Chapter Twenty Five
Kemungkinan yang Sudah Berakhir
POV Alva
Pesan Eve masuk pukul satu lewat tujuh menit, tetapi baru kubaca setelah bangun.
Eve: Va, besok sepulang sekolah kamu punya waktu? Aku perlu bicara jujur. Sekali saja.
Aku duduk di tepi tempat tidur dengan ponsel di tangan. Dari depan rumah terdengar mesin cetak mulai bekerja. Modul baru sudah terpasang, tetapi bunyinya sedikit lebih kasar daripada sebelum rusak. Ibu bilang kami akan terbiasa.
Pesan itu tidak menjelaskan apa yang ingin dibicarakan. Namun, setelah Helen memberi tahu semalam bahwa Eve dan Raka sudah berakhir, kemungkinan jawabannya tidak banyak.
Dulu, satu permintaan bertemu dari Eve cukup untuk membuatku mengubah seluruh jadwal. Pagi itu aku membuka kalender lebih dahulu. Sepulang sekolah aku sudah berjanji membantu Helen latihan bicara kepada orang tuanya.
Aku mengetik balasan.
Aku: Bisa. Jam setengah empat di taman belakang perpustakaan. Aku ada janji jam empat lewat.
Eve membalas lima menit kemudian.
Eve: Makasih.
Tidak ada stiker, tanda seru, atau pertanyaan tambahan.
Di sekolah, Helen menungguku di depan kelas sebelum bel pertama. Ia membawa dua roti dan map bening yang penuh tabel biaya kuliah.
“Aku membuat tiga versi presentasi,” katanya tanpa salam. “Versi tenang, versi sangat rasional, dan versi kalau Papa mulai membandingkanku dengan Kakak.”
Aku menerima roti yang ia sodorkan. “Versi terakhir memakai berapa banyak ancaman?”
“Masih dalam batas hukum.”
“Bagus. Berarti kuliah hukum sudah memberi manfaat.”
Helen menyipitkan mata, lalu mengambil kacamataku sebelum aku sempat menghindar. Dunia langsung kehilangan garis tegas.
“Tarik kembali,” katanya.
“Aku mendukung pilihan pendidikanmu.”
“Dengan mengejek.”
“Dukungan yang personal.”
Ia mendekat untuk memasangkan kembali kacamata itu. Jarak wajah kami terlalu dekat untuk koridor yang mulai ramai. Helen sengaja membetulkan posisi bingkai lebih lama daripada perlu.
“Jam empat jangan terlambat,” katanya pelan.
“Aku mau bertemu Eve dulu.”
Tangannya berhenti pada sisi kacamataku. Ekspresinya tidak langsung berubah, tetapi aku melihat perhatian penuh masuk ke matanya.
“Dia minta bicara?”
“Tadi malam.”
“Kamu tahu soal dia dan Raka?”
“Kamu mengirim pesan setelah meneleponnya.”
Helen mengangguk. “Mau cerita setelahnya?”
“Iya.”
Ia tidak bertanya apa dugaanku atau memintaku membatalkan. Jemarinya turun dari bingkai kacamata ke kerah seragamku, merapikan lipatan yang sebenarnya tidak ada.
“Baik,” katanya. “Aku di ruang musik.”
“Kamu nggak keberatan?”
“Aku mungkin akan memikirkan banyak hal sampai jam empat.” Helen menatapku lurus. “Tapi memikirkan bukan berarti aku nggak percaya kamu. Temui dia. Jangan membuat orang menunggu pengakuan yang sudah susah dikumpulkan.”
Bel berbunyi. Sebelum pergi, ia menggenggam ujung jariku singkat.
“Dan jangan terlambat,” ulangnya. “Aku butuh pacarku untuk pura-pura jadi Papa.”
Kata pacarku tinggal bersamaku sepanjang hari. Bukan sebagai perisai terhadap Eve. Bukan pengingat kewajiban. Hanya kebenaran yang tidak membutuhkan usaha untuk diyakini.
Pukul setengah empat, Eve sudah berada di taman belakang perpustakaan. Pohon ketapang menaungi dua bangku beton. Daun-daun kering mengumpul di sudut jalan setapak dan bergerak setiap kali angin lewat.
Ia duduk di bangku yang sama tempat kami pernah belajar untuk ujian sejarah saat kelas sebelas. Dahulu aku datang empat puluh menit lebih awal dan menyimpan sisi teduh untuknya. Hari itu Eve datang lebih dulu.
“Hai,” katanya ketika aku mendekat.
“Hai.”
Aku duduk di sisi lain bangku. Tidak terlalu jauh, tetapi ada cukup ruang bagi kami untuk bernapas tanpa berpura-pura keadaan masih sama.
Mata Eve bengkak. Ia sudah menutupinya dengan riasan tipis, tetapi cahaya sore membuat warna merah di bawahnya tetap terlihat.
“Helen bilang kamu sama Raka selesai,” kataku.
“Iya.” Eve menatap kedua tangannya. “Kami nggak bertengkar besar. Dia nggak selingkuh atau melakukan hal buruk. Kami cuma... selesai.”
“Aku ikut sedih.”
“Raka bilang sesuatu sebelum pergi.” Ia tersenyum kecil, tetapi tidak ada kegembiraan di sana. “Katanya aku perlu mencari tahu kenapa kehilangan perhatianmu lebih menggangguku daripada kehilangan banyak hal dari hubungan kami.”
Aku tidak menjawab. Ini bukan bagian yang bisa kulewati dengan kalimat aman.
Eve mengambil napas panjang. “Aku pulang dan membaca chat lama kita.”
Bahunya menegang seolah kalimat berikutnya memiliki berat fisik.
“Aku menemukan pulpen yang kamu perbaiki, gantungan tas, jam, sama earphone. Aku ingat kamu selalu datang kalau aku butuh sesuatu.”
“Eve—”
“Biar aku selesai dulu.” Suaranya bergetar. “Kalau aku berhenti sekarang, mungkin aku akan pengecut lagi.”
Aku mengangguk.
“Awalnya aku pikir aku cuma kehilangan kebiasaan. Aku kesal kamu nggak cepat membalas. Aku bingung waktu kamu berhenti menyimpan tempat. Aku merasa semua orang tiba-tiba bergerak tanpa memberi tahu aku.” Ia menelan ludah. “Lalu aku melihat kamu sama Helen.”
Aku menahan napas, tetapi Eve melanjutkan sebelum aku perlu mengingatkan batas.
“Bukan cuma karena kamu perhatian sama dia. Aku melihat kamu tertawa. Membantah. Minta dia tinggal. Kamu menunjukkan banyak bagian dirimu yang nggak pernah kulihat.” Air mulai memenuhi matanya. “Aku sadar aku bukan cuma kangen orang yang selalu menolongku. Aku kangen kamu. Aku ingin tahu lagu apa yang kamu buat, apa yang membuatmu takut, kenapa kamu diam, dan kenapa aku nggak pernah bertanya selama ini.”
Angin mendorong satu daun ketapang melewati sepatu kami.
Ada masa ketika aku akan memberikan apa pun untuk mendengar kalimat tersebut. Aku pernah membayangkan Eve menyadari semua perhatianku, mengejarku ke halte, lalu meminta aku tidak berhenti mencintainya.
Sekarang kalimat-kalimat itu tetap menyentuh bagian lama dalam diriku, tetapi tidak membangunkannya. Rasanya seperti menemukan kamar yang pernah kutempati. Aku ingat letak semua benda, tetapi tidak lagi ingin tinggal di sana.
Eve menghapus air di sudut matanya.
“Aku mencintai kamu, Va.”
Ia akhirnya mengatakannya tanpa jalan keluar.
Dadaku sakit, bukan karena ingin menerima, melainkan karena aku tahu berapa banyak keberanian yang dibutuhkan untuk memberikan hati kepada seseorang yang mungkin tidak akan mengambilnya.
“Aku tahu aku terlambat,” lanjutnya cepat. “Aku tahu kamu sama Helen. Aku nggak datang untuk bilang dia nggak pantas atau meminta kamu meninggalkannya begitu saja. Tapi aku harus jujur. Sekali ini aku harus mengatakan apa yang sebenarnya kurasakan.”
“Makasih sudah jujur.”
Air matanya jatuh. “Hanya itu?”
Aku melihat wajah yang dahulu menjadi pusat hampir setiap keputusan kecilku. Eve masih cantik. Masih orang baik. Masih memiliki tempat dalam sejarah hidupku.
Namun, cinta bukan penghargaan yang kuberikan karena seseorang akhirnya melihatku.
“Aku sayang kamu,” kataku. “Sebagai teman yang pernah sangat penting. Tapi perasaan yang dulu sudah selesai.”
Eve menggeleng kecil. “Apa benar-benar nggak ada yang tersisa?”
“Ada kenangan. Ada rasa peduli. Itu bukan hal yang sama.”
Napasnya tersendat. Ia menutup mulut dengan satu tangan sampai bisa kembali bicara.
“Kalau aku sadar lebih cepat...” katanya. “Sebelum Raka. Sebelum kamu berhenti. Apa kita mungkin bisa bersama?”
Pertanyaan itu pernah muncul di antara kami pada hari aku mengaku. Saat itu aku menjawab tidak tahu karena jawaban lain hanya akan menjadi tali untuk mengikat diriku pada masa lalu.
Hari ini aku bisa melihatnya dengan lebih jernih.
“Mungkin,” jawabku.
Wajah Eve runtuh.
Aku tetap melanjutkan, karena setengah kebenaran akan lebih kejam.
“Dulu aku akan memilih kamu. Kalau kamu merasakan hal yang sama sebelum semuanya berubah, mungkin kita pernah punya kesempatan.”
Air mata mengalir tanpa bisa lagi ia hapus satu per satu. Eve membungkuk, kedua tangannya mencengkeram ujung rok seragam.
“Berarti aku benar-benar membuangnya,” bisiknya.
“Kamu nggak membuang sesuatu yang nggak kamu tahu ada.”
“Tapi kamu ada di sana bertahun-tahun.”
“Dan aku memilih diam bertahun-tahun. Itu bagian kesalahanku.”
Eve menatapku dengan mata basah. “Kalau sekarang aku memilih kamu?”
Aku tidak membutuhkan waktu untuk mencari jawaban.
“Aku nggak hidup di kemungkinan itu lagi. Aku mencintai Helen.”
Kata-kata itu tidak keluar keras. Tidak perlu. Kepastian tidak selalu membutuhkan volume.
Eve memejamkan mata. Tangisnya keluar sebagai suara kecil yang segera ia tahan, seolah bahkan saat hancur ia masih takut membuat orang lain melihat. Aku mengambil bungkus tisu dari tas dan meletakkannya di ruang antara kami.
Aku tidak memeluknya. Bukan karena ingin menghukum. Sebuah pelukan dariku pada saat itu bisa terdengar seperti harapan yang tidak kumaksudkan.
Eve mengambil tisu, tetapi tangannya begitu gemetar sampai lembar pertama robek.
“Sakit sekali,” katanya.
“Aku tahu.”
“Nggak.” Ia menggeleng sambil menangis. “Dulu aku bilang aku sayang kamu, tapi bukan seperti itu. Aku pikir sudah mengerti kamu terluka. Ternyata aku nggak mengerti apa-apa.”
Aku menatap jalan setapak di depan kami. “Aku berharap kamu nggak perlu mengerti dengan cara ini.”
“Apa kamu pernah membayangkan aku mengatakan semua ini?”
“Pernah.”
“Sering?”
“Dulu, hampir setiap hari.”
Jawaban itu membuat air matanya turun lebih deras. Ia tertawa sekali, pendek dan patah.
“Aku mengucapkan semua kalimat yang kamu tunggu setelah kamu nggak membutuhkannya lagi.”
Aku tidak menyangkal. Beberapa kebenaran tidak memiliki versi yang lebih lembut.
Kami duduk cukup lama. Bel kegiatan sore berbunyi dari gedung utama. Dua siswa lewat di ujung taman tanpa memperhatikan kami. Eve mencoba mengatur napas, gagal, lalu mencoba lagi.
“Aku benci diriku yang dulu,” katanya.
“Jangan.”
“Dia bodoh.”
“Dia nggak tahu.” Aku menatapnya. “Kamu tidak wajib mencintaiku hanya karena aku mencintaimu. Kamu juga nggak harus menghukum dirimu selamanya karena perasaanmu datang terlambat.”
“Lalu aku harus apa?”
“Menerima bahwa terlambat tetap punya konsekuensi.”
Eve menghapus wajahnya dengan tisu baru. “Kedengarannya kejam.”
“Iya.”
“Kamu bisa bohong sedikit.”
“Kamu datang untuk kejujuran.”
Ia mengangguk. Bibirnya masih bergetar.
“Aku nggak akan mengganggu hubungan kalian,” katanya. “Aku nggak tahu bagaimana caranya melihat kalian setiap hari tanpa merasa... begini. Tapi aku nggak akan membuat Helen membayar karena aku terlambat.”
“Makasih.”
“Jangan berterima kasih dulu. Aku mungkin akan menjauh sementara.”
“Ambil waktu yang kamu butuhkan.”
Eve berdiri. Kakinya terlihat tidak stabil selama satu detik, tetapi ia menolak saat aku refleks ikut bangkit untuk membantu.
“Aku bisa,” katanya.
Aku duduk kembali.
Sebelum pergi, ia menoleh. Riasan di bawah matanya sudah hilang sebagian. Wajahnya tidak lagi menyerupai Eve yang selalu menemukan cara untuk tersenyum di akhir percakapan.
“Jaga Helen,” katanya. “Bukan karena dia sahabatku. Karena dia mencintaimu dengan berani.”
“Aku akan menjaga hubungan kami,” jawabku. “Tapi Helen juga bisa menjaga dirinya sendiri.”
Di tengah tangisnya, Eve tersenyum tipis. “Iya. Dia pasti marah kalau dengar kalimat pertamaku.”
“Sangat.”
Itu menjadi satu-satunya tawa kecil di antara kami.
Eve berjalan menuju gedung utama. Aku memperhatikan sampai ia melewati tikungan, bukan karena ingin mengejar, melainkan untuk memastikan ia mampu terus melangkah.
Setelah sosoknya hilang, aku menyadari tanganku dingin.
Aku sedih. Untuk Eve, untuk diriku yang dulu, dan untuk kemungkinan yang memang pernah ada tetapi tidak pernah menjadi kehidupan nyata. Kesedihan itu sungguh-sungguh.
Namun, tidak ada keraguan di dalamnya.
Ponselku bergetar.
Satu voice note dari Helen berdurasi enam detik.
Helen: Sudah jam empat kurang lima. Papa palsuku jangan kabur. Aku butuh kamu.
Di belakang suaranya terdengar tiga ketukan jari pada meja.
Aku berdiri dan berjalan ke ruang musik. Di tengah jalan, kukirim balasan.
Aku: Aku datang. Setelah latihan, ada yang perlu kuceritakan.
Pesan langsung dibaca.
Helen: Baik. Aku dengarkan semuanya.
Tidak ada bagian percakapanku dengan Eve yang ingin kusembunyikan atau kuperkecil sebelum diberikan kepada Helen.
Kali ini, aku tidak akan membiarkan orang yang kucintai mengetahui hidupku dari orang lain.
- 1 Cowok yang Tidak Mungkin Menyukaiku
- 2 Plester di Bingkai Kacamata
- 3 Duo Goddess
- 4 Payung yang Dipakai Berdua
- 5 Senyum Setelah Hujan
- 6 Sahabat yang Selalu Tersedia
- 7 Tepuk Tangan dari Kursi Terakhir
- 8 Aku Memilih Berhenti
- 9 Hari Aku Tidak Mencarimu
- 10 Kenalan Lagi
- 11 Tujuh Menit yang Berantakan
- 12 Suara yang Ingin Kusimpan
- 13 Kencan yang Belum Diakui
- 14 Aku Selesai Sebelum Kita Mulai
- 15 Pacar Pertama
- 16 Lima Menit Lagi
- 17 Pacarku Terlalu Sopan
- 18 Senyum yang Bukan Lagi Untukku
- 19 Jadi Kamu Bisa Cemburu
- 20 Lagu untuk Pacarku
- 21 Jangan Jadikan Aku Penonton
- 22 Rumah Tempat Alva Tidak Pernah Mengeluh
- 23 Tempat Helen Boleh Lelah
- 24 Semua Hal yang Tidak Pernah Kulihat
- 25 Kemungkinan yang Sudah Berakhir reading
- 26 Tidak Ada yang Disembunyikan
- 27 Hari Helen Boleh Meminta Apa Saja
- 28 Jangan Kecilkan Masa Depanmu
- 29 Orang yang Terlambat Melihat
- 30 Lagu yang Dimulai dari Nol