Chapter Nineteen

Jadi Kamu Bisa Cemburu

POV Alva

Aku mengetahui Helen diajak ke Malam Apresiasi Arunika dari Dimas, yang menyampaikannya seperti sedang melaporkan bencana nasional.

“Farel dari kelas bahasa mengajak pacarmu,” katanya sambil menjatuhkan diri ke kursi sebelahku.

Aku tetap menatap layar laptop. “Mengajak apa?”

“Ke malam apresiasi. Sabtu depan.”

“Semua siswa kelas dua belas boleh datang.”

“Sebagai pasangan.”

Kursor di layarku berhenti bergerak.

Dimas menyeringai. “Oh. Kamu ternyata punya emosi.”

“Aku sedang memikirkan transisi audio.”

“Tentu.” Ia memutar kursinya. “Farel itu tinggi, jago debat, dan pernah jadi model brosur sekolah.”

“Kenapa kamu tahu?”

“Aku memperluas pengetahuan untuk mendukung sahabat.”

“Kamu menikmati ini.”

“Sedikit.”

Aku menutup laptop. Bersikap dewasa seharusnya mudah. Helen punya hak menerima atau menolak ajakan siapa pun. Kami berpacaran, bukan menandatangani kontrak kepemilikan. Kalau ia ingin datang bersamaku, ia bisa mengatakannya.

Masalahnya, aku juga bisa mengatakannya.

Aku belum mengajak Helen karena acara itu masih seminggu lagi dan aku mengira kami otomatis akan datang bersama. Ternyata asumsi bukan undangan.

“Dia jawab apa?” tanyaku.

Dimas mengangkat bahu. “Nggak dengar. Kei menyeretku pergi karena katanya menguping itu tidak bermoral.”

“Untuk sekali ini, Kei benar.”

“Tapi sekarang kamu penasaran.”

Aku membuka laptop lagi. “Nggak.”

Selama dua jam berikutnya, aku memindahkan satu potongan audio bolak-balik tanpa menghasilkan apa pun.

Sore itu kami bertugas menjaga pameran. Helen berdiri di dekat pintu aula bersama Farel. Cowok itu memakai pin panitia debat dan berbicara sambil sesekali menunjuk poster acara. Helen mendengarkan dengan ekspresi sopan.

Aku memilih memeriksa headphone pengunjung yang sudah kuperiksa tiga kali.

“Kabelnya nggak akan berubah kalau ditatap,” kata Kei dari belakang meja registrasi.

“Bisa longgar.”

“Farel juga bisa pergi kalau ditatap cukup lama.”

Aku menoleh kepadanya. “Dimas cerita?”

“Dimas bernapas saja terdengar seperti pengumuman.” Kei menandai daftar pengunjung. “Tenang. Helen bisa mengurus dirinya sendiri.”

“Aku tahu.”

Dan aku memang tahu. Kecemburuanku bukan keraguan terhadap Helen. Yang menggangguku adalah seseorang berani meminta hal yang kuinginkan sementara aku kembali menunggu keadaan mengurus dirinya sendiri.

Farel pergi beberapa menit kemudian. Helen langsung sibuk membantu pengunjung sampai aula tutup. Kami tidak sempat bicara berdua. Setiap kali ia mendekat, ada guru meminta kabel, siswa bertanya lokasi karya, atau Dimas muncul membawa informasi yang tidak dibutuhkan siapa pun.

Saat pengunjung terakhir keluar, aku mulai melepas label dari salah satu meja. Helen berjalan ke belakangku tanpa suara, lalu kedua lengannya melingkari pinggangku.

Tubuhku menegang sesaat.

“Kamu belum bilang halo sejak tadi,” katanya sambil menyandarkan pipi di punggungku.

“Kita sudah bertemu di kantin.”

“Itu empat jam lalu.”

“Halo.”

“Terlalu formal.”

Beberapa panitia masih berada di aula. Kei melihat dari meja registrasi dan langsung pura-pura sibuk. Dimas justru mengangkat kedua ibu jari.

Aku menutup wajah sebentar dengan satu tangan. “Semua orang melihat.”

“Aku hanya memeluk pacarku.” Helen mengeratkan lengannya sedikit. “Atau kamu keberatan?”

“Nggak.”

“Bagus.”

Ia tidak langsung melepaskan. Aku melanjutkan melepas label dengan Helen tetap menempel di punggung. Sulit bekerja seperti itu, tetapi aku tidak meminta ia berhenti.

“Dimas cerita soal Farel?” tanyanya.

Tanganku berhenti.

“Kenapa kamu yakin?”

“Karena dari tadi kamu bicara tujuh puluh persen lebih sedikit.”

“Kamu menghitung?”

“Aku suka data.”

Aku hampir tertawa karena ia menggunakan kalimatku. Helen memanfaatkan gerakan tubuhku untuk mengintip dari samping.

“Kamu cemburu?”

“Aku sedang berusaha dewasa.”

“Itu bukan jawaban.”

Aku meletakkan label yang terlepas ke dalam kotak. Kebiasaan lama menyuruhku mengatakan tidak. Membuat semuanya mudah. Menyembunyikan keinginan agar Helen tidak perlu menanganinya.

Namun, seminggu lalu ia mengatakan ingin diberi kesempatan memilih.

“Iya,” kataku. “Aku cemburu.”

Helen diam di belakangku.

“Bukan karena aku nggak percaya kamu,” lanjutku. “Aku cuma ingin datang sama kamu, tapi belum mengajak. Lalu orang lain melakukannya lebih dulu.”

Pelukannya melonggar. Ia berpindah dan berdiri di depanku dengan senyum yang berusaha disembunyikan.

“Kenapa kamu terlihat senang?”

“Karena pacarku cemburu.”

“Kamu bilang itu seolah prestasi.”

“Sedikit.”

“Jawabanmu ke Farel apa?”

“Aku menolak.”

Rasa lega datang terlalu cepat untuk disembunyikan. Helen melihatnya dan senyumnya makin lebar.

“Kenapa?” tanyaku.

“Karena aku menunggu kamu mengajakku.”

“Kamu bisa mengajak aku.”

“Bisa.” Ia merapikan kerahku yang sebenarnya tidak miring. “Tapi sesekali aku ingin dikejar pacarku.”

“Aku sedang berdiri di depanmu.”

“Secara romantis, Alva.”

Sebelum aku menjawab, Farel kembali masuk ke aula membawa dua lembar tiket. Ia berhenti ketika melihat kami berdiri dekat.

“Helen, tiket yang tadi—”

Helen meraih tanganku. “Farel, kenalin. Ini Alva, pacarku.”

Tidak ada nada pamer atau permusuhan. Hanya informasi yang disampaikan jelas.

Farel melihat tangan kami, lalu mengangguk. “Oh. Pantas.”

“Pantas apa?” tanyaku.

“Dia menolak cepat sekali.” Ia tersenyum, tidak tampak tersinggung. “Tenang. Aku nggak tahu kalian pacaran.”

“Baru beberapa minggu,” kata Helen.

“Selamat, kalau begitu.” Farel melipat salah satu tiket. “Yang satu ini tetap untukmu sebagai pengisi acara. Datang dengan siapa pun.”

Setelah ia pergi, Helen mengayunkan tangan kami. “Nah. Sekarang semua informasi sudah lengkap.”

Aku menariknya sedikit lebih dekat. “Sabtu, datang sama aku.”

“Sebagai apa?”

“Pacarku.”

“Kurang romantis.”

Aku menunduk sampai wajah kami hanya berjarak beberapa sentimeter. Helen yang tadi begitu berani mendadak berhenti tersenyum.

“Helen Angelina,” kataku pelan, “mau datang ke Malam Apresiasi sama aku?”

Pipinya berubah merah. “Kamu sengaja mendekat begitu?”

“Aku sedang mengejar secara romantis.”

Ia menatapku satu detik terlalu lama. “Mau.”

“Bagus.”

Aku mengecup pelipisnya singkat, lalu kembali mengambil label dari meja. Helen tetap berdiri di tempatnya.

“Kamu kenapa?” tanyaku.

“Aku sedang mempertimbangkan aturan baru.”

“Apa?”

“Kamu dilarang belajar terlalu cepat.”

Aku tersenyum. “Terlambat.”

Sabtu malam, Helen menungguku di depan aula dengan gaun biru gelap sederhana dan mantel tipis di bahunya. Aku pernah melihatnya memakai kostum panggung yang jauh lebih rumit, tetapi malam itu aku tetap berhenti dua langkah terlalu jauh.

“Kenapa?” tanyanya.

“Nggak apa-apa.”

“Kamu menatap.”

Aku memutuskan tidak kembali ke kebiasaan aman. “Kamu cantik.”

Helen berkedip, lalu mengalihkan wajah ke poster acara. “Oh.”

“Itu saja?”

“Aku sedang menyusun respons yang anggun.”

“Butuh waktu?”

“Diam dan berikan tanganmu.”

Aku mengulurkan tangan. Ia menggenggamnya dan membawaku masuk sebelum aku melihat wajahnya semakin merah.

Malam apresiasi berisi penampilan musik, pembacaan puisi, dan pemberian penghargaan untuk kegiatan siswa selama setahun. Film kami mendapat penghargaan khusus untuk desain suara. Saat nama kami dipanggil, Helen menyeretku ke depan meskipun aku berniat membiarkannya menerima sertifikat sendirian.

“Karya ini punya dua nama,” bisiknya.

Di depan kamera sekolah, ia berdiri rapat di sisiku dan menyelipkan tangan ke lenganku. Kilatan lampu membuatku berkedip pada dua foto pertama. Pada foto ketiga, Helen menoleh dan tersenyum kepadaku alih-alih ke kamera.

Fotografer mengeluh, tetapi tetap mengambil gambarnya.

Setelah acara, udara malam terasa dingin. Kami berjalan menuju halte melewati pagar sekolah. Helen memasukkan tangannya ke saku jaketku, mencari kehangatan, lalu mempertahankannya di sana seolah saku itu memang disediakan untuk dua orang.

“Kamu membawa sarung tangan,” kataku.

“Tertinggal di tas.”

“Tasnya ada di bahumu.”

“Terlalu jauh.”

Aku merapatkan siku agar tangannya tidak terjepit. “Manja.”

“Kamu baru sadar?”

Di dekat perlintasan, palang kereta turun. Kami berhenti bersama beberapa pengendara. Helen mengetuk punggung tanganku tiga kali dari dalam saku, mengikuti bunyi peringatan. Ketika kereta melintas, suara roda besinya menelan percakapan kami selama beberapa detik.

“Terima kasih sudah mengajakku,” katanya setelah suara itu menjauh.

“Terima kasih sudah menunggu.”

“Lain kali jangan menunggu orang lain mengajak dulu.”

“Lain kali bilang kalau kamu ingin diajak.”

Helen mempertimbangkan itu, lalu mengangguk. “Setuju.”

Tidak ada permainan tebak-tebakan atau tuntutan agar salah satu membaca pikiran. Hanya dua orang yang mengatakan apa yang ingin dilakukan berbeda berikutnya.

Sepulang acara, aku membuka folder rekaman yang belum pernah kupakai. Ada suara kereta dari perlintasan dekat rumah, keramaian pasar malam, tiga ketukan jari Helen pada meja, dan tawanya dari sesi rekaman pertama.

Selama ini aku membuat musik dari hal-hal yang hilang atau hampir hilang.

Kali ini, aku ingin membuat sesuatu dari orang yang memilih tinggal.

Kubuat proyek baru dan memberinya nama sementara.

Untuk Helen.