Chapter Twenty Three
Retak yang Ditunjukkan
POV: Freya Calista · (Arc 2 — Dunia Kerja · sudut pandang dijaga)
Aku menonton wajah Adrian berubah, dan aku tahu—bahkan sebelum ia menutup telepon—bahwa malam ini tidak akan berakhir seperti yang kubayangkan.
Beberapa detik lalu, ia hampir menciumku. Aku yakin akan itu. Aku sudah menunggu bertahun-tahun untuk momen sedekat itu, dan aku sudah cukup dekat untuk merasakan napasnya, untuk melihat tubuhnya condong ke arahku, untuk tahu bahwa untuk sekali dalam hidupnya, laki-laki ini akan berani.
Lalu telepon berdering, dan aku melihat namanya berubah dari laki-laki yang hampir menciumku jadi anak lelaki berumur tujuh tahun yang takut kehilangan.
Aku tidak akan pernah lupa transformasi itu. Sedetik sebelumnya, ada seseorang yang berani—condong ke arahku, matanya turun ke bibirku, seluruh temboknya akhirnya runtuh dari dalam. Sedetik kemudian, nama “Ibu” berkedip di layar, dan aku menyaksikan tembok itu bukan cuma berdiri kembali, tapi berubah jadi sesuatu yang lain: ketakutan mentah, purba, ketakutan yang jelas sudah tinggal di dalam dirinya jauh lebih lama dari yang bisa kubayangkan.
“Bu? Ibu kenapa? Kayla—Kayla, ibu gimana?” Suaranya, yang tadi serak karena hal yang manis, sekarang serak karena hal yang lain sama sekali. Aku melihat tangannya mengepal. Aku melihat rahangnya, yang tadi kuhitung bulu matanya sedekat itu, sekarang mengeras karena menahan panik. “Iya. Iya. Aku di Singapura, Bu, aku—besok pagi aku cari penerbangan paling awal—“
Aku tidak tahu detailnya. Aku cuma menangkap potongan: ibunya, pusing hebat, jatuh, Kayla membawanya ke IGD, sedang diperiksa, kemungkinan besar kelelahan dan tekanan darah, tapi mereka menahannya semalam untuk observasi. Bukan kiamat. Tapi bagi Adrian—aku bisa melihatnya di wajahnya—kata “rumah sakit” dan “ibu” dalam satu kalimat, sementara ia berada di negara lain, adalah mimpi buruk paling spesifik yang bisa dibayangkan.
Ia menutup telepon. Tangannya masih memegang ponsel itu, buku-buku jarinya putih. Ia menatap sungai, tidak melihat apa-apa, dan aku bisa melihat seluruh tubuhnya bergetar halus dengan usaha menahan sesuatu yang terlalu besar untuk ditahan.
“Adrian,” kataku pelan.
“Aku harus pulang.” Suaranya datar, terlalu datar, suara orang yang memegang kendali dengan kuku. “Besok pagi. Ada penerbangan jam enam. Rapat besok bisa aku—kamu bisa handle sendiri, kan? Aku minta maaf, aku—“
“Adrian.”
“—aku harusnya nggak pergi. Aku harusnya di rumah. Kalau terjadi apa-apa sama ibu pas aku di sini—“ Suaranya retak di kata terakhir, retak seperti sesuatu yang sudah lama menahan beban terlalu berat.
Dan di situlah aku melihatnya. Retakan yang, selama bertahun-tahun, tak pernah ia izinkan siapa pun lihat.
“Adrian.” Aku meraih lengannya, memaksanya berhenti bicara, memaksanya menatapku. “Ibumu sadar, kan? Ngobrol sama kamu barusan? Kayla di sana? Dokter bilang observasi, bukan darurat?”
“...Iya.”
“Berarti ibumu aman malam ini. Kamu tetap cari penerbangan pagi—aku bantuin, sekarang juga. Tapi malam ini, ibumu aman. Oke? Aman.”
Ia mengangguk, tapi anggukan itu tidak sampai ke matanya. Dan lalu, pelan, seolah bendungan yang sudah retak akhirnya menyerah, ia mulai bicara—bukan padaku, tidak sepenuhnya, lebih seperti pada dirinya sendiri, pada sungai, pada malam.
“Bapak juga gitu. Aku umur tujuh. Dia pamit subuh, cium kening aku, bilang pulang Kamis.” Ia menatap air. “Aku lagi tidur pas dia pergi. Aku bahkan nggak bener-bener bangun buat pamit. Aku pikir masih ada Kamis. Ternyata nggak ada. Ternyata itu terakhir kali, dan aku bahkan nggak buka mata.”
Aku diam. Aku tahu, dengan naluri yang entah dari mana, bahwa ini bukan saat untuk bicara. Ini saat untuk mendengar. Sesuatu yang, kurasa, jarang sekali didapatkan Adrian seumur hidupnya.
“Aku inget ibu nangis tanpa suara biar aku sama Kayla nggak denger. Tiap malam. Dia pikir kami nggak tahu.” Ia tertawa kecil, tawa yang lebih menyakitkan dari tangisan. “Aku tahu. Aku umur tujuh dan aku tahu, dan aku nggak bisa ngapa-ngapain kecuali mecahin celengan ayam buat beli beras. Hari itu aku belajar satu hal: kalau kamu nggak siap, orang yang kamu sayang yang bayar. Bukan kamu. Mereka.”
“Sejak itu aku janji,” lanjutnya, suaranya nyaris berbisik. “Aku nggak akan pernah nggak siap lagi. Aku nggak akan pernah lagi ada di tempat yang salah pas orang yang aku sayang butuh aku. Aku bakal selalu ada, selalu siap, selalu—“ ia menelan, “—cukup. Buat semua orang. Ibu, Kayla, semua. Aku nggak boleh kekurangan, karena kalau aku kekurangan, mereka yang kena.”
“Dan malam ini kamu di Singapura,” kataku pelan, mengerti, “pas ibumu masuk rumah sakit. Persis mimpi buruk yang kamu hindarin seumur hidup.”
“Persis.” Kata itu keluar seperti tersedak. “Aku ngelakuin satu hal yang aku sumpahin nggak akan pernah aku lakuin. Aku pergi. Aku ninggalin mereka buat—“ ia berhenti, dan aku tahu apa yang tak ia ucapkan: buat sesuatu untuk diriku sendiri. Buat kamu. Rasa bersalah itu terpampang di seluruh wajahnya. Ibunya jatuh tepat di malam pertama ia berani menginginkan sesuatu untuk dirinya. Bagi orang seperti Adrian, itu bukan kebetulan. Itu hukuman.
“Dan itu sebabnya kamu nggak pernah minta apa-apa buat diri sendiri,” kataku pelan, dan itu bukan pertanyaan. “Karena kamu takut, tiap kali kamu ambil sesuatu buat kamu, ada harga yang harus dibayar orang lain.”
Ia menoleh padaku, dan matanya—matanya basah, laki-laki yang tak pernah kubayangkan bisa kulihat menangis—menatapku dengan sesuatu yang begitu telanjang, begitu lelah, sampai dadaku terasa diremas.
“Aku capek, Freya.” Tiga kata. Tiga kata yang, aku yakin, belum pernah ia ucapkan pada siapa pun seumur hidupnya. “Aku capek jadi kuat terus. Aku capek jadi cukup buat semua orang. Cuma sekali—sekali aja—aku pengin ada yang bilang aku boleh nggak kuat. Aku boleh capek. Aku boleh—“
Ia tidak menyelesaikannya. Ia tidak perlu.
Karena aku sudah menutup jarak dua puluh sentimeter itu—jarak yang tadi hampir jadi ciuman, sekarang jadi sesuatu yang lebih dalam—dan memeluknya.
Ia kaku sebentar. Tentu saja kaku. Laki-laki yang menghabiskan seluruh hidupnya jadi tembok tidak tahu cara dipeluk; tubuhnya lupa, atau tak pernah belajar. Selama satu detik yang menyakitkan, aku takut ia akan menarik diri, memasang temboknya lagi, meminta maaf, mengubah semuanya kembali jadi profesional dan aman.
Lalu ia runtuh.
Bukan runtuh dramatis. Runtuh pelan—bahunya turun, kepalanya jatuh ke bahuku, dan tangannya, ragu-ragu, seperti orang yang tak yakin diizinkan, akhirnya melingkari punggungku dan menggenggam kain jaketku seolah aku satu-satunya benda padat di dunia yang miring. Aku merasakan napasnya tersendat di leherku. Aku merasakan tubuh yang selama ini kulihat begitu tegak, begitu terkendali, akhirnya membiarkan dirinya, untuk beberapa menit, tidak kuat.
Ia bergetar. Bukan isak keras—Adrian bahkan menangis dengan cara yang berusaha tidak merepotkan, tangis yang ditahan, tangis orang yang sejak umur tujuh tahun belajar bahwa air matanya adalah beban yang tak boleh ditaruh di pundak orang lain. Dan justru itu yang paling menghancurkanku: bukan bahwa ia menangis, tapi bahwa ia menangis sambil masih mencoba menahannya, bahkan sekarang, bahkan di titik terendahnya, masih berusaha tidak jadi beban.
“Nggak apa-apa,” bisikku ke rambutnya. “Nggak apa-apa. Kamu boleh berantakan. Aku nggak akan ke mana-mana.”
Dan aku memeluknya lebih erat, dan membiarkan dia.
Empat tahun—lebih—aku mencintai laki-laki ini dari jarak yang kupaksakan. Aku menyimpan tawanya, memperhatikan kebiasaannya, mengejar setiap kesempatan untuk sedekat ini. Dan dari semua momen yang kubayangkan—ciuman, pengakuan, tangan yang digenggam—tak pernah sekali pun aku membayangkan bahwa momen paling intim yang akan kami bagi pertama kali bukanlah ciuman, melainkan ini: aku, memeluk seorang laki-laki yang sedang menangis dalam diam, membiarkannya tidak kuat untuk pertama kalinya dalam hidupnya.
Ini lebih dekat dari ciuman mana pun.
Dan di sinilah, dengan wajahnya terbenam di bahuku dan air matanya membasahi jaketku, aku hampir mengatakannya. Semuanya. Aku tahu kamu, Adrian. Aku sudah lama tahu kamu. Aku tahu kamu yang kasih aku payung dulu. Aku tahu kamu yang selalu memperhatikan. Aku nggak sengaja ada di sini—aku ada di sini karena aku memilih ada di sini, karena aku—
Aku menelan semuanya.
Karena malam ini bukan tentangku. Malam ini bukan tentang rahasiaku, atau pengakuanku, atau bertahun-tahun yang kupendam. Malam ini tentang seorang laki-laki yang, akhirnya, mengizinkan dirinya tidak kuat—dan hal terakhir yang ia butuhkan adalah beban baru, kejutan baru, kebenaran besar yang harus ia proses di saat ia bahkan tak sanggup berdiri tegak.
Reveal itu bisa menunggu. Aku sudah ahli menunggu.
Malam ini, aku cukup jadi bahu. Cukup jadi tempat ia boleh tidak kuat. Cukup memeluknya di tepi sungai di kota asing, di bawah lampu-lampu yang memantul di air, dan berbisik satu-satunya kebenaran yang aman kuberikan malam ini:
“Kamu boleh capek, Adrian. Malam ini, kamu nggak perlu kuat. Aku pegangin.”
Dan ia menangis lebih dalam, dan aku memeluknya lebih erat, dan untuk sekali—untuk sekali dalam hidupnya yang penuh memberi—seseorang memegangnya balik.
Besok pagi ia akan terbang pulang. Besok ia akan kembali jadi Adrian yang kuat, yang cukup, yang menanggung segalanya sendirian. Aku tahu itu. Orang seperti dia tidak berubah dalam satu malam.
Tapi malam ini, satu tembok sudah runtuh, dan aku ada di dalamnya ketika itu terjadi. Dan sesuatu memberitahuku bahwa tembok yang sudah pernah runtuh sekali, betapa pun cepat dibangun kembali, tidak akan pernah lagi sekuat dulu.
Aku bisa menunggu tembok itu runtuh untuk kedua kalinya. Aku selalu bisa menunggu.
- 1 Orang yang Tak Punya Waktu
- 2 Cahaya yang Tak Boleh Dikejar
- 3 Aturan Main
- 4 Kebaikan Tanpa Nama
- 5 Dua Dunia
- 6 Kompor Bernama Reza
- 7 Satu Payung
- 8 Beban yang Tak Diceritakan
- 9 Nyaris
- 10 Cukup
- 11 Empat Tahun Kemudian
- 12 Nama di Daftar Onboarding
- 13 Bidadari yang Sama
- 14 Protokol Jarak
- 15 Kopi yang Terlalu Pas
- 16 Meja yang Mendekat
- 17 Error di Sini, Sayang
- 18 Wangi yang Salah
- 19 Orang Ketiga
- 20 Cemburu yang Tak Diakui
- 21 Tugas ke Singapura
- 22 Makan Malam "Urusan Kerja"
- 23 Retak yang Ditunjukkan reading
- 24 Pulang Bawa Perasaan
- 25 Adrian Balik Menyerang
- 26 Sejarak Senti
- 27 Empat Tahun
- 28 Cukup, Katanya
- 29 Cinta yang Manis
- 30 Sejauh Nol Meja