← Cukup Memandang, Katanya

Chapter Four

Kebaikan Tanpa Nama

POV: Adrian Pramudya · (Arc 1 — Kampus)


Aku menemukan namanya di lantai perpustakaan, terselip di antara kaki meja dan kaki kursi, di tempat yang tidak akan dilihat siapa pun kecuali orang yang kebiasaan menunduk sepertiku.

Sebuah dompet kartu kecil, warna krem, sudah agak lusuh di sudutnya. Aku memungutnya karena refleks—refleks orang yang tahu betapa mahalnya kehilangan barang, sekecil apa pun. Aku hendak menyerahkannya ke meja petugas tanpa membukanya. Sungguh, itu niat awalku.

Tapi dompet itu tidak tertutup rapat, dan sebuah kartu mahasiswa menyembul keluar, dan sebelum aku sempat memalingkan muka, mataku sudah menangkap fotonya.

Dia.

Foto formal, latar biru, senyum yang ditahan seperti kebanyakan foto resmi. Tapi tetap dia. Dan di sebelah foto itu, dicetak dengan huruf kecil yang tiba-tiba terasa terlalu besar untuk kubaca:

FREYA CALISTA. Fakultas Hukum.

Freya.

Aku berdiri di antara rak buku, memegang nama seseorang yang selama berhari-hari cuma kupanggil “cahaya” di dalam kepalaku, dan aku merasakan sesuatu yang aneh—campuran antara mendapatkan hadiah dan melakukan pelanggaran. Karena sekarang dia bukan lagi sosok tak bernama yang bisa kuanggap sebagai kiasan, sebagai lukisan, sebagai koma. Sekarang dia punya nama. Dan nama membuat segalanya jadi lebih nyata, lebih dekat, lebih berbahaya.

Freya Calista.

Aku bisa saja menghafal nomornya—alamatnya tertera di kartu itu. Aku bisa saja mengembalikan dompet ini langsung ke tangannya, dengan sopan, dengan senyum, dan itu akan menjadi alasan paling sah di dunia untuk berbicara dengannya. “Permisi, ini punyamu jatuh.” Sebuah kalimat sederhana. Sebuah pintu yang terbuka lebar.

Setiap laki-laki normal akan mengambil kesempatan itu.

Aku bukan setiap laki-laki normal. Aku laki-laki dengan tiga baris pensil di halaman belakang buku catatan, dan baris ketiga—yang paling penting—berbunyi: dia tidak boleh pernah tahu.

Karena aku tahu apa yang akan terjadi kalau aku mengembalikannya langsung. Dia akan berterima kasih. Mungkin ia akan mengingat wajahku sebentar, lalu melupakannya dalam sehari, seperti orang melupakan wajah kasir. Atau—dan ini yang lebih kutakuti—ia akan bersikap ramah, dan keramahan itu akan kubawa pulang, kusimpan, kubesar-besarkan dalam kepalaku sampai jadi harapan. Dan harapan adalah bunga dari pinjaman yang tidak akan pernah sanggup kubayar.

Lebih baik tidak berutang sama sekali.

Aku berdiri lebih lama dari yang kuakui, memegang dompet itu, memutar-mutarnya pelan di tangan. Ada bagian diriku—bagian yang sama yang kemarin nyaris membelokkan kakiku ke kanan di persimpangan koridor—yang berbisik betapa mudahnya. Betapa wajarnya. Orang mengembalikan barang hilang setiap hari; tidak ada yang aneh, tidak ada yang berlebihan, tidak ada yang perlu ditakuti. Cukup jalan ke fakultasnya, tanya satu-dua orang, serahkan, selesai. Sebuah perbuatan baik yang kebetulan berhadiah: alasan untuk berdiri di dekatnya selama tiga puluh detik, mendengar suaranya mengucapkan terima kasih dari jarak yang tidak lagi dua deret meja.

Tiga puluh detik. Itu saja yang kuminta, kata bagian itu. Apa salahnya tiga puluh detik.

Tapi aku sudah cukup lama hidup untuk tahu bahwa tiga puluh detik adalah cara jurang memperkenalkan diri. Sekali kau mencicipi suara seseorang dari dekat, kau tidak akan pernah lagi puas mendengarnya dari jauh. Dan aku tidak punya cukup di dalam diriku untuk menanggung selisih antara keduanya.

Maka aku berjalan ke pos lost and found di dekat pintu masuk—yang lebih ramai, lebih anonim—dan menyerahkan dompet itu pada petugas, seorang ibu paruh baya yang sedang mengunyah permen dengan penuh penghayatan.

“Nemu di lantai dua, Bu. Deket rak empat ratus.”

“Oh, ya. Makasih, Nak.” Ia menerima dompet itu, membukanya, mengintip isinya, lalu mengangkat alis. “Wih, ada uangnya. Ada KTM cakep pula.” Ia mengangkat kartu itu, membandingkan foto di kartu dengan wajahku, entah untuk apa. “Kamu kenal yang punya?”

“Nggak, Bu.”

“Yakin? Anak Hukum, nih. Cantik.” Ia menyeringai, nada suaranya berubah jadi nada tante-tante di kondangan. “Nama kamu siapa, biar nanti kalau yang punya nanya, Ibu—“

“Nggak usah, Bu.” Aku sudah setengah berbalik. “Nggak penting.”

“Lah, kok nggak penting? Ini namanya berbuat baik, Nak. Mumpung ada saksi.” Ia mengetuk-ngetuk meja dengan pulpen, jelas berharap ada drama kecil yang bisa ia ceritakan nanti. “Siapa tahu jadi jodoh.”

“Bukan jodoh, Bu. Cuma dompet.” Aku memaksa kakiku melangkah. “Permisi.”

Aku bisa mendengar ibu itu bergumam di belakangku, “Ck, anak muda zaman sekarang, dikasih pintu malah lompat jendela,” sambil memasukkan dompet ke laci. Aku pura-pura tidak dengar, meski jauh di dalam, kalimat itu menusuk lebih dalam dari yang seharusnya. Karena ia benar. Aku memang dikasih pintu. Dan aku memang, dengan sadar, memilih tidak masuk.

Aku hampir sampai pintu keluar ketika sebuah tangan menepuk bahuku.

“Ngapain kamu di lost and found?” Reza. Muncul dari peradaban mana entah, dengan roti—selalu roti—di tangan.

“Nyari buku.”

“Di lost and found.”

“...Nyari buku yang ilang.”

Reza menyipitkan mata, menatapku, menatap pos di belakangku, menatap ibu petugas yang—sialnya—memilih momen itu untuk melambai riang ke arahku sambil mengacungkan jempol. Aku melihat otak Reza bekerja, roda-rodanya berputar, dan aku tahu persis kesimpulan salah yang akan ia ambil.

“Kamu,” katanya lambat-lambat, penuh kekaguman yang keliru, “abis ngembaliin barang orang biar keliatan keren, terus kabur biar misterius. Klasik. Licik. Aku bangga.”

“Bukan gitu.”

“Adrian Pramudya, si penderma bertopeng.” Ia menepuk dadaku. “Tenang, rahasiamu aman. Sama aku doang. Dan mungkin sama tiga orang yang aku ceritain nanti.”

Aku memutuskan bahwa membiarkan Reza salah paham jauh lebih aman daripada membiarkannya benar. Jadi aku cuma menggeleng dan berjalan keluar, membiarkannya menyusun teori-teori heroik yang tidak satu pun mendekati kebenaran—bahwa aku bukan menolong orang asing, tapi menolong satu-satunya orang yang tidak berani kutolong secara terang-terangan.


Sore harinya aku kembali ke perpustakaan. Kebetulan—aku bersumpah itu kebetulan, jedaku memang jatuh di jam itu—dan aku tahu ia datang, sekali lagi, bukan karena aku melihatnya lebih dulu.

Aku tahu karena arus ruangan berubah. Ibu petugas yang tadi menggodaku tiba-tiba menegakkan badan, senyumnya melebar, tangannya sudah membuka laci sebelum diminta. Dua anak yang antre di belakang seseorang otomatis mundur selangkah, memberi ruang, cara orang tanpa sadar memberi ruang pada sesuatu yang mereka anggap berharga.

Baru setelah itu aku menoleh, dan melihat Freya berdiri di pos lost and found, dan dari kejauhan aku bisa membaca seluruh cerita di bahunya. Bahu yang tadinya naik ke telinga, penuh kepanikan orang yang baru menyadari sesuatu penting hilang. Aku melihat momen ketika dompet krem itu muncul kembali dari laci, dan bagaimana seluruh tubuhnya seolah mengembuskan napas sekaligus.

Ia memeluk dompet kecil itu ke dada. Benar-benar memeluknya. Lalu ia bertanya sesuatu—aku tidak perlu mendengar untuk tahu apa. Siapa yang menemukan? Boleh saya berterima kasih?

Ibu petugas menggeleng. Bicara panjang lebar—mungkin menceritakan seluruh dramaku, mungkin membumbuinya, aku tidak akan tahu. Dan Freya, dari kejauhan, menoleh ke sekeliling perpustakaan, matanya menyapu ruangan, seolah mencari sosok tak bernama itu di antara kepala-kepala yang menunduk membaca.

Untuk satu detik yang mengerikan, matanya melewati arahku.

Aku menunduk ke buku. Jantungku berdegup dengan cara yang tidak profesional. Ketika aku berani mengangkat mata lagi, ia sudah tidak lagi mencari. Ia berjalan keluar, memeluk dompetnya, dan sebelum menghilang di pintu, ia berhenti sebentar—dan tersenyum. Bukan pada siapa-siapa. Pada ruangan. Pada seluruh dunia yang, hari itu, telah bersikap baik padanya lewat tangan seseorang yang tak mau dikenal.

Senyum itu untukku.

Dia tidak tahu itu untukku. Dan itulah, kusadari kemudian, hadiah dan hukumanku sekaligus—menerima ucapan terima kasih yang tak pernah tahu ke mana harus dialamatkan.

Aku duduk di sana lama sekali setelah ia pergi. Bukunya masih terbuka di halaman yang sama. Aku sudah menolongnya. Aku sudah melihatnya lega. Dan menurut semua logika yang kupegang, itu seharusnya cukup.

Memandangnya dari sini saja sudah lebih dari cukup, kataku pada diriku, untuk kesekian kali.

Tapi malam itu, untuk pertama kalinya, mantra itu terasa seperti pakaian yang mulai kekecilan. Masih bisa dipakai. Tapi mulai menyesakkan di bagian dada.


⟡ Selipan Freya

POV: Freya Calista · (Arc 1 — Kampus · sudut pandang dijaga)


Aku memeluk dompet krem itu sepanjang jalan pulang, seolah kalau kulonggarkan sedikit saja pelukanku, benda itu akan hilang lagi.

Bukan uangnya. Uang di dalamnya cuma cukup untuk ongkos dua hari. Bukan pula kartu mahasiswaku, yang toh bisa diurus ulang. Yang membuatku hampir menangis di depan pos tadi adalah foto kecil yang terselip di balik kartu—foto ayah dan ibuku, diambil bertahun-tahun lalu, satu-satunya cetakan yang selalu kubawa. Kehilangan itu terasa seperti kehilangan satu potong dinding rumah.

Dan seseorang mengembalikannya. Tanpa nama.

Itu yang terus berputar di kepalaku. Di zaman ketika orang memfoto struk donasi lima ribu rupiah supaya bisa diunggah, ada seseorang yang menemukan dompet berisi uang dan foto berharga, lalu mengembalikannya tanpa meminta apa pun—bahkan menolak meninggalkan nama.

“Anaknya buru-buru, katanya,” kata ibu petugas tadi, dengan wajah yang jelas menyimpan lebih banyak cerita daripada yang ia bagi. “Cowok. Nunduk terus. Ibu tawarin nyatet nama, dia malah kabur kayak dikejar. Aneh. Tapi baik. Sopan, lagi.”

Nunduk terus.

Aku mencoba mengingat apakah aku mengenal seseorang yang cocok dengan deskripsi setipis itu, dan tentu saja tidak bisa—deskripsi seperti itu bisa cocok dengan siapa saja dan tidak dengan siapa-siapa. Tapi anehnya, alih-alih menyerah dan melupakannya, pikiranku justru terus kembali ke sana sepanjang malam. Ke sosok tanpa wajah yang, entah kenapa, terasa penting untuk kuketahui.

Aku bukan orang yang biasa penasaran pada orang asing. Aku terlalu sibuk, terlalu banyak bacaan, terlalu banyak target. Tapi malam itu aku menaruh dompet di meja belajarku, mengeluarkan foto ayah-ibu, menatapnya sebentar, lalu—tanpa benar-benar berniat—berbicara pada langit-langit kamar.

“Siapa pun kamu,” gumamku, pada sosok tak bernama yang tak akan pernah mendengarku, “makasih, ya. Beneran.”

Lalu aku melakukan sesuatu yang bahkan aku sendiri tidak sepenuhnya mengerti kenapa: aku tidak segera mengganti kartu mahasiswaku yang sempat hilang itu, meski besok pagi aku bisa. Seolah dengan membiarkannya seperti apa adanya, cerita hari ini—cerita tentang kebaikan tanpa nama—tidak akan buru-buru selesai.

Ada hangat kecil yang menetap di dadaku malam itu. Hangat yang aku belum tahu harus kuberi nama apa.

Aku belum tahu. Tapi aku memutuskan, tanpa benar-benar memutuskan, bahwa aku ingin tahu.