku. “Karena listrik mati?”

“Kencannya berantakan.”

“Kencannya baru berjalan empat puluh menit.” Ia menunjuk bangunan di seberang. “Ada toko buku. Kita masuk sebelum kamu meminta maaf atas cuaca Bandung.”

Kami berlari menyeberang ketika lampu berubah hijau. Payung biru cukup untuk dua orang hanya jika kami tidak keberatan bahu saling menempel. Helen memegang lenganku dengan satu tangan dan ujung payung dengan tangan lain saat angin hampir membaliknya.

Begitu masuk toko buku, ia tertawa melihat rambutku yang basah di satu sisi.

“Kenapa?”

“Rencanamu sangat rapi. Rambutmu nggak.”

“Kamu juga basah.”

“Aku tetap cantik.”

“Aku tidak bilang sebaliknya.”

Jawabanku keluar sebelum sempat kupikirkan. Helen berhenti merapikan rambut dan menatapku.

Aku mengusap bingkai kacamata yang penuh titik air. “Apa?”

“Nggak apa-apa.” Senyumnya berubah puas. “Lanjutkan.”

Toko itu lebih besar daripada terlihat dari luar. Helen menarikku ke rak sastra dan menghabiskan dua puluh menit membaca halaman belakang buku. Ia memberiku tiga pilihan naskah drama, lalu memintaku menentukan yang paling cocok untuknya.

“Yang ini,” kataku sambil menyerahkan buku kedua.

“Kenapa?”

“Tokoh utamanya sulit meminta bantuan dan selalu menganggap dirinya paling benar.”

Helen memukul lenganku dengan buku tersebut. “Aku memberimu kesempatan romantis.”

“Aku memilih berdasarkan karakter.”

“Pilih ulang.”

Aku mengambil buku ketiga. “Tokoh utamanya cantik dan suka makanan pedas.”

“Dangkal.”

“Sulit sekali memuaskanmu.”

“Bagus. Biar kamu terus mencoba.”

Ia memasukkan buku kedua ke keranjang.

Sambil menunggu di kasir, aku kembali membuka peta. Ada pameran fotografi sekitar dua kilometer dari sana. Jika kami naik kendaraan daring, jadwal masih bisa diselamatkan dengan menggeser makan siang tiga puluh menit.

Helen mengambil ponsel dari tanganku.

“Hei.”

“Kamu mau ke pameran itu?”

“Bisa jadi pengganti.”

“Bukan pertanyaanku.” Ia mematikan layar. “Kamu mau pergi ke sana, atau kamu cuma nggak tahan rencanamu punya bagian kosong?”

Aku melihat hujan di balik jendela, lalu rak-rak yang belum kami jelajahi. “Aku nggak tahu.”

“Kalau begitu pilih satu hal yang kamu inginkan sekarang. Nggak harus berguna. Nggak harus membuat kencan ini terlihat berhasil.”

Pertanyaan itu masih terasa asing, tetapi jawabannya tidak sulit.

“Aku ingin duduk di tempat kering sama kamu,” kataku. “Tanpa mengejar jadwal.”

Helen mengembalikan ponselku. “Bagus. Ada kedai di atas.”

“Kamu sudah tahu?”

“Aku mencium aroma kopi sejak masuk.”

“Kenapa nggak bilang?”

“Aku menunggu pacarku memutuskan sendiri.”

Kami menemukan kedai kecil di lantai atas toko. Tidak ada dalam daftar pilihanku. Menunya hanya kopi, teh, roti panggang, dan mi instan. Helen memesan cokelat panas. Aku memesan kopi, lalu pergi mengambil tisu untuk mengeringkan tas.

Ketika kembali, Helen mengulurkan tangan. “Kacamatamu.”

“Kenapa?”

“Lensanya basah.”

Aku melepas dan menyerahkannya. Dunia langsung kehilangan garis tegas. Wajah Helen masih terlihat, tetapi ekspresinya menjadi lebih sulit dibaca.

Ia membersihkan lensa dengan kain kecil dari tas, lalu tidak segera mengembalikannya. Sebaliknya, Helen memasang kacamataku di wajahnya sendiri.

“Pusing,” katanya.

“Karena itu bukan punyamu.”

“Kamu bisa lihat aku?”

“Cukup.”

“Cukup untuk apa?”

Aku bersandar ke meja agar jarak kami lebih dekat. “Cukup untuk tahu kamu sengaja menahannya.”

Helen melepas kacamata, tetapi menarik tangannya ketika aku mencoba mengambil.

“Minta yang sopan.”

“Kembalikan kacamataku, Helen.”

“Kurang manis.”

“Aku akan salah mengambil pesanan dan minum cokelatmu.”

Ia langsung menyerahkannya. “Ancaman yang kejam.”

Setelah makan, hujan belum reda. Kami duduk di sofa dekat jendela sambil mendengarkan lagu melalui satu earphone. Helen merapikan dasiku yang kusut setelah terkena air, lalu membiarkan kepalanya bersandar pada bahuku.

Aku tidak berani bergerak banyak. Bukan karena tidak nyaman. Justru karena posisi itu terasa terlalu nyaman dan aku takut merusaknya.

“Pacarku kaku,” gumamnya.

“Aku sedang menjaga agar kepalamu nggak jatuh.”

“Kepalaku punya kemampuan bertahan sendiri.”

Aku mengendurkan bahu. Helen ikut menyesuaikan diri, pipinya sekarang lebih dekat ke leherku.

“Begini?” tanyaku.

“Lebih baik.”

Kami duduk sampai lagu berakhir, lalu satu lagu lagi. Tidak ada pameran, foto artistik, atau makan siang di kedai yang kupilih. Hanya hujan di kaca, buku baru Helen di meja, dan bobot kepalanya pada bahuku.

Aku berhenti memikirkan apa yang seharusnya terjadi setelahnya.

Pukul empat lewat sepuluh, hujan berubah menjadi gerimis. Kami turun dan berjalan ke halte. Bus Helen sudah terlihat dari kejauhan ketika ia menarik lenganku.

“Lima menit lagi,” katanya.

“Busmu datang.”

“Ada bus berikutnya.”

“Dua puluh menit lagi.”

“Berarti kita punya lebih dari lima menit.”

Aku melihat bus itu berhenti, membuka pintu, lalu pergi tanpa Helen.

Kami duduk di halte. Ia kembali menyandarkan kepala di bahuku, kali ini tanpa earphone sebagai alasan.

“Kencannya gagal,” kataku.

“Pamerannya gagal.”

“Rencana makannya juga.”

“Aku makan roti panggang.”

“Kamu bilang kering.”

“Aku tetap menghabiskannya.” Helen mengangkat kepala. “Kencannya nggak gagal, Va.”

Aku menatap jalan yang basah. “Aku ingin membuatnya bagus.”

“Bagus menurut siapa?”

“Menurutmu.”

“Menurutku, aku dapat buku, cokelat panas, satu payung, dan bahu pacarku selama hampir satu jam.” Ia menghitung dengan jari. “Hasil yang cukup bagus.”

“Kamu juga melewatkan bus.”

“Itu bonus.”

Aku tertawa kecil. “Aku juga belum ingin kamu pulang.”

Helen diam sesaat, lalu kembali menyandarkan kepala. “Nah. Harusnya bilang dari tadi.”

Bus berikutnya datang terlalu cepat. Kali ini aku memastikan Helen naik. Kami tidak membutuhkan kencan berubah menjadi pencarian orang hilang.

Saat aku tiba di rumah, sebuah voice note menungguku.

Helen: Aku masih belum selesai. Lima menit lagi jadi pacarku.

Aku mendengarkan suaranya dua kali sebelum membalas.

Aku: Kamu sudah mendapat dua puluh menit tambahan.

Balasan berikutnya berupa voice note tiga detik.

Helen: Pelitan.

Aku menyimpan ketiga pesan itu, lalu mengganti nama playlist perjalanan kami.

Lima Menit Lagi.