← Cukup Memandang, Katanya

Chapter Ten

Cukup

POV: Adrian Pramudya · (Arc 1 — Kampus)


Empat tahun berlalu di kampus itu, dan aku merangkumnya dalam satu pagi: pagi wisuda.

Toga terasa aneh di badanku—kain hitam yang licin, terlalu bagus, seperti dipinjamkan dari kehidupan yang bukan milikku. Aku menatap bayanganku di cermin toilet gedung, mengecek dasi yang jarang kupakai, dan untuk sesaat tidak mengenali orang di depanku. Orang di cermin itu tampak seperti seseorang yang berhasil. Aku belum terbiasa dengan kemungkinan itu.

Aku lulus cumlaude. Angka yang, empat tahun lalu, kuperlakukan sebagai satu-satunya tiket keluar dari gang sempit—dan tiket itu, hari ini, resmi tervalidasi. Tapi bukan itu yang membuat pagi ini terasa berbeda dari yang kubayangkan.

Yang membuatnya berbeda adalah amplop di tas ku.

Seminggu sebelum wisuda, sebuah surat masuk ke emailku. Bukan dari klien. Dari sebuah perusahaan teknologi—besar, internasional, yang kantor Indonesianya kecil tapi namanya kudengar di setiap konferensi yang tak pernah mampu kuhadiri. Seorang perekrut menemukan proyek-proyek open source yang kukerjakan di sela-sela hidupku yang berantakan, membaca kodeku, dan menawariku posisi. AI Research Engineer. Dengan angka gaji yang, ketika kubaca pertama kali, kupikir ada kesalahan ketik.

Tidak ada kesalahan ketik.

Aku membaca surat itu berkali-kali di rumah, malam itu, sampai ibu bertanya kenapa aku menatap ponsel seperti orang linglung. Aku menunjukkannya. Ibu, yang tidak mengerti setengah dari istilah di dalamnya, cuma mengerti satu hal—angka di bagian bawah—dan matanya berkaca-kaca dengan cara yang belum pernah kulihat.

“Bapakmu,” katanya pelan, memegang tanganku, “pasti bangga banget.”

Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, aku membiarkan diriku menangis. Sedikit. Diam-diam. Bukan karena sedih. Karena akhirnya—akhirnya—celengan ayam yang dulu kupecahkan untuk beli beras, hari ini pecah lagi, dan kali ini tumpah jadi hal-hal yang bisa kuberikan pada mereka. Rumah yang lebih layak. Obat yang tak perlu ditunda. Mimpi Kayla yang tak perlu lagi ditawar-tawar.

Aku sudah menang. Perang yang kumulai di umur tujuh tahun, hari ini, kumenangkan. Rumah ini akan aman. Ibu akan bisa berhenti begadang mengejar jahitan. Kayla akan bisa mengejar kedokterannya tanpa harus menjual jasa PR ke anak SMP. Semua “nanti” yang dulu tak sempat Bapak tepati, akan kutepati—bukan sebagai janji, tapi sebagai kenyataan, satu per satu.

Cuma ada satu medan yang tidak pernah kumasuki. Dan hari ini adalah hari terakhirnya.


Lapangan wisuda penuh sesak. Ribuan toga hitam, ribuan keluarga, ribuan buket bunga dan spanduk norak dan air mata bahagia. Ibu memakai baju terbaiknya—yang ia jahit sendiri, tentu saja—dan Kayla, yang datang membawa spanduk buatan tangan bertuliskan “KAKAKKU SARJANA (DAN MASIH JOMBLO)”, tidak berhenti menyeringai.

“Kayla, spanduknya.”

“Ini bentuk sayang,” katanya. “Lagian jujur. Masa aku bohong di hari sakral?”

Reza muncul dengan togannya sendiri, merangkul bahuku, matanya sudah merah padahal acara belum mulai. “Kita berhasil, Yan. Empat tahun. Kamu kira aku bakal lulus? Aku juga nggak.”

“Kamu nyontek tugasku dua kali.”

“Tiga. Yang satu kamu nggak sadar.” Ia tertawa, lalu—khas Reza—berubah sedikit serius di tengah tawa. “Habis ini kita ke mana, ya? Serem juga. Nggak ada kelas lagi. Nggak ada kantin. Nggak ada kamu yang kutowel tiap pagi.”

“Kamu bakal nemu orang lain buat ditowel.”

“Nggak ada yang setahan kamu.” Ia menepuk dadaku. “Jaga diri, Tech Lead masa depan.”

Aku tidak tahu, saat itu, seberapa tepat tebakannya.

Prosesi berjalan panjang, khidmat, membosankan dengan cara yang indah. Dan sepanjang itu, di antara ribuan wajah, mataku—pengkhianat yang tak pernah bisa kudisiplinkan sepenuhnya—melakukan hal terakhir yang kuizinkan: ia mencari.

Aku menemukannya di seberang lapangan.

Freya, dalam toga yang sama denganku, di antara keluarga dan teman-temannya, tertawa pada sesuatu, memegang buket bunga. Ia juga lulus hari ini. Anak Hukum, cumlaude mungkin, menuju masa depan yang jelas berada di orbit yang berbeda dari orbitku—pengacara, mungkin, di firma bergengsi; atau melanjutkan studi ke luar negeri; ke mana pun orang seterang itu pergi.

Dan aku tahu, dengan kepastian yang dingin dan tenang, bahwa ini adalah terakhir kalinya.

Setelah hari ini, tidak ada lagi perpustakaan yang sama. Tidak ada lagi kantin yang sama. Tidak ada lagi koridor tempat kami mungkin berpapasan. Dunia kampus—satu-satunya ruang di mana orbit kami kebetulan bersinggungan—akan tutup hari ini, dan kami akan terlempar ke dua arah yang tidak akan pernah bertemu lagi.

Aku memandanginya dari seberang lapangan, untuk terakhir kalinya, dan menyimpan gambar itu baik-baik—cara ia tertawa, cara cahaya matahari jatuh di togannya, cara seluruh kelompoknya berputar di sekitarnya seperti ia adalah porosnya—menyimpannya dengan hati-hati luar biasa, karena aku tahu ini adalah receh terakhir yang akan kudapat.

Aku tidak menghampirinya. Tentu saja tidak. Aku tidak pernah, dan aku tidak akan mulai sekarang, di hari terakhir, ketika tidak ada lagi “besok” untuk menampung apa pun yang mungkin terjadi.

Aku cuma berbisik—pada diriku sendiri, pada empat tahun, pada perempuan di seberang lapangan yang tak akan pernah tahu ia pernah jadi satu-satunya jeda dalam kalimat hidupku yang penuh titik:

Cukup. Ini sudah lebih dari cukup.

Dan kali ini, anehnya, aku hampir benar-benar memercayainya. Karena bukankah begini caranya cinta yang tak terbalas seharusnya berakhir? Bukan dengan patah yang dramatis, tapi dengan syukur yang sunyi. Terima kasih sudah pernah ada. Terima kasih sudah pernah membuat hidup yang keras ini punya satu titik lembut. Sekarang pergilah, dan biarkan aku menyimpanmu sebagai hal terindah yang tak pernah kumiliki.

Aku memalingkan wajah. Aku menghampiri ibu dan Kayla. Aku tersenyum untuk foto, memegang ijazah, membiarkan hari itu jadi hari kemenangan seperti seharusnya.

Aku tidak menoleh ke seberang lapangan lagi.

Itu, kupikir, adalah akhir cerita.

Aku salah besar. Tapi aku baru akan tahu empat tahun kemudian.


⟡ Selipan Freya

POV: Freya Calista · (Arc 1 — Kampus · penutup Arc · sudut pandang dijaga)


Aku melihatnya dari seberang lapangan.

Di antara ribuan toga hitam yang semuanya seragam, aku menemukannya dalam hitungan detik—dan itu sendiri sudah aneh, karena tidak ada yang menonjol darinya. Ia tidak berdiri di tempat ramai. Ia tidak tertawa keras. Ia berdiri agak di pinggir, bersama seorang ibu berbaju rapi dan seorang gadis remaja yang memegang spanduk lucu, dan ia tersenyum—senyum yang jarang, yang harus kautunggu, yang justru karena jarang jadi terasa mahal ketika muncul.

Aku selalu bisa menemukannya. Itu masalahnya. Selama empat tahun ini, di ruangan seramai apa pun, aku selalu tahu di mana dia.

Aku tahu ini terdengar aneh. Kami tidak pernah bicara. Tidak sekali pun, dalam empat tahun, kami benar-benar bertukar kata—kecuali sekali, waktu itu, di belakang panggung seminar, ketika kami berpapasan dan aku menahan napas dan menunggu, menunggu, memberinya seluruh ruang di dunia untuk bilang sesuatu—apa saja—

—dan ia cuma bilang “permisi”, lalu pergi.

Aku tidak marah waktu itu. Aku cuma... mengerti. Mengerti bahwa laki-laki itu punya tembok yang lebih tinggi dari yang bisa kupanjat dari luar. Bahwa ia jenis orang yang memberi tanpa mau menerima, yang memperhatikan tanpa mau diperhatikan, yang—aku mulai menduga sejak lama, dan makin yakin belakangan—mungkin adalah sosok tak bernama yang dua kali berbuat baik lalu menghilang: dompet di perpustakaan, payung di tengah hujan.

Payung pincang itu masih ada di sudut kamarku. Aku tidak pernah mengembalikannya. Aku tidak pernah bisa menemukan pemiliknya untuk mengembalikannya—atau, kalau aku jujur pada diriku sendiri, aku tidak pernah benar-benar berusaha, karena selama payung itu ada, ada juga alasan untuk terus mencari.

Dan sekarang ia akan pergi.

Aku tahu itu dari caranya berdiri. Ada sesuatu yang final dalam sikapnya hari ini, cara orang menutup buku yang sudah selesai dibaca. Setelah hari ini, kampus akan bubar, dan orang seperti dia—orang yang bersembunyi begitu rapi—akan mudah sekali lenyap ke dalam dunia yang luas, tanpa jejak, tanpa nama, tepat seperti caranya menghilang di tengah hujan.

Aku menatap punggungnya dari seberang lapangan, sama seperti dulu aku menatap punggung basahnya menjauh, dan aku merasakan sesuatu yang berbeda dari kesedihan. Sesuatu yang lebih keras. Lebih tenang.

Karena selama ini aku menunggu. Aku menunggu ia maju, menunggu ia bicara, menunggu ia membuka tembok itu dari dalam—dan aku menghormati kesabaran itu, kuhormati pilihannya untuk diam, sampai hari ini, sampai aku sadar bahwa menunggu orang yang sudah memutuskan untuk tidak pernah maju adalah cara paling sopan untuk kehilangan.

Aku tidak mau kehilangan dengan sopan.

“Kali ini,” gumamku pelan, sangat pelan, pada punggung yang tak mendengar, pada diriku sendiri, pada sesuatu yang baru saja mengeras jadi tekad di dalam dadaku, “aku yang akan mencarimu. Berapa lama pun.”

Aku belum tahu caranya. Aku belum tahu butuh berapa lama. Aku cuma tahu satu hal, dengan kepastian yang menakutkanku sendiri: aku tidak akan membiarkan orang ini jadi sekadar sesuatu yang indah dan tak pernah kumiliki.

Ia memalingkan wajah. Ia menghampiri keluarganya. Ia tidak menoleh ke arahku lagi.

Tidak apa-apa. Ia tidak perlu menoleh sekarang.

Aku punya cukup waktu untuk membuatnya menoleh nanti. Dan waktu, pada akhirnya, adalah satu-satunya hal yang bersedia kuberikan tanpa batas untuk urusan ini.