Chapter Thirty

Lagu yang Dimulai dari Nol

POV Alva

Enam bulan setelah kelulusan, aku berdiri di Stasiun Bandung dengan payung biru di tangan dan informasi keterlambatan kereta yang berubah untuk ketiga kalinya.

Hujan turun sejak sore. Air mengalir di sisi kaca besar ruang tunggu, membuat lampu peron tampak seperti garis-garis kuning yang meleleh. Kereta Helen seharusnya tiba pukul enam lewat sepuluh. Jam di atas papan informasi sudah menunjukkan tujuh tiga puluh delapan.

Ponselku bergetar.

Helen: Kereta berhenti lagi. Aku curiga masinisnya sedang jajan.

Aku: Lokasinya?

Helen: Lima belas menit dari stasiun. Katanya.

Aku: Tadi juga lima belas menit.

Helen: Pulang saja. Aku bisa pesan kendaraan.

Aku melihat payung di tanganku, lalu membalas.

Aku: Aku sudah menunggu sepuluh minggu. Tambahan lima belas menit nggak akan membunuhku.

Tiga titik muncul, hilang, lalu muncul lagi.

Helen: Jangan romantis saat aku nggak bisa mencium kamu.

Aku tersenyum sendiri di tengah ruang tunggu.

Sepuluh minggu adalah jarak terlama kami tidak bertemu sejak Helen pindah ke Yogyakarta. Dalam enam bulan LDR, rencana versi satu kami bertahan cukup baik dan gagal di beberapa tempat yang tidak diperkirakan.

Panggilan dua kali seminggu sering bergeser karena latihan teater Helen atau proyek musikku. Kunjungan pertama berlangsung sesuai jadwal. Kunjungan kedua batal ketika percetakan mendapat pesanan buku sekolah dalam jumlah besar dan Ibu membutuhkan bantuan. Helen menangis saat menelepon, lalu merasa bersalah karena menangis. Aku hampir mengatakan semuanya baik-baik saja.

Sebagai gantinya, aku mengirim pesan standar kami.

Aku: Aku tenggelam. Aku juga kecewa. Masih sayang kamu. Besok menelepon.

Keesokan harinya kami bertengkar selama dua puluh menit, diam selama sepuluh menit, lalu menyusun jadwal baru. Tidak romantis. Tidak anggun. Namun, setelah panggilan berakhir, tidak ada seorang pun harus menebak apakah dirinya masih dipilih.

Helen juga pernah menghilang hampir sehari menjelang pementasan kampus. Ketika akhirnya menelepon, suaranya habis dan ia mengaku takut mengabariku karena merasa sudah mengecewakan. Aku tidak memecahkan masalahnya. Aku menemaninya makan mi instan melalui layar dan mendengarkan keluhannya sampai ia tertidur di meja.

Kami tidak selalu punya bahan percakapan. Ada malam ketika aku mengerjakan mixing sementara Helen menulis tanpa bicara. Kadang sambungan putus pada bagian penting. Kadang kami kesal karena rindu dan melampiaskannya pada kalimat yang salah.

Namun, setiap Minggu malam kami masih memutar lagu yang sama. Setiap minggu ada rekaman suara biasa: mesin percetakan, pintu kos Helen, suara dosen yang jauh, hujan di dua kota, dan tawa orang-orang baru yang mulai masuk ke kehidupan masing-masing.

Kami tidak mempertahankan keseharian lama. Kami membangun keseharian lain.

Pengumuman terdengar dari pengeras suara. Kereta Helen akan masuk peron dua.

Aku berdiri terlalu cepat dan hampir menjatuhkan payung.

Penumpang keluar dalam aliran panjang. Koper, tas ransel, anak kecil yang digendong, orang-orang yang langsung mengangkat tangan kepada penjemput. Aku mencari wajah yang sudah kulihat hampir setiap malam melalui layar kecil.

Lalu Helen muncul di dekat pintu gerbong ketiga.

Rambutnya kini sedikit lebih pendek, jatuh beberapa sentimeter di bawah bahu. Ia mengenakan jaket krem dan menarik koper biru yang terlalu besar untuk libur dua minggu. Matanya bergerak menyusuri peron sampai menemukan aku.

Ia berhenti.

Aku juga.

Selama satu detik yang aneh, kami hanya saling memandang. Wajahnya akrab, tetapi bukan layar. Tingginya nyata. Jarak di antara kami bisa dilalui dengan langkah, bukan sinyal.

Ketakutan yang tidak mau kuakui sejak pagi muncul: bagaimana jika sepuluh minggu membuat kami pandai berbicara dari jauh dan canggung saat berdekatan?

Helen meninggalkan kopernya dan berjalan cepat kepadaku.

“Kamu lebih tinggi di video,” katanya.

“Kamu datang membawa penghinaan.”

“Aku kangen.”

Dua kata itu menghapus sisa jarak.

Ia mengambil kacamataku seperti kebiasaannya dahulu. Dunia langsung kabur, tetapi wajahnya sudah cukup dekat untuk tetap terlihat. Helen menggantungkan kacamata itu pada kerah jaketnya, lalu mengangkat dagu.

Gerakannya jelas. Aku meletakkan satu tangan di pinggangnya dan menutup jarak.

Ciuman pertama setelah sepuluh minggu terasa sedikit tidak rapi. Hidung kami hampir berbenturan, Helen tertawa di bibirku, dan aku harus memperbaiki posisi payung yang terjepit di antara siku. Ciuman berikutnya lebih pelan. Ia melingkarkan tangan ke leherku, dan seluruh suara stasiun mundur beberapa langkah dari kesadaranku.

Ketika berpisah, Helen menempelkan dahinya ke dahiku.

“Nah,” katanya dengan napas belum teratur. “Sekarang kamu sesuai ukuran video.”

“Kacamataku.”

“Peluk dulu.”

Aku memeluknya. Tidak menghitung waktu, tidak memikirkan orang-orang yang harus berjalan memutar, dan tidak mencoba terlihat tenang. Helen menyembunyikan wajah di leherku. Tubuhnya bergetar kecil, entah karena tertawa atau menangis.

“Aku benar-benar kangen,” katanya.

“Aku juga.”

Kali ini, mengatakan kebutuhan tidak lagi terasa seperti menyerahkan senjata kepada seseorang. Rasanya hanya seperti membuka pintu rumah.

Di luar stasiun, hujan masih deras. Aku membuka payung biru. Helen mengambil gagangnya, memeriksa satu rusuk yang pernah bengkok dan sudah kuperbaiki.

“Payung legendaris,” katanya.

“Payung biasa.”

“Punya sejarah.”

“Sekarang fungsinya mencegah kita basah.”

Helen merapat di sisiku. “Kamu semakin tidak puitis sejak masuk kampus seni.”

“Aku menyimpan puisi untuk tugas.”

Kami berjalan di bawah payung yang sama menuju warung Bu Nani. Koper Helen beberapa kali tersangkut di sela trotoar, dan ia menuduh Bandung sengaja mempersulit kepulangannya. Aku menawarkan membawa. Ia menolak, lalu lima langkah kemudian menyerahkan gagangnya tanpa komentar.

Warung hampir tutup saat kami tiba. Bu Nani mengenali kami dan langsung menyalakan kembali kompor kecil.

Sebelum aku memesan, Helen berbicara lebih dahulu.

“Satu pedas tanpa daun bawang, sambalnya dua sendok saja,” katanya. “Satu biasa, tambah pangsit.”

Aku menoleh.

“Kenapa?” tanyanya.

“Kamu ingat.”

“Aku selalu ingat.” Helen menepuk kursi di sebelahnya. “Duduk dekat. Bangkunya dingin.”

Aku duduk. Ia langsung menyelipkan tangan ke saku jaketku dan membiarkannya di sana.

Sambil menunggu mi, kami saling bertukar cerita yang terlalu kecil untuk panggilan video. Dosenku memilih komposisiku untuk pertunjukan mahasiswa baru bulan depan. Helen menyelesaikan naskah satu babak pertamanya dan lolos lokakarya kampus, meskipun pembimbingnya meminta akhir cerita ditulis ulang tiga kali.

Percetakan Ibu mulai stabil setelah mendapat kontrak tahunan dari dua sekolah. Kami belum mengganti mesin utama, tetapi cicilan modul sudah lunas dan Ibu mempekerjakan satu pegawai paruh waktu sehingga aku tidak perlu pulang setiap sore.

“Tante sekarang masih membocorkan rahasiamu?” tanya Helen.

“Kalian lebih sering bertukar pesan daripada aku dan Ibu.”

“Beliau mengirim foto kamu tertidur di meja.”

“Itu pelanggaran privasi keluarga.”

Helen tertawa, lalu bercerita bahwa ia dan Eve mulai saling mengirim kabar lagi. Tidak setiap hari. Tidak membahas hal yang belum sanggup mereka bicarakan. Eve bergabung dengan komunitas relawan literasi di kampusnya dan baru saja menjadi koordinator acara pertama.

“Dia mengirim foto poster acaranya,” kata Helen. “Lalu meminta pendapat soal tanda baca.”

“Kemajuan besar.”

“Aku bilang judulnya terlalu panjang.”

“Kamu tetap kejam.”

“Jujur.”

Aku senang mendengar Eve memiliki hal-hal baru yang membuatnya sibuk, gugup, dan bangga. Rasa senang itu tidak membawa keinginan untuk kembali. Hanya kelegaan bahwa hidupnya bergerak, sama seperti hidup kami.

Mi datang. Helen mengambil satu pangsit dari mangkukku sebelum menyentuh makanannya sendiri.

“Kamu bisa memesan tambahan,” kataku.

“Yang dicuri lebih enak.”

Beberapa hal ternyata tidak perlu berubah.

Setelah makan, kami berjalan menuju rumah Helen. Hujan mengecil menjadi rintik yang rapat. Di bawah payung, Helen mengambil satu sisi earphone dari sakuku tanpa bertanya. Aku memasang sisi lainnya.

Lagu yang kami pilih malam itu adalah lagu pertama dalam playlist LDR kami. Bukan lagu cinta besar. Hanya musik sederhana yang diputar pada malam pertama Helen di kamar kos ketika suara kota baru membuatnya tidak bisa tidur.

Kami berjalan mengikuti tempo yang sama. Sesekali bahu bertabrakan karena trotoar sempit. Helen bercerita tentang penjaga kos yang memelihara tiga kucing dan tetangga kamar yang menyanyi terlalu keras setiap pagi. Mendengar semuanya di sebelahku berbeda dengan mendengarnya melalui ponsel. Lebih berantakan. Lebih hangat.

“Aneh nggak?” tanyanya saat rumahnya tinggal satu blok.

“Apa?”

“Bertemu lagi.”

Aku mempertimbangkan jawabannya. “Lima menit pertama.”

“Karena aku terlihat berbeda?”

“Karena kamu nyata.”

Helen tersenyum. “Aku juga sempat takut kita akan berusaha mengembalikan semuanya seperti sebelum aku pergi.”

“Kamu ingin?”

“Nggak.” Ia menggeleng. “Aku suka kita yang dulu. Tapi kita nggak kembali ke hubungan lama. Kita terus membangun versi baru.”

Ia mengayunkan tangan kami yang saling menggenggam. “Versi ini punya jadwal kereta yang buruk dan pertengkaran karena sinyal.”

“Versi berikutnya mungkin lebih buruk.”

“Optimis sekali.”

“Tapi aku masih mau.”

Helen berhenti berjalan. “Mau apa?”

Dulu aku mungkin akan menyembunyikan permintaan itu dalam lelucon atau menunggu ia menebak.

“Berjalan bersama kamu,” jawabku.

Tatapannya melembut. “Aku juga.”

Di depan pagar rumahnya, lampu teras menyala. Mobil orang tuanya terparkir di halaman. Helen melepaskan tangannya dari sakuku, tetapi belum mengambil koper.

“Besok jam berapa?” tanyanya.

“Aku jemput jam sepuluh.”

“Jam sembilan.”

“Kamu baru tiba. Tidur.”

“Aku bisa tidur setelah libur selesai.”

Ia mengambil kacamataku sekali lagi, membersihkan bintik hujan pada lensa dengan ujung jaket, lalu memasangkannya kembali ke wajahku. Jemarinya bertahan di kedua sisi bingkai.

“Aku masuk,” katanya.

Untuk pertama kalinya, aku yang menahan tangannya.

“Lima menit lagi.”

Helen berkedip. Kemudian senyumnya tumbuh perlahan, sangat cerah sampai udara malam terasa lebih ringan.

“Lima menit lagi jadi pacarku?” godanya.

“Kamu sudah menjadi pacarku.”

“Kalau begitu, lima menit lagi untuk apa?”

“Karena aku belum ingin kamu masuk.”

Tidak ada rasa malu setelah mengatakannya. Tidak ada tambahan kalau kamu capek atau tidak apa-apa kalau harus pergi. Hanya satu permintaan, utuh, kepada seseorang yang bebas menjawab.

Helen melihat pintu rumah, lalu kembali kepadaku. Ia meletakkan koper di dekat pagar dan masuk lagi ke bawah payung.

“Baik,” katanya. “Lima menit.”

Ia menyandarkan kepala di bahuku. Aku merangkul pinggangnya, dan kami berdiri mendengarkan sisa lagu di tengah rintik hujan.

Aku pernah mengira cinta berarti menunggu cukup lama sampai seseorang akhirnya berbalik dan memilihku. Sekarang aku tahu cinta bukan tentang siapa yang paling lama berdiri di tempat yang sama.

Setelah berhenti menunggumu, aku akhirnya belajar berjalan bersama seseorang.

Aku mengeluarkan ponsel dan membuka aplikasi perekam. Suara hujan jatuh pada payung biru, kendaraan melewati jalan basah, dan musik bocor tipis dari earphone kami.

“Kamu merekam?” tanya Helen.

“Iya.”

“Untuk lagu baru?”

“Mungkin.”

Helen mendekat ke ponsel dan berbisik dengan suara dramatis, “Komposer ini menahan pacarnya di luar rumah pada malam hujan.”

Aku tertawa. Ia ikut tertawa lebih keras sampai rekamannya dipenuhi suara kami.

Dulu, aku akan memotong bagian yang tidak direncanakan agar hasilnya terdengar sempurna.

Kali ini, aku membiarkan tawa Helen tetap di sana.