Chapter Thirty
Sejauh Nol Meja
POV: Adrian Pramudya, lalu Freya Calista · (Arc 2 — Dunia Kerja · Epilog)
Setahun kemudian, aku masih bangun jam empat pagi.
Bedanya, sekarang ada seseorang yang menggumam protes ketika alarmku berbunyi, menarik selimut lebih tinggi, dan berkata dengan suara serak setengah tidur, “Adrian, ini hari Minggu. Servernya nggak akan mati kalau kamu bangun jam tujuh.” Lalu, tanpa membuka mata, ia menarik lenganku kembali ke tempat tidur, dan aku—yang seumur hidup tak pernah bisa berhenti, tak pernah bisa tinggal—menemukan bahwa aku bisa. Bahwa tinggal, ternyata, adalah keterampilan yang bisa dipelajari, kalau ada alasan yang cukup baik untuk mempelajarinya.
Freya adalah alasan yang cukup baik.
Kami sudah setahun bersama, dan setiap hari aku masih sedikit takjub bahwa ini nyata. Kami masih sekantor—meski Gilang sudah mengajukan permohonan resmi (dengan bagan, tentu saja) agar HR “memindahkan meja mereka lebih jauh karena tingkat kemesraan sudah mengganggu produktivitas nasional”. Kami masih bertengkar soal hal-hal kecil, masih saling menggoda, masih menemukan hal baru untuk dicintai dan sesekali diomeli. Hidup biasa. Hidup yang, bagi seorang anak yang dulu mengira cinta adalah kemewahan yang tak sanggup ia beli, terasa seperti keajaiban yang berlangsung setiap hari.
Tapi ada satu hal yang belum kulakukan. Satu hal yang, bagi orang sepertiku, adalah lompatan paling menakutkan dari semuanya.
Aku belum berani menjanjikan masa depan.
Karena masa depan, seumur hidupku, adalah kata yang berbahaya. Masa depan adalah “nanti”—dan “nanti” adalah kata Bapak, kata yang tak pernah ia tepati, kata yang membuatku belajar sejak umur tujuh tahun untuk tidak pernah menaruh hati pada sesuatu yang harus ditunggu. Aku tidak takut mencintai Freya hari ini. Aku takut menjanjikannya besok, karena aku tahu betapa mudahnya besok direbut.
Butuh waktu lama—dan satu percakapan dengan ibu di dapur kecilnya—untuk aku mengerti sesuatu.
“Bapakmu bukan nggak nepatin janji, Yan,” kata ibu, suatu sore, sambil mengiris bawang. “Bapakmu kehabisan waktu. Beda. Dia mau banget ke pantai sama kamu. Dia ngumpulin waktu buat itu. Cuma waktunya keburu habis.” Ia menatapku. “Kamu selama ini takut janji karena kamu pikir janji itu bohong yang nunggu ketahuan. Padahal janji itu bukan jaminan besok bakal ada. Janji itu cara bilang: selama aku masih punya besok, besok itu buat kamu.”
Malam itu aku tidak bisa tidur. Dan pagi berikutnya, aku membeli cincin.
Aku merencanakannya selama berminggu-minggu—kebiasaan lama, tapi untuk hal yang paling benar yang pernah kulakukan. Dan ketika hari itu tiba, semesta, yang punya rasa humor paling konsisten di alam raya, mengirimkan hujan.
Tentu saja hujan.
Aku mengajak Freya ke tempat yang sama—kanopi di depan gedung apartemennya, tempat setahun lalu ia membentangkan empat tahun hidupnya di antara kami. Dan ketika kami sampai, dan hujan turun deras seperti malam itu, aku mengeluarkan sesuatu dari tasku.
Payung lipat butut. Warna biru pudar. Satu jarinya patah.
Freya menatapnya, lalu menatapku, dan aku melihat matanya mulai berkaca sebelum aku sempat berkata apa-apa.
“Aku minta izin nyimpen ini dari kamu, beberapa bulan lalu,” kataku, membukanya. Ia terbuka, seperti selalu, sedikit miring ke kiri, pincang dan reyot dan sempurna. “Kamu nyimpen payung ini empat tahun, nungguin aku. Sekarang giliran aku yang nyimpennya. Tapi bukan buat nungguin. Buat inget.”
Aku mengangkat payung itu di atas kepala kami berdua, keluar ke tepi hujan, persis seperti yang ia lakukan setahun lalu.
“Dulu di sini, kamu bilang kamu capek nungguin aku maju. Dan aku bilang aku capek jadi orang yang ngasih payung terus lari.” Suaraku bergetar, tapi aku tidak berhenti, karena untuk sekali ini aku tidak akan membiarkan ketakutan menang. “Aku seumur hidup takut janjiin masa depan, Freya. Karena buat aku, ‘nanti’ itu kata yang selalu direbut. Bapak bilang ‘nanti kita ke pantai’, dan nanti itu nggak pernah dateng. Jadi aku berhenti percaya sama ‘nanti’. Aku cuma berani hidup di hari ini.”
Aku berlutut. Di tepi hujan, di bawah payung pincang, di trotoar basah di depan gedung apartemennya.
“Tapi ibu ngajarin aku sesuatu. Janji itu bukan jaminan besok bakal ada. Janji itu cara bilang: selama aku masih punya besok—semua besok yang aku punya—besok itu buat kamu.” Aku membuka kotak kecil itu, tanganku gemetar, hujan dan air mata dan seluruh empat tahun berkumpul di satu titik. “Aku nggak bisa janji waktu nggak bakal ngerebut apa-apa dari kita. Nggak ada yang bisa. Tapi aku bisa janji satu hal: setiap ‘nanti’ yang aku punya, mulai sekarang, aku mau habisin sama kamu. Nggak ada yang aku itung lagi. Nggak ada yang aku simpen buat musim kering. Semuanya, semua besokku, buat kamu.”
“Freya Calista. Kamu udah jalan empat tahun buat sampai ke aku. Biar sisa hidupku, aku yang jalan buat sampai ke kamu. Mau nikah sama aku?”
⟡ Sisi Freya
POV: Freya Calista
Empat tahun lalu, aku berdiri di seberang lapangan wisuda dan berbisik sebuah janji pada punggung yang tak mendengar.
Aku tidak pernah memberitahu siapa pun kata-kata persisnya. Bahkan tidak Nadine. Karena kata-kata itu terlalu telanjang, terlalu mustahil, terlalu memalukan untuk diucapkan keras-keras oleh seorang gadis waras. Yang kubisikkan hari itu, menatap Adrian bersiap menghilang dari hidupku, adalah ini:
Aku nggak tahu caranya. Aku nggak tahu butuh berapa lama. Tapi suatu hari, aku bakal berdiri di deket kamu—cukup deket buat kamu akhirnya berani—dan aku bakal bikin kamu ngomong duluan.
Empat tahun aku menyimpan bisikan itu seperti Adrian menyimpan recehan momen. Aku membangun karier di atasnya. Aku menolak firma-firma di atasnya. Aku menembus satu perusahaan di atasnya. Aku duduk empat meter darinya, membawakannya kopi, memeluknya di tepi sungai, semuanya di atas satu bisikan mustahil di seberang lapangan wisuda.
Dan sekarang, di tepi hujan, di bawah payung reyot yang kusimpan bertahun-tahun, laki-laki itu berlutut di depanku, membuka kotak cincin, dan—setelah empat tahun aku yang selalu maju, aku yang selalu bicara, aku yang selalu berani lebih dulu—akhirnya, akhirnya, ngomong duluan.
Bisikanku terwujud. Setiap kata.
Aku tidak bisa menjawab dulu. Aku terlalu sibuk menangis, tangis yang jelek dan penuh dan sama sekali tidak anggun, tangis empat tahun yang tumpah sekaligus. Adrian menunggu di bawah hujan, berlutut, basah, cemas—dan aku melihat kilatan ketakutan lama di matanya, ketakutan orang yang selalu yakin ia tak layak—jadi aku menariknya berdiri sebelum ia sempat salah paham, dan aku mengambil wajahnya dengan kedua tanganku, dan aku berkata di antara isak dan hujan:
“Bodoh. Tentu aja iya. Iya. Aku udah bilang iya empat tahun lalu, di seberang lapangan, kamu aja yang telat denger.”
Dan ia tertawa—tawa yang jarang, tawa yang harus ditunggu, tawa yang sekarang jadi milikku selamanya—dan menciumku di bawah payung pincang, di tengah hujan, dengan cincin yang dingin di jariku dan seluruh masa depan terbentang di depan kami seperti kota yang baru menyalakan lampu-lampunya.
“Kamu tahu,” bisiknya di antara ciuman, dahi menempel di dahiku, “empat tahun aku pikir kamu terlalu jauh buat aku. Terlalu terang. Terlalu nggak mungkin.”
“Dan sekarang?”
“Sekarang kamu bakal jadi istriku.” Ia menggeleng pelan, takjub, seolah masih tak percaya kata itu boleh keluar dari mulutnya. “Dari ‘terlalu jauh’ jadi ‘seumur hidup’. Aku nggak akan pernah ngerti gimana caranya. Tapi aku nggak akan berhenti bersyukur.”
Kami menikah di musim kemarau, supaya tidak ada yang mengira kami terlalu suka drama hujan.
Ibu menjahit gaunku sendiri—bersikeras, meski aku bilang ia tak perlu—dan menangis di setiap fitting. Kayla jadi pendampingku dan memberi “diagnosis” dalam pidatonya bahwa kakaknya “sembuh total dari penyakit kronis bernama menyimpan segalanya sendirian, dengan obat bernama Freya, dosis: seumur hidup”. Gilang menangis lebih keras dari siapa pun dan mengaku ia sudah “menyimpan pidato ini sejak hari mereka duduk empat meter berjauhan”.
Dan di meja keluarga, di pesta kecil kami, ada satu kursi yang sengaja dikosongkan—untuk seseorang yang tak lagi ada, yang “nanti”-nya keburu habis, tapi yang anaknya, hari ini, akhirnya belajar bahwa beberapa “nanti” bisa kaubangun sendiri kalau kau cukup berani berhenti lari.
Payung pincang itu kami simpan. Dibingkai, digantung di dinding rumah kami, warna birunya makin pudar tapi jarinya yang patah tetap membuatnya miring ke kiri, tetap tak sempurna, tetap—bagi kami berdua—paling indah dari semua payung di dunia.
Kadang, di pagi-pagi hari Minggu, ketika hujan turun dan Adrian akhirnya belajar tidur sampai jam tujuh, aku menatap payung itu di dinding dan mengingat seorang gadis di seberang lapangan yang bersumpah sesuatu yang mustahil, dan seorang anak lelaki yang mengira memandang dari jauh sudah cukup.
Ternyata kami berdua salah tentang satu hal, dan benar tentang satu hal.
Kami salah bahwa memandang dari jauh sudah cukup. Tidak pernah cukup. Tidak sekali pun.
Tapi kami benar untuk tidak pernah menyerah pada jarak itu—dia dengan memberikan payung, aku dengan menyimpannya; dia dengan memandang dari jauh, aku dengan berjalan—sampai jarak itu, empat meter demi empat meter, seberang lapangan demi seberang lapangan, akhirnya menyusut jadi nol.
Sejauh nol meja. Sedekat ini. Selamanya.
Dan itu, akhirnya, benar-benar cukup.
- 1 Orang yang Tak Punya Waktu
- 2 Cahaya yang Tak Boleh Dikejar
- 3 Aturan Main
- 4 Kebaikan Tanpa Nama
- 5 Dua Dunia
- 6 Kompor Bernama Reza
- 7 Satu Payung
- 8 Beban yang Tak Diceritakan
- 9 Nyaris
- 10 Cukup
- 11 Empat Tahun Kemudian
- 12 Nama di Daftar Onboarding
- 13 Bidadari yang Sama
- 14 Protokol Jarak
- 15 Kopi yang Terlalu Pas
- 16 Meja yang Mendekat
- 17 Error di Sini, Sayang
- 18 Wangi yang Salah
- 19 Orang Ketiga
- 20 Cemburu yang Tak Diakui
- 21 Tugas ke Singapura
- 22 Makan Malam "Urusan Kerja"
- 23 Retak yang Ditunjukkan
- 24 Pulang Bawa Perasaan
- 25 Adrian Balik Menyerang
- 26 Sejarak Senti
- 27 Empat Tahun
- 28 Cukup, Katanya
- 29 Cinta yang Manis
- 30 Sejauh Nol Meja reading