← Cukup Memandang, Katanya

Chapter Eighteen

Wangi yang Salah

POV: Adrian Pramudya · (Arc 2 — Dunia Kerja)


Setelah insiden “sayang”—yang kuputuskan untuk tidak pernah kupikirkan lagi, sebuah keputusan yang kulanggar rata-rata setiap sebelas menit—aku menyadari sesuatu yang mengganggu tentang diriku sendiri: aku sudah kehilangan kendali atas satu-satunya wilayah yang selama ini kubanggakan bisa kukendalikan. Diriku.

Aku Tech Lead. Aku memimpin rapat lintas benua. Aku bisa tetap tenang ketika server produksi tumbang jam dua pagi. Tapi satu perempuan memanggilku “sayang”—yang katanya keceplosan, yang katanya kebiasaan—dan aku menghabiskan seluruh malam menatap langit-langit apartemen, memutar ulang dua detik itu seperti klip video yang rusak.

Kebiasaan, katanya. Ia memanggil semua orang begitu. Adik-adiknya, teman-temannya.

Aku ingin memercayai itu. Sungguh. Tapi ada satu detail yang menolak cocok: kalau itu kebiasaan, kenapa telingaku yang terbakar? Kenapa tanganku yang lupa cara mengetik? Kebiasaan tidak menjelaskan kenapa aku, di usia dua puluh lima, dengan segala pencapaian dan ketenangan yang kubanggakan, tiba-tiba jadi mahasiswa berlaptop retak lagi—orang yang menyimpan satu kata di laci kepalanya dan menjaganya seperti harta.

Protokol Jarak sudah lama runtuh. Sekarang aku bahkan tidak yakin masih ada puing-puingnya untuk kupungut.


Kalau semesta punya selera humor buruk, hari berikutnya membuktikannya lagi.

Kantor kami, seperti semua kantor teknologi yang menganggap dingin sama dengan produktif, punya AC yang disetel untuk pinguin. Biasanya aku tidak peduli. Tapi hari itu Freya datang tanpa cardigan-nya—lupa, katanya—dan menjelang siang aku bisa melihat, dari empat meter, bahwa ia mulai kedinginan. Ia mengetik dengan bahu naik, sesekali menggosok lengannya, menyeruput kopi panas dengan kedua tangan seolah itu satu-satunya sumber kehangatan di seluruh gedung.

Aku mencoba tidak memperhatikan. Aku gagal, tentu saja. Karena memperhatikan Freya sudah jadi semacam refleks yang tidak bisa kumatikan, seperti bernapas, seperti bangun jam empat pagi. Aku memperhatikan cara ia menarik lengan blusnya sampai ke ujung jari. Cara ia menangkupkan kedua tangan di gelas kopi. Cara ia, sekali, bersin kecil lalu tertawa pada dirinya sendiri karena bersinnya lucu.

Dan setiap detail itu, satu per satu, mengikis pertahanan yang tinggal seujung kuku.

Dan di sinilah cacat terbesar dalam karakterku terungkap: aku tidak bisa melihat seseorang yang kupedulikan kedinginan dan tetap diam. Empat tahun lalu, cacat itu membuatku memberikan payung di tengah hujan dan berjalan pulang basah kuyup. Hari ini, cacat itu membuatku—sebelum otakku sempat mencegah tanganku—melepas hoodie yang tersampir di sandaran kursiku, berjalan empat meter, dan menyampirkannya di meja Freya.

“Dingin,” kataku. Bukan pertanyaan. Aku bahkan tidak menatapnya, terlalu takut pada apa yang mungkin kulakukan kalau menatapnya. “Pakai aja.”

Lalu aku berbalik dan kembali ke mejaku secepat mungkin, jantung berdebar, menyesali dan tidak menyesali dalam napas yang sama. Aku baru sadar, setengah jalan kembali ke mejaku, bahwa aku baru saja mengulang persis pola yang sama dari empat tahun lalu—memberi sesuatu yang menghangatkan, lalu buru-buru pergi sebelum sempat ditanya apa-apa. Seolah tubuhku punya satu skenario cinta dan cuma tahu cara memainkannya dengan satu cara: memberi, lalu kabur.

Aku tidak menoleh untuk melihat reaksinya. Aku sudah ahli tidak menoleh. Tapi dari sudut mata—pengkhianat abadi itu—aku melihat ia mengambil hoodie itu, menatapnya sebentar dengan ekspresi yang tidak bisa kubaca, lalu memakainya. Hoodie-ku, yang kebesaran untuknya, lengannya menutupi setengah tangannya, membuatnya terlihat—

Aku memaksa mataku kembali ke layar. Aku tidak akan menyelesaikan kalimat itu, bahkan di dalam kepalaku.


Aku bertahan sekitar dua jam. Dua jam yang cukup produktif, mengingat separuh otakku sibuk memproses fakta bahwa Freya Calista sedang memakai hoodie-ku.

Lalu ia datang ke mejaku—untuk mengembalikannya, pikirku, atau untuk pertanyaan teknis, atau alasan wajar apa pun. Ia berdiri di samping mejaku, masih memakai hoodie itu, dan aku bersiap untuk transaksi normal antarmanusia dewasa.

Yang tidak kusiapkan adalah ia menarik kerah hoodie itu ke hidungnya, menghirupnya pelan, menutup mata sebentar—dan lalu, sambil menatapku lurus dengan senyum yang sama sekali tidak polos, berkata:

“Wangi kamu enak.”

Sistem operasiku crash.

Bukan sekadar hang. Crash total. Blue screen. Semua proses berhenti. Aku menatapnya, mulut sedikit terbuka, otak menampilkan pesan error yang tidak bisa kubaca, sementara telingaku—lagi—terbakar dengan kecepatan yang memalukan.

“Itu—“ Suaraku keluar seperti orang yang lupa bahasa Indonesia. “Itu cuma detergen.”

“Detergennya wangi kamu, dong, kalau gitu.” Ia tersenyum lebih lebar, jelas menikmati kehancuranku, dan sebagian kecil dari diriku yang masih berfungsi menyadari bahwa ia melakukan ini dengan sengaja, sepenuhnya sadar, seperti kucing yang tahu persis efeknya pada tikus. “Aku pinjem sebentar lagi ya. Masih dingin.” Ia mengedipkan mata—mengedipkan mata!—dan berjalan kembali ke mejanya, memakai hoodie-ku, membawa serta wangi detergenku dan sisa-sisa kewarasanku.

Gilang, yang menyaksikan seluruhnya dari meja sebelah, meletakkan kepalanya di meja dan bergetar menahan tawa. “Bang,” bisiknya, tercekik. “Bang. ‘Itu cuma detergen.’ BANG. Itu jawaban terburuk dalam sejarah umat manusia.”

“Diam, Gilang.”

“Cewek bilang wangi kamu enak, Abang jawab ‘itu cuma detergen’. Bang, kalau ini pertandingan, Abang kalah telak. Wasitnya sampai nangis.”

“Diam, Gilang.”

Ia tidak diam. Ia tertawa sampai harus izin ke toilet. Dan aku duduk di mejaku, memandangi punggung Freya yang tenggelam dalam hoodie-ku empat meter jauhnya, dan menyadari dengan kepasrahan total bahwa perang ini—perang yang kukira sudah kumenangkan dengan cara menghindarinya—sedang kukalahkan, telak, setiap hari, dengan senang hati.


Malam itu aku pulang ke rumah ibu untuk makan malam akhir pekan.

“Kamu kenapa?” tanya Kayla, menyipitkan mata ke arahku di seberang meja, garpu menggantung di udara. “Dari tadi senyum-senyum sendiri liat HP.”

“Nggak.”

“Barusan. Aku liat. Kakak senyum ke HP kayak orang—“ matanya melebar dengan kengerian yang gembira, “—Bu. BU. Kakak naksir orang.”

“Kayla, makan.”

“Ibu liat sendiri kan? Dari tadi Kak Adrian beda. Biasanya pulang langsung buka laptop, muka datar kayak tembok. Sekarang senyum-senyum. Ini gejala klinis, Bu, aku anak kedokteran, aku tahu.”

“Kamu baru semester tiga, Kayla. Yang kamu tahu baru tulang.”

“Tulang juga ilmu, Kak. Dan tulang pipi Kakak lagi ketarik ke atas terus dari tadi. Itu namanya senyum. Aku diagnosa: kasmaran stadium awal.” Ia menunjuk-nunjuk garpunya ke arahku dengan penuh kemenangan. “Siapa, Kak? Anak kantor? Cakep? Cerita, dong. Masa aku ceritain semua gebetan aku ke Kakak, Kakak pelit.”

“Kamu nggak punya gebetan. Kamu punya daftar orang yang kamu benci diam-diam.”

“Itu tahap sebelum gebetan. Kakak nggak ngerti dinamika.” Ia menghela napas dramatis, lalu menoleh ke ibu untuk mencari sekutu. “Bu, bantuin. Interogasi dia.”

Ibu, yang dari tadi diam sambil menyendok sayur, tidak berkata apa-apa. Tapi ketika aku memberanikan diri menatapnya, ia sedang tersenyum—senyum kecil, tenang, senyum yang menyimpan lebih banyak dari yang ia ucapkan—dan matanya, matanya berkaca sedikit dengan cara yang membuat dadaku sesak.

“Bu?” kataku.

“Nggak apa-apa.” Ia menepuk tanganku, tangan yang sama yang dulu keriput oleh jarum, sekarang lebih lembut karena tak perlu lagi menjahit demi bertahan hidup. “Ibu cuma seneng. Dari kecil kamu selalu ngurusin orang lain. Ibu, Kayla, sekolah, kerja. Kamu nggak pernah minta apa-apa buat diri kamu sendiri. Waktu Bapak meninggal, umurmu tujuh tahun, dan hari itu kamu langsung berhenti jadi anak-anak. Ibu liat. Ibu liat kamu maksa diri kamu jadi dewasa terlalu cepat, dan Ibu nggak pernah bisa maafin diri Ibu buat itu.”

“Bu, itu bukan salah Ibu—“

“Ibu tahu. Sekarang Ibu tahu.” Ia menggenggam tanganku lebih erat. “Tapi Ibu udah lama nunggu, Yan. Nunggu liat kamu pengin sesuatu buat kamu sendiri. Bukan buat Ibu, bukan buat Kayla. Buat kamu. Cuma itu yang Ibu doain tiap malam.” Ia tersenyum lagi, mengusap sudut matanya cepat. “Jadi kalau ada seseorang yang bikin kamu senyum ke HP—jangan kamu itung-itung kayak biasa. Sekali ini, jangan diitung. Ambil aja.”

Aku tidak tahu harus menjawab apa. Jadi aku tidak menjawab. Aku cuma menggenggam balik tangan ibu, dan membiarkan kalimat itu duduk di dadaku, di tempat yang sudah lama kosong. Kayla, untuk sekali seumur hidupnya, ikut diam—meski aku tahu ia menyimpan tiga puluh pertanyaan untuk kutanyakan nanti.

Malam itu, sebelum tidur, aku melakukan hal yang tidak kulakukan selama empat tahun. Aku membuka laci, mengeluarkan laptop retak lama, dan menatapnya—bukan layarnya, cuma retakan di sudut kirinya. Bukti dari versi diriku yang dulu, yang mencintai seseorang dalam diam dan menyebutnya “cukup”.

Ibu udah lama nunggu liat kamu pengin sesuatu buat kamu sendiri.

Untuk pertama kalinya, aku mengizinkan diriku bertanya—bukan “bagaimana caraku menjaga jarak”, bukan “bagaimana kalau aku tidak mau menjaga jarak”—tapi pertanyaan yang lebih menakutkan dari keduanya:

Bagaimana kalau, kali ini, aku berani menginginkan sesuatu untuk diriku sendiri?

Aku belum punya jawabannya. Empat tahun lalu, aku tahu jawabannya dengan pasti: tidak, aku tidak sanggup, aku tidak punya cukup diri untuk dibagi. Tapi empat tahun lalu aku belum punya rumah untuk ibu, belum punya kuliah aman untuk Kayla, belum punya apa pun untuk kuberikan selain pengorbanan. Sekarang semua kotak itu sudah tercentang. Sekarang, mungkin—mungkin—ada sedikit ruang tersisa yang boleh kupakai untuk diriku sendiri.

Aku belum berani memutuskan. Tapi untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, aku tidak buru-buru menutup pertanyaannya. Aku membiarkannya menyala, kecil, di sudut kamar—seperti lampu yang sengaja tidak kumatikan.