Chapter Nine
Nyaris
POV: Adrian Pramudya · (Arc 1 — Kampus)
Takdir, ternyata, punya selera humor yang buruk. Setelah berbulan-bulan aku berhasil menjaga jarak dengan disiplin seorang penjaga menara, ia memutuskan untuk menaruh Freya dan aku di ruangan yang sama—dan menyuruhku bekerja untuknya.
Semuanya karena keahlianku. Panitia seminar akbar antarfakultas kekurangan orang teknis: proyektor rewel, sound system yang kadang mengamuk, laptop presentasi yang harus disambungkan ke entah berapa perangkat. Salah satu dosenku merekomendasikan namaku—“Adrian mah beres, dia bisa benerin apa aja”—dan karena panitia menjanjikan honor yang lumayan, aku tidak dalam posisi untuk menolak uang yang menghampiri sukarela.
Maka jadilah aku, sore itu, jongkok di belakang panggung aula besar, di antara kabel-kabel yang kusut seperti mi instan, mengurus agar acara berjalan lancar dari balik layar. Tempat yang pas untukku. Aku memang selalu paling nyaman di balik layar.
Reza, yang entah bagaimana ikut jadi “asisten teknis” meski kontribusinya nol koma sekian, jongkok di sampingku sambil memakan keripik. “Kamu tahu nggak,” katanya, “acara ini yang ngisi dari berbagai fakultas. Termasuk—“ ia menaikkan alis, “—Hukum.”
“Aku nggak nanya.”
“Kamu nggak perlu nanya. Aku kasih gratis.” Ia mengunyah. “Katanya ada perwakilan mahasiswa yang bakal naik panggung baca pernyataan sikap atau apa gitu. Aku nggak dengerin detailnya. Tapi aku dengerin siapa orangnya.”
Aku menahan diri untuk tidak bertanya. Aku menahannya selama tiga detik yang heroik. Lalu aku kalah. “Siapa?”
Reza menyeringai penuh kemenangan. “Nah. Baru dua detik lalu kamu bilang nggak nanya.”
“Reza.”
“Freya Calista.” Ia menepuk bahuku. “Dunia ini kecil, Yan. Atau takdir yang sengaja bikin kecil buat kamu. Salah satu.”
Sebelum aku sempat membalas, sound system memutuskan untuk mengamuk. Tepat saat MC membuka acara dengan penuh percaya diri—“Selamat datang, hadirin sekalian!”—mikrofon melengking, feedback menusuk telinga seisi aula, dan ratusan orang serempak meringis sambil menutup kuping.
“KABEL!” desisku pada Reza. “Yang XLR! Cabut yang tengah!”
Reza panik, meraih segenggam kabel sekaligus. “Yang mana?! Semua tengah! Ini semua kabel kembar identik!”
“Yang warna—“ aku sudah merangkak melewatinya, “—minggir, Za, kamu bukan bantuan, kamu hiasan.”
Aku mencabut satu jack, mencolok yang lain, memutar satu tombol, dan dalam empat detik feedback itu mati. Aula menghela napas lega. MC melanjutkan seolah tidak baru saja hampir memecahkan gendang telinga tiga ratus orang. Dan Reza, masih memegang segepok kabel yang salah, menatapku dengan kagum yang tidak pantas ia dapatkan. “Kamu keren pas panik gitu.”
“Aku nggak panik. Kamu yang panik.”
“Makanya keren. Kontras.”
Aku kembali ke posisiku, jantung masih berdegup dari adrenalin kecil itu, dan berpikir bahwa mungkin inilah tempatku yang sebenarnya: yang menyelamatkan acara dari balik layar, yang tak terlihat, yang membuat semuanya berjalan tanpa pernah naik ke panggung. Aku memang selalu paling nyaman di balik layar.
Dan benar saja. Ketika acara kembali tenang, ketika satu per satu perwakilan naik menyampaikan bagiannya, tibalah namanya dipanggil. Aku, yang seharusnya fokus pada monitor dan level audio, mendapati seluruh perhatianku berpindah ke panggung tanpa izin.
Freya berdiri di podium. Dan seluruh aula—aula yang tadinya berisik oleh ratusan mahasiswa yang setengah memperhatikan—perlahan menenang. Bukan karena ada yang menyuruh diam. Tapi karena begitu ia mulai bicara, suaranya jernih dan tenang, dan orang-orang secara naluriah berhenti berbisik untuk mendengarkan. Aku melihat mahasiswa di barisan depan yang tadinya sibuk dengan ponsel menaruh ponselnya. Aku melihat panitia di sisi panggung berhenti berlalu-lalang. Aku melihat, bahkan, MC yang tadinya gelisah menunggu gilirannya jadi ikut terpaku.
Ia tidak melakukan trik apa pun. Ia cuma bicara—soal sesuatu yang serius, hak dan keadilan dan entah apa, aku tidak sepenuhnya menangkap isinya karena aku terlalu sibuk menangkap caranya. Cara ia berhenti di tempat yang tepat. Cara ia menatap ke seluruh ruangan seolah bicara pada satu orang. Cara tangannya, yang kutahu kidal, memegang tepi podium.
Dan untuk pertama kalinya aku melihat sisi Freya yang bukan cahaya diam di perpustakaan, bukan tawa lepas di kantin, bukan sosok kedinginan di bawah hujan. Ini Freya yang punya suara. Yang punya isi. Yang, kalau berdiri di tempat yang tepat, bisa membuat ratusan orang lupa pada apa pun selain kata-katanya.
Aku semakin yakin akan satu hal yang sudah lama kuyakini: ia terlalu jauh. Bukan cuma jauh di dunia. Jauh di langit.
Reza, di sampingku, ikut terdiam menonton—hal yang sangat langka. Setelah Freya turun panggung dan tepuk tangan mereda, ia berbisik, “Yan. Orang kayak gitu tuh, sekali seangkatan mungkin ada satu. Yang bisa bikin ruangan diam bukan karena teriak, tapi karena ngomong.” Ia menoleh padaku, dan untuk sekali ini tidak ada seringai di wajahnya. “Dan kamu tiap hari milih diem. Sayang banget.”
Aku tidak menjawab. Karena ia benar, dan karena ia juga tidak tahu bahwa “sayang banget” itu bukan pilihan yang kubuat dengan ringan—itu pilihan yang kubuat setiap hari, ulang-ulang, dengan harga yang tak pernah kutunjukkan pada siapa pun.
Masalah datang ketika acara selesai.
Ada kekacauan teknis kecil—kabel proyektor tersangkut, dan aku harus merangkak di belakang panggung untuk melepasnya. Ketika aku muncul kembali, membawa gulungan kabel di tangan, aku hampir menabrak seseorang yang berjalan turun dari panggung lewat pintu samping.
Freya.
Kami berhenti, wajah berhadapan, jarak kurang dari satu langkah. Terlalu dekat. Jauh lebih dekat dari dua deret meja perpustakaan, jauh lebih dekat dari meja kasir kedai. Sedekat ini, aku bisa melihat bahwa matanya bukan sekadar cokelat, tapi cokelat dengan bintik-bintik lebih terang di dekat pupil. Sedekat ini, aku bisa mencium samar wangi entah apa—bukan parfum mahal, sesuatu yang lebih sederhana, sabun mungkin—yang justru karena sederhana membuatku susah bernapas.
“Eh—maaf,” katanya, sedikit terkejut.
“Maaf,” kataku bersamaan.
Lalu ada jeda. Jeda kecil yang, entah kenapa, tidak buru-buru diisi olehnya. Ia menatapku—benar-benar menatapku, bukan menatap latar, bukan menatap “Mas” atau petugas teknis, tapi menatap seolah ada sesuatu di wajahku yang sedang ia coba cocokkan dengan sesuatu di ingatannya. Alisnya berkerut samar. Bibirnya sedikit terbuka, seakan hendak berkata sesuatu—bukan basa-basi, sesuatu yang lain.
Dan selama satu detik yang panjangnya seperti satu abad, aku merasa—yakin, hampir—bahwa ia sedang menunggu. Menunggu aku bicara. Menunggu aku bilang sesuatu. Seolah ada pertanyaan yang menggantung di antara kami dan ia memberiku kesempatan untuk menjawabnya.
Mulutku terbuka.
Kalimat itu ada di sana. Aku bisa merasakannya di ujung lidah—sesuatu, apa saja, sebuah awal. “Tadi bagus, pidatonya.” Atau bahkan cuma, “Halo.” Sebuah pintu. Ia sedang menahannya terbuka untukku, aku bisa merasakannya, dan yang perlu kulakukan hanyalah melangkah masuk.
Lalu logikaku bangun, seperti penjaga yang ketiduran lalu tersentak. Untuk apa? Kamu mau bilang apa? Terus setelah itu apa? Kamu punya waktu buat “setelah itu”? Kamu punya tempat di dunianya? Kamu mau menyeretnya ke gang sempit dan mesin jahit dan saldo seratus dua puluh tiga ribu? Tutup mulutmu sebelum kau menghancurkan satu-satunya hal indah yang kausimpan dengan aman.
Aku menutup mulutku.
Aku menunduk. “Permisi,” gumamku, dan melangkah melewatinya, membawa gulungan kabelku, membawa pengecutku, membawa satu kesempatan yang tak akan pernah datang persis seperti itu lagi.
Aku tidak menoleh. Tapi aku bisa merasakan tatapannya di punggungku sampai aku berbelok, dan dalam tatapan itu ada sesuatu yang, kalau aku berani menerjemahkannya, akan terdengar seperti kekecewaan. Seperti seseorang yang menahan pintu terbuka cukup lama, lalu terpaksa melepaskannya karena tidak ada yang masuk.
Aku berjalan sampai ke ruang penyimpanan alat, menutup pintu, dan bersandar di dinding dengan gulungan kabel masih di tangan. Jantungku memukul-mukul, bukan karena adrenalin kali ini, tapi karena sesuatu yang lebih buruk: penyesalan yang datang seketika, panas, dan tak bisa ditarik kembali.
Kenapa tadi cuma “permisi”.
Aku memutar ulang momen itu di kepala—tatapannya, jeda itu, bibir yang setengah terbuka—dan setiap kali kuputar ulang, semakin jelas bahwa itu bukan tatapan orang pada orang asing. Itu tatapan orang yang mengenali sesuatu. Atau ingin mengenali. Dan aku, dengan sempurna, dengan disiplin bertahun-tahun, telah menutup pintu itu tepat di depan wajahnya.
Aku bilang pada diriku itu keputusan yang benar. Aku mengulanginya seperti mantra. Tapi mantra hanya bekerja kalau kau memercayainya, dan malam itu, untuk pertama kalinya, aku kesulitan.
Malam itu Reza bertanya kenapa mukaku kusut. Aku bilang capek. Ia tidak percaya, tapi ia tidak memaksa—untuk sekali ini. Ia cuma menyodorkan setengah keripiknya, diam-diam, cara dia biasa menyodorkan roti, dan kami pulang tanpa banyak bicara.
Aku tidak menceritakan padanya bahwa hari itu, untuk sepersekian detik, sebuah pintu terbuka, dan aku memilih berdiri di luar. Aku tidak menceritakan bahwa penyesalan, ternyata, punya rasa yang sangat spesifik: seperti kalimat yang tidak jadi diucapkan, membusuk pelan-pelan di dalam mulut, terus terasa berhari-hari setelahnya.
Aku cuma pulang, menjaga ibu, mengerjakan tenggat, dan berkata pada diriku bahwa aku sudah melakukan hal yang benar—hal yang aman, hal yang bertanggung jawab, hal yang tidak akan menyeret siapa pun ke dalam kesulitanku.
Aku hampir memercayainya. Tapi “hampir”, belakangan aku sadar, adalah jarak terjauh yang pernah kutempuh.
- 1 Orang yang Tak Punya Waktu
- 2 Cahaya yang Tak Boleh Dikejar
- 3 Aturan Main
- 4 Kebaikan Tanpa Nama
- 5 Dua Dunia
- 6 Kompor Bernama Reza
- 7 Satu Payung
- 8 Beban yang Tak Diceritakan
- 9 Nyaris reading
- 10 Cukup
- 11 Empat Tahun Kemudian
- 12 Nama di Daftar Onboarding
- 13 Bidadari yang Sama
- 14 Protokol Jarak
- 15 Kopi yang Terlalu Pas
- 16 Meja yang Mendekat
- 17 Error di Sini, Sayang
- 18 Wangi yang Salah
- 19 Orang Ketiga
- 20 Cemburu yang Tak Diakui
- 21 Tugas ke Singapura
- 22 Makan Malam "Urusan Kerja"
- 23 Retak yang Ditunjukkan
- 24 Pulang Bawa Perasaan
- 25 Adrian Balik Menyerang
- 26 Sejarak Senti
- 27 Empat Tahun
- 28 Cukup, Katanya
- 29 Cinta yang Manis
- 30 Sejauh Nol Meja