Chapter Six
Sahabat yang Selalu Tersedia
POV Alva
Menjadi sahabat Eve setelah ia berpacaran dengan Raka ternyata membutuhkan lebih banyak tenaga daripada mencintainya diam-diam.
Sebelumnya, aku hanya perlu menahan diri ketika Eve membicarakan Raka. Setelah mereka bersama, aku ikut mengetahui jadwal latihan, kebiasaan membalas pesan, alasan keterlambatan, dan setiap perubahan nada dalam percakapan mereka.
Eve tidak bermaksud menyakitiku. Ia datang kepadaku karena aku selalu menjawab.
Dan aku selalu menjawab karena masih ingin menjadi orang yang didatanginya.
Tiga minggu setelah mereka resmi berpacaran, aku mendapat kesempatan menampilkan komposisi di Festival Seni Arunika. Bu Ratih memberiku akses ruang musik setelah jam sekolah dan waktu empat hari untuk menyelesaikan aransemen.
“Bukan sekadar suara hujan lalu piano sedih,” katanya saat menyerahkan kunci ruangan. “Ibu tahu kamu bisa lebih jujur daripada itu.”
“Piano saya nggak selalu sedih.”
“Pianomu terdengar seperti habis ditinggal menikah.”
Aku tidak yakin itu kritik teknis, tetapi aku menerima kuncinya.
Pada hari ketiga, komposisiku baru selesai sekitar tujuh puluh persen. Bagian pembuka sudah utuh, tetapi transisi menuju klimaks masih terdengar kosong. Aku merekam ketukan hujan pada jendela, gesekan kursi, dan dengung lampu aula untuk mengisi lapisan suara.
Hari itu aku berjanji kepada diri sendiri tidak akan meninggalkan ruang musik sebelum bagian tengah selesai.
Pukul empat lewat sebelas, ponselku menyala di atas piano.
Eve: Va, kamu masih di sekolah?
Aku melihat pesan tersebut, lalu kembali menyesuaikan potongan audio.
Pesan kedua masuk.
Eve: Bisa ketemu sebentar? Aku berantem sama Raka.
Jemari yang berada di atas tombol laptop berhenti.
Aku bisa mengatakan sedang sibuk. Aku bisa menawarkan bertemu besok. Selama tiga hari terakhir, Bu Ratih sudah dua kali mengingatkan batas pengumpulan dan satu kali mengancam memberikan slot penampilanku kepada siswa lain.
Aku: Aku di ruang musik.
Eve: Aku ke sana, ya?
Aku menatap proyek yang belum selesai.
Aku: Iya.
Dua belas menit kemudian, Eve masuk tanpa mengetuk. Wajahnya tidak sembap, tetapi matanya berkilat menahan air. Ia menjatuhkan tas ke kursi dan berdiri di depanku dengan kedua tangan terlipat.
“Raka membatalkan lagi.”
Aku menutup laptop, meski bagian kecil dalam diriku berteriak agar layar itu tetap terbuka.
“Membatalkan apa?”
“Kami mau makan setelah sekolah. Dia bilang ada latihan tambahan.” Eve mengeluarkan ponsel dan menunjukkan percakapan mereka. “Masalahnya bukan latihan. Dia baru bilang lima belas menit sebelum kami ketemu.”
Pesan Raka singkat, tetapi tidak kasar.
Raka: Maaf, Eve. Pelatih baru kasih tahu gue harus gantiin pemain inti. Gue nggak bisa pergi sore ini.
Eve: Kamu selalu bilang mendadak.
Raka: Gue benar-benar nggak bisa ninggalin latihan.
Eve: Ya sudah.
“‘Ya sudah’ bukan berarti ya sudah,” kata Eve.
“Aku tahu.”
“Tapi dia nggak menghubungi lagi.”
“Mungkin dia sedang latihan.”
“Kamu membela dia?”
“Aku menjelaskan kemungkinan.”
Eve berjalan ke jendela. Hujan tipis membasahi kaca, menghasilkan suara yang tadi ingin kugunakan dalam komposisi. Sekarang setiap ketukannya hanya mengingatkanku bahwa waktu terus berjalan.
“Aku cuma ingin dia menganggap waktuku penting,” katanya lebih pelan. “Kalau dari awal bilang nggak bisa, aku nggak akan menunggu.”
Kalimat itu mengenai bagian yang tidak seharusnya disentuhnya.
Aku tahu bagaimana rasanya menunggu seseorang yang tidak sadar sedang ditunggu. Bedanya, Raka baru membuat Eve menunggu satu sore. Aku sudah melakukannya kepada diriku sendiri selama bertahun-tahun.
“Katakan begitu ke dia,” saranku.
“Aku sudah marah.”
“Kamu bilang ‘ya sudah’. Raka bukan penerjemah bahasa tersembunyi.”
Eve menoleh. “Kamu juga cowok. Apa semua cowok memang harus diberi petunjuk lengkap?”
“Aku nggak mewakili organisasi cowok sedunia.”
Meski sedang kesal, ia tertawa kecil. Itu cukup untuk membuatku merasa kedatangannya ke ruang musik tidak sepenuhnya merusak segalanya.
Kami duduk di lantai dekat piano. Eve menyusun ulang pesannya tiga kali. Aku membantunya menghapus kalimat yang terdengar seperti tuduhan dan mempertahankan bagian yang menjelaskan apa yang ia butuhkan.
Pintu terbuka sedikit. Dimas menyembulkan kepala.
“Va, jadi tes suara di aula sekarang?” tanyanya. “Bu Ratih sudah menunggu.”
Aku melihat Eve yang masih memegang ponsel. “Bisa tiga puluh menit lagi?”
“Katanya tadi jam empat.”
“Aku tahu.”
Eve menoleh kepadaku. “Kalau kamu ada janji, pergi saja. Aku bisa sendiri.”
Itu seharusnya menjadi jalan keluar. Eve bahkan memberikannya tanpa marah. Namun, bayangan ia duduk sendirian sambil menunggu balasan Raka membuatku tetap berada di lantai.
“Sebentar lagi selesai,” kataku kepada Dimas.
Dimas melihat laptop tertutup di atas meja, kemudian memandangku. Ia tidak melontarkan lelucon seperti biasa.
“Oke,” katanya. “Gue bilang ke Bu Ratih.”
Pintu menutup kembali. Aku tahu tes suara tidak mungkin dilakukan tiga puluh menit lagi karena aula akan dipakai latihan teater. Tetap saja, aku kembali memperhatikan layar Eve.
Eve: Aku bukan marah karena kamu latihan. Aku kesal karena tahu paling akhir setelah menunggu. Lain kali bilang lebih cepat, meski masih belum pasti. Aku ingin waktuku juga kamu anggap penting.
Raka membalas beberapa menit kemudian.
Raka: Kamu benar. Gue salah karena nunggu kepastian sampai telat bilang. Setelah latihan gue telepon, ya? Gue mau minta maaf dengan benar.
Bahu Eve yang sejak tadi tegang akhirnya turun.
“Dia mengerti,” katanya.
“Karena kamu benar-benar menjelaskan.”
“Terima kasih.”
“Sama-sama.”
Ponsel Eve berdering. Nama Raka muncul di layar.
Ia langsung berdiri dan mengambil tas. “Aku angkat di luar, ya. Biar nggak mengganggu.”
Pintu menutup di belakangnya sebelum aku sempat mengatakan bahwa satu jam terakhir sudah cukup mengganggu.
Ruangan kembali sunyi. Layar laptop meredup. Saat kubuka proyek musik, telingaku tidak lagi mampu membedakan transisi yang bagus dan buruk. Hujan sudah berhenti sehingga aku kehilangan suara yang ingin kurekam ulang.
Dimas kembali beberapa menit kemudian, kali ini tanpa membawa kabel atau alat apa pun.
“Tes suaranya batal,” katanya.
“Maaf.”
“Bukan gue yang harus dengar.” Ia duduk di kursi dekat pintu. “Bu Ratih nanya kenapa lo nggak datang. Gue bilang lo lagi nyelesaiin komposisi.”
Tatapannya jatuh pada timeline audio yang masih berhenti di posisi yang sama seperti satu jam lalu.
“Ternyata nggak,” lanjutnya.
“Eve butuh bantuan.”
“Dan lo?”
“Apa?”
“Nggak butuh bantuan?”
Aku tidak menjawab. Dimas berdiri dan menepuk bahuku satu kali sebelum pergi. Ia tidak menyuruhku meninggalkan Eve atau mengaku. Justru karena itu, pertanyaannya tinggal lebih lama.
Jam menunjukkan pukul lima lewat tiga puluh dua. Bu Ratih akan mengunci gedung seni pukul enam.
Aku mencoba bekerja, tetapi percakapan Eve dan Raka masih berputar di kepalaku. Bukan karena cemburu saja. Ada rasa puas yang memalukan karena Eve datang kepadaku, mendengarkan saranku, dan pergi dalam keadaan lebih tenang.
Aku telah mengorbankan waktu untuknya, lalu memakai rasa dibutuhkan sebagai imbalan.
Menjelang pukul enam, bagian tengah komposisiku justru terdengar lebih buruk daripada sebelumnya.
Keesokan paginya, Bu Ratih mendengarkan hasil yang kubawa di ruang musik. Ia tidak menghentikan lagu di tengah, tetapi wajahnya sudah cukup menjelaskan penilaiannya.
“Bagian pembuka bagus,” katanya setelah suara terakhir menghilang. “Lalu kamu kehilangan arah.”
“Saya bisa perbaiki.”
“Kamu mengatakan itu kemarin.”
Aku menatap tuts piano.
“Alva, kesempatan ini bukan tugas kelas yang bisa dikumpulkan seadanya. Ada siswa lain yang siap dengan karya utuh.” Bu Ratih menggeser laptop kembali kepadaku. “Kalau kamu tidak serius, Ibu harus memberikan slotnya kepada orang lain.”
“Saya serius.”
“Kalau begitu, tunjukkan lewat pilihanmu.”
Kalimat itu terasa lebih besar daripada pembicaraan tentang musik.
Bu Ratih memberiku waktu sampai Jumat sore. Satu kesempatan terakhir. Jika komposisiku belum selesai, namaku dicoret dari festival.
Ketika keluar dari ruang musik, aku menemukan pesan baru dari Eve.
Eve: Aku dan Raka sudah baikan. Makasih sudah selalu ada, Va.
Dahulu, kalimat itu mungkin terasa seperti hadiah.
Namun, di layar laptopku ada komposisi yang tidak selesai. Di aula ada jadwal tes suara yang kulewatkan. Dan di kepala, pertanyaan Dimas masih menunggu jawaban: jika aku selalu tersedia untuk Eve, siapa yang tersisa untuk menjaga hidupku sendiri?
Pagi itu, untuk pertama kalinya, aku mulai melihat harganya.
- 1 Cowok yang Tidak Mungkin Menyukaiku
- 2 Plester di Bingkai Kacamata
- 3 Duo Goddess
- 4 Payung yang Dipakai Berdua
- 5 Senyum Setelah Hujan
- 6 Sahabat yang Selalu Tersedia reading
- 7 Tepuk Tangan dari Kursi Terakhir
- 8 Aku Memilih Berhenti
- 9 Hari Aku Tidak Mencarimu
- 10 Kenalan Lagi
- 11 Tujuh Menit yang Berantakan
- 12 Suara yang Ingin Kusimpan
- 13 Kencan yang Belum Diakui
- 14 Aku Selesai Sebelum Kita Mulai
- 15 Pacar Pertama
- 16 Lima Menit Lagi
- 17 Pacarku Terlalu Sopan
- 18 Senyum yang Bukan Lagi Untukku
- 19 Jadi Kamu Bisa Cemburu
- 20 Lagu untuk Pacarku
- 21 Jangan Jadikan Aku Penonton
- 22 Rumah Tempat Alva Tidak Pernah Mengeluh
- 23 Tempat Helen Boleh Lelah
- 24 Semua Hal yang Tidak Pernah Kulihat
- 25 Kemungkinan yang Sudah Berakhir
- 26 Tidak Ada yang Disembunyikan
- 27 Hari Helen Boleh Meminta Apa Saja
- 28 Jangan Kecilkan Masa Depanmu
- 29 Orang yang Terlambat Melihat
- 30 Lagu yang Dimulai dari Nol