Chapter Three

Duo Goddess

POV Alva

Dua tahun kemudian, semua orang di SMA Arunika mengenal Eve dan Helen sebagai Duo Goddess.

Tidak ada yang tahu siapa yang pertama kali memberi julukan itu. Menurut Dimas, nama tersebut muncul dari akun anonim sekolah setelah foto mereka saat festival seni mendapat ribuan tanda suka. Menurut Helen, julukan itu diciptakan oleh orang yang terlalu banyak menonton drama remaja. Eve justru menganggapnya lucu dan sesekali melambaikan tangan seperti ratu ketika ada yang memanggil mereka dari kejauhan.

Aku tidak pernah memakai julukan itu.

Bagiku, Eve tetap gadis yang membeli teh lemon terlalu manis lalu lupa meminta setengah sirup keesokan harinya. Helen tetap orang yang membawa tiga pulpen tetapi tidak pernah meminjamkan yang tintanya paling nyaman.

“Berhenti melamun dan pegang ujungnya,” kata Helen.

Aku mengangkat sisi kanan spanduk acara amal sekolah. Kami berdiri di depan aula yang enam minggu kemudian akan menjadi tempat Eve menyatakan perasaannya kepada Raka. Saat itu aku belum mengetahui hal tersebut. Masalah terbesarku masih sebatas spanduk yang dipasang miring dan panitia yang berlarian tanpa arah.

“Naik sedikit,” kata Helen.

Aku mengangkatnya.

“Terlalu tinggi.”

“Tadi kamu bilang naik.”

“Aku tidak bilang sampai atap.”

“Selisihnya dua sentimeter.”

Helen turun dari kursi dan menyipitkan mata ke arah spanduk. “Satu setengah.”

“Berarti aku benar.”

Ia menatapku datar. “Sudah tiga tahun kenal kamu dan aku masih belum terbiasa saat kamu mencoba lucu.”

“Aku juga belum terbiasa kamu menganggap semuanya percobaan.”

Sudut bibirnya bergerak tipis. Sebelum ia sempat membalas, tiga siswa kelas sepuluh masuk membawa kardus dekorasi. Dua di antara mereka hampir menjatuhkannya karena sibuk melirik Helen.

Pemandangan seperti itu sudah biasa. Eve dan Helen berjalan melewati koridor, pembicaraan orang-orang melambat. Ada yang menyapa, ada yang berpura-pura tidak melihat, dan ada yang mendadak ingin menjadi panitia hanya karena tahu mereka bertugas di aula.

Aku seharusnya merasa semakin kecil di samping mereka.

Kadang memang begitu.

Namun, Eve tidak pernah membiarkanku berdiri terlalu jauh. Setiap kali ada lingkaran percakapan, ia selalu bergeser sedikit untuk memberiku ruang. Ia melakukannya tanpa sadar, sama seperti bernapas.

“Alva!” serunya dari panggung. “Proyektornya kenapa?”

Aku menyerahkan spanduk kepada Helen dan naik ke panggung. Layar di belakang Eve menampilkan warna biru dengan tulisan NO SIGNAL. Di lantai terdapat laptop, dua kabel HDMI, satu adaptor, dan Kei yang terlihat siap menangis.

“Tadi masih bisa,” kata Kei. “Sumpah, aku cuma pindahin laptop.”

“Kabelnya ikut dipindah?”

“Sedikit.”

Salah satu konektor longgar. Aku mengganti kabel, mengatur ulang sumber gambar, lalu mengetuk sisi adaptor yang terlalu panas. Poster acara muncul kembali.

Kei menepuk kedua tangan. “Penyelamat bangsa.”

“Penyelamat proyektor,” koreksiku.

“Sama pentingnya hari ini.”

Setelah itu, masalah datang bergantian. Mikrofon kedua mati. Daftar penampilan tercetak dengan urutan lama. Kardus donasi menutup pintu darurat. Dimas menghilang saat seharusnya mengambil terminal listrik.

Aku membantu memindahkan kardus, meminjam mikrofon dari ruang musik, lalu mengirim berkas baru ke percetakan Ibu. Helen mengatur ulang jadwal dengan wajah setenang orang yang tidak sedang menahan keinginan membunuh setengah panitia.

Eve berlari dari panggung ke meja registrasi dan kembali lagi. Ia tetap tersenyum kepada semua orang, tetapi langkahnya mulai lebih lambat menjelang siang.

Aku meletakkan sebungkus roti keju dan teh lemon di samping naskahnya.

“Makan,” kataku ketika ia kembali.

Eve melihat makanan itu seperti baru menyadari kebutuhan dasar manusia. “Aku belum bilang lapar.”

“Kamu belum makan sejak pagi.”

“Kok tahu?”

“Kotak bekalmu masih ada di tas.”

Ia membuka sedotan, mencicipi tehnya, lalu tersenyum. “Setengah sirup.”

“Iya.”

“Terbaik.”

Eve mengambil roti dan berlari lagi sebelum sempat menghabiskan gigitan pertama.

Helen berdiri di sebelahku sambil membaca susunan acara yang baru dicetak.

“Punyaku mana?” tanyanya.

“Kamu bilang tidak mau minum dingin sebelum jadi pembawa acara.”

“Benar.”

“Air hangatmu ada di belakang speaker.”

Helen membalik halaman. “Dimas?”

“Kopi hitam. Di meja teknis.”

“Kei?”

“Sudah makan dua pastel.”

Helen akhirnya menatapku. “Kamu memang memperhatikan semua orang.”

“Lebih mudah daripada mendengarkan mereka mengeluh.”

“Tapi kamu selalu menemukan Eve lebih dulu.”

Aku merapikan tumpukan naskah. “Dia paling sering lupa.”

“Begitu.”

Nada Helen tidak menunjukkan apakah ia percaya. Ia tidak melanjutkan karena suara benda jatuh terdengar dari pintu aula.

Salah satu siswa kelas sepuluh tersandung kabel ketika membawa penyangga latar. Besi panjang di tangannya miring ke arah kotak lampu. Seseorang dari luar menangkap ujungnya sebelum menghantam lantai.

Raka Adinata masuk sambil menahan beban penyangga itu dengan satu tangan.

“Kalau mau angkat barang panjang, bagian depan harus ada yang jagain,” katanya kepada siswa tersebut. Ia tidak marah. Ia justru mengambil sisi yang lebih berat dan membantu memindahkannya ke panggung.

Raka belum menjadi kapten basket saat itu, tetapi hampir seluruh sekolah sudah mengenalnya. Tinggi, mudah bicara dengan siapa pun, dan selalu terlihat seperti tahu harus berdiri di mana. Seragam olahraganya basah oleh keringat. Ia datang bersama tiga anggota tim basket untuk mengambil meja lipat, tetapi akhirnya membantu memasang penyangga latar.

Setelah penyangga berdiri, Raka berjalan ke meja teknis dan menunjuk alat perekam di samping laptopku.

“Lo Alva, kan?” tanyanya.

Aku mengangguk.

“Dimas pernah muterin rekaman buatan lo. Yang suara kereta dijadiin musik.”

Aku tidak tahu Dimas memperdengarkan karyaku kepada orang lain. “Masih belum selesai.”

“Tapi keren.” Raka mengambil satu botol air dari kardus timnya, lalu meletakkannya di mejaku. “Tim basket butuh musik pembuka buat pertandingan bulan depan. Kalau lo sempat, boleh gue minta bantuan?”

“Kirim detailnya ke Dimas.”

“Sip. Makasih.”

Tidak ada kesombongan atau nada merendahkan. Ia mengucapkan terima kasih bahkan sebelum aku menyetujui apa pun. Itu membuatku lebih sulit mencari alasan untuk tidak menyukainya.

Ketika Raka kembali mengangkat meja, aku menyadari Eve telah memperhatikan percakapan kami dari sisi panggung. Begitu tatapan kami bertemu, ia mengangkat kedua alis seolah baru menemukan informasi yang sangat berguna.

Eve kembali dari meja registrasi dan berhenti di sampingku.

“Raka ternyata baik, ya,” katanya.

“Memangnya kamu kira dia jahat?”

“Nggak. Cuma kelihatannya susah diajak ngobrol.”

Aku memandang Raka yang sedang tertawa bersama siswa kelas sepuluh. “Kayaknya nggak.”

“Kamu kenal dia?”

“Dimas kadang latihan basket dengannya.”

“Berarti kamu pernah ngobrol?”

“Pernah.”

Eve mengangguk pelan. Matanya masih mengikuti Raka.

Saat itu, rasa tidak nyaman yang muncul di dadaku terlalu kecil untuk disebut cemburu. Aku meyakinkan diri bahwa Eve hanya penasaran. Ia ramah kepada semua orang. Perhatiannya mudah berpindah dan biasanya tidak bertahan lama.

Namun, sepanjang acara, aku menangkapnya melihat ke arah meja tim basket tiga kali.

Malamnya, grup percakapan kami berbunyi ketika aku sedang memeriksa rekaman suara dari aula.

Eve: Va, kamu kenal Raka, kan?

Aku: Sedikit. Kenapa?

Helen: Pertanyaan yang sangat halus.

Eve: Diam dulu, Helen.

Eve: Besok latihan basket selesai jam berapa?

Aku: Biasanya sekitar jam lima.

Helen: Jadwalnya ada di akun sekolah.

Eve: Tapi Alva jawabnya lebih cepat.

Aku menatap kalimat itu lebih lama daripada seharusnya. Kemudian percakapan pribadi dari Eve masuk.

Eve: Kalau aku mau kenalan lebih dekat sama Raka, aneh nggak?

Jari-jariku berhenti di atas layar.

Ada banyak jawaban yang bisa kuketik. Kamu baru mengenalnya. Dia mungkin tidak tertarik. Kenapa harus Raka? Atau kalimat paling jujur yang selama ini tidak pernah berani kukirim: karena aku ingin kamu melihatku.

Aku tidak memilih satu pun.

Aku: Nggak aneh.

Tiga titik muncul hampir seketika.

Eve: Kalau begitu, bantu aku, ya? Kamu kan gampang ngobrol sama Dimas. Mungkin nanti kita bisa nonton latihan mereka bareng atau apa gitu.

Aku menatap foto profil Eve—wajahnya dan Helen di depan panggung festival seni—lalu melihat pantulan diriku sendiri pada layar yang gelap di sekelilingnya.

Aku tahu seharusnya aku menolak.

Namun, menolak berarti Eve mungkin berhenti datang kepadaku untuk hal-hal yang dianggapnya penting. Menolong berarti aku masih memiliki alasan untuk tetap berada di dekatnya.

Pada usia delapan belas tahun, aku belum memahami bahwa bertahan di dekat seseorang bisa menjadi cara paling lambat untuk menyakiti diri sendiri.

Aku: Oke. Aku bantu.