← Cukup Memandang, Katanya

Chapter Twenty Four

Pulang Bawa Perasaan

POV: Freya Calista · (Arc 2 — Dunia Kerja · sudut pandang dijaga)


Ada hal-hal yang tidak bisa kembali seperti semula setelah kaulihat. Aku sudah melihat Adrian menangis. Aku sudah memeluknya sampai bergetar reda. Aku sudah mendengar tiga kata yang, aku yakin, belum pernah ia berikan pada siapa pun: aku capek jadi kuat terus. Dan sekarang, kembali di Jakarta, di kantor yang sama, di antara meja-meja dan lampu neon dan dengung AC yang sama—aku tidak bisa lagi berpura-pura ia cuma rekan kerja yang kebetulan kusukai.

Ia terbang pulang pagi itu, meninggalkanku menyelesaikan rapat hari kedua sendirian. Ibunya, syukurlah, ternyata memang cuma kelelahan dan tekanan darah—dirawat sehari, lalu pulang, sekarang sudah kembali menanam cabai dan protes ketika Adrian melarangnya menjahit. Aku tahu ini karena Adrian mengabariku. Sendiri. Tanpa kutanya.

Itu sendiri sudah sebuah keajaiban kecil. Adrian Pramudya, yang butuh empat tahun bahkan untuk kuajak bicara, mengirimiku pesan dari rumah sakit: ”Ibu udah stabil. Makasih buat kemarin malam. Aku... nggak tahu harus bilang apa. Tapi makasih.” Lalu, dua menit kemudian, seolah ia menyesali kelembutan itu: ”Rapat hari kedua gimana? Ada yang perlu aku follow up?”

Aku tersenyum ke layar ponselku di kamar hotel Singapura yang sepi. Bahkan ketika ia berterima kasih atas hal paling rentan dalam hidupnya, ia buru-buru menyelipkan pertanyaan soal kerjaan, seperti orang yang lupa cara berdiri di ruang terbuka tanpa memegang sesuatu.

Makasih buat kemarin malam.

Aku menyimpan pesan itu. Aku menyimpan semua pesannya. Kebiasaan lama—menabung serpihan seseorang, satu per satu, seperti orang miskin menabung receh. Kami ternyata sama dalam hal itu juga, aku dan Adrian: dua orang yang mencintai dengan cara menyimpan hal-hal kecil, diam-diam, di tempat yang tak seorang pun lihat.


Yang berubah setelah Singapura bukan hal besar. Tidak ada pengumuman, tidak ada perubahan status, tidak ada percakapan “jadi kita ini apa”. Yang berubah adalah hal-hal kecil—dan justru karena kecil, terasa lebih nyata daripada pernyataan besar mana pun.

Adrian mulai membalas.

Bukan menggebrak. Membalas. Kalau aku bawakan kopi, ia—untuk pertama kalinya—kadang membawakanku balik, “kebetulan lewat pantry”. Kalau aku lembur, ia yang belum pulang juga, “kebetulan ada yang harus diselesaikan”, padahal aku tahu ia bisa mengerjakannya dari rumah. Kalau aku duduk terlalu dekat, ia tidak lagi menjauh satu senti seperti dulu; ia tetap di tempat, meski telinganya masih memerah dengan setia.

Dan aku, yang selama ini jadi satu-satunya penggerak, tiba-tiba menemukan bahwa aku tidak lagi mendorong tembok. Aku sedang disambut, pelan-pelan, dari sisi lain.

Itu membuatku berani. Mungkin terlalu berani.

Aku mulai memanfaatkannya dengan cara-cara kecil yang tak tahu malu. “Adrian, anterin aku ke halte, dong—gerimis, aku nggak bawa payung.” Padahal aku bisa pesan ojek. Padahal aku tahu persis apa artinya kalimat “aku nggak bawa payung” bagi laki-laki ini. Aku melihat sesuatu berkedip di matanya ketika kuucapkan kata “payung”—sesuatu yang tak sempat kubaca—sebelum ia mengangguk dan mengambil payung besar dari kolong mejanya. Ia mengantarku, memayungi kami berdua, dan sepanjang jalan pendek itu aku sengaja berjalan cukup dekat sampai bahu kami bersentuhan, dan ia tidak menjauh.

Aku mulai menelepon malam-malam. Dengan alasan, tentu saja—selalu dengan alasan. “Adrian, si klausul indemnity yang tadi, maksudnya gimana ya?” Padahal aku sudah paham klausul itu sejak siang. Padahal yang sebenarnya kubutuhkan cuma mendengar suaranya sebelum tidur, suara serak dan pelan yang menjawab pertanyaan-pertanyaan palsuku dengan kesabaran yang tak pernah ia sadari sedang ia berikan pada sesuatu yang bukan soal kerja. Kadang obrolan “kerja” itu melebar—ke ibu, ke Kayla, ke hal-hal kecil—dan berlangsung satu jam, dua jam, sampai salah satu dari kami ketiduran dengan telepon masih menyala.

Ia tahu. Aku yakin ia tahu klausul-klausul itu cuma alasan. Tapi ia tidak pernah memanggilku ketahuan. Ia membiarkanku punya alibiku, sama seperti dulu aku membiarkannya punya “aku ketiduran, maaf”. Kami dua orang yang saling memberi jalan keluar, supaya bisa terus mendekat tanpa harus mengakui bahwa kami sedang mendekat.

Suatu sore, kantor sudah setengah kosong, dan Adrian berdiri di depan jendela besar dekat mejanya, menatap kota dengan secangkir kopi, dalam salah satu momen diamnya yang aku tahu artinya: ia sedang memikirkan sesuatu yang berat. Ibu, mungkin. Atau kami. Atau entah apa.

Dan sebelum otakku sempat menyusun sepuluh alasan untuk tidak melakukannya, kakiku sudah membawaku ke sana, dan tanganku sudah melingkari pinggangnya dari belakang, dan pipiku sudah menempel di punggungnya.

Backhug. Di kantor. Aku, yang katanya perempuan paling terkendali.

Ia menegang—tentu saja menegang—dan aku merasakan napasnya tertahan. Selama satu detik yang panjang, aku takut aku telah melangkah terlalu jauh, terlalu cepat, dan ia akan menarik diri, memasang tembok, mengubah semuanya kembali jadi canggung.

Ia tidak menarik diri.

Perlahan—sangat perlahan—aku merasakan tangannya turun, menyentuh tanganku yang melingkari pinggangnya, dan berhenti di sana. Tidak melepaskan. Tidak menggenggam penuh. Cuma menyentuh, ragu-ragu, seperti orang yang menyentuh sesuatu yang ia tak yakin diizinkan menyentuh, tapi terlalu ingin untuk melepaskan.

“Freya,” katanya pelan, suaranya serak. “Kamu lagi ngapain?”

“Meluk kamu,” kataku, pipi masih di punggungnya, suaraku teredam. “Kayaknya jelas, deh.”

Aku merasakan dadanya bergerak—tawa kecil, tertahan, yang membuat sesuatu di dalamku menghangat sampai ke ujung jari. “Ini kantor,” katanya, tapi tanpa tenaga, tanpa penolakan sungguhan.

“Udah kosong. Dan aku capek pura-pura, Adrian.” Kalimat itu keluar lebih jujur dari yang kurencanakan, dan aku membiarkannya keluar, karena setelah Singapura, aku tidak lagi punya banyak pura-pura tersisa. “Sebentar aja. Lima menit. Boleh?”

Aku merasakan detak jantungnya di punggung, di pipiku—cepat, jauh lebih cepat dari yang ditunjukkan ketenangan luarnya. Itu selalu jadi hal favoritku tentang Adrian: betapa tenang ia terlihat di luar, dan betapa keras jantungnya bekerja di dalam. Seluruh dirinya adalah kontradiksi yang berjalan—tembok di permukaan, badai di dalam—dan aku sudah menghabiskan bertahun-tahun jatuh cinta pada badai yang ia kira berhasil ia sembunyikan.

Ia diam lama. Lalu tangannya yang tadi cuma menyentuh, akhirnya menggenggam tanganku—benar-benar menggenggam, jari-jarinya di sela jari-jariku—dan menahannya di sana, di depan dadanya, seolah menjaganya agar tidak pergi.

“...Boleh,” katanya akhirnya, nyaris berbisik. Lalu, lebih pelan lagi, hampir tak terdengar, seolah ia sendiri kaget mengucapkannya: “Nggak usah lima menit. Nggak usah dibatasin.”

Dan kami berdiri di sana, di kantor yang setengah gelap, menghadap kota yang mulai menyalakan lampu-lampunya, aku memeluknya dari belakang dan dia menggenggam tanganku di depan dadanya, tidak mengatakan apa-apa lagi, karena tidak ada yang perlu dikatakan.


Malam itu aku menelepon Nadine, dan aku tahu suaraku terdengar seperti orang gila.

“Nadine. Dia nggak nolak. Aku peluk dia dari belakang di kantor dan dia malah gandeng tanganku.”

“Ya ampun. Akhirnya.” Aku bisa mendengar Nadine tersenyum di ujung sana. “Jadi kalian udah jadian?”

“...Belum.”

“Freya.”

“Belum ngomong apa-apa. Cuma... gitu. Dekat. Tapi belum ada yang bilang apa-apa.”

Nadine menghela napas panjang. “Frey. Kalian berdua ini juara dunia mendekat tanpa ngomong. Sampai kapan?”

Dan di situlah pertanyaan yang sudah menghantuiku sejak Singapura kembali menyeruak, pertanyaan yang membuat semua kebahagiaan kecil ini terasa seperti berdiri di atas es tipis:

Sampai kapan aku bisa terus begini tanpa memberitahunya yang sebenarnya?

Karena inilah masalahnya. Adrian mulai jatuh. Aku bisa merasakannya, di genggaman tangannya, di telinganya yang memerah, di cara ia tidak lagi menjauh. Ia mulai jatuh cinta pada perempuan yang membawakannya kopi dan memeluknya di tepi sungai.

Tapi perempuan itu punya rahasia. Perempuan itu tidak muncul di kantornya secara kebetulan. Perempuan itu tahu hal-hal yang seharusnya tidak ia tahu, sudah menyimpan perasaan lebih lama dari yang bisa Adrian bayangkan, sudah membangun jalan yang panjang dan sengaja untuk sampai ke ruang serbaguna itu di hari pertamanya.

Dan setiap hari aku tidak memberitahunya, fondasi yang kami bangun jadi sedikit lebih indah—dan sedikit lebih bohong.

“Aku harus cerita ke dia, Nadine,” kataku pelan. “Sebelum ini jadi lebih jauh. Dia berhak tahu siapa yang sebenarnya dia sukai. Semuanya. Dari awal.”

“Terus kenapa belum?”

Aku menatap langit-langit kamarku, ke arah tempat, bertahun-tahun lalu, aku pernah menyandarkan sebuah payung reyot dan berbisik janji pada sosok tak berwajah.

“Karena aku takut,” kataku jujur. “Takut begitu dia tahu seberapa jauh aku ngejar dia, dia bakal ngerasa... kebanyakan. Takut aku ngerusak sesuatu yang baru mulai indah. Takut dia mundur.” Aku menelan. “Tapi aku lebih takut lagi kalau dia jatuh cinta sama versi diriku yang nggak lengkap, dan baru tahu sisanya pas udah terlambat.”

Nadine diam sebentar. Lalu, lembut: “Kalau dia beneran orang yang kamu ceritain selama ini, Frey—orang yang ngasih payung terus pergi, orang yang nangis karena capek jadi kuat—kamu pikir dia bakal lari denger ada yang milih dia sekuat itu? Atau dia bakal nangis lagi, karena akhirnya ada yang milih dia duluan?”

Aku tidak menjawab. Tapi malam itu, untuk pertama kalinya, aku memutuskan sesuatu:

Aku akan memberitahunya. Segera. Semuanya.

Aku cuma butuh momen yang tepat—dan keberanian yang, ironisnya, jauh lebih sulit kukumpulkan untuk berkata jujur daripada untuk memeluknya dari belakang di kantor kosong.